Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Kurasa mungkin eksperimennya hari ini sudah cukup?” tanya Jacob, suaranya satu oktaf lebih tinggi karena stres, “Oke, reaksi Bella hebat, tapi sebaiknya kita tidak terlalu memaksakan.”

Kupelototi dia dengan perasaan jengkel. Jasper bergerak-gerak gelisah di sebelahku. Kami berdiri berdesak-desakan sehingga setiap gerakan kecil saja langsung terasa,

“Apa masalahmu, Jacob?” tuntutku. Kutarik pelan tangannya yang menggendong Renesmee, tapi Jacob malah beringsut mendekatiku. Tubuhnya menempel ke tubuhku, Renesmee menyentuh dada kami berdua.

Edward mendesis padanya. “Walaupun aku mengerti, bukan berarti aku takkan melemparmu keluar, Jacob. Reaksi Bella luar biasa baik. Jangan rusak momen ini baginya,”

“Aku akan membantunya menendangmu, anjing,” Rosalie berjanji, suaranya berdesis. “Kau berutang satu tendangan padaku.” Jelas tak ada perubahan dalam hubungan mereka, kecuali semakin memburuk,

Kupelototi ekspresi cemas Jacob yang separo marah. Mata-nya terpaku pada wajah Renesmee. Dalam keadaan semua orang berdesak-desakan seperti ini, tubuhnya pasti bersentuhan dengan setidaknya enam vampir, tapi itu bahkan tidak membuatnya terganggu sama sekali.

Benarkah ia melakukan ini semua hanya untuk melindungi-ku dari diriku sendiri? Apa yang tetjadi selama transformasiku—perubahanku menjadi sesuatu yang dibencinya— yang begitu melembutkan hatinya hingga ia merasa perlu melakukan semua ini?

Aku bingung memikirkannya, melihat Jacob menatap putriku. Memandanginya seperti… seperti orang buta melihat matahari untuk pertama kalinya.

“Tidak!” aku tersentak.

Rahang Jasper mengatup dan kedua lengan Edward merangkul dadaku seperti belitan ular. Detik itu juga Jacob merenggut Renesmee dari pelukanku, dan aku tidak berusaha mempertahankan dia. Karena aku bisa merasakan kemunculannya—ledakan emosi tak terkendali yang mereka khawatirkan sejak tadi.

“Rose,” kataku dengan gigi terkatup rapat, sangat lambat dan jelas. “Ambil Renesmee,”

Rosalie mengulurkan kedua tangannya, dan Jacob langsung menyerahkan anakku

padanya. Mereka mundur menjauhiku.

“Edward, aku tak ingin menyakitimu, jadi tolong lepaskan aku.”

Ia ragu-ragu.

“Pergi dan berdirilah di depan Renesmee,” aku menyarankan.

Ia menimbang-nimbang, kemudian melepaskanku.

Aku membungkuk seperti hendak menerkam dan maju dua langkah mendekati Jacob.

“Tega-teganya kau,” geramku padanya.

Jacob mundur, kedua tangan terangkat, berusaha memberi penjelasan. “Kau tahu itu bukan sesuatu yang bisa kukendali-kan.”

“Dasar anjing tololi Tega-teganya kau? Bayiku?

Jacob mundur keluar pintu depan sementara aku merangsek maju menghampirinya, separo berlari menuruni tangga. “Itu bukan kemauanku, Bella!”

“Aku baru menggendongnya satu kali, tapi belum-belum kau sudah menganggap dirimu berhak atas dirinya? Dia milikku”

“Aku bisa kok berbagi,” kata Jacob dengan nada memohon sementara ia mundur melintasi halaman.

“Ayo bayar,” kudengar Emmett berkata di belakangku. Sebagian kecil otakku penasaran siapa yang bertaruh bahwa akhirnya bakal seperti ini. Aku tidak membuangbuang waktu untuk memikirkannya. Aku terlalu marah,

“Berani-beraninya kau meng-imprint bayiku?” Kau sudah gila, ya?”

“Itu tidak kusengaja!” Jacob bersikeras, mundur ke arah pohon-pohon.

Kemudian ia tidak sendirian. Dua serigala besar muncul, mengapitnya di kedua sisi. Leah mengertakkan giginya padaku.

Geraman mengerikan terlontar dari sela-sela gigiku, membalas geraman Leah. Suara itu menggangguku, tapi tidak cukup untuk menghentikan langkahku.

“Bella, maukah kau mendengar penjelasanku sebentar saja? Please?” Jacob memohon-mohon. “Leah, mundur” imbuhnya.

Leah menekukkan bibirnya padaku dan tidak bergerak.

“Mengapa aku harus mendengarkanmu?” desisku. Amarah menguasai pikiranku. Mengaburkan segalanya.

“Karena kau sendiri yang mengatakan ini padaku. Ingatkah kau? Kau sendiri pernah berkata bahwa kita akan selalu bersama, benar bukan? Bahwa kita saru keluarga. Kau berkata begitulah seharusnya kau dan aku. Jadi… sekarang kita jadi satu keluarga. Itu keinginanmu.”

