Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Tentu saja. Itu wajar. Tapi aku tidak mengerti bagaimana kau bisa melarikan diri.”

“Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan?” tanyaku. Sikap Edward membuatku bingung—memangnya apa yang ia ingin agar terjadi? “Bisa saja kan orang itu tadi seseorang yang kukenal!”

Edward membuatku kaget setengah mati dengan tertawa sangat keras, melontarkan kepalanya ke belakang dan membiarkan tawanya bergema di pepohonan.

“Mengapa kau menertawakanku?”

Edward berhenti tertawa, kentara sekali ia kembali waswas.

Kuasai dirimu, pikirku dalam hati. Aku harus menahan amarahku. Seolah-olah aku ini werewolf muda, bukan vampir baru.

“Aku bukannya menertawakanmu, Bella. Aku tertawa karena aku sbock. Dan aku shock karena benar-benar takjub.”

“Mengapa?”

“Seharusnya kau tidak bisa melakukan hal-ha! ini. Seharusnya kau’ tidak bersikap begitu… begitu rasional. Seharusnya kau tidak bisa berdiri di sini, mendiskusikan hal ini bersamaku dengan tenang dan santai. Dan, jauh lebih penting daripada itu, seharusnya kau tidak bisa berhenti di tengah-tengah perburuan dengan bau darah manusia menyeruak di udara. Bahkan vampir-vampir matang pun akan mengalami kesulitan—kami selalu sangat berhati-hati mencari tempat berburu agar tidak tergoda. Bella, kau bersikap seolah-olah kau sudah beberapa dekade menjadi vampir, bukan baru beberapa hari.”

“Oh” Soalnya aku sudah tahu ini bakal sulit. Itulah sebabnya aku begitu berhatihati. Aku sudah mengira ini bakal berat.

Edward merengkuh wajahku lagi, dan matanya dipenuhi kekaguman. “Rasanya aku rela memberikan apa saja asal bisa melihat ke dalam pikiranmu satu kali ini saja.”

Perasaan yang sungguh kuat. Aku sudah siap menghadapi masalah dahaga itu, tapi ini tidak. Padahal aku sudah yakin keadaannya takkan sama saat ia menyentuhku. Well, kenyataannya, memang tidak sama.

Perasaan itu justru semakin kuat.

Aku mengangkat tangan dan menyusuri permukaan wajahnya; jari-jariku berlamalama di bibirnya.

“Kusangka masih lama baru aku akan merasa seperti ini lagi?” Ketidakyakinanku membentuk kalimat itu menjadi pertanyaan. “Tapi aku tetap menginginkanmu”

Edward mengerjap shock, “Bagaimana kau bahkan bisa berkonsentrasi pada hal itu? Bukankah kau sangat haus?”

Tentu saja aku haus sekarang; sekarang setelah Edward mengungkitnya lagi!

Aku berusaha menelan ludah kemudian mendesah, memejamkan mata seperti yang kulakukan sebelumnya untuk membantuku berkonsentrasi. Kubiarkan pancaindraku berkelana ke sekelilingku, kali ini dengan perasaan tegang, takut kalau-kalau akan tercium lagi aroma menggiurkan yang tabu untuk dirasakan.

Edward menurunkan kedua tangannya, bahkan tidak bernapas sementara aku menajamkan pendengaran, lebih jauh .dan, lebih jauh lagi menerobos semak dan pepohonan hijau, memilah-milah berbagai bau dan suara, mencari sesuatu yang tidak terlalu menjijikkan untuk dahagaku. Samar-samar tercium bau sesuatu yang berbeda, jejak samar ke arah timur…

Mataku terbuka dengan cepat, tapi fokusku masih tajam saat aku berbalik dan melesat tanpa suara ke timur. Tanah mendadak menanjak curam, dan aku berlari dalam posisi membungkuk, dekat ke tanah, siap menerjang, melompati pepohonan kalau itu lebih mudah. Aku lebih bisa merasakan kehadiran Edward bersamaku daripada mendengarnya, melaju tanpa suara melintasi hutan, membiarkanku memimpin.

Kerapatan hutan mulai menipis saat kami mendaki semakin tinggi; bau ter dan damar semakin tajam, begitu juga bau buruan yang kuikuti—baunya hangat, lebih tajam daripada bau rusa dan lebih menggiurkan. Beberapa detik kemudian aku bisa mendengar suara langkah-langkah kaki besar menjejak dengan suara teredam, jauh lebih lembut daripada bunyi jejak kaki berkuku. Suaranya berasal dari atas—di dahan-dahan pohon, bukan di tanah. Otomatis aku melompat dari dahan ke dahan, semakin lama semakin tinggi, mencari posisi strategis, menaiki pohon cemara ftr berdaun keperakan yang tinggi menjulang.

