Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Ah, tidak terlalu mirip,” aku tidak sependapat, berusaha tidak mengingatnya.

“Kita bisa saja kembali,” kata Edward dengan nada bersungguh-sungguh, walaupun ada kilatan menggoda di matanya. “Siapa pun yang ada di hutan tadi, kalau dia laki-laki, dia mungkin tidak keberatan harus mati kalau kau yang membunuhnya.’* Matanya lagilagi jelalatan memandang gaunku yang compang-camping. “Bahkan, bisa jadi dia malah mengira dirinya sudah mati dan masuk surga begitu melihatmu.”

Kuputar bola mataku dan mendengus. “Ayo kita berburu hewan-hewan herbivora yang baunya tidak enak saja.”

Kami menemukan sekelompok rusa bagal dalam perjalanan kembali ke rumah. Edward berburu bersamaku kali ini, karena sekarang aku sudah mulai terampil melakukannya. Aku berhasil melumpuhkan rusa besar, hampir sama berantakannya dengan saat melumpuhkan singa tadi. Edward sudah selesai memangsa dua buruan sebelum aku menyelesaikan buruan pertamaku, tanpa seutas rambut pun keluar dari jalurnya, tanpa setitik pun noda mengotori kemeja putihnya. Kami mengejar kawanan rusa yang kocarkacir ketakutan itu, tapi kali ini aku tidak berburu lagi, hanya menonton dengan hati-hati untuk melihat bagaimana ia bisa berburu begitu rapi.

Walaupun dulu aku berharap Edward tidak meninggalkanku waktu ia berburu, sekarang diam-diam aku sedikit lega. Karena aku yakin melihat hal ini pasti akan sangat menakutkan. Mengerikan. Bahwa melihat Edward berburu akhirnya akan membuatnya terlihat benar-benar seperti vampir di mataku.

Tentu saja, persoalannya jadi lain bila aku melihatnya dari kacamata vampir. Tapi aku ragu bahkan mata manusiaku takkan melihat keindahan semua ini.

Mengejutkan, bagaimana ini bisa menjadi pengalaman yang sensual, mengamati Edward berburu. Terjangannya yang luwes bagaikan serangan ular; tangannya begitu yakin, begitu kuat, benar-benar tak bisa dihindari; bibirnya yang penuh tampak sempurna saat terbuka dengan anggun, menampakkan gigi-giginya yang berkilauan. Sungguh mengagumkan. Aku merasakan sentakan rasa bangga bercampur gairah. Ia milikku. Tak ada yang bisa memisahkan dia dariku sekarang. Aku terlalu kuat untuk direnggut dari sisinya.

Gerakannya cepat sekali. Ia berbalik menghadapku dan mengamati ekspresi banggaku dengan sikap curiga. •

“Tidak haus lagi?” tanyanya.

Aku mengangkat bahu. “Kau mengalihkan perhatianku. Kau lebih piawai berburu daripada aku.”

“Berkat latihan berabad-abad.” Ia tersenyum. Bola matanya kini berwarna kuning keemasan indah

“Hanya satu abad,” aku mengoreksi kata-katanya.

Edward tertawa. “Sudah cukup hari ini? Atau kau masih ingin melanjutkan perburuan?”

“Cukup, kurasa.” Aku merasa kekenyangan, bahkan agak kepenuhan cairan. Aku tak tahu berapa banyak cairan lagi bisa masuk ke tubuhku. Tapi rasa panas di tenggorokanku hanya sedikit teredam. Tapi memang, aku sudah tahu dahaga merupakan bagian tak terelakkan dari kehidupan ini.

Dan itu sepadan dengan kebahagiaan yang kuperoleh.

Aku merasa bisa mengendalikan diri. Mungkin perasaan aman yang kurasakan ini keliru, tapi aku benar-benar merasa lega karena tidak membunuh manusia hari ini. Kalau manusia yang sama sekali tidak kukenal saja bisa kuhindari, bukankah aku pasti bisa menahan diri untuk tidak menyerang werewolf dan anak setengah vampir yang kucintai?

“Aku ingin melihat Renesmee,” kataku. Sekarang setelah dahagaku reda (kalau tidak bisa dibilang hilang sama sekali), aku sulit melupakan kekhawatiranku tadi. Aku ingin me-rekonsiliasi bocah asing yang adalah putriku dengan makhluk yang kucintai tiga hari lalu. Aneh sekali rasanya tanpa dia dalam perutku. Mendadak aku merasa hampa dan gelisah.

