Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Aku berpaling dan menatap Edward, sejenak takut oleh kenangan itu,

“Renesmee sehat dan baik-baik saja/’ janji Edward, kilatan yang tak pernah kulihat sebelumnya tampak di matanya. Ia mengucapkan nama itu dengan semangat tertahan. Takzim, Seperti orang-orang saleh berbicara tentang Tuhan. “Apa yang kauingat setelah itu?”

Aku memasang wajah datar. Padahal aku bukan orang yang pandai berbohong. “Sulit mengingatnya. Gelap sekali sebelumnya. Kemudian… aku membuka mata dan bisa melihat semuanya”

“Luar biasa,” desah Carlisle, matanya berbinar-binar.

Perasaan menyesal melanda hatiku, dan aku menunggu panas membakar pipiku dan membocorkan rahasiaku. Kemudian aku ingat pipiku takkan pernah bisa memerah lagi. Mungkin itu akan melindungi Edward dari hal sebenarnya.

Meski begitu aku harus mencari cara untuk memberitahu Carlisle, Suatu hari nanti. Kalau ia perlu mencintakan vampir lagi. Besar kemungkinan itu tidak akan terjadi, dan itu membuatku sedikit terhibur karena telah berbohong.

“Aku ingin kau berpikir—menceritakan semua yang kauingat,” desak Carlisle penuh semangat, dan aku tak mampu menahan diri untuk tidak meringis. Aku tidak mau terus-menerus berbohong, karena nanti aku pasti akan terpeleset. Dan aku tidak mau mengingat-ingat perasaan sakit saat terbakar tadi. Tidak seperti ingatan manusiaku, bagian itu sangat jelas dan aku mendapati bahwa ternyata aku bisa mengingat dengan sangat mendetail.

“Oh, maafkan aku, Bella,” Carlisle langsung meminta maaf, “Tentu saja kau pasti sangat kehausan. Pembicaraan ini bisa ditunda.”

Sampai ia mengungkitnya, dahaga itu sebenarnya bukan tidak bisa kutahan. Ada banyak sekali tuang di kepalaku. Bagian otakku yang terpisah terus mengawasi perasaan terbakar di tenggorokanku, nyaris seperti refleks. Seperti otak lamaku dulu mengatur pernapasan dan berkedip.

Namun asumsi Carlisle menyeret perasaan terbakar itu ke bagian terdepan pikiranku. Tiba-tiba satu-satunya hal yang bisa kupikirkan hanyalah tenggorokan yang kering itu, dan semakin aku memikirkannya, semakin menyakitkan rasanya. Tanganku terangkat untuk memegangi leher, seolah-olah dengan begitu aku bisa memadamkan kobaran apinya dari luar. Kulit leherku terasa aneh di bawah jemariku. Begitu halus hingga entah bagaimana terasa lembut, walaupun sekeras batu juga.

Edward melepaskan pelukannya dan meraih tanganku yang lain, menariknya lembut. “Ayo kita berburu, Bella.”

Mataku membelalak semakin lebar dan perasaan sakit karena kehausan itu mereda, berganti dengan shock.

Aku? Berburu? Bersama Edward? Tapi… bagaimana? Aku tidak tahu harus melakukan apa.

Edward membaca ekspresi ngeri di wajahku dan tersenyum menyemangati. “Cukup mudah. Sayang. Alami. Jangan khawatir, aku akan menunjukkan caranya padamu.” Waktu aku tidak bergerak, ia menyunggingkan senyum miringnya dan mengangkat alis. “Padahal selama ini kukira kau selalu ingin melihatku berburu.”

Aku tertawa geli (sebagian diriku mendengarkan dengan takjub suara tawaku yang bagai lonceng berdentang) saat kata-kata Edward mengingatkanku pada obrolan kabur kami semasa aku masih menjadi manusia. Kemudian aku mengambil waktu satu detik penuh untuk memutar kembali kenangan hari-hari pertamaku bersama Edward—awal hidupku yang sesungguhnya—dalam ingatanku sehingga aku takkan pernah melupakannya. Aku tidak mengira mengingatnya akan menjadi pengalaman tidak menyenangkan. Seperti berusaha menyipitkan mata agar bisa melihat lebih jelas di dalam air yang ketuh berlumpur. Aku tahu dari pengalaman Rosalie bahwa bila aku cukup sering memikirkan kenangan-kenangan manusiaku, aku tidak akan kehilangan kenangankenangan itu. Aku tidak ingin melupakan satu menit pun yang telah kulewatkan bersama Edward, bahkan sekarang, saat keabadian membentang di hadapan kami. Aku harus memastikan kenangan-kenangan manusia itu terpatri selamanya dalam ingatan vampirku yang tajam.