Langkah-langkah lembut itu terus terdengar, mengendap-endap di bawahku sekarang; baunya yang menggiurkan begitu dekat. Mataku terarah ke gerakan suara itu, dan kulihat kulit kecokelatan seekor singa besar menyelinap di dahan lebar cemara, tepat di bawah sebelah kiri tempatku bertengger. Singa itu besar—ukurannya kira-kira empat kali massa tubuhku. Matanya tertuju ke tanah di bawah; singa itu juga sedang berburu. Hidungku menangkap bau sesuatu yang lebih kecil, datar bila dibandingkan dengan bau buruanku, mengkeret di dalam semak-semak di bawah pohon. Ekor singa itu berkedutkedut sementara ia bersiap-siap menerkam.

Dengan gerak ringan tubuhku melayang di udara dan mendarat tepat di dahan tempat singa itu berada. Hewan itu merasakan kayu bergetar dan berbalik, memekik kaget sekaligus marah. Ia mengayunkan cakarnya, matanya berapi-api marah. Setengah gila karena kehausan, aku tak menggubris kuku-kuku tajamnya dan menerkam, hingga kami sama-sama terjatuh ke tanah.

Pertarungannya tidak terlalu seimbang.

Kuku-kukunya yang tajam seperti jari-jari yang membelai lembut kulitku. Giginya tak mampu menembus bahu atau leherku. Bobot badannya tidak ada apa-apanya. Gigiku dengan tepat mengarah ke tenggorokannya, dan penolakannya yang instingtif terasa lemah dibandingkan dengan kekuatanku. Rahangku mengunci dengan mudah tepat di titik aliran darah terpusat.

Mudah saja menggigitnya, semudah membenamkan gigi ke mentega. Gigiku bagaikan silet baja; mengoyak menembus kulit, lemak, dan otot-otot seakan-akan semua itu tak.ada.

Rasanya tidak enak, tapi darahnya panas, basah, dan memuaskan dahagaku yang

menggelitik sementara aku minum dengan rakus. Pemberontakan singa itu semakin lemah, dan jeritannya tersedak deguk-deguk. Hangatnya darah terpancar ke seluruh tubuhku, bahkan sampai ke ujung-ujung jari tangan dan kaki.

Singa itu sudah mati sebelum aku selesai mengisap darahnya. Dahagaku kembali membuncah ketika darah singa itu sudah habis kuminum, dan dengan kasar kudorong bangkainya dari tubuhku dengan perasaan jijik. Bagaimana mungkin aku masih haus setelah meneguk darah sebanyak itu? Aku menegakkan badan dalam satu gerakan cepat. Setelah berdiri, baru aku sadar betapa berantakannya keadaanku. Kuseka wajanku dengan punggung lengan dan berusaha membenahi gaunku. Cakar yang tadi tak mampu menembus kulitku berhasil mencabik-cabik gaun satinku yang tipis.

“Hmmm,” ujar Edward. Aku mendongak dan melihatnya bersandar santai pada batang pohon, memandangiku dengan ekspresi bersungguh-sungguh.

“Kurasa mestinya aku bisa melakukannya lebih baik lagi.” Sekujur tubuhku berlepotan tanah, rambutku kusut masai, bajuku berlumuran darah dan compang-camping. Edward tak pernah pulang dari berburu dalam keadaan seperti ini.

“Kau sudah cukup baik tadi,” ia meyakinkanku. “Hanya saja… jauh lebih sulit bagiku menontonnya.”

Kuangkat alisku, bingung.

“Membiarkanmu bergulat dengan singa berlawanan dengan watakku,” Edward menjelaskan. “Aku panik sendiri melihatnya.”

“Tolol.”

“Aku tahu. Kebiasaan lama sulit dihilangkan. Tapi aku lebih suka gaunmu seperti sekarang ini,”

Kalau saja bisa, wajahku pasti sudah memerah sekarang. Aku langsung mengganti topik. “Mengapa aku masih haus?”

“Karena kau masih muda.”

Aku mendesah. “Dan kurasa tak ada lagi singa gunung di dekat-dekat sini.”

“Tapi ada rusa.”

Aku mengernyit. “Baunya kurang enak.”

“Herbivora. Hewan pemakan daging baunya memang lebih mirip manusia” Edward menjelaskan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.