Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Seringaian Jacob melebar, tubuhnya bergidik sedikit. “Mau tak mau harus kukatakan, Bells. Kau mengerikan.”

Aku balas nyengir, dengan mudah masuk ke pola lama. Ini sisi dirinya yang kumengerti.

Edward menggeram. “Jaga mulutmu, anjing.”

Angin berembus dari belakangku dan aku cepat-cepat mengisi paru-paruku dengan udara bersih agar bisa bicara, “Tidak, dia benar. Mataku benar-benar aneh, kan?”

“Superseram. Tapi tidak sejelek yang tadinya kusangka.”

“Astaga—terima kasih pujiannya!”

Jacob memutar bola matanya. “Kau tahu maksudku. Kau masih kelihatan seperti dulu—sedikit. Mungkin bukan penampilan yang jadi masalah, melainkan bahwa… kau tetap Bella. Padahal awalnya aku menyangka takkan merasa bahwa kau masih di sini.” Ia tersenyum lagi, tak sedikit pun tersirat nada getir atau tidak suka di wajahnya. Kemudian ia terkekeh dan berkata, “Omong-omong, kurasa sebentar lagi aku juga akan terbiasa dengan matamu.”

“Benarkah?” tanyaku, bingung. Menyenangkan bahwa kami masih berteman, tapi rasanya kami tidak akan terlalu banyak menghabiskan waktu bersama.

Ekspresi aneh melintasi wajahnya, menghapus senyuman itu. Nyaris seperti… bersalah? Lalu matanya beralih ke Edward.

“Trims,” ujar Jacob* “Aku tak tahu apakah kau bisa tidak menceritakannya padanya, janji atau tidak* Biasanya, kau meluluskan apa saja keinginannya.”

“Mungkin aku berharap dia akan marah dan mengoyak lehermu” Edward memberi alasan, acob mendengus,

“Ada apa sebenarnya? Kalian merahasiakan sesuatu dariku, ya?” tuntutku, tak percaya.

“Nanti akan kujelaskan,” kata Jacob waswas—seperti tidak benar-benar berniat melakukannya. Lalu ia mengubah topik, “Pertama, ayo kita tuntaskan masalah ini,” Sekarang seringaian-nya menantang, saat ia pelan-pelan melangkah maju.

Terdengar dengkingan protes di belakangnya, dan sejurus kemudian tubuh abu-abu Leah menyelinap keluar dari balik pepohonan di belakangnya, Seth yang bertubuh lebih tinggi dan berbulu cokelat pasir menyusul tepat di belakang.

“Tenang, guys” pinta Jacob, “Tidak usah ikut campur.”

Aku senang mereka tidak mendengarkan perintahnya, tapi hanya mengikutinya sedikit lebih lambat.

Angin tidak bertiup sekarang; bau badannya tak lenyap terbawa angin.

Jacob berdiri cukup dekat hingga aku bisa merasakan panas tubuhnya menyeruak di antara kami. Kerongkonganku serasa terbakar dibuatnya.

“Ayolah, Bells. Lakukan saja.”

Leah mendesis.

Aku tidak ingin menarik napas* Rasanya tidak tepat membahayakan Jacob begitu rupa, walaupun ia sendiri yang menawarkan diri. Tapi menurutku itu memang logis. Bagaimana lagi aku bisa memastikan aku tidak akan menyakiti Renesmee?

“Aku jadi semakin tua, Bella,” sindir Jacob, “Oke, teknisnya sih tidak, tapi kau mengerti maksudku. Ayo, tarik napas.”

“Pegangi aku,” kataku pada Edward, mengkeret ke dadanya.

Edward mempererat pelukannya.

Aku mengunci otot-ototku, berharap bisa membuatnya membeku. Aku bertekad akan melakukan setidaknya sebaik yang kulakukan saat berburu tadi. Skenario terburuk adalah, aku akan berhenti bernapas dan kabur. Takut-takut aku menarik napas sedikit lewat hidung, tubuhku mengejang penuh waspada.

Agak sakit, tapi kerongkonganku memang sudah seperti terbakar. Bau Jacob tidak seperti manusia, tapi lebih mirip bau singa gunung. Ada sedikit jejak binatang dalam darahnya yang langsung membuatku menolak. Walaupun debar jantungnya yang nyaring dan basah terdengar menggiurkan, namun bau yang menyertainya membuatku mengernyidcan hidung. Aku jadi lebih mudah melembutkan reaksiku terhadap suara dan panas darahnya yang berdenyut-denyut.

Aku menarik napas lagi dan merileks. “Hah. Sekarang aku mengerti kenapa orang-orang begitu meributkannya. Kau bau sekali, Jacob,”

Tawa Edward meledak; kedua tangannya meluncur dari pundak dan merangkul pinggangku, Seth menggonggongkan tawa yang seirama dengan tawa Edward; ia maju sedikit sementara Leah justru mundur beberapa langkah. Kemudian aku menyadari kehadiran orang lain waktu mendengar tawa rendah Emmett yang khas, sedikit teredam dinding kaca yang memisahkan kami.