“Kita pergi sekarang?” tanya Edward. Tangannya terangkat, meraih tanganku yang masih memegangi leher. Jari-jarinya membelai leherku. “Aku tidak mau kau kesakitan,” imbuhnya dengan suara berbisik pelan. Sesuatu yang dulu pasti takkan bisa kudengar.

“Aku baik-baik saja kok,” sergahku, kebiasaan manusiaku yang masih tersisa. “Tunggu. Pertama.”

Ada banyak sekali. Aku belum sempat bertanya apa-apa. Ada banyak hal penting lain selain rasa sakit ini.

Carlisle-lah yang berbicara sekarang. “Ya?”

“Aku ingin melihatnya. Renesmee,”

Anehnya, sulit mengucapkan namanya. Putriku; kata itu bahkan lebih sulit untuk dipikirkan. Semuanya terasa sangat jauh. Aku berusaha mengingat bagaimana perasaanku tiga hari lalu dan otomatis aku menarik tanganku dari genggaman Edward dan memegang perutku.

Datar, Kosong. Kucengkeram sutra pucat yang menutupi kulitku, sekali lagi panik, sementara sebagian kecil otakku memberitahu pasti Alice-lah yang memakaikan baju untukku.

Aku tahu tidak ada apa-apa lagi di dalam perutku, dan samar-samar ingat adegan persalinan berdarah-darah itu, tapi bukti fisiknya masih sulit dicerna. Yang kutahu hanyalah bahwa aku mencintai bayi yang menendang-nendang dari dalam perutku. Di luarku ia seperti sesuatu yang pasti hanya merupakan imajinasiku. Mimpi yang memudar —mimpi yang setengahnya berupa mimpi buruk.

Sementara aku bergumul dengan kebingunganku, kulihat Edward dan Carlisle saling melirik dengan sikap hati-hati.

“Apa?” tuntutku.

“Bella,” kata Edward, nadanya menenangkan. “Itu bukan ide yang bagus. Dia setengah manusia, Sayang. Jantungnya berdetak, dan darah mengalir dalam pembuluh darahnya. Sampai dahagamu positif bisa dikendalikan… Kau tidak ingin membahayakannya, bukan?”

Keningku berkerut. Tentu saja aku tidak menginginkan itu.

Apakah aku tidak terkendali? Bingung, ya. Perhatianku mudah terpecah, ya. Tapi berbahaya? Bagi dia? Anakku sendiri?

Aku tidak bisa memastikan jawabannya adalah tidak. Kalau begitu aku harus bersabar. Kedengarannya sulit. Karena sampai aku melihatnya lagi, dia tetap tidak nyata. Hanya mimpi yang semakin memudar… orang asing…

“Di mana dia?” Kubuka telinga lebar-lebar, kemudian aku bisa mendengar suara detak jantung di ruangan di bawahku. Aku bisa mendengar lebih dari satu orang bernapas —pelan, seperti sedang mendengarkan. Selain itu juga ada suara berdenyut, ketukan, yang tidak bisa kutebak apa…

Dan suara detak jantung yang begitu menggiurkan dan menggairahkan, hingga air liurku mulai menitik.

Kalau begitu aku benar-benar harus belajar berburu sebelum melihatnya. Bayiku yang asing.

“Dia bersama Rosalie?”

“Ya,” jawab Edward ketus, dan kentara sekali ada sesuatu dalam pikirannya yang membuatnya kesal. Kusangka ia dan Rose sudah membereskan masalah mereka. Apakah perselisihan mereka meledak lagi? Belum lagi aku sempat bertanya, Edward sudah menarik tanganku dari perutku yang kempis, menariknya pelan,

“Tunggu,” protesku lagi, berusaha fokus. “Bagaimana dengan Jacob? Dan Charlie? Ceritakan padaku semua yang terlewat olehku. Berapa lama aku… tidak sadar?”

Edward sepertinya tidak menyadari keraguanku saat mengucapkan kalimat terakhir. Lagi-lagi ia malah melirik Carlisle dengan sikap waswas.

“Ada apa?” bisikku.

“Tidak ada apa-apa” jawab Carlisle, memberi penekanan pada kalimat terakhir itu dengan sikap aneh. “Sebenarnya tak banyak yang berubah—kau hanya tidak sadar selama dua hari. Prosesnya sangat cepat, sebagaimana lazimnya. Edward pandai sekali. Sangat inovatif—menyuntikkan racun langsung ke jantungmu adalah idenya.” Ia terdiam sejenak untuk tersenyum bangga pada putranya, lalu menarik napas. “Jacob masih di sini, dan Charlie masih mengira kau sakit. Dia menyangka kau sedang di Atlanta sekarang, menjalani serangkaian tes di Center of Disease Control. Kami memberinya nomor yang tidak bisa dihubungi, dan dia frustrasi. Selama ini dia berhubungan dengan Esme.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.