Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Jazz, kau tak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya,” ujar Alice pelan. “Percayalah padaku.”

Mata mereka bertemu selama beberapa detik, kemudian Jasper mengangguk. Ia menepi, tapi meletakkan sebelah tangannya di pundakku dan bergerak bersamaku waktu aku pelan-pelan melangkah maju.

Aku memikirkan setiap langkah sebelum melakukannya, menganalisis suasana hatiku, perasaan terbakar di tenggorokanku, dan posisi yang lain-lain di sekelilingku. Seberapa kuat yang kurasakan versus seberapa mampu mereka menahanku. Prosesi yang lambat.

Kemudian bocah dalam gendongan Rosalie, yang menggeliat-geliat dan menggapai-gapai dengan ekspresi makin gelisah, mengeluarkan suara rengekan tinggi melengking. Semua bereaksi seolah-olah—seperti aku—mereka belum pernah mendengar suaranya sebelum ini.

Dalam sekejap mereka sudah mengelilinginya, meninggalkan aku berdiri sendirian, membeku di tempat. Raungan melengking Renesmee menghunjamku, menombakku di lantai. Telingaku seperti ditusuk-tusuk, seperti mau robek.

Sepertinya semua orang memegangnya, menepuk-nepuk dan menghiburnya. Semua kecuali aku.

“Ada apa? Dia kenapa? Apa yang terjadi?”

Suara Jacob-lah yang paling keras, nadanya waswas, mengalahkan suara yang lain. Dengan shock kulihat bagaimana ia mengulurkan tangan kepada Renesmee, kemudian dengan ngeri kulihat Rosalie menyerahkan Renesmee padanya tanpa perlawanan,

“Tidak, dia baik-baik saja,” Rosalie menenangkan Jacob. Rosalie menenangkan Jacob?

Renesmee mau saja digendong Jacob, menempelkan tangan mungilnya ke pipi Jacob kemudian menggeliat-geliat, memutar tubuhnya lagi ke arahku.

“Lihat, kan?” kata Rosalie padanya. “Dia hanya menginginkan Bella.”

“Dia menginginkanku?” bisikku.

Mata Renesmee—mataku—menatapku tak sabar.

Edward melesat lagi ke sampingku. Ia meletakkan kedua tangannya di lenganku dan dengan lembut mendorongku ke depan.

“Sudah hampir tiga hari dia menunggumu,” kata Edward padaku.

Kami hanya beberapa meter darinya sekarang. Ledakan-ledakan panas seolah bergetar keluar darinya dan menyentuhku.

Atau mungkin Jacob-lah yang bergetar. Kulihat kedua tangannya bergetar saat aku mendekat. Meski begitu, walaupun ia jelas-jelas terlihat tegang, wajahnya lebih tenang daripada yang pernah kulihat untuk waktu yang sangat lama.

“Jake—aku baik-baik saja,” kataku. Aku panik melihat Renesmee dalam gendongan tangannya yang bergetar, tapi aku berusaha keras menenangkan diri.

Jacob mengerutkan kening padaku, matanya tegang, seakan-akan ia juga sama paniknya membayangkan Renesmee dalam gendonganku.

Renesmee merengek-rengek penuh semangat dan menjulurkan tubuh, kedua tangannya yang kecil membuka dan menutup berulang kali.

Saat itulah sesuatu membukakan mataku. Tangisannya, matanya yang akrab, sikapnya yang seolah lebih tidak sabar ketimbang aku menunggu pertemuan ini—semua itu terjalin menjadi pola-pola paling natural ketika ia menggapai-gapaikan tangannya. Tiba-tiba ia menjadi sangar nyata, dan tentu saja aku mengenalnya. Rasanya sungguh biasa melangkah menghampirinya dan mengulurkan tangan, meletakkan kedua tanganku di tempat paling pas saat aku menariknya dengan lembut ke dalam gendonganku.

Jacob mengulurkan lengannya panjang-panjang sehingga aku bisa menimang bayiku, tapi tidak melepaskannya. Ia bergidik sedikit saat kulit kami bersentuhan, Kulitnya, yang sebelumnya selalu hangat, kini seperti api yang menjilat-jilat kulitku. Suhunya hampir sama dengan suhu tubuh Renesmee. Mungkin berbeda satu-dua derajat.

Renesmee tampaknya tidak menyadari dinginnya kulitku, atau setidaknya sudah sangat terbiasa.

Ia mendongak dan tersenyum padaku lagi, memamerkan gigi-gigi kotaknya yang mungil serta dua lesung pipinya. Kemudian, dengan sengaja, ia meraih wajahku.

Saat ia melakukannya, semua tangan di tubuhku mencengkeram lebih erat, mengantisipasi reaksiku. Aku hampir-hampir tak menyadarinya.

