Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Begini lebih nyaman.

Aku bisa mendengar suara tawa teredam di rumah, bahkan suara seseorang mengertakkan gigi. Suara tawa itu berasal dari lantai atas dan bawah, dan dengan mudah aku bisa mengenali suara tawa kasar dan serak yang sangat berbeda dari lantai satu.

Jadi Jacob juga ikut menonton? Tak terbayang apa yang dipikirkannya sekarang, atau mengapa ia masih di sini, Sebelumnya aku membayangkan reuni kami—kalau ia bisa memaafkan aku—masih akan lama terjadi, kalau aku sudah lebih stabil, dan waktu telah menyembuhkan luka-luka yang diakibatkan olehku.

Aku tidak menoleh untuk memandangnya sekarang, mengkhawatirkan suasana hatiku yang cepat berubah. Tak baik membiarkan emosiku terlalu menguasai pikiran. Ketakutan Jasper juga membuatku waswas. Aku harus berburu dulu sebelum berurusan dengan hal-hal lain. Aku berusaha melupakan semua hal lain agar bisa berkonsentrasi.

“Bella?” Edward berseru memanggilku dari hutan, suaranya semakin dekat. “Kau mau melihat lagi?”

Tapi aku bisa mengingat semuanya secara sempurna, tentu saja, dan aku tak ingin memberi Emmett alasan untuk semakin kesenangan melihatku belajar. Ini masalah fisik— seharusnya ini instingti£ Maka aku pun menghela napas dalam-dalam dan lari ke arah sungai.

Tak terganggu rokku, hanya dibutuhkan satu lompatan lebar untuk mencapai tepi sungai. Hanya dua puluh detik, namun rentang waktu itu sudah cukup lama bagiku—mata dan pikiranku bergerak sangat cepat hingga satu langkah saja sudah cukup. Mudah saja memosisikan kaki kananku sedemikian rupa di atas batu ceper dan mengerahkan tekanan yang cukup untuk membuat tubuhku melayang di udara. Perhatianku lebih tertuju pada mengarahkan daripada kekuatan, jadi aku keliru menerapkan kekuatan yang dibutuhkan— tapi paling tidak kesalahanku itu tidak membuatku basah kuyup. Lebar 45 meter ternyata jarak yang agak terlalu enteng…

Rasanya aneh dan menggetarkan, tapi sangat singkat. Satu detik belum lagi berlalu, tapi aku sudah berada di seberang sungai.

Mulanya aku mengira pepohonan yang tumbuh rapat akan jadi masalah, tapi ternyata keberadaan mereka cukup membantu. Mudah saja mengulurkan satu tangan saat aku terjatuh lagi ke bumi di tengah hutan dan meraih cabang terdekat; aku berayun ringan di dahan itu dan mendarat di atas kaki, masih empat setengah meter dari ranah, di atas dahan lebar cemara Sitka.

Mengasyikkan sekali.

Di sela-sela derai tawa senang, aku bisa mendengar Edward menghampiriku. Lompatanku dua kali lebih panjang daripada lompatannya. Waktu ia sampai ke pohonku, matanya membelalak lebar. Aku meloncat turun dari dahan pohon dan berdiri di sampingnya, tanpa suara mendarat lagi dengan bertumpu pada tumit.

“Tadi bagus tidak?” tanyaku, desah napasku semakin memburu penuh semangat.

“Bagus sekali.” Edward tersenyum setuju, tapi nadanya yang biasa-biasa saja tidak cocok dengan ekspresi terkejut di matanya.

“Bisakah kita melakukannya lagi?”

“Fokus, Bella—kira sedang berburu.”

“Oh, benar.” Aku mengangguk. “Berburu.”

“Ikuti aku… kalau bisa.” Edward nyengir, ekspresinya tiba-tiba menggoda, laki mendadak ia berlari.

Ia lebih cepat daripadaku. Aku tak bisa membayangkan bagaimana ia bisa menggerakkan kakinya secepat itu, tapi itu semua di luar perkiraanku. Bagaimanapun juga, aku lebih kuat, dan setiap langkahku setara dengan tiga langkahnya. Maka aku pun terbang bersamanya menerobos jaring hijau hidup, di sisinya, sedikit pun tidak mengikutinya. Sambil berlari aku tak kuasa menahan tawa kegirangan merasakan keasyikannya; tawa itu tidak memperlambat lariku ataupun merusak konsentrasiku.

Akhirnya aku mengerti mengapa Edward tak pernah menabrak pepohonan saat berlari—pertanyaan yang selalu menjadi misteri bagiku. Sensasinya sungguh menggetarkan, keseimbangan antara kecepatan dan kejernihan. Karena sementara aku meroket di atas, di bawah, dan menerobos kerindangan hijau dengan kecepatan yang seharusnya membuat segala sesuatu di sekelilingku jadi hijau kabur, aku tetap bisa dengan jelas melihat setiap helai daun kecil di ranting-ranting setiap semak yang kulewati.

