Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Kalau aku tidak bisa menjerit, bagaimana aku bisa mengatakan pada mereka agar membunuhku?

Padahal yang kuinginkan sekarang hanya mati. Tidak pernah dilahirkan. Seluruh eksistensiku tidak bisa mengalahkan beratnya siksaan ini. Hidup rasanya tidak sepadan dengan sakitnya yang begitu luar biasa.

Biarkan aku mati, biarkan aku mati, biarkan aku mati.

Dan untuk jangka waktu yang entah kapan akan berakhir, hanya itulah yang kurasakan. Siksaan yang menyakitkan, jeritanku yang tanpa suara, memohon-mohon agar kematian datang. Tidak ada yang lain, bahkan waktu pun tidak ada. Itu membuat keadaan jadi tidak terbatas, tanpa awal dan akhir. Satu momen penuh kesakitan.

Satu-satunya perubahan datang ketika tiba-tiba, meski mustahil, siksaan itu bertambah parah. Bagian bawah tubuhku yang sejak awal mati rasa karena morfin tiba-tiba juga terbakar. Sesuatu yang tadinya patah tersambung kembali—terjalin oleh lidah-lidah api yang membakar.

Perasaan terbakar yang tanpa akhir itu terus membara.

Mungkin beberapa detik atau beberapa hari telah berlalu, mungkin juga bermingguminggu atau bertahun-tahun, tapi akhirnya, waktu kembali memiliki arti.

Tiga hal terjadi pada saat bersamaan, tumbuh dari satu sama lain sehingga aku tak tahu mana yang datang lebih dulu: waktu diulang dari awal lagi, tindihan morfin itu semakin berkurang, dan aku semakin kuat.

Aku bisa merasakan kendali tubuhku sedikit demi sedikit mulai pulih, dan perasaan berangsur-angsur itu merupakan pertanda pertama bagiku bahwa waktu berjalan. Aku mengetahuinya ketika bisa menggerak-gerakkan jari kakiku, mengepalkan jari-jari tanganku. Aku mengetahuinya, tapi tidak melakukan apa-apa.

Walaupun perasaan terbakar itu tidak berkurang sedikit pun—faktanya, aku mulai mengembangkan kapasitas baru dalam merasakannya, sensitivitas baru untuk menghargai, secara terpisah, setiap lidah api yang menjilati pembuluh darahku—aku mendapati bahwa ternyata aku bisa berpikir di tengah rasa sakit itu.

Aku ingat mengapa aku tidak boleh menjerit. Aku ingat mengapa aku berkomitmen rela menjalani sakit yang luar biasa ini. Aku ingat bahwa, walaupun rasanya mustahil sekarang, ada sesuatu yang pantas diperjuangkan dengan menahan siksaan ini.

Tepat pada saat aku berusaha bertahan, perasaan berat yang menindih tubuhku terangkat. Di mata orang yang melihatku saat itu, tidak tampak perubahan apa-apa. Tapi bagiku, sementara aku berjuang keras menahan jeritan dan geliat-geliat kesakitan di dalam tubuhku, di mana siksaan itu tak dapat menyakiti orang lain, rasanya aku beralih dari diikat ke tiang dan dibakar hidup-hidup, menjadi mencengkeram tiang untuk menahan diriku tetap berada di tengah kobaran api.

Aku masih memiliki sedikit kekuatan untuk berbaring tak bergerak sementara rubuhku dibakar hidup-hidup.

Pendengaranku semakin jernih, dan aku bisa mendengar detak jantungku yang berpacu cepat untuk menghitung waktu.

Aku bisa menghitung tarikan-tarikan napas pelan dan teratur yang datang dari suatu tempat di dekatku. Itu gerakan terpelan, jadi aku berkonsentrasi mendengarkannya. Gerakan-gerakan itu yang paling bisa memberitahu berapa lama waktu berlalu. Mungkin bahkan lebih daripada gerak pendulum jam, suara tarikan-tarikan napas itu menarikku melewati detik-detik yang membakar menuju akhir, tubuhku emakin kuat, pikiranku semakin jernih. Bila ada suara-suara baru datang, aku bisa mendengar.

Ada suara-suara langkah kaki ringan, desir udara ketika pintu dibuka. Langkahlangkah kaki itu semakin mendekat, dan aku merasakan bagian dalam pergelangan tanganku ditekan. Aku tidak bisa merasakan dinginnya jari-jari itu. Api itu menghanguskan setiap kenangan akan perasaan dingin.

“Masih belum ada perubahan?” ‘Belum.”

Tekanan yang sangat pelan, lