Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Dia berdarah panas” aku merenung.

“Benar. Jantungnya berdetak, walaupun agak lebih cepat daripada jantung manusia. Suhu tubuhnya sedikit lebih panas juga. Dia butuh tidur.”

“Sungguh?”

“Lumayan sering untuk ukuran bayi baru lahir. Kita satu-satunya orangtua di dunia yang tidak butuh tidur, tapi anak kita malah tidur sepanjang malam.” Edward terkekeh.

Aku suka mendengar Edward mengatakan anak kita. Kata-kata itu membuat Renesmee terkesan semakin nyata.

“Warna matanya persis kau—jadi itu tidak hilang.” Edward tersenyum. “Matanya indah sekali”

“Dan bagian-bagian vampirnya?” tanyaku.

“Kulitnya sepertinya nyaris tak bisa ditembus, sama seperti kulit kita. Bukan berarti ada yang berniat mengetesnya.”

Aku mengerjap, agak sbock.

“Tentu saja takkan ada yang berbuat begitu,” Edward menenangkan “Makanannya… well, dia lebih suka minum darah. Carlisle masih terus berusaha membujuknya minum susu formula juga, tapi dia tidak begitu sabar minum susu. Tidak bisa disalahkan—baunya tidak tertahankan, bahkan untuk ukuran makanan manusia,”

Sekarang aku benar-benar ternganga. Menilik cerita Edward, kedengarannya Carlisle dan Renesmee seperti mengobrol. “Membujuknya?”

“Dia cerdas, sungguh mengejutkan, dan pertumbuhannya cepat sekali. Walaupun tidak bisa bicara—belum—tapi dia bisa berkomunikasi secara efektif.”

“Tidak. Bisa. Bicara. Belum.”

Edward memperlambat langkah, memberiku kesempatan untuk mencerna semua ini.

“Apa maksudmu, dia bisa berkomunikasi secara efektif?” desakku.

“Kurasa akan lebih mudah bila kau… melihatnya sendiri. Agak sulit menggambarkannya.”

Aku mempertimbangkan hal itu. Aku tahu banyak yang harus kulihat sendiri sebelum semuanya jadi nyata. Aku tak yakin berapa banyak yang sanggup kudengar lagi, maka aku pun mengganti topik.

“Mengapa Jacob masih di sini?” tanyaku. “Bagaimana dia bisa tahan. Mengapa dia harus menahannya?” Suaraku yang nyaring sedikit bergetar. “Mengapa dia harus menderita lagi?”

“Jacob tidak menderita” kata Edward, nada suaranya berubah, kedengarannya aneh sekarang. “Walaupun aku mau-mau saja mengubah keadaannya,” imbuhnya dengan gigi terkatup rapat.

“Edward!” desisku, menyentakkannya supaya berhenti (dan merasa agak bangga karena bisa melakukannya). “Bisa-bisanya kau bicara begitu? Jacob sudah mengorbankan segalanya untuk melindungi kita! Dia telah banyak menderita karena aku,..!” Aku meringis karena ingatan samar tentang perasaan malu dan bersalahku. Sekarang baru terasa aneh mengapa aku sangat membutuhkannya waktu itu. Perasaan hampa tanpa Jacob di dekatku kini telah lenyap; itu pasti kelemahanku sebagai manusia.

“Nanti kau akan lihat sendiri mengapa aku berkata begitu,” gumam Edward. “Aku sudah berjanji akan memberinya kesempatan menjelaskan, tapi aku ragu cara pandangmu akan berbeda denganku. Tentu saja, aku sering salah menduga pikiranmu, kan?” Edward mengerucutkan bibir dan menatapku.

“Menjelaskan apa?”

Edward menggeleng. “Aku sudah berjanji. Walaupun aku tak tahu lagi apakah aku benar-benar berutang budi padanya…” Ia mengertakkan giginya.

“Edward, aku tidak mengerti.” Perasaan frustrasi dan kesal menguasai pikiranku.

Edward mengelus-elus pipiku, kemudian tersenyum lembut ketika kerut di wajahku lenyap, gairah untuk sementara mengalahkan kejengkelan. “Ini lebih sulit daripada yang kauper-lihatkan pada kami, aku tahu. Aku masih ingat.”

“Aku tak suka merasa bingung.”

“Aku tahu. Ayo kita pulang, supaya kau bisa melihat sendiri semuanya.” Sambil bicara matanya menelusuri gaunku yang compang-camping, dan keningnya berkerut. “Hmram.” Setelah berpikir sejenak, Edward membuka kancing-kancing kemeja putihnya dan memeganginya agar aku bisa memasukkan kedua tanganku ke lengannya.

“Separah itu, ya?”

Edward nyengir.

Aku menyusupkan kedua tanganku ke lengan kemeja dan dengan cepat mengancingkannya, menutupi gaunku yang compang-camping. Tentu saja itu berarti Edward tidak mengenakan pakaian, dan mustahil tidak terusik olehnya.