Embusan angin yang ditimbulkan lariku membuat rambut dan gaunku yang robek berkibar, dan, walaupun aku tahu tak seharusnya begitu, tapi rasanya hangat menerpa kulit. Sama seperti tanah hutan yang kasar seharusnya tidak terasa seperti beledu di bawah kakiku yang telanjang, dan ranting-ranting yang menyabet kulitku seharusnya tidak terasa seperti belaian bulu-bulu.

Suasana hutan jauh lebih hidup daripada yang selama ini kuketahui—maldilukmakhluk kecil yang keberadaannya tak pernah kuduga memenuhi dedaunan di sekelilingku. Makhluk-makhluk itu terdiam setelah kami lewat, napas mereka memburu ketakutan. Hewan-hewan itu bereaksi secara lebih bijaksana terhadap bau kami daripada manusia. Jelas, itu menimbulkan efek berbeda terhadapku dulu.

Aku terus-menerus menunggu untuk merasa lelah, tapi napasku sama sekali tidak kepayahan. Aku menunggu munculnya rasa ngilu di otot-otot kakiku, tapi kekuatanku sepertinya malah bertambah setelah mulai terbiasa dengan kecepatan lariku. Lompatanku semakin panjang, dan tak lama kemudian Edward berusaha mengimbangiku. Aku tertawa, girang, waktu kudengar ia kalah cepat di belakangku. Kakiku yang telanjang menyentuh tanah secara tidak beraturan sehingga aku merasa lebih seperti terbang daripada lari.

“Bella,” seru Edward garing, suaranya datar, malas. Aku tidak bisa mendengar yang lain; ia sudah berhenti.

Aku sempat menimbang-nimbang untuk memberontak.

Tapi sambil mengembuskan napas aku berputar dan melesat ringan ke sampingnya, beberapa meter di belakang. Kutatap ia dengan pandangan menunggu. Ia tersenyum, sebelah alis terangkat, la sangat tampan sampai-sampai aku hanya bisa menatapnya.

“Kau mau tetap di hutan?” tanyanya, geli. “Atau kau berencana melanjutkan perjalanan sampai ke Kanada sore ini?”

“Ini saja bagus,” aku menyetujui, tidak begitu memerhatikan perkataannya, tapi lebih pada cara bibirnya bergerak saat ia bicara. Sulit benar berkonsentrasi pada satu hal jika ada banyak hal baru yang terasa segar di mata baruku yang tajam. “Kita akan berburu apa?”

“Rusa besar. Yang mudah-mudah saja untuk awalnya…” Suaranya menghilang waktu mataku menyipit mendengar kata mudah.

Tapi aku tidak mau membantah; aku terlalu haus. Begitu mulai memikirkan kerongkonganku yang panas membara, hanya itu yang bisa kupikirkan. Jelas-jelas semakin parah. Mulutku seperti gurun pasir yang kering kerontang.

“Di mana?” tanyaku, menyapukan pandangan tak sabar ke pepohonan. Sekarang setelah aku memerhatikan dahagaku, rasanya itu mencemari setiap pikiran lain dalam benakku, menodai pikiran-pikiran menyenangkan lain seperti berlari, bibir Edward dan berciuman dengannya dan… dahaga yang kering kerontang. Aku tidak bisa melepaskan diri darinya.

“Diamlah sebentar” pinta Edward, meletakkan tangan di bahuku. Dahagaku yang mendesak mereda sesaat begitu disentuh olehnya.

“Sekarang pejamkan maramu,” bisiknya. Waktu aku menurut, ia mengangkat kedua tangannya ke wajahku, membelai-belai tulang pipiku. Aku merasakan napasku memburu dan menunggu pipiku memerah meski itu takkan terjadi.

“Dengar,” perintah Edward. ‘Apa yang kaudengar?”

Semuanya, aku bisa saja menjawab begitu; suaranya yang sempurna, desah napasnya, bibirnya yang saling bergesekan saat berbicara, bisikan burung-burung yang membersihkan bulu mereka di pucuk-pucuk pohon, detak jantung mereka yang menggelepar, daun-daun maple yang bergesekan, suara semut-semur berbaris menaiki batang pohon terdekat. Tapi aku tahu yang ia maksud adalah sesuatu yang spesifik, maka kubiarkan telingaku menjelajah ke luar, mencari sesuatu selain dengung kehidupan pelan yang mengelilingiku. Ada ruang terbuka di dekat kami—angin terdengar berbeda di rerumputan yang terbuka—dan sungai kecil, dengan dasar berbatu-batu. Dan di sana, dekat suara air, terdengar bunyi kecipak yang ditimbulkan jilatan lidah, suara detak jantung yang nyaring, memompa aliran darah kental…

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.