Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Apakah sebaiknya kutelepon dia…” Aku bergumam sendiri, tapi saat mendengarkan suaraku sendiri, aku memahami kesulitan-kesulitan baru. Charlie tidak akan mengenali suara ini. Itu takkan bisa meyakinkan dia. Kemudian perkataan Carlisle sebelumnya menyentakku. “Tunggu sebentar—Jaeob masih di sini?”

Lagi-lagi mereka saling melirik.

“Bella,” Edward buru-buru berkata. “Banyak sekali yang perlu didiskusikan, tapi kita harus membereskan masalahmu dulu. Kau pasti kesakitan…”

Saat Edward menyinggung masalah itu, aku teringat perasaan panas membakar di kerongkonganku, dan menelan ludah dengan susah payah. “Tapi Jacob…”

“Kita masih punya banyak waktu untuk menjelaskannya. Sayang,” Edward mengingatkan dengan lembut.

Tentu saja. Aku bisa menunda mendengar jawabannya sedikit lebih lama lagi; lebih mudah mendengarkan bila kesakitan katena dahaga yang luar biasa ini tak lagi mengganggu konsentrasiku. “Oke.”

“Tunggu, tunggu, tunggu,” suara Alice melengking dari ambang pintu. Ia menarinari memasuki ruangan, gerakannya sangat anggun. Seperti tadi waktu melihat Edward dan Carlisle, aku juga merasakan perasaan shock yang sama ketika benar-benar memandang wajahnya untuk pertama kali. Cantik sekali, “Kau sudah berjanji aku akan ikut menyaksikan ketika itu pertama kali terjadi! Bagaimana kalau kalian nanti berlari melewati sesuatu yang bisa memantulkan bayangan?”

“Alice…” protes Edward.

“Sebentar saja kok!” Dan setelah berkata begitu, Alice melesat keluar ruangan. Edward mendesah. “Omong apa sih dia?”

Tapi Alice sudah kembali, memboyong cermin besar berbingkai emas dari kamar Rosalie, yang ukurannya nyaris dua kali tinggi badannya, dan beberapa kali lebih lebar,

Jasper sejak tadi berdiri diam tak bersuara sehingga aku tidak memerhatikannya sejak ia berjalan masuk mengikuti Carlisle. Sekarang ia bergerak lagi, mengawal ketat Alice, matanya terpaku pada ekspresiku. Karena akulah yang berbahaya di sini.

Aku tahu ia akan merasakan suasana hati di selatarku juga, dan ia pasti merasakan kekagetanku waktu aku mengamati wajahnya, melihatnya dengan saksama untuk pertama kali.

Dari kacamata manusiaku yang tidak jelas, bekas-bekas luka dari kehidupan Jasper sebelumnya bersama pasukan vampir baru di Selatan kebanyakan tidak terlihat. Hanya bila berada di bawah cahaya terang benderang yang memantulkan sinar di atas bekas lukanya yang sedikit menonjol, baru aku bisa menyadari kehadiran luka-luka itu.

Sekarang setelah aku bisa melihat, bekas-bekas luka itu menjadi fitur paling dominan dalam diri Jasper. Sulit mengalihkan mataku dari leher dan dagunya yang carut

marut—sulit dipercaya bahwa bahkan vampir bisa selamat dari begitu banyak bekas

gigitan yang mengoyak lehernya.

Instingtif, aku mengejang sebagai upaya pertahanan diri. Vampir mana pun yang melihat Jasper pasti bereaksi sama. Bekas-bekas luka itu bagaikan billboard yang menyala terang. Berbahaya, jerit mereka. Berapa banyak vampir yang pernah mencoba membunuh Jasper? Ratusan? Ribuan? Jumlah yang. sama mati dalam upaya membunuhnya.

Jasper melihat dan merasakan penilaianku, perasaan waswasku, dan tersenyum kecut.

“Edward memarahiku karena tidak mengizinkanmu becermin sebelum menikah” kata Alice, mengalihkan perhatianku dari kekasihnya yang menakutkan itu. “Aku tidak mau dikunyah-kunyah lagi seperti itu.”

“Dikunyah-kunyah?” tanya Edward skeptis, sebelah alisnya terangkat.

“Mungkin aku terlalu melebih-lebihkan,” gumam Alice sambil membalikkan cermin menghadapku.

“Dan mungkin ini ada hubungannya dengan kepuasan mengintipmu,” balas Edward,

Alice mengedipkan mata padanya.

Aku tidak begitu memedulikan pembicaraan mereka. Sebagian besar konsentrasiku terpaku pada orang di dalam cermin itu.

Reaksi pertamaku adalah merasa senang. Makhluk asing dalam cermin itu luar biasa cantik, sama cantiknya dengan Alice atau Esme, Ia luwes bahkan saat berdiam diri, dan wajahnya yang mulus pucat seperti bulan di dalam bingkai rambutnya yang gelap dan tebal. Kaki serta tangannya halus dan kuat, kulitnya berkilauan lembut, cemerlang bagaikan mutiara.

Reaksi keduaku adalah ngeri.

Siapa wanita itu? Saat pertama melihatnya, aku tidak bisa menemukan wajahku dalam sosoknya yang serbahalus dan sempurna itu.

Dan matanya! Walaupun aku sudah tahu itu akan terjadi, mata wanita itu tetap membuatku bergidik ngeri.

Sementara aku mengamati dan bereaksi, wajah wanita itu tetap tenang, seperti patung dewi, sama sekali tidak menunjukkan gejolak hati dalam diriku. Kemudian bibirnya yang penuh itu bergerak.

“Matanya?” bisikku, tidak tega mengatakan mataku. “Berapa lama?”

“Nanti akan menggelap sendiri setelah beberapa bulan,” jawab Edward dengan nada lembut dan menghibur. “Darah binatang lebih cepat melunturkan warnanya daripada darah manusia. Matamu nanti akan berubah menjadi cokelat kekuningan, kemudian kuning emas.”

Mataku akan menyala-nyala seperti lidah api merah seperti ini selama berbulanbulan?

“Beberapa bulan?” Suaraku melengking sekarang, srres. Di cermin alisku yang sempurna terangkat dengan sikap tak percaya di atas mata merahnya yang menyala-nyala —lebih terang daripada apa pun yang pernah kulihat sebelumnya.

Jasper maju satu langkah, terusik kekalutanku yang tiba-tiba memuncak. Ia tahu sekali bagaimana para vampir baru itu; apakah emosi ini menandai langkah salah di pihakku?

Tidak ada yang menjawab pertanyaanku. Aku memalingkan wajah, memandang Edward dan Alice. Mata mereka masih sedikit tidak fokus—bereaksi terhadap keresahan Jasper, Mendengarkan penyebabnya, bersiap menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Lagi-lagi aku menarik napas dalam-dalam yang sebenarnya tidak perlu.

“Tidak, aku tidak apa-apa,” aku meyakinkan mereka. Mataku berkelebat ke orang asing di dalam cermin dan kembali kepada mereka. “Hanya… masih belum terbiasa.”

Alis Jasper berkerut, semakin menonjolkan dua bekas luka di atas mata kirinya.

“Entahlah,” gumam Edward,

Wanita dalam cermin itu mengerutkan kening, “Pertanyaan apa yang terlewatkan olehku?”

Edward menyeringai* “Jasper penasaran bagaimana kau melakukannya.”

“Melakukan apa?”

“Mengontrol emosimu, Bella,” jawab Jasper. “Aku belum pernah melihat ada vampir baru yang bisa melakukannya— menghentikan emosi seperti itu. Kau tadi kalut, tapi waktu melihat kecemasan kami, kau mengendalikannya, menguasai dirimu kembali. Sebenarnya aku tadi sudah siap membantu, tapi kau tidak membutuhkannya.”

“Apakah itu salah?” tanyaku. Tubuhku membeku waktu menunggu vonisnya.

“Tidak,” jawab Jasper, tapi suaranya bernada tidak yakin.

Edward mengusap-usap lenganku, seperti membujukku untuk mencair. “Sangat mengesankan. Bella, tapi kami tidak memahaminya. Kami tidak tahu sampai kapan itu bisa bertahan.”

Aku mempertimbangkan perkataannya itu sejenak. Jadi kapan saja aku bisa meledak? Berubah menjadi monster?

Aku tidak bisa merasakan hal itu terjadi… Mungkin itu memang tidak bisa diantisipasi.

“Tapi bagaimana pendapatmui1” tanya Alice, agak tidak sabar sekarang, menuding ke arah cermin.

“Entahlah,” elakku, tak ingin mengakui betapa takut aku sesungguhnya.

Kupandangi wanita cantik bermata mengerikan itu, mencari sisa-sisa diriku yang lama. Ada sesuatu dalam bentuk bibirnya—kalau kau bisa melihatnya di balik kecantikannya yang mencengangkan itu, kentara bibir atasnya sedikit tidak seimbang, terlalu penuh untuk serasi dengan bibir bawahnya. Menemukan kekurangan kecil yang familier ini membuatku merasa sedikit lebih nyaman. Mungkin sebagian diriku yang lain juga ada di sana.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.