Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Ia sudah berbicara dengan Esme tadi pagi, tapi itu tidak membuatnya berhenti menelepon lagi, dua kali, hanya be-berapa menit yang lalu, waktu Carlisle sedang merawat tangan Seth. Carlisle dan Edward membiarkan teleponnya berdering tanpa diangkat.

Apa kira-kira yang bisa kuberitahukan padanya? Apakah keluarga Cullen benar? Apakah mengatakan kepada Charlie bahwa aku sudah meninggal adalah jalan terbaik? Apakah aku bisa berbaring diam tak bergerak dalam peti mati sementara Charlie dan ibuku menangisiku?

Aku merasa itu bukan hal yang tepat. Tapi membahayakan hidup Charlie dan Renée karena obsesi keluarga Volturi pada kerahasiaan juga jelas bukan pilihan.

Ada juga ideku yang lama—membiarkan Charlie menemuiku, kalau aku sudah siap, dan membiarkannya berasumsi yang salah. Secara teknis tidak ada peraturan vampir yang dilanggar. Apakah tidak lebih baik Charlie tahu aku masih hidup— begitulah—dan bahagia? Walaupun aku aneh, berbeda, dan mungkin menakutkan baginya?

Mataku, terutama, terlalu menakutkan sekarang. Berapa lama lagi pengendalian diri dan warna mataku siap menerima Charlie?

“Ada apa, Bel|a?” Jasper bertanya pelan, membaca ke-teganganku yang semakin meningkat. “Tidak ada yang marah denganmu”—geraman rendah dari tepi sungai menyanggah perkataannya, tapi ia mengabaikannya—”atau bahkan terkejut, sungguh. Well, kurasa kami memang terkejut. Terkejut karena kau bisa menguasai diri begitu cepat. Bagus sekali. Lebih bagus daripada yang diharapkan orang darimu.”

Sementara ia berbicara, ruangan jadi sangat tenang. Embusan napas Seth berubah menjadi dengkuran pelan. Aku merasa lebih damai, tapi aku tidak melupakan keresahanku.

‘Aku memikirkan Charlie sebenarnya.”

Di luar sana, pertengkaran itu kontan terhenti.

“Ah,” gumam Jasper.

“Kita benar-benar harus pergi, ya?” tanyaku. “Untuk sementara, paling tidak. Purapura sedang berada di Alaska atau sebangsanya.”

Aku bisa merasakan tatapan F.dward tertuju ke wajahku, tapi aku menatap Jasper. Dialah yang menjawabku dengan nada muram.

“Ya. Itu satu-satunya cara melindungi ayahmu.”

Aku tercenung sebentar memikirkannya. “Aku akan sangat merindukan dia. Aku akan merindukan semua orang di sini.”

Jacob, pikirku, meski tidak ingin. Walaupun kerinduan itu sudah hilang dan sudah bisa dimengerti alasannya—dan aku merasa sangat lega karenanya—ia tetap temanku. Orang yang memaharm aku yang sebenarnya dan menerimaku apa adanya. Bahkan sebagai monster.

Aku memikirkan perkataan Jacob, yang memohon pengertianku sebelum aku menyerangnya. Kau sendiri pernah berkata kita akan selalu bersama, ya kan? Bahwa kita satu keluarga. Kau berkata begitulah seharusnya kau dan aku. Jadi. sekarang kita jadi satu keluarga. Itu keinginanmu.

Tapi rasanya bukan ini yang kuinginkan. Tidak persis seperti ini. Ingatanku melayang lebih jauh ke belakang, ke kenangan-kenangan kabur dan lemah kehidupanku dulu sebagai manusia. Kembali ke bagian yang paling sulit diingat— ke masa tanpa Edward, masa yang begitu gelap hingga aku berusaha menguburnya dalam kepalaku. Aku tak bisa mengingat dengan tepat kata-kata persisnya; aku hanya ingat pernah berharap Jacob saudara lelakiku sehingga kami bisa saling menyayangi tanpa perasaan bingung atau sakit hati. Keluarga. Tapi tak sedikit pun pernah terlintas dalam pikiranku ada faktor anak perempuan di dalamnya.

Aku teringat masa yang belum lama lewat—satu dari sekian banyak kesempatanku mengucapkan selamat berpisah pada Jacob—saat aku mengungkapkan rasa ingin tahuku dengan siapa ia akan berpasangan nanti, siapa yang akan membenahi hidupnya setelah apa yang kulakukan terhadapnya. Aku pernah berkata bahwa siapa pun dia, dia takkan cukup haik bagi Jacob.

