Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

suara langkah-langkah kaki berbeda mendesir memasuki ruangan. Lebih ringan. Lebih… berirama.

Aneh juga aku bisa membedakan perbedaan sangat kecil antara kedua langkah itu padahal sebelum hari ini, aku sama sekali tidak bisa mendengar apa-apa.

“Berapa lama lagi?” tanya Edward,

“Tidak akan lama lagi,” jawab Alice. “Lihat betapa jernihnya dia sekarang? Aku bisa melihatnya jauh lebih jelas sekarang,” Alice mendesah,

“Masih merasa sedikit kesal?”

“Ya, terima kasih banyak kau sudah menyinggungnya,” gerutu Alice. “Kalau kau jadi aku, kau pasti akan kesal juga, kalau menyadari dirimu diborgol kaummu sendiri. Aku paling jelas melihat vampir, karena aku vampir; aku bisa melihat manusia lumayan baik, karena dulu aku manusia. Tapi aku tidak bisa melihat makhluk campuran ini sama sekali karena tidak pernah mengalami jadi mereka. Bah!”

“Fokus, Alice,”

“Benar, Bella nyaris terlalu mudah untuk dilihat sekarang.” Lama sekali tidak terdengar apa-apa, kemudian .Edward mendesah. Suara baru, lebih bahagia,

“Dia benar-benar akan pulih kembali,” desah Edward. “Tentu saja,”

“Dua hari yang lalu kau tidak begitu yakin.”

“Aku tidak bisa melihat dengan benar dua hari yang lalu. Tapi setelah sekarang dia terbebas dari daerah-daerah buta, gampang sekali,”

“Bisakah kau berkonsentrasi untukku? Pada jam—beri aku perkiraan.”

Alice mendesah. “Dasar tidak sabaran. Baiklah, Tunggu sebentar,..”

Tarikan napas tenang,

“Terima kasih, Alice.” Suara Edward lebih ceria. Berapa lama? Masa mereka tidak bisa mengucapkannya dengan keras untukku? Terlalu berlebihankah meminta hal itu? Berapa detik lagi aku harus terus terbakar? Sepuluh ribu? Dua puluh? Satu hari lagi—atau delapan puluh enam ribu empat ratus lagi? Lebih dari itu? “Dia akan sangat memesona,”

Edward menggeram pelan. “Sejak dulu dia juga sudah memesona.”

Alice mendengus, “Kau mengerti maksudku. Lihat saja dia,”

Edward tidak menyahut, tapi kata-kata Alice memberiku harapan bahwa mungkin aku tidak mirip briket arang seperti yang kurasakan. Rasanya seolah-olah aku pasti menyerupai onggokan tulang-belulang hangus sekarang. Setiap sel tubuhku sudah terbakar habis menjadi abu.

Kudengar Alice melesat keluar ruangan. Aku mendengar desiran pakaiannya bergerak, bergesekan. Aku mendengar dengung pelan lampu yang tergantung di langitlangit. Aku mendengar angin pelan menyapu bagian luar rumah. Aku bisa mendengar semuanya.

Di lantai bawah, ada yang menonton pertandingan bisbol. Tim Mariners menang dua putaran,

“Sekarang giliranku” kudengar Rosalie membentak seseorang, dan terdengar suara geraman rendah sebagai balasan,

“Hei, sudahlah,” Emmett mengingatkan.

Seseorang mendesis.

Aku mendengarkan lagi, tapi tak ada hal lain selain pertandingan bola. Bisbol tidak cukup penting untuk mengalihkan perhatianku dari rasa sakit, maka aku pun mendengarkan tarikan napas Edward lagi, menghitung detik-detiknya.

Dua puluh satu ribu sembilan ratus tujuh belas setengah detik kemudian, rasa sakit itu berubah.

Kabar baiknya, rasa sakit itu mulai memudar dari ujung-ujung jari tangan dan kakiku. Memudar perlahan-lahan, tapi paling tidak ada hal baru. Pasti sekaranglah saatnya. Rasa sakit itu mulai meninggalkan tubuhku…

Kemudian datang kabar buruk. Api di tenggorokanku tidak sama seperti sebelumnya. Aku bukan hanya terbakar, tapi sekarang tenggorokanku kering kerontang. Sekering tulang. Haus sekali. Api yang membakar, dan dahaga yang mem-bakar…

Kabar buruk lain: api di jantungku semakin panas. Bagaimana itu mungkin?

Detak jantungku, yang sudah terlalu cepat, kini semakin cepat—api mendorong iramanya menjadi sangat cepat.

“Carlisle,” seru Edward. Suaranya pelan tapi jelas. Aku tahu Carlisle pasti bisa mendengarnya, kalau ia ada di atau dekat rumah.

Api meninggalkan telapak tanganku, membuatnya -terbebas dari rasa sakit dan sejuk. Tapi api kembali menjilati jantungku, yang membakar sepanas matahari dan berdetak dalam kecepatan baru yang sangat cepat.

Carlisle memasuki ruangan, Alice di sampingnya. Langkah mereka begitu jelas,

aku bahkan sampai bisa tahu Carlisle berdiri di kanan, dan berada hampir setengah meter

di depan Alice.

“Dengar,” kata Edward.

Suara terkeras di ruangan itu adalah detak jantungku yang berpacu kencang, memukul-mukul sesuai irama api.

“Ah,” ujar Carlisle. “Sudah hampir berakhir”

Kelegaanku mendengar kata-katanya terhalangi rasa sakit yang luar biasa di jantungku.

Namun pergelangan tanganku terbebas, begitu juga per-gelangan kakiku. Api benar-benar sudah padam di sana,

“Sebentar lagi,” Alice membenarkan dengan penuh semangat. “Akan kupanggil yang lain. Apakah sebaiknya Rosalie…?”

“Ya—jauhkan bayinya.”

Apa? Tidak. Tidak! Apa maksud Carlisle, menjauhkan bayiku? Mengapa ia berbuat begitu?

Jari-jariku bergetar—kekesalan merusak sandiwara diamku. Ruangan sunyi senyap, tidak ada suara apa-apa selain debar jantungku yang bertalu-talu saat mereka semua berhenti bernapas selama sedetik begitu melihat responsku.

Ada tangan yang meremas jari-jariku yang gemetar. “Bella? Bella, Sayang?”

Bisakah aku menjawabnya tanpa menjerit? Sesaat aku menimbang-nimbang, kemudian api berkobar semakin panas di dadaku, terkuras dari siku dan lututku. Sebaiknya jangan mengambil risiko.

“Akan kubawa mereka ke sini,” kata Alice, suaranya bernada mendesak, dan kudengar embusan angin saat ia melesat pergi.

Dan kemudian—oh!

Jantungku meloncat, berpacu bagaikan baling-baling helikopter, suaranya nyaris menyerupai satu nada yang dibunyikan terus-menerus; rasanya seperti hendak menggesekgesek rusukku. Api berkobar di tengah dadaku, mengisap sisa-sisa lidah api terakhir yang masih tersisa dari bagian tubuhku yang lain untuk mengobarkan api yang paling panas membakar. Rasa sakitnya cukup membuatku tersentak, melepaskan tanganku yang mencengkeram tiang pembakaran. Punggungku terangkat, melengkung saat api menyeretku ke atas dari jantungku.

Aku tidak membiarkan bagian tubuhku yang lain meninggalkan barisan saat tubuhku terempas kembali ke meja.

Terjadi peperangan di dalam tubuhku—jantungku yang berpacu cepat berlari melawan api yang menggila. Keduanya kalah. Api itu akan mati, karena sudah melahap habis semua yang bisa dilahap; jantungku berpacu menuju detak terakhirnya.

Api itu mengerut, berkonsentrasi di dalam satu-satunya organ manusia yang tersisa dengan sentakan akhir yang tak terperikan sakitnya. Sentakan itu dijawab dengan detakan dalam yang terdengar hampa. Jantungku tergagap dua kali, kemudian berdetak pelan satu kali lagi.

Lalu tidak terdengar apa-apa. Tidak ada tarikan napas. Bahkan tarikan napasku pun tidak.

Sejenak, hilangnya rasa sakit adalah satu-satunya yang bisa kumengerti.

Kemudian aku membuka mata dan memandang ke atasku dengan terheran-heran.

20. BARU

Segalanya begitu terang. Tajam. Jelas,

Lampu terang benderang di atas kepalaku masih membutakan, tapi aku bisa melihat dengan jelas serabut-serabut filamen yang berkilauan di dalam bola lampu itu. Aku bisa melihat setiap warna pelangi di cahaya putih itu, dan, di bagian spektrum paling ujung, warna kedelapan yang aku tak tahu namanya.

Di belakang lampu itu aku bisa membedakan setiap serat di lapisan kayu gelap pada langit-langit di atasku. Di depannya aku bisa melihat kepulan debu di udara, sisi-sisi yang tersentuh cahaya, dan sisi-sisi gelap, jelas dan terpisah. Debu-debu itu berputar seperti planet-planet kecil, bergerak mengelilingi satu sama lain bagaikan tarian jagat raya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.