Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Dan Charlie? Apa yang akan kukatakan padanya sekarang? Ia pasti menelepon ketika aku sedang terbakar. Apa yang mereka katakan padanya? Menurut pemikiran Charlie, apa yang terjadi padaku?

Saat aku menimbang-nimbang selama sepersekian detik pertanyaan mana yang akan kulontarkan lebih dulu, Edward mengulurkan tangan ragu-ragu dan membelai-belai pipiku dengan ujung-ujung jarinya. Lembut seperti satin, sehalus bulu, dan sekarang suhu tubuhnya sama persis dengan suhu tubuhku.

Sentuhannya seakan menyapu di bawah permukaan kulitku, tepat melewati tulangtulang wajahku. Rasanya menggelitik, seperti aliran listrik-—melesat melewati tulangtulangku, menjalar menuruni tulang punggungku, dan bergetar di perutku.

Tunggu, pikirku saat getaran itu berkembang menjadi kehangatan, kerinduan. Bukankah seharusnya perasaan seperti ini hilang? Bukankah merelakan perasaan ini adalah bagian dari tawar-menawar?

Aku vampir baru. Dahaga yang kering kerontang di kerongkonganku membuktikan hal itu. Dan aku tahu vampir baru itu seperti apa. Perasaan dan gairah manusiaku akan kembali nanti dalam bentuk lain, tapi aku sudah menerima kenyataan bahwa aku takkan merasakannya di masa-masa awal menjadi vampir. Hanya dahaga yang akan kurasakan. Itu syaratnya, itu harganya. Aku sudah setuju membayarnya.

Tapi saat tangan Edward melengkung dan merengkuh wajahku bagaikan baja berlapis satin, gairah melesat melewati pembuluh darahku yang kering, berdendang dari kulit kepala sampai ke ujung-ujung jari kaki.

Ia mengangkat sebelah alisnya yang melengkung sempurna, menungguku bicara.

Kuulurkan kedua lenganku dan kurangkul dia.

Lagi-lagi rasanya seolah-olah tak ada gerakan. Sedetik yang lalu aku masih berdiri tegak dan diam seperti patung; dan pada detik yang sama, ia sudah berada dalam pelukanku.

Hangat—atau paling tidak, begitulah persepsiku. Aroma harum menggairahkan yang tak pernah benar-benar bisa kucium dengan pancaindra manusiaku yang tumpul, tapi itu seratus persen Edward. Kutempelkan wajahku ke dadanya yang halus.

Kemudian ia menggerakkan tubuhnya dengan canggung. Menarik diri dari pelukanku. Aku mendongak menatap wajahnya, bingung dan takut melihat penolakannya.

“Eh… hati-hati. Bella. Aduh.”

Kutarik tanganku, kulipat di belakang punggungku begitu aku mengerti. Aku terlalu kuat. “Uuups,” ujarku.

Edward menyunggingkan senyum yang bakal membuat jantungku berhenti seandainya jantungku masih berdetak.

“Jangan panik, Sayang,” kata Edward, mengangkat tangannya untuk menyentuh bibirku, yang terbuka ngeri. “Kau hanya sedikit lebih kuat daripada aku sekarang ini.”

Alisku bertaut. Sebenarnya aku juga sudah mengetahuinya, tapi rasanya ini lebih tidak nyata dibandingkan bagian lain dari momen yang sangat tidak nyata ini. Aku lebih kuat daripada Edward. Aku membuatnya mengaduh.

Tangannya mengelus-elus pipiku lagi, dan aku langsung melupakan kekalutanku ketika gelombang gairah lagi-lagi melanda tubuhku yang tidak bergerak.

Emosi-emosi ini jauh lebih kuat daripada yang dulu pernah kurasakan, sehingga sulit bertahan pada satu alur pikiran meskipun dengan ruang tambahan di kepalaku. Setiap sensasi baru membuatku kewalahan. Aku ingat Edward dulu pernah berkata—suaranya dalam ingatanku hanya bayang-bayang samar bila dibandingkan kejernihan suaranya yang sebening kristal dan mengalun merdu seperti yang kudengar sekarang—bahwa jenisnya, jenis kami, mudah dialihkan perhatiannya. Aku mengerti kenapa.

Aku berusaha keras untuk fokus. Ada sesuatu yang perlu kukatakan. Hal yang paling penting.

Sangat hati-hati, begitu hati-hati sehingga gerakan itu sebenarnya tidak kentara, aku mengeluarkan lengan kananku dari balik punggung dan mengangkat tanganku untuk menyentuh pipinya. Aku menolak membiarkan perhatianku teralihkan oleh warna tanganku yang seputih mutiara, oleh kulitnya yang sehalus sutra, atau oleh arus listrik yang berdesing di ujung-ujung jariku.