“Kau sendiri pun bau,” tukas Jacob, memencet hidung dengan lagak dramatis. Wajahnya sama sekali tak berubah saat

Edward memelukku, bahkan tidak waktu Edward berhasil menenangkan diri kembali dan membisikkan “aku mencintaimu” di telingaku. Jacob terus saja nyengir. Ini membuat harapanku timbul, bahwa hubungan kami memang akan membaik sekarang setelah sekian lama memburuk. Mungkin sekarang aku bisa benar-benar menjadi temannya, karena aku membuatnya jijik padaku secara fisik sehingga ia tidak bisa menyayangiku seperti sebelumnya. Mungkin hanya ini yang dibutuhkan.

“Oke, jadi aku lulus, kan?” tanyaku. “Sekarang, kalian mau kan memberitahukan rahasia besar itu padaku?”

Ekspresi Jacob berubah sangat gugup. “Itu bukan hal yang perlu kaukhawatirkan saat ini.,.”

Aku mendengar Emmett terkekeh lagi—nadanya penuh harap.

Sebenarnya aku ingin memaksakan kehendakku, tapi waktu mendengarkan tawa Emmett, aku mendengar suara-suara lain juga. Tujuh orang bernapas. Sepasang paru-paru yang bergerak lebih cepat daripada yang lain. Hanya satu jantung menggelepar-gelepar seperti sayap burung, ringan dan cepat.

Perhatianku benar-benar beralih. Putriku berada di balik dinding kaca tipis itu. Aku tidak bisa melihatnya—cahaya memantul di kaca-kaca jendela seperti cermin. Aku hanya bisa melihat diriku, tampak sangat aneh—begitu putih dan diam—bila dibandingkan dengan Jacob. Atau, dibandingkan dengan Edward, aku terlihat sangat sepadan,

“Renesmee,” bisikku. Stres membuatku jadi seperti patung lagi. Renesmee takkan berbau seperti binatang. Akankah aku membahayakan dia?

“Mari kita lihat,” bisik Edward. “Aku tahu kau bisa menghadapinya.”

“Kau akan membantuku?” bisikku dari sela-sela bibir yang rak bergerak.

“Tentu saja aku akan membantumu.”

“Juga Emmett dan Jasper—untuk berjaga-jaga?”

“Kami akan membantumu. Bella. Jangan khawatir, kami pasti siap. Tak seorang pun di antara kami akan membiarkan Renesmee dalam bahaya. Kurasa kau pasti akan kaget melihat betapa pandainya dia membuat kami semua jatuh cinta padanya. Bagaimanapun dia bakal aman.”

Kerinduanku untuk melihatnya, untuk memahami nada memuja dalam suara Edward, memecahkan kebekuanku. Aku maju selangkah.

Kemudian Jacob menghalangiku, wajahnya dipenuhi kekhawatiran.

“Kau yakin, pengisap darah?” tuntutnya pada Edward, suaranya nyaris memohon. Belum pernah kudengar ia berbicara seperti itu kepada Edward. “Aku tidak setuju. Mungkin sebaiknya dia menunggu…”

“Tadi kau sudah melakukan ujianmu, Jacob.”

Jadi itu tadi ide Jacob?

“Tapi…”Jacob memulai.

“Tidak ada tapi-tapian,” tukas Edward, mendadak terdengar gusar. “Bella perlu melihat putri kamu Minggir, jangan halangi dia.”

Jacob melayangkan pandangan ganjil dan panik, kemudian berbalik dan nyaris mendahului kami memasuki rumah. Edward menggeram.

Aku sama sekali tak habis pikir melihat konfrontasi mereka, tapi aku juga tak bisa berkonsentrasi memikirkannya. Sekarang aku hanya bisa memikirkan gambaran kabur seorang anak dalam ingatanku. Aku bersusah payah berusaha menyibak kabut itu, berusaha mengingat wajahnya dengan tepat.

“Kita masuk?” ajak Edward, suaranya kembali melembut. Aku mengangguk gugup.

Edward menggandeng tanganku erat-erat dan berjalan men-dahuluiku memasuki rumah.

Mereka menungguku, berdiri berjajar, tersenyum dengan sikap menyambut sekaligus defensif. Rosalie berdiri beberapa langkah di belakang mereka, dekat pintu depan. Ia sendirian sampai Jacob bergabung dengannya kemudian berdiri di depannya, lebih dekat daripada yang biasa dilakukan orang. Meski begitu kedekatan itu tidak membuat mereka nyaman; keduanya seolah mengkeret karena berdiri terlalu berdekatan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.