Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Aku berusaha menghapus amarah itu dari sistemku sepenuhnya, tapi itu sulit, tahu Jacob ada di luar bersama Renesmee sekarang. Mengamankannya dariku, vampir baru yang sinting.

Carlisle memasang penyangga lain ke lengan Seth, dan Seth meringis.

“Maaf, maaf!” gumamku, tahu aku takkan bisa menyuarakan permintaan maaf dengan benar.

‘Jangan panik begitu, Bella,” kata Seth, menepuk-nepuk lututku dengan tangannya yang sehat sementara Edward menggosok-gosok lenganku dari sisi lain.

Seth sepertinya tak merasa enggan duduk berdampingan denganku di sofa sementara Carlisle mengobatinya. “Setengah jam lagi aku akan kembali normal,” sambungnya, masih menepuk-nepuk lututku, seakan tidak menyadari teksturnya yang dingin dan keras. “Siapa pun pasti akan melakukan hal yang sama, kalau mendengar tentang Jake dan Ness…” Seth mendadak berhenti bicara dan cepat-cepat mengubah topik. “Maksudku, setidaknya kau tidak menggigitku atau apa. Kalau itu, baru gawat deh.”

Aku membenamkan wajahku ke tangan dan bergidik memikirkannya, kemungkinan yang sangat mungkin terjadi. Padahal werewolf tidak bereaksi sama terhadap racun vampir seperti tubuh manusia, mereka baru memberitahuku sekarang. Racun vampir itu benarbenar jadi racun bagi mereka. “Jahat sekali aku ini.”

“Tentu saja kau tidak jahat. Seharusnya aku…” Edward mulai bicara.

“Hentikan,” tukasku. Aku tidak ingin ia menyalahkan dirinya seperti yang selalu ia lakukan selama ini.

“Untunglah bisa Ness… Renesmee, tidak beracun,” kata Seth setelah terdiam sesaat dengan sikap canggung. “Karena dia menggigit Jake terus.”

Aku menjatuhkan kedua tanganku. “Benarkah?”

“Tentu. Setiap kali dia dan Rose kurang cepat menyuapkan makanan. Rose menganggapnya lucu sekali.”

Kupandangi Seth, sbock, sekaligus merasa bersalah, karena harus kuakui informasi ini sedikit membuatku merasa senang.

Tentu saja aku sudah tahu kalau bisa Renesmee tidak beracun. Aku orang pertama yang digigitnya. Tapi aku tak ingin mengungkapkan pikiranku itu, karena aku sedang berlagak tidak menyadari masa-masa awal itu.

“Well, Seth,” ujar Carlisle, menegakkan badan dan meninggalkan kami. “Kurasa hanya ini yang bisa kulakukan. Usahakan untuk tidak bergerak selama, oh, beberapa jam, kurasa.” Carlisle terkekeh. “Kalau saja mengobati manusia bisa langsung sembuh seperti ini.” Ia meletakkan tangan sebentar di rambut Seth yang hitam. “Jangan bergerak,” perintahnya, kemudian menghilang ke lantai atas. Kudengar pintu ruang kerjanya ditutup, dan bertanya-tanya dalam hati apakah mereka sudah membersihkan bukti-bukti keberadaanku di sana dulu.

“Aku mungkin bisa duduk diam beberapa saat,” Seth menyanggupi setelah Carlisle pergi, kemudian ia menguap lebar-lebar. Dengan hati-hati, memastikan bahunya tidak bergerak, Seth menyandarkan kepala ke punggung sofa dan memejamkan mata. Beberapa detik kemudian mulutnya sudah mengendur.

Aku mengerutkan kening, beberapa saat memandangi wajahnya yang tenang. Seperti Jacob, Seth sepertinya memiliki kemampuan tertidur pulas kapan saja ia mau. Tahu tak bisa meminta maaf lagi untuk beberapa waktu, aku berdiri; gerakan itu tidak mengguncangkan sofaku sedikit pun. Segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah fisik terasa begitu mudah. Tapi hal-hal lain…

Edward mengikutiku ke jendela-jendela belakang dan meraih tanganku,

Leah mondar-mandir di sepanjang tepi sungai, sesekali berhenti untuk melihat ke arah rumah. Mudah saja membedakan kapan Leah mencari adiknya dan kapan ia mencariku. Ia berganti-ganti melayangkan pandangan cemas dan pandangan penuh dendam kesumat.

