Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Alice memandangiku dengan saksama waktu aku naik ke Porsche-nya.

“Oh, ya ampun, coba lihat matamu!” Ia berdecak-decak dengan sikap mencela. “Apa yang kaulakukan? Begadang semalam suntuk?”

“Hampir.”

Alice melotot. “Aku tidak punya banyak waktu untuk membuatmu tampil memesona, Bella—seharusnya kau menjaga ‘bahan mentahnya’ lebih baik lagi,”

“Tak ada yang mengharapkanku tampil memesona. Menurutku lebih gawat kalau aku tertidur saat upacara dan tidak bisa mengatakan saya bersedia’ pada saat yang tepat, kemudian Edward bakal kabur.”

Alice tertawa. “Aku akan melemparimu dengan buketku kalau kau sudah hampir ketiduran.”

“Trims.”

“Setidaknya kau punya banyak waktu untuk tidur di pesawat besok.”

Aku mengangkat sebelah alis. Besok, renungku. Kalau kami berangkat malam ini seusai resepsi, dan masih berada di pesawat besok… well, berarti kami bukannya akan pergi ke Boise, Idaho. Edward sama sekali menolak memberi petunjuk. Bukannya aku penasaran memikirkan misteri itu, tapi aneh saja rasanya, tidak tahu di mana aku akan tidur besok malam. Atau kuharap tidak tidur…

Alice sadar ia telah kelepasan bicara, dan keningnya berkerut.

“Barang-barang bawaanmu sudah siap semua,” katanya untuk mengalihkan pikiranku.

Usahanya berhasil. “Alice, sebenarnya aku ingin diperbolehkan mengepak barangbarangku sendiri!”

“Itu sama saja membocorkan rahasia.”

“Dan melenyapkan kesempatanmu untuk shopping”

“Sepuluh jam lagi kau akan resmi jadi kakakku… jadi sudah waktunya kau melupakan keenggananmu pada baju-baju baru.”

Aku memandang garang dengan tatapan mengantuk ke luar kaca jendela sampai kami hampir tiba di rumah. “Dia…sudah pulang belum?” tanyaku.

“Jangan khawatir, pokoknya dia akan berada di sana begitu musik mulai mengalun. Tapi kau tidak boleh bertemu dengannya, tak peduli kapan pun dia pulang nanti. Kita akan melakukan ini secara tradisional.”

Aku mendengus. “Tradisional!”

“Oke, kecuali mempelai pria dan wanitanya.”

“Kau tahu dia sudah mengintip.”

“Oh tidak—itulah sebabnya hanya aku yang pernah melihatmu dalam gaun pengantin. Aku sangat berhati-hati untuk tidak memikirkannya kalau sedang ada dia.”

“Well” kataku saat mobil berbelok memasuki halaman. “Ternyata kau memakai semua dekorasi wisudamu lagi.” Jalan masuk sepanjang hampir lima kilometer sekali lagi dihiasi ribuan lampu kecil berkelap-kelip. Kali ini Alice menambahkan pira satin putih.

“Tak ada salahnya berhemat. Nikmatilah, karena kau tidak boleh melihat dekorasi di dalam sampai tiba waktunya nanti.” Ia memasukkan mobil ke garasi yang besar dan luas di bagian utara rumah induk; Jeep Emmett masih belum tampak.

“Sejak kapan mempelai wanita tidak dibolehkan melihat dekorasinya?” protesku.

“Sejak si mempelai wanita menugaskan aku mengurus semuanya. Aku ingin kau baru melihat semuanya saat berjalan menuruni tangga.”

Alice menutup mataku dengan tangannya sebelum mengajakku masuk ke dapur. Bau itu langsung menyerbu indra penciumanku.

“Apa itu?” tanyaku penasaran saat Alice membimbingku memasuki rumah.

“Berlebihan, ya?” Suara Alice mendadak waswas. “Kau manusia pertama yang masuk ke sini; mudah-mudahan saja aku tidak terlalu berlebihan,”

“Baunya enak sekali!” aku meyakinkan Alice—nyaris memabukkan, tapi tidak berlebihan, bauran berbagai aroma yang berbeda terasa halus dan mulus, “Orange blossoms… lilac„. dan bunga yang lain—betul, kan?”

“Bagus sekali, Bella. yang tidak kausebut hanya freesia dan mawar.”

Ia tidak melepaskan tangannya dari mataku sampai kami berada di kamar mandinya yang berukuran superbesar. Kupandangi konter kamar mandi yang panjang, seluruh permukaannya dipenuhi berbagai pernak-pernik seperti di salon kecantikan, dan mulai merasakan akibat kurang tidurku semalam.

