Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Seseorang yang sangat kecil menjulurkan tubuh dari gendongan Rosalie, menatap Jacob. Bocah itu langsung menarik perhatianku, menyita segenap pikiranku, seperti yang tak pernah terjadi sebelumnya sejak aku membuka mata.

“Apakah benar aku hanya tidak sadar selama dua hari?” aku terkesiap, tidak percaya.

Bocah asing dalam pelukan Rosalie pasti usianya sudah beberapa minggu, bahkan beberapa bulan. Ukurannya mungkin dua kali lebih besar daripada ukuran bayi dalam ingatanku yang kabur, dan sepertinya ia bisa menyangga tubuhnya dengan mudah saat menjulurkan dirinya ke arahku. Rambut tembaganya yang mengilat tergerai ikal melewati bahu. Mata cokelatnya mengamatiku dengan ketertarikan yang sama sekali tidak kekanakkanakan; sorot matanya seperti orang dewasa, mengerti dan cerdas. Ia mengangkat satu tangan, menggapai ke arahku sesaat, kemudian menarik tangannya lagi untuk menyentuh kerongkongan Rosalie.

Seandainya wajahnya tidak menakjubkan dalam kecantikan dan kesempurnaannya, aku pasti tak bakal percaya itu anak yang sama. Anakku.

Tapi ada Edward dalam raut wajahnya, dan ada aku dalam warna mata dan pipinya. Bahkan Charlie pun ada, dalam bentuk rambut ikalnya yang tebal, walaupun warnanya mirip rambut Edward. Ia pasti anak kami. Mustahil, tapi tetap benar.

Namun melihat bocah kecil menakjubkan ini tidak membuatnya jadi semakin nyata. Itu hanya membuatnya semakin fantastis.

Rosalie menepuk-nepuk tangan yang menempel di lehernya dan bergumam, “Ya, itu dia.”

Mata Renesmee tertuju padaku. Kemudian, sama seperti yang dilakukannya beberapa detik setelah kelahirannya yang bersimbah darah, ia tersenyum padaku. Memamerkan sederet gigi putih mengilat dan sempurna.

Dengan hati menggelora, ragu-ragu aku maju selangkah menghampirinya*

Semua bergerak sangat cepat.

Emmett dan Jasper berada persis di depanku, berdampingan, tangan mereka siap. Edward mencengkeramku dari belakang, jari-jarinya menahan pangkal lenganku kuat-kuat. Bahkan Carlisle dan Esme bergerak dan berdiri mengapit Emmett dan Jasper, sementara Rosalie mundur ke pintu, kedua lengan memeluk erat Renesmee. Jacob juga bergerak, tetap mempertahankan sikap protektif di depan mereka.

Hanya Alice yang tetap diam di tempatnya.

“Oh, hargai Bella sedikit,” Alice mencela mereka. “Dia tidak akan melakukan apaapa. Kalau kalian jadi dia, kalian pasti juga ingin melihat lebih dekat.”

Alice benar. Aku bisa menguasai diri. Aku sudah siap menghadapi apa pun— bahkan bau paling menggiurkan sekalipun, seperti bau manusia di hutan tadi. Godaan di sini benar-benar tak bisa dibandingkan dengan itu. Aroma Renesmee merupakan campuran sempurna aroma parfum yang sangat wangi dengan makanan paling lezat. Cukup banyak aroma vampir untuk mengalahkan bau manusia hingga tidak terlalu berlebihan buatku.

Aku bisa mengatasinya. Aku yakin.

“Aku baik-baik saja,” janjiku, menepuk-nepuk tangan Edward yang memegangi lenganku. Lalu aku ragu-ragu-dan menambahkan, “Tapi jangan jauh-jauh, untuk berjagajaga saja.”

Mata Jasper waspada, fokus. Aku tahu ia tengah menelaah suasana hatiku, dan aku berusaha tetap menunjukkan sikap tenang. Aku merasakan Edward melepas kedua lenganku setelah membaca penilaian Jasper. Tapi meski begitu sepertinya ia tidak terlalu yakin.

Begitu mendengar suaraku, bocah yang terlalu mengerti itu memberontak dalam gendongan Rosalie, menggapai-gapai ke arahku. Entah bagaimana ia bisa menunjukkan ekspresi tak sabar di wajahnya.

“Jazz, Em, jangan halangi kami. Bella bisa menguasai diri.”