Aku menatap mata Edward dan mendengar suaraku sendiri untuk pertama kalinya.

“Aku mencintaimu,” kataku, tapi kedengarannya seperti menyanyi. Suaraku bergema seperti lonceng.

Senyum Edward membuatku terpesona lebih daripada waktu aku masih menjadi manusia; aku benar-benar bisa melihatnya sekarang.

“Seperti aku mencintaimu,” kata Edward.

Ia merengkuh wajahku dengan kedua tangan dan mendekatkan wajahnya ke wajahku—gerakannya cukup lambat hingga mengingatkanku untuk berhati-hati. Ia menciumku, mulanya lembut seperti bisikan, kemudian sekonyong-konyong lebih kuat, lebih ganas. Aku berusaha mengingat untuk bersikap hati-hati dengannya, tapi sulit mengingat apa pun saat terlanda sensasi seperti itu, sulit mempertahankan pikiran jernih.

Rasanya seolah-olah Edward belum pernah menciumku— seakan-akan ini ciuman pertama kami. Dan, sejujurnya, ia memang tidak pernah menciumku seperti ini sebelumnya.

Nyaris saja itu membuatku merasa bersalah. Aku yakin telah menyalahi kesepakatan. Aku tak mungkin boleh merasakan ini juga.

Walaupun tidak membutuhkan oksigen, napasku memburu, berpacu secepat seperti waktu aku terbakar. Tapi ini jenis api yang berbeda.

Seseorang berdeham-deham. Emmett. Aku langsung mengenali suaranya yang berat, nadanya menggoda sekaligus jengkel.

Aku lupa kami tidak sendirian. Lalu aku sadar tubuhku yang meliuk dan menempel ke tubuh Edward sekarang jelas tidak pantas dilihat orang lain.

Malu, aku mundur setengah langkah, lagi-lagi dengan gerakan sangat cepat.

Edward terkekeh dan melangkah bersamaku, lengannya tetap melingkar erat di pinggangku. Wajahnya berseri-seri—seperti api putih yang membara di balik kulit berliannya.

Aku menarik napas yang sebenarnya tidak perlu untuk menenangkan diri.

Betapa berbedanya ciuman tadi! Aku memerhatikan ekspresi Edward saat membandingkan kenangan-kenangan manusiaku yang tidak jelas dengan perasaan yang jelas dan intens ini. Kelihatannya ia… agak puas dengan diri sendiri,

“Ternyata selama ini kau menahan diri,” tuduhku dengan suaraku yang merdu, mataku sedikit menyipit.

Edward tertawa, berseri-seri lega bahwa semuanya telah berakhir—ketakutan, kesakitan, ketidakpastian, penantian, semua itu kini sudah berlalu. “Waktu itu, itu memang perlu,” Edward mengingatkanku. “Sekarang giliranmu untuk tidak mencederai aku”

Keningku berkerut saat mempertimbangkan hal itu, kemudian Edward bukan satusatunya yang tertawa.

Carlisle melangkah mengitari Emmett dan dengan cepat menghampiriku; matanya hanya tampak sedikit waswas, tapi

Jasper tetap membuntuti di belakang. Aku juga tak pernah benar-benar melihat wajah Carlisle sebelumnya. Aku merasakan dorongan aneh untuk mengerjap—seolah-olah sedang memandang matahari.

“Bagaimana perasaanmu, Bella?” tanya Carlisle.

Aku mempertimbangkan pertanyaan itu selama seperempat menit.

“Kewalahan. Banyak sekali..? aku tidak menyelesaikan kata-kataku, mendengarkan suaraku yang seperti lonceng berdentang itu.

“Ya, memang bisa cukup membingungkan.”

Aku mengangguk, cepat dan kaku, “Tapi aku merasa seperti diriku. Semacam itulah. Aku tidak mengira bisa seperti itu.”

Lengan Edward meremas pelan pergelangan tanganku. “Apa kubilang?” bisiknya*

“Kau sangat terkendali,” renung Carlisle. “Lebih daripada yang kuharapkan, walaupun kau memang sudah mempersiapkan diri untuk ini,”

Pikiranku melayang ke suasana hatiku yang berubah-ubah, kesulitanku berkonsentrasi, dan berbisik, “Aku tak yakin soal itu.”

Carlisle mengangguk serius, kemudian matanya yang seperti permata berkilat-kilat tertarik. “Sepertinya pemberian morfin yang kita berikan kali ini benar. Ceritakan padaku, apa yang kauingat dari proses transformasi itu?”

Aku ragu-ragu, dengan jelas menyadari embusan napas Edward yang menerpa pipiku, mengirimkan sinyal-sinyal listrik ke seluruh permukaan kulitku.

“Semuanya… sangat samar-samar sebelumnya. Aku ingat bayinya tidak bisa bernapas.,.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.