Edward mengulurkan tangan. Aku meraihnya, dan kulitnya terasa lebih hangat daripada sebelumnya. Pipinya sedikit memerah, bayangan di bawah matanya lenyap tak berbekas.

Aku tak tahan untuk tidak membelai wajahnya lagi. Dan lagi.

Aku jadi lupa diriku menunggu respons atas permintaanku tadi saat aku menatap mata emasnya yang berbinar-binar.

Hampir sama sulitnya dengan berbalik memunggungi bau darah manusia, tapi entah bagaimana aku berhasil mengingatkan diriku untuk berhati-hati sementara berjinjit dan merangkul tubuhnya. Dengan lembut.

Edward sama sekali tak ragu-ragu; kedua lengannya memeluk pinggangku dan menarikku ke tubuhnya. Bibirnya melumat bibirku, namun terasa lembut. Bibirku tak lagi melunak saat dilumat olehnya; sekarang bibirku tetap dalam bentuk semula.

Sama seperti sebelumnya, seolah-olah sentuhan kulit Edward, bibirnya, tangannya langsung terbenam ke kulitku yang halus dan keras, langsung ke tulang-tulang baruku. Ke pusat tubuhku. Sama sekali tak terbayangkan olehku aku bisa mencintainya lebih lagi.

Pikiranku yang lama tak sanggup menampung cinta sebesar ini. Hatiku yang lama tak cukup kuat menanggungnya.

Mungkin ini bagian dari diriku yang kubawa untuk semakin diintensifkan dalam kehidupan baruku. Seperti belas kasihan Carlisle dan pemujaan Esme, Mungkin aku takkan pernah bisa melakukan hal-hal menarik atau istimewa seperti yang bisa dilakukan Edward, Alice, dan Jasper. Mungkin aku hanya bisa mencintai Edward lebih daripada siapa pun sepanjang sejarah dunia ini. Itu sudah cukup bagiku.

Aku teringat pada bagian-bagian ini—menyusupkan jari-jariku ke rambutnya, meraba dadanya—tapi bagian-bagian lain masih baru bagiku. Edward sendiri terasa barubagiku. Rasanya sungguh berbeda, berciuman dengan Edward tanpa harus merasa takut, dengan segenap hati. Aku merespons kesungguhannya, kemudian, tiba-tiba saja kami jatuh.

“Uuups,” seruku, dan Edward tertawa di bawahku. “Aku tidak bermaksud membuatmu jatuh seperti itu. Kau tidak apa-apa?”

Edward membelai-belai wajahku. “Sedikit lebih baik daripada tidak apa-apa” Kemudian ekspresi bingung terlintas di wajahnya. “Renesmee?” tanyanya ragu, berusaha meyakinkan apa yang paling kuinginkan saat ini. Pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab, karena aku menginginkan begitu banyak hal pada saat bersamaan.

Aku bisa melihat dari sikap Edward bahwa ia tidak keberatan menunda kepulangan kami ke rumah, dan sulit sekali memikirkan hal lain selain,kulitnya yang menempel di kulitku—tak banyak lagi yang tersisa dari gaunku. Tapi kenanganku akan Renesmee, sebelum dan sesudah kelahirannya, semakin lama semakin menjadi seperti mimpi bagiku. Semakin tidak nyata. Semua kenanganku akan dia adalah kenanganku saat masih menjadi manusia; ada aura artifisial melekat di dalamnya. Tidak ada yang terasa nyata sebelum aku melihatnya dengan mata ini, menyentuhnya dengan tangan ini.

Setiap menit realita bocah asing itu terhanyut semakin jauh.

“Renesmee,” aku menyetujui dengan sikap menyesal, dengan cepat bangkit berdiri, menarik Edward berdiri bersamaku.

22. JANJI

Memikirkan Renesmee membawanya ke panggung utama di otak baruku yang aneh, lapang, tapi mudah dialihkan perhatiannya itu. Begitu banyak pertanyaan.

“Ceritakan padaku tentang dia,” desakku ketika Edward menggandeng tanganku. Bergandengan tangan tidak memperlambat gerak kami.

“Dia tak ada duanya di dunia ini,” kata Edward, dan nada takzim itu kembali terdengar dalam suaranya.

Aku merasakan sengatan kecemburuan terhadap makhluk asing ini. Edward mengenalnya, sementara aku tidak. Tidak adil.

“Semirip apa dia denganmu? Semirip apa dia denganku? Aku yang dulu maksudku.”

“Sepertinya dia sama-sama mirip dengamu dan denganku, seimbang.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.