“Edward, risikonya…,” sergah Jasper,

“Minimal. Dengar, Jasper… ketika sedang berburu tadi, Bella mencium bau orang-orang yang sedang hiking, yang berada di tempat tidak tepat pada saat tidak tepat…”

Aku mendengar Carlisle tersentak kaget. Wajah Esme mendadak diliputi kekhawatiran bercampur prihatin. Mata Jasper membelalak, tapi ia mengangguk sedikit, seolah-olah perkataan Edward tadi menjawab beberapa pertanyaan dalam benaknya. Mulut Jacob mengerucut, membentuk seringaian jijik, Emmett mengangkat bahu. Rosalie juga tampak tidak begitu peduli karena sibuk menenangkan bocah yang menggeliat-geliat dalam gendongannya.

Ekspresi Alice mengatakan padaku ia tidak terkecoh. Matanya yang menyipit menatap tajam kemeja pinjamanku. sepertinya lebih mengkhawatirkan akibat yang kutimbulkan pada gaunku daripada hal lain.

“Edward!” tegur Carlisle. “Bagaimana kau bisa seteledor itu?”

“Aku tahu, Carlisle, aku tahu. Aku benar-benar tolok Seharusnya aku lebih dulu memastikan kami berada di zona aman sebelum membiarkan Bella berkeliaran.”

“Edward,” gumamku, malu karena mereka memandangiku seperti itu. Seakan-akan mereka berusaha melihat warna merah yang Lebih cerah di mataku.

“Carlisle memang berhak menegurku. Bella,” Edwaid menjelaskan sambil nyengir. “Aku membuat kesalahan besar. Fakta bahwa kau lebih kuat daripada vampir mana pun yang pernah kukenal tidak mengubah hal itu.”

Alice memutar bola matanya. “Lelucon berselera tinggi, Edward.”

“Aku tidak bercanda. Aku hanya ingin menjelaskan kepada Jasper mengapa aku tahu Bella pasti bisa menguasai diri. Bukan salahku kalau semuanya langsung mengambil kesimpulan yang salah,”

“Tunggu,** sergah Jasper. “Jadi dia tidak memburu manusia?”

“Awalnya begitu,” jawab Edward, kentara sekali ia senang. Aku mengertakkan gigi. “Seluruh perhatiannya tercurah pada berburu.”

“Apa yang terjadi?” sela Carlisle. Matanya mendadak berbinar-binar, senyum takjub terbentuk di wajahnya. Mengingatkanku pada sebelumnya, ketika ia ingin mengetahui detail-detail pengalaman transformasiku. Kegairahan karena mendapat informasi baru.

Edward mencondongkan tubuh ke arahnya, penuh semangat. “Bella mendengarku di belakangnya dan reaksinya langsung defensif. Begitu pengejaranku membuyarkan konsentrasinya, dia langsung berhenti mengejar. Belum pernah aku melihat ada yang seperti dia. Seketika itu juga dia langsung menyadari apa yang terjadi, kemudian… dia menahan napas dan lari menjauh.”

“Wah,” gumam Emmett. “Serius?”

“Ceritanya tidak sepenuhnya benar,” tukasku, lebih malu daripada sebelumnya. “Edward tidak menceritakan bagian di mana aku menggeram padanya.”

“Jadi kalian sempat bertarung tadi?” tanya Emmett penuh semangat.

“Tidak! Tentu saja tidak.”

“Tidak, benar tidak? Kau benar-benar tidak menyerangnya?”

“Emmett!” protesku.

“Aduh, sayang sekali,” erang Emmett, “Padahal mungkin hanya kau satu-satunya yang bisa melumpuhkan Edward — karena dia kan tidak bisa membaca pikiranmu sehingga tidak bisa berbuat curang—dan kau juga punya alasan untuk menyerangnya.” Emmett menghela napas. “Selama ini aku penasaran, ingin melihat bagaimana Edward bertarung tanpa kelebihannya itu.”

Kutatap dia dengan dingin. “Aku takkan pernah berbuat begitu””

Kerutan di dahi Jasper menarik perhatianku; ia tampak lebih terganggu daripada sebelumnya.

Edward menempelkan tinjunya pelan ke bahu Jasper, pura-pura meninjunya. “Kau mengerti kan maksudku?”

“Itu tidak alami,” gerutu Jasper.

“Bella bisa saja menyerangmu—dia kan baru berumur beberapa jam!” kecam Esme, meletakkan tangannya di dada. “Oh, seharusnya kami tadi pergi bersamamu.”

Aku tidak terlalu memerhatikan, karena sekarang Edward sudah menyampaikan leluconnya. Mataku terpaku pada bocah rupawan dekat pintu, yang masih terus memandangiku. Kedua tangan kecilnya menggapai-gapai ke arahku seolah-olah ia tahu persis siapa aku. Otomatis tanganku terangkat untuk menirukan gerakannya.

“Edward,” ujarku, mencondongkan tubuh melewati Jasper agar bisa melihatnya lebih jelas. “Please?”

Gigi Jasper terkatup rapat, ia tidak bergerak,

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.