Kutatap dia dengan garang. Samar-samar aku ingat kata-kata itu. Tapi otak baruku berada dua langkah di depan ocehannya yang tidak masuk akal.

“Kaukira kau akan jadi bagian keluargaku sebagai menantuku f sergahku. Suaraku yang seperti lonceng naik dua oktaf tapi masih terdengar bagaikan musik.

Emmett tertawa.

“Hentikan Bella, Edward,” bisik Esme. “Dia akan menyesal nanti kalau dia menyakiti Jacob.”

Tapi aku tidak merasa ada yang mengejarku.

“Tidak!” Jacob juga bersikeras pada saat bersamaan. “Bagaimana kau bahkan bisa melihatnya seperti itu? Dia masih bayi, demi Tuhan f

“Justru itu maksudku? jeritku.

“Kau tahu aku tidak berpikir begitu mengenai Renesmee! Kaukira Edward akan membiarkanku hidup selama ini kalau aku berpikir yang tidak-tidak tentang dia? Yang kuinginkan hanya agar dia aman dan bahagia—apakah itu tidak boleh? Apakah itu berbeda dari yang kauinginkan?” Ia balas berteriak padaku.

Tak mampu lagi berkata apa-apa, aku meneriakkan geraman padanya.

“Bukankah Bella menakjubkan?” kudengar Edward bergumam.

“Tidak sekali pun Bella berusaha menerkam leher Jacob,” Carlisle sependapat, terdengar kagum.

“Baik, kali ini kau menang,” kata Emmett enggan. “Kau tak boleh mendekatinya,” desisku pada Jacob. “Aku tak bisa melakukan itu!”

Dari sela gigiku yang terkatup rapat: “Coba, Dimulai dari sekarang”

“Itu tidak mungkin. Tidak ingatkah kau betapa kau sangat menginginkan kehadiranku tiga hari lalu? Betapa sulitnya kita berpisah? Perasaan itu sudah hilang darimu, bukan?”

Kutatap dia dengan garang, tidak yakin apa maksudnya.

“Itu karena Renesmee,” Jacob menjelaskan. “Dari awal. Kami harus selalu bersama, bahkan saat itu.”

Aku ingat, kemudian aku mengerti; sebagian kecil diriku lega kegilaan itu bisa dijelaskan. Tapi perasaan lega itu hanya membuatku semakin marah. Apa dikiranya itu cukup bagiku? Bahwa hanya dengan mengklarifikasi maka aku pasti bisa menerima kenyataan ini?

“Larilah, selagi bisa,” ancamku.

“Ayolah, Bells! Nessie juga suka padaku!” Jacob bersikeras.

Tubuhku membeku. Napasku terhenti. Di belakangku tidak terdengar apa-apa, yang pasti merupakan reaksi cemas mereka.

“Kau tadi memanggilnya… apa?”

Jacob mundur selangkah, terlihat malu-malu. “Well” gumamnya, “nama yang kaupflih itu agak susah diucapkan, jadi…”

“Kau memberi putriku nama panggilan dari Momter Loch Ness?” pekikku.

Kemudian aku menerkam leher Jacob.

23. MEMORI

“AKU benar-benar minta maaf, Seth. Seharusnya aku berada lebih dekat.”

Edward masih saja meminta maaf, dan kupikir itu tidak adil dan juga tidak pantas. Soalnya, bukan Edward yang benar-benar kehilangan kendali dan tidak bisa menguasai amarahnya. Bukan Edward yang berusaha merobek leher Jacob—dan Jacob bahkan tidak berubah wujud untuk melindungi diri—kemudian secara tidak sengaja mematahkan bahu dan tulang selangka Seth waktu ia melompat di antara mereka. Bukan Edward yang nyaris membunuh sahabatnya.

Bukan berarti sang sahabat tak punya andil dalam menyebabkan hal itu terjadi, tapi jelas tak satu pun kelakuan Jacob membenarkan sikapku tadi.

Jadi bukankah seharusnya aku yang meminta maaf? Aku mencoba lagi.

“Seth, aku…”

“Jangan khawatir soal itu, Bella, aku baik-baik saja,” kata

Seth bersamaan dengan Edward berkata, “Bella, Sayang, tak ada yang menghakimimu. Kau hebat sekali.”

Bahkan menyelesaikan omonganku pun aku belum boleh. Lebih parah lagi senyum Edward tak henti-hentinya merekah. Aku tahu Jacob tak pantas menerima reaksiku yang kelewat berlebihan seperti tadi, tapi Edward seperti menemukan semacam kepuasan di dalamnya. Mungkin ia berharap seandainya ia juga punya alasan sebagai vampir baru; maka ia bisa melakukan sesuatu yang bersifat fisik untuk melampiaskan kekesalannya pada Jacob,

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.