“Ayo kita balapan,” ajakku, kemudian mewanti-wanti, “kali ini tidak boleh curang!”

Edward melepas tanganku dan nyengir. “Siap…”

Menemukan jalan menuju rumah baruku ternyata lebih mudah daripada berjalan kaki di jalan rumah Charlie menuju rumah lamaku. Bau kami meninggalkan jejak yang jelas dan mudah diikuti, walaupun berlari secepat yang aku bisa.

Edward membiarkanku mengalahkannya hingga kami sampai di sungai. Aku mengambil kesempatan dan melompat lebih dulu, berusaha menggunakan kekuatan ekstraku untuk menang.

“Ha!” seruku kegirangan waktu mendengar kakiku menyentuh rumput lebih dulu.

Saat menunggu mendengarnya mendarat, aku mendengar sesuatu yang tak kuduga sama sekali. Sesuatu yang nyaring dan agak terlalu dekat. Bunyi debar jantung.

Pada detik yang sama Edward sudah berdiri di sampingku, kedua tangannya mencengkeram pangkal lenganku kuat-kuat.

“Jangan bernapas,” ia mewanti-wantiku dengan nada mendesak,

Aku mencoba untuk tidak panik sementara membeku dalam posisi setengah menarik napas. Hanya mataku yang bergerak, secara instingtif jelalatan mencari sumber suara itu.

Jacob berdiri di batas tempat hutan bertemu dengan pekarangan rumah keluarga Cullen, kedua lengannya terlipat di tubuh, rahangnya mengatup rapat. Tak terlihat di dalam hutan di belakangnya, sekarang aku mendengar dua jantung lain yang lebih besar, dan samar-samar suara ranting berderak diinjak kaki-kaki besar yang berjalan mondar-mandir.

“Hati-hati, Jacob,” kata Edward. Geraman dari hutan menggemakan sikap waspada dalam suaranya. “Mungkin ini bukan cara terbaik…”

“Menurutmu lebih baik membiarkan dia mendekati bayinya dulu?” potong Jacob. “Lebih aman melihat bagaimana Bella bereaksi terhadapku. Aku kan bisa pulih dengan cepat.”

Jadi ini semacam uji coba? Untuk melihat apakah aku bisa tidak membunuh Jacob sebelum aku mencoba tidak membunuh Renesmee? Aku merasakan perasaan mual yang sangat aneh—itu tak ada hubungannya dengan perutku, hanya dengan pikiranku. Apakah ini ide Edward?

Kulirik wajahnya dengan cemas; Edward seperti menimbang-nimbang beberapa saat, kemudian ekspresinya berubah dari waswas menjadi sesuatu yang lain. Ia mengangkat bahu, kemudian terdengar nada sinis di balik suaranya waktu berkata, “Terserah, itu kan lehermu sendiri”

Geraman yang berasal dari hutan kini terdengar marah; Leah, tak diragukan lagi.

Ada apa dengan Edward? Setelah semua yang kami lalui, bukankah seharusnya ia bisa merasakan sedikit kebaikan hati untuk sahabatku? Kusangka—mungkin dugaanku ini tolol— Edward bisa dibilang sudah menjadi teman Jacob juga sekarang. Aku pasti salah membaca hubungan mereka.

Tapi apa yang dilakukan Jacob? Mengapa ia menawarkan diri sebagai uji coba untuk melindungi Renesmee?

Sungguh tak masuk akal. Walaupun seandainya persahabatan kami tetap bertahan…

Dan saat mataku bertemu mata Jacob sekarang, kupikir mungkin persahabatan kami masih bertahan. Kelihatannya dia masih sahabatku. Tapi memang bukan dia yang berubah. Terlihat seperti apakah aku baginya?

Lalu Jacob menyunggingkan senyumnya yang familier, senyumnya yang penuh kasih, dan aku yakin persahabatan kami cetap utuh. Sama seperti dulu, waktu kami nongkrong di garasi rumahnya yang disulap jadi bengkel, dua sahabat yang menghabiskan waktu bersama. Mudah dan normal. Lagi-lagi kusadari, perasaan membutuhkan aneh yang kurasakan terhadapnya sebelum aku berubah, sekarang sudah benar-benar lenyap. Ia hanya teman biasa, seperti seharusnya.

Tapi tetap saja tak masuk akal apa yang ia lakukan sekarang. Apakah ia benarbenar begitu tidak egois sehingga mau benisaha melindungiku—dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri—agar tidak melakukan sesuatu yang hanya butuh sepersekian detik tak terkendali untuk melakukannya, yang akan mengakibatkan penyesalan seumur hidup? Itu lebih daripada sekadar menolerir keadaanku yang sudah berubah, atau secara ajaib tetap mau menjadi temanku. Jacob adalah satu dari beberapa gelintir orang terbaik yang kukenal, tapi sepertinya ini terlalu berlebihan untuk kuterima dari siapa pun.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.