Aku tersentak, terperangah, dan takut melihat gambaran aneh dan mengerikan yang mengisi pikiranku. Rasanya seperti ingatan yang sangat kuat—aku masih bisa melihat lewat mataku sementara menyaksikan gambaran itu dalam pikiranku— tapi semuanya sangat tidak familier. Aku menatapnya lewat ekspresi Renesmee yang berharap, berusaha memahami apa yang terjadi, susah payah berusaha agar tetap tenang.

Selain mengguncangkan dan asing, gambaran itu sepertinya keliru—aku nyaris bisa mengenali wajahku sendiri di dalamnya, wajah lamaku, tapi kelihatannya ganjil, terbalik. Dengan cepat kusadari bahwa aku melihat wajahku sebagaimana orang lain melihatnya, tidak terbalik seperti bayangan dalam cermin.

Wajahku dalam gambaran itu terpilin, berkerut-kerut, bersimbah peluh, dan keringat. Meski begitu, ekspresiku dalam gambaran itu berubah jadi senyum memuja; mata cokelatku berbinar-binar di dalam kelopaknya yang cekung. Gambaran itu membesar, wajahku jadi semakin dekat, kemudian tiba-tiba lenyap.

Renesmee menurunkan tangannya dari pipiku. Senyumnya merekah semakin lebar, lesung pipinya muncul lagi.

Ruangan sunyi senyap, yang terdengar hanya bunyi debar jantung. Tak seorang pun, kecuali Jacob dan Renesmee, berani bernapas. Kesunyian itu terus berlanjut, sepertinya mereka menungguku mengatakan sesuatu.

“Itu… itu… tadi apa?” Aku berhasil bertanya dengan suara tercekik.

“Apa yang kaulihat?” tanya Rosalie ingin tahu, mencondongkan tubuh untuk melihat melalui Jacob, yang walaupun berdiri menghalangiku, namun pikirannya seperti berada sangat jauh dari sini. “Apa yang dia tunjukkan padamu?”

“Dia menunjukkan itu padaku?” bisikku.

“Sudah kubilang, sulit menjelaskannya,” bisik Edward di telingaku. “Tapi efektif sebagai sarana komunikasi.”

“Apa yang ditunjukkannya tadi?” tanya Jacob.

Aku mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali. “Ehm. Aku. Kurasa. Tapi aku kelihatan kacau sekali.”

“Itu satu-satunya kenangan yang dia miliki tentang kau,” Edward menjelaskan. Jelas, Edward juga melihat apa yang df-tunjukkan Renesmee padaku saat ia memikirkannya. Edward masih meringis, suaranya parau karena mengingat kembali semua kenangan itu. “Dia ingin kau tahu dia mengetahui hubunganmu dengannya, bahwa dia tahu siapa dirimu.”

“Tapi BAGAIMANA dia melakukannya?”

Renesmee sepertinya tidak peduli pada mataku yang membelalak. Ia tersenyum kecil dan menarik seberkas rambutku.

“Bagaimana aku mendengar pikiran? Bagaimana Alice bisa melihat masa depan?” tanya Edward retoris, kemudian mengangkat bahu. “Dia memiliki bakat itu.”

“Bakat yang menarik,” kata Carlisle pada Edward. “Seolah-olah dia melakukan hal sebaliknya dari apa yang bisa kaulakukan.”

“Menarik,” Edward sependapat. “Aku jadi ingin tahu…”

Aku tahu mereka berspekulasi, tapi aku tak peduli. Aku menatap wajah paling cantik di dunia itu. Tubuhnya panas dalam pelukanku, mengingatkanku pada momen saat kegelapan nyaris menang, ketika rak ada lagi yang tersisa di dunia ini untuk kujadikan pegangan. Tak cukup kuat untuk menarikku keluar dari kegelapan yang mengimpit. Momen ketika aku berpikir tentang Renesmee dan menemukan sesuatu yang takkan pernah kulepaskan.

“Aku juga ingat padamu,” kataku pelan.

Rasanya sangat natural mencondongkan tubuh dan menempelkan bibirku ke dahinya. Aroma tubuhnya sangat menyenangkan. Aroma kulitnya membuat tenggorokanku seperti terbakar, tapi mudah saja mengabaikannya. Sama sekali tidak merenggut kebahagiaanku akan momen ini. Renesmee nyata dan aku mengenalnya. Ia bocah sama yang kuperjuangkan sejak awal. Yang menendang-nendang perutku, yang mencintaiku dari dalam perutku. Separo Edward, sempurna dan manis. Dan separo aku—dan yang mengagetkan, itu justru membuatnya lebih cantik, bukan malah mengurangi kecantikannya.

Ternyata selama ini aku benar. Renesmee memang pantas diperjuangkan.

“Dia baik-baik saja,” gumam Alice, mungkin pada Jasper. Aku bisa merasakan mereka berdiri di dekatku, tidak me-mercayaiku.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.