Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Debu itu begitu indah sampai-sampai aku menghirup napas shock; udara bersiul memasuki kerongkongan, memutar-mutar kepulan debu itu memasuki pusaran. Tindakan itu terasa keliru. Aku menimbang-nimbang, dan menyadari bahwa masalahnya adalah tidak ada kelegaan yang kurasakan akibat tindakan itu. Aku tidak membutuhkan udara. Paruparuku tidak butuh udara. Paru-paruku tidak bereaksi dengan masuknya udara.

Aku tidak butuh udara, tapi aku menyukainya. Di dalamnya aku bisa merasakan ruangan di sekelilingku—merasakan serbuk-serbuk debu yang indah itu, udara stagnan yang bercampur dengan aliran udara yang sedikit lebih sejuk dari pintu yang terbuka. Merasakan embusan sutra yang halus. Merasakan secercah samar-samar sesuatu yang hangat dan menggairahkan, sesuatu yang seharusnya lembap, namun tidak,,. Bau itu membuat kerongkonganku terbakar kering, gema samar dari racun yang membakar, walaupun bau itu sedikit tercampur bau klorin dan amoniak. Dan yang paling kentara, aku bisa merasakan bau yang nyaris menyerupai madu-lilac-dan-sinar-matahari yang merupakan bau yang paling kuat, yang paling dekat denganku.

Aku mendengar suara yang lainnya, bernapas lagi setelah melihatku bernapas. Napas mereka bercampur dengan bau sesuatu yang nyaris menyerupai bau madu, lilac, dan sinar matahari itu, membawa aroma-aroma baru. Kayu manis, bunga bakung, pir, air laut, roti yang mengembang, pinus, vanila, kulit, apel, lumut, lavender, cokelat… aku mengganti selusin perbandingan yang berbeda dalam pikiranku, tapi tak ada yang benar-benar pas. Begitu manis dan menyenangkan.

Televisi di bawah suaranya dimatikan, dan aku mendengar seseorang—Rosalie?— mengubah posisi duduknya di lantai dasar.

Aku juga mendengar samar-samar suara irama berdetak, dengan suara berteriakteriak marah mengikuti entakan. Musik rap? Aku terperangah sesaat, kemudian suara itu berangsur-angsur menghilang, seperti mobil lewat dengan kaca jendela dibuka.

Dengan kaget aku menyadari mungkin memang benar demikian, Mungjdnkah aku bisa mendengar hingga jauh ke jalan tol sana?

Aku tak sadar seseorang memegang tanganku sampai siapa pun ia, meremasnya dengan lembut. Seperti yang kulakukan sebelumnya untuk menyembunyikan rasa sakit, tubuhku mengunci lagi karena kaget. Ini bukan sentuhan yang kuharapkan. Kulitnya mulus sempurna, tapi suhu badannya keliru. Tidak dingin.

Setelah detik pertama aku membeku shock, tubuhku merespons sentuhan tidak familier itu dengan cara yang semakin membuatku shock.

Udara mendesis melewati kerongkongan, menyembur melalui gigiku yang terkatup rapat dengan suara rendah dan garang yang terdengar seperti suara sekawanan lebah. Sebelum suara itu keluar otot-ototku mengejang dan menekuk, terpilin menjauhi apa yang tidak diketahui. Aku bangkit dan berbalik begitu cepat sampai seharusnya itu membuat ruangan berputar kabur—tapi ternyata tidak. Aku melihat setiap serbuk debu, setiap urat kayu di dinding-dingin berpanel kayu, setiap benang yang terlepas dalam detail mikroskopik sementara mataku berkelebat melewatinya.

Jadi ketika aku mendapati diriku meringkuk di dinding dengan sikap defensif— kira-kira seperenambelas detik kemudian—aku sudah mengerti apa yang membuatku terkejut, dan bahwa reaksiku ini berlebihan.

Oh, Tentu saja. Edward tidak terasa dingin lagi bagiku. Sekarang suhu tubuh kami sama.

Aku bertahan dalam posisi itu beberapa saat lagi, menyesuaikan diri dengan pemandangan di depanku.

Edward mencondongkan badan ke seberang meja operasi yang selama ini menjadi pemangganganku, tangannya terulur ke arahku, ekspresinya cemas.

Wajah Edward adalah yang terpenting, tapi aku melayangkan pandangan ke hal-hal lain, hanya untuk berjaga-jaga. Ada insting pertahanan diri yang terpicu, dan aku otomatis mencari pertanda adanya bahaya.