“Apakah ini benar-benar perlu? Dipermak bagaimanapun, aku akan tetap terlihat biasa di samping Edward.”

Alice mendorongku hingga terduduk ke kursi pink yang rendah. “Tidak ada yang berani menyebutmu biasa setelah aku selesai memermakmu.”

“Hanya karena mereka takut kau bakal mengisap darah mereka,” gerutuku. Aku bersandar di kursi dan memejamkan mata, berharap bisa mencuri-curi tidur selama dirias. Aku memang sempat terhanyut antara sadar dan tidak sementara Alice sibuk memasker, mengampelas, dan mengilatkan setiap jengkal permukaan tubuhku.

Selepas waktu makan siang, Rosalie melenggang melewati kamar mandi dalam balutan gaun perak berpendar-pendar, rambut emasnya ditumpuk menjadi mahkota lembut di puncak kepala. Ia begitu cantik sampai-sampai rasanya aku kepingin menangis. Apa gunanya berdandan kalau ada Rosalie?

“Mereka sudah pulang,” kata Rosalie dan seketika itu juga perasaan meranaku yang kekanak-kanakan lenyap. Edward sudah pulang.

“Jangan sampai dia masuk ke sini!”

“Dia tidak bakal membuatmu kesal hari ini,” Rosalie menenangkan Alice. “Dia terlalu menghargai hidupnya. Esme menyuruh mereka membereskan sesuatu di belakang. Kau butuh bantuan? Aku bisa menata rambutnya.”

Mulutku langsung menganga. Saking kagetnya aku sampai lupa menutup mulut.

Rosalie tak pernah menyukaiku. Dan, yang membuat hubungan kami semakin buruk, ia secara pribadi sangat tidak menyetujui pilihan yang kuambil sekarang. Walaupun memiliki kecantikan luar biasa, keluarga yang mencintainya, dan Emmett sebagai belahan jiwanya, Rosalie rela menukar semua itu demi bisa menjadi manusia. Tapi aku justru seenaknya mencampakkan semua yang ia inginkan dalam hidup ini seolah-olah semua itu sampah. Itu membuatnya semakin tidak menyukaiku.

“Tentu,” jawab Alice enteng. “Kau bisa mulai mengepang rambutnya. Aku ingin tatanan yang rumit. Cadarnya nanti dipasang di sini, di bawah.” Kedua tangannya mulai menyisir rambutku, mengangkat, memilin, menggambarkan secara mendetail apa yang ia inginkan. Setelah ia selesai, tangan Rosalie menggantikannya, membentuk rambutku dengan sentuhan sehalus bulu. Alice kembali menekuni wajahku.

Setelah Rosalie selesai menata rambutku, ia disuruh mengambil gaunku kemudian mencari Jasper, yang dikirim untuk menjemput ibuku dan suaminya, Phil, dari hotel tempat mereka’menginap. Di lantai bawah samar-samar aku bisa mendengar suara pintu membuka dan menutup berulang kali. Suara-suara mulai terdengar oleh kami,

Alice menyuruhku berdiri supaya ia bisa mengenakan gaun itu tanpa merusak tatanan rambut dan makeup-ku. Lututku gemetar sangat hebat saat ia mengancingkan deretan panjang kancing mutiara di punggungku sampai-sampai gaun satinku bergoyanggoyang seperti ombak di lantai.

“Tarik napas dalam-dalam, Bella,” kata Alice. “Dan cobalah tenangkan debar jantungmu. Bisa-bisa wajah barumu berkeringat nanti.”

Aku menampilkan ekspresi sarkastis terbaikku. “Akan segera kulaksanakan ”

“Aku harus berpakaian sekarang. Bisakah kau menahan diri selama dua menit?”

“Eh… mungkin?”

Alice memutar bola matanya dan melesat keluar pintu.

Aku berkonsentrasi menarik napas, menghitung setiap gerakan paru-paruku, dan memandangi pola-pola lampu kamar mandi yang terpantul di gaunku yang berbahan mengilat, Aku takut melihat ke cermin—takut kalau-kalau bayangan diriku dalam balutan gaun pengantin membuatku panik.

Alice sudah kembali sebelum aku sempat menarik napas dua ratus kali, mengenakan gaun yang menuruni tubuh langsingnya bagaikan air terjun keperakan.

“Alice—wow”

“Ini bukan apa-apa. Tak ada yang bakal melirikku hari ini. Tidak bila aku berada satu ruangan bersamamu.”

“Ha ha,”

“Sekarang, kau bisa mengendalikan diri, atau aku perlu menyuruh Jasper naik ke sini?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.