Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Rasanya sisi-sisi tenggorokanku terisap menutup.

“Dekat sungai, di sebelah timur laut?”

“Ya.” Nadanya menyetujui. “Sekarang… tunggu sampai angin bertiup lagi dan… bau apa yang kaucium?”

Kebanyakan yang kucium adalah bau tubuh Edward—wangi tubuhnya yang aneh, campuran bau madu, lilac, dan matahari. Tapi juga bau tajam dedaunan busuk dan lumut, bau damar di pepohonan yang daunnya selalu hijau, bau tikus-tikus tanah kecil yang bersembunyi di bawah akar-akar pohon, baunya hangat dan agak mirip kacang. Kemudian, setelah semakin mempertajam pendengaran, bau air bersih, yang herannya tidak menggiurkan sama sekali, padahal saat ini aku sedang kehausan. Perhatianku terfokus pada air dan menemukan bau yang pasti berhubungan dengan bunyi kecipak dan detak jantung tadi. Dan bau lain yang hangat, kuat, dan tajam, lebih tajam daripada yang lain-lain. Tapi tetap sama tidak menggiurkannya dengan bau sungai tadi. Aku mengernyitkan hidung.

Edward terkekeh. “Aku tahu—nanti lama-lama kau akan terbiasa.”

“Tiga?” tebakku.

“Lima. Ada dua lagi di pepohonan di belakang mereka.”

“Aku harus bagaimana sekarang?”

Suara Edward kedengarannya seperti tersenyum. “Rasa-rasanya kau ingin melakukan apa?”

Aku memikirkan pertanyaan itu, mataku masih terpejam sementara aku mendengarkan dan menghirup bau itu. Dahaga yang menyengat lagi-lagi mengusik kesadaranku, dan tiba-tiba bau hangat menyengat itu tak lagi terlalu memualkan. Setidaknya itu akan jadi sesuatu yang panas dan basah di mulutku yang kering kerontang. Mataku membuka tiba-tiba.

“Jangan dipikirkan,” Edward menyarankan saat ia mengangkat kedua tangannya dari wajahku dan mundur selangkah. “Ikuti saja instingmu.”

Kubiarkan diriku terhanyut oleh bau itu, nyaris tak menyadari gerakanku saat aku melayang menyusuri turunan menuju padang rumput sempit tempat sungai itu mengalir.

Tubuhku otomatis membungkuk ke depan saat aku ragu ragu di samping pepohonan yang dipagari pakis-pakisan. Bisa kulihat seekor rusa besar, dua lusin tanduk memahkotai kepalanya, di tepi sungai, dan bayang-bayang empat rusa lain yang berjalan ke timur, memasuki hutan dengan langkah-langkah tenang.

Aku memusatkan diriku pada bau rusa jantan itu, titik panas di lehernya yang berjumbai-jumbai, tempat kehangatan berdenyut paling kuat. Hanya 27 meter—dua atau tiga langkah lebar—jarak yang memisahkan kami. Aku mengejang sebelum melakukan lompatan pertama.

Tapi saat otot-ototku mengejang untuk bersiap-siap, angin berubah arah, bertiup lebih kencang sekarang, dari arah selatan. Aku tidak berhenti untuk berpikir, menghambur keluar dari pepohonan, melesat ke arah yang berlawanan dengan rencana awalku, mengagetkan rusa itu dan membuatnya kabut ke hutan, mengejar bau baru yang sangat menggiurkan hingga tak ada pilihan lain. Itu kewajiban.

Bau itu menguasaiku sepenuhnya. Pikiranku hanya tertuju pada bau itu saat aku melacaknya, hanya menyadari dahaga serta bau yang menjanjikan kepuasan. Dahagaku semakin menjadi-jadi, begitu menyakitkan sekarang hingga membingungkan pikiranpikiranku yang lain dan mulai mengingatkanku pada panasnya racun yang membakar dalam pembuluh darahku.

Hanya satu yang masih berpeluang menembus fokusku sekarang, insting yang lebih kuat, lebih mendasar daripada kebutuhan untuk memadamkan api—yaitu insting untuk melindungi diriku dari bahaya. Insting menyelamatkan diri sendiri.

Mendadak perhatianku waspada oleh fakta bahwa aku sedang diikuti. Tarikan bau menggiurkan itu berperang dengan dorongan untuk berbalik dan mempertahankan buruanku. Gelembung-gelembung suara membuncah di dadaku, sudut-sudut bibirku tertarik ke belakang dengan sendirinya, memamerkan gigiku sebagai peringatan. Langkahku melambat, dan kebutuhan untuk melindungi diri berperang melawan gairah untuk memuaskan dahagaku.