Keluarga vampirku menunggu hati-hati di dinding yang berseberangan denganku, dekat pintu, Emmett dan Jasper berdiri di depan. Seakan-akan memang ada bahaya. Cuping hidungku kembang-kempis, mencari-cari ancaman itu. Aku tidak mencium bau apa-apa yang tidak pada tempatnya. Bau samar sesuatu yang lezat—tapi ternoda bau kimiawi yang tajam—menggelitik kerongkonganku lagi, membuatnya sakit dan panas membakar, Alice mengintip dari balik siku Jasper dengan seringai lebar tersungging di wajah; cahaya berkilauan memantul dari giginya, membiaskan delapan warna pelangi.

Seringaian itu meyakinkan aku, kemudian aku pun mengerti, Jasper dan Emmett berdiri di depan untuk melindungi yang lain, seperti sudah kuduga. Yang tidak secara langsung bisa kutangkap adalah bahwa akulah bahaya itu.

Semua ini tidak penting. Sebagian besar pancaindra dan pikiranku masih tertuju pada wajah Edward.

Aku belum pernah melihatnya sebelum detik ini.

Sudah berapa kali aku memandang Edward dan mengagumi ketampanannya? Sudah berapa jam—hari, minggu— hidupku kuhabiskan untuk memimpikan apa yang dulu kuanggap sebagai kesempurnaan? Kusangka aku telah mengenal wajahnya lebih baik daripada wajahku sendiri. Kusangka ini hal fisik yang paling pasti dalam seluruh duniaku: kesempurnaan wajah Edward. Pastilah aku dulu buta.

Untuk pertama kali, dengan telah terlepasnya bayang-bayang buram dan keterbatasan mata manusiaku, aku melihat wajah Edward, Aku terkesiap dan berjuang dengan susah payah untuk menemukan kata-kata yang tepat. Aku membutuhkan kata-kata yang lebih baik.

Pada titik ini bagian lain perhatianku sudah memastikan tidak ada bahaya selain diriku sendiri, dan otomatis aku menegakkan tubuhku yang meringkuk; nyaris satu detik telah berlalu sejak aku terbaring di meja tadi.

Sesaat perhatianku teralih pada cara tubuhku bergerak. Begitu memutuskan berdiri tegak, aku sudah berdiri tegak. Tak ada jeda waktu saat tindakan itu terjadi; perubahannya begitu instan, nyaris seolah-olah tak ada gerakan sama sekali.

Aku terus memandangi wajah Edward, tak bergerak lagi.

Ia bergerak pelan mengitari meja—setiap langkah membutuhkan waktu nyaris setengah detik, setiap langkah mengalun luwes bagai air sungai meliuk-liuk di atas bebatuan halus—tangannya masih terulur*

Kupandangi gerakannya yang anggun itu, menyerapnya dengan mata baruku.

“Bella?” tanya Edward dengan nada rendah dan menenangkan, tapi ada secercah kekhawatiran saat ia menyebut namaku.

Aku tidak bisa langsung menjawab, terhanyut dalam alunan suaranya yang selembut beledu. Simfoni paling sempurna, simfoni lengkap hanya dalam satu instrumen, yang lebih besar daripada yang pernah diciptakan manusia…

“Bella, Sayang? Maafkan aku, aku tahu ini membingungkan. Tapi kau baik-baik saja. Semuanya baik-baik saja,”

Semuanya? Pikiranku berputar-putar, berpusar kembali ke detik-detik terakhirku sebagai manusia. Sekarang saja kenangan itu terasa kabur, seolah-olah aku menontonnya dari balik kerudung tebal yang gelap—karena mata manusiaku dulu separo buta. Segalanya sangat kabur.

Waktu ia berkata semuanya baik-baik saja, apakah ‘itu termasuk Renesmee? Di mana dia? Bersama Rosalie? Aku berusaha mengingat wajahnya—aku tahu dulu dia cantik

— tapi sungguh menjengkelkan berusaha melihat melalui ingatan manusiaku. Wajah Renesmee diselubungi kegelapan, cahayanya begitu suram,,.

Bagaimana dengan Jacob? Apakah ia baik-baik saja? Apakah sahabatku yang sudah lama menderita itu membenciku sekarang? Apakah ia sudah kembali ke kawanan Sam? Seth dan Leah juga?

Apakah keluarga Cullen aman, ataukah transformasiku menyulut peperangan dengan kawanan serigala? Apakah kepastian bahwa semua baik-baik saja seperti yang dikatakan Edward tadi mencakup semuanya itu? Atau ia hanya berusaha menenangkanku?

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.