Aku bisa mendengar Jacob dan Rosalie di luar, di tangga depan, bertengkar pelan memperebutkan giliran menyuapi Renesmee. Hubungan mereka tetap antagonis seperti biasa; satu-satunya hal yang mereka sepakati bersama adalah bahwa aku harus dijauhkan dari bayiku sampai aku seratus persen pulih dari ledakan amarahku. Edward menolak vonis mereka itu, tapi aku menerimanya saja. Aku juga ingin meyakinkan diri. Tapi aku khawatir seratus persenkw dan seratus persen mereka adalah dua hal yang sama sekali berbeda.

Selain pertengkaran mereka, tarikan napas Seth yang teratur, dan napas memburu Leah yang sedang kesal, suasana sangat tenang. Emmett, Alice, dan Esme berburu. Jasper dianggai untuk mengawasiku. Ia berdiri diam-diam di balik tiang penyangga, berusaha untuk tidak bersikap menjengkelkan.

Aku memanfaatkan suasana yang tenang ini untuk memikirkan hal-hal yang dikatakan Edward dan Seth saat Carlisle membebat lengan Seth yang patah tadi. Banyak sekali yang terlewatkan olehku waktu aku sedang terbakar, dan ini kesempatan pertama yang sesungguhnya untuk mengejar keter-linggalanku.

Hal utama adalah akhir perseteruan dengan kawanan Sam—itulah sebabnya yang lain-lain merasa aman untuk dalang dan pergi sesuka hati lagi. Gencatan senjata kini semakin kuat dari yang sudah-sudah. Atau, lebih mengikat, tergantung dari sudut mana kau melihatnya, aku membayangkan.

Mengikat, karena hukum paling utama dari semua hukum yang berlaku bagi kawanan itu adalah bahwa tidak ada serigala yang boleh membunuh objek imprint serigala lain. Kepedihan yang didapat dari hal semacam itu takkan bisa ditolerir seluruh kawanan. Kesalahan itu, apakah disengaja atau tidak, tak dapat dimaafkan; serigala-serigala yang terlibat akan bertarung sampai mati—tak ada pilihan lain. Hal semacam itu pernah terjadi dulu, Seth bercerita padaku, tapi tidak disengaja. Tidak ada serigala yang secara sengaja menghancurkan saudaranya seperti itu.

Maka Renesmee tak bisa disentuh karena perasaan Jacob terhadapnya sekarang. Aku mencoba memusatkan pikiran pada perasaan lega karena fakta itu, daripada merasa sedih karenanya, tapi tidak mudah. Ada cukup ruang dalam benakku untuk merasakan keduanya secara mendalam pada saat bersamaan.

Dan Sam juga tak bisa marah karena transformasiku, karena Jacob—berbicara sebagai Alfa yang sejati—telah mengizinkannya. Jengkel rasanya menyadari berulang kali betapa banyaknya aku berutang budi pada Jacob justru di saat aku sedang ingin marah padanya.

Aku sengaja mengarahkan pikiran-pikiranku agar bisa mengendalikan emosi. Aku mempertimbangkan fenomena menarik lain; walaupun kesunyian di antara dua kawanan terus berlanjut, Jacob dan Sam menemukan fakta bahwa dua Alfa bisa saling berbicara saat dalam wujud serigala. Tidak persis sama seperti sebelumnya; mereka tidak bisa mendengar setiap pikiran seperti dulu sebelum mereka berpisah. Lebih mirip berbicara dengan suara keras, begitu penjelasan Seth. Sam hanya bisa mendengar pikiran-pikiran yang ingin dibagi Jacob, demikian juga sebaliknya. Mereka mendapati bahwa ternyata mereka bisa berkomunikasi dari jarak jauh setelah sekarang mereka kembali saling berbicara.

Mereka baru mengetahui hal ini setelah Jacob pergi sendirian—walau sudah dilarang Seth dan Leah—untuk menjelaskan kepada Sam tentang Renesmee; itu satusatunya saat ia meninggalkan Renesmee sejak pertama kali melihatnya.

Begitu Sam mengerti semua telah berubah, ia kembali bersama Jacob untuk berbicara dengan Carlisle. Mereka berbicara dalam wujud manusia (Edward menolak beranjak dari sisiku untuk menerjemahkan), dan kesepakatan pun diperbaharui. Namun atmosfer persahabatan takkan pernah kembali lagi seperti dulu.

Satu kekhawatiran besar sudah berhasil disingkirkan. Tapi masih ada lagi kekhawatiran lain yang, walaupun tidak berbahaya secara fisik seperti segerombolan serigala marah, tetap terasa lebih mendesak bagiku. Charlie.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.