Aku mendengus, dan Edward mengangkat sebelah alisnya dengan sikap bertanya. Aku hanya menggeleng.

Tapi sebesar apa pun aku kehilangan temanku nanti, aku i.thu ada masalah lain yang lebih besar. Apakah Sam, atau Jared, atau Quil pernah melewatkan satu hari saja tanpa menemui objek fiksasi mereka, Emily, Kim, dan CIaire? Apa mereka BISA? Apa akibatnya bila Renesmee dipisahkan dari Jacob? Apakah itu akan membuat Jacob terluka?

Masih tersisa banyak kejengkelan di hatiku yang membuatku senang, bukan karena kesedihan Jacob, tapi karena membayangkan menjauhkan Renesmee darinya. Bagaimana .iku bisa menerima fakta bahwa ia milik Jacob kalau ia baru saja jadi milikku?

Suara gerakan di teras depan membuyarkan pikiran-pikiranku. Aku mendengar mereka berdiri, lalu berjalan melewati pintu. Pada saat bersamaan Carlisle menuruni tangga dengan kedua tangan penuh benda aneh—pita pengukur, timbangan. Jasper melesat ke sampingku. Seolah-olah ada semacam sinyal yang terlewatkan olehku, bahkan Leah pun duduk di luar dan memandang melalui jendela dengan ekspresi seakan-akan ia menunggu sesuatu yang familier sekaligus sangat tidak menarik.

“Pasti enam,” kata Edward.

“Memangnya kenapa?” tanyaku, mataku tertuju pada Rosalie, Jacob, dan Renesmee. Mereka berdiri di ambang pintu, Renesmee dalam gendongan Rosalie. Rose tampak waswas. Jacob resah. Renesmee cantik dan tidak sabaran.

“Saatnya mengukur Ness… eh, Renesmee,” Carlisle menjelaskan.

“Oh. Kau mengukurnya setiap hari?”

“Empat kali sehari,” Carlisle mengoreksi dengan nada sambil lalu sementara ia melambaikan tangan, memberi isyarat pada yang lain untuk duduk di sofa. Kalau tidak salah aku melihat Renesmee mendesah.

“Empat kali? Setiap hari? Mengapa?”

“Dia masih bertumbuh dengan cepat,” Edward berbisik padaku, suaranya pelan dan tegang. Ia meremas tanganku, dan lengannya yang lain merangkul pinggangku erat-erat, hampir seperti perlu berpegangan.

Aku tak sanggup mengalihkan pandangan dari Renesmee untuk mengecek ekspresinya.

la terlihat sempurna, sehat walafiat. Kulitnya berkilau bagai pualam yang bersinarsinar; warna pipinya bagaikan kelopak mawar. Tak mungkin ada yang salah dengan kecantikan yang begitu berkilau. Pasti tak ada yang lebih berbahaya dalam hidupnya daripada ibunya. Benarkah begitu?

Perbedaan antara anak yang kulahirkan dengan bocah yang kutemui satu jam yang lalu tampak jelas oleh siapa pun. Perbedaan antara Renesmee satu jam yang lalu dengan Renesmee yang sekarang tidak begitu terlihat. Mata manusia takkan mungkin mendeteksinya. Tapi perbedaan itu ada.

Tubuhnya sedikit lebih panjang. Memang hanya sedikit. Wajahnya tidak begitu bundar; wajahnya semakin memanjang satu derajat setiap menitnya. Ikal rambutnya tergantung seperenam belas inci di bawah bahunya. Ia menjulurkan tubuh dengan sikap membantu dalam gendongan Rosalie waktu Carlisle menempelkan pita pengukur ke tubuhnya lalu menggunakannya untuk melingkari kepalanya. Carlisle tidak perlu mencatat; ingatannya sempurna.

Kulihat Jacob melipat kedua lengannya erat-erat di dada seperti kedua lengan Edward yang merangkulku. Alisnya yang i’cbal bertaut membentuk garis di atas matanya yang menjorok ke dalam.

Renesmee berkembang dari satu sel menjadi bayi berukuran normal hanya dalam beberapa minggu. Ia sudah hampir terlihat seperti batita hanya beberapa hari setelah kelahirannya. Kalau pertumbuhannya terus secepat ini…

Otak vampirku tidak mengalami kesulitan dalam berhitung.

“Kita harus bagaimana?” bisikku, ngeri.

Lengan Edward semakin erat memelukku. Ia mengerti benar maksud pertanyaanku. “Aku tidak tahu.”

“Pertumbuhannya melambat kok,” gumam Jacob dari sela-sela giginya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.