Kemudian aku bisa mendengar pemburuku semakin dekat, dan insting membela dirilah yang menang. Saat aku berbalik, suara membuncah tadi melesat melewati tenggorokanku dan keluar.

Geraman buas, yang keluar dari mulutku sendiri, sangat tak terduga-duga hingga langkahku terhenti. Itu membuat ketenanganku terguncang, dan menjernihkan pikiranku sejenak—kabut yang dikendalikan dahaga itu menipis, walaupun rasa haus itu terus membakar.

Angin berubah arah, meniupkan bau tanah basah dan hujan yang turun ke wajahku, semakin membebaskanku dari cengkeraman bau yang lain itu—bau yang sangat menggiurkan hingga bisa dipastikan itu bau manusia.

Edward ragu-ragu beberapa meter dariku, kedua lengannya terangkat seperti hendak memelukku—atau menahanku. Wajahnya sungguh-sungguh dan hati-hati sementara aku membeku, ngeri.

Sadarlah aku bahwa aku tadi nyaris menyerangnya. Tersentak keras, aku meluruskan tubuh dari posisiku yang membungkuk defensif. Kutahan napasku sementara aku memfokuskan kembali perhatianku, takut mencium bau kuat yang berpusar-pusar dari arah selatan.

Edward bisa melihat wajahku kembali waras, dan ia maju selangkah ke arahku, menurunkan kedua tangannya.

“Aku harus pergi dari sini,” semburku dari sela-sela gigiku, menggunakan sisa-sisa napas yang kumiliki.

Edward tampak shock. “Memangnya kau bisa pergi?”

Aku tidak sempat lagi bertanya apa maksud perkataannya itu. Aku tahu kemampuanku berpikir jernih hanya akan bertahan selama aku bisa membuat diriku berhenti berpikir tentang…

Aku kembali berlari, langsung melesat ke arah utara, hanya berkonsentrasi pada perasaan tak nyaman karena kurangnya pengalaman sensoris yang tampaknya merupakan satu-satunya respons tubuhku terhadap kurangnya udara. Satu-satunya tujuanku adalah berlari sejauh mungkin hingga bau di belakangku benar-benar hilang. Mustahil ditemukan, bahkan seandainya aku berubah pikiran…

Sekali lagi aku sadar diriku diikuti, tapi kali ini aku waras. Kulawan insting untuk menarik napas—menggunakan bau-bauan di udara untuk memastikan itu Edward. Aku tak perlu berjuang terlalu lama; walaupun aku berlari lebih cepat daripada yang pernah kulakukan sebelumnya, melesat bagai komet di jalan setapak paling lurus yang bisa kutemukan di antara pepohonan; Edward berhasil menyusulku tak lama kemudian.

Pikiran baru melintas di otakku, dan langkahku tiba-tiba terhenti, kedua kakiku menjejak mantap di tanah. Aku yakin aku pasti aman di sini, tapi aku tetap menahan napas untuk berjaga-jaga.

Edward melesat melewatiku, terkejut karena aku tiba-tiba berhenti. Dengan cepat ia berbalik dan dalam sedetik sudah berada di sampingku. Ia meletakkan kedua tangannya di pundakku dan menatap mataku, ekspresi shock masih mendominasi wajahnya.

“Bagaimana kau bisa melakukannya?” tuntut Edward.

“Ternyata kau sengaja membiarkanku mengalahkanmu sebelumnya, kan?” aku balas menuntut, mengabaikan pertanyaannya. Padahal kusangka tadi aku hebat!

Waktu membuka mulut, aku bisa merasakan udara—udara sekarang sudah tidak terpolusi lagi, tak sedikit pun tersisa jejak aroma menggiurkan yang menyiksa dahagaku. Hati-hati aku menarik napas.

Edward mengangkat bahu dan menggeleng, tidak mau dibelokkan, “Bella, bagaimana caramu melakukannya?”

“Lari menjauh? Aku menahan napas.”

“Tapi bagaimana bisa kau berhenti berburu?”

“Waktu kau datang ke belakangku… Aku minta maaf soal itu.”

“Mengapa kau meminta maaf pada/ew? Justru akulah yang ceroboh. Kukira tak ada orang berkeliaran sejauh itu dari ja-J!an setapak, tapi seharusnya aku mengecek lebih dulu. Sungguh kesalahan tolol! Kau tidak perlu meminta maaf”

“Tapi aku menggeram padamu!” Aku masih ngeri membayangkan diriku mampu melakukan hal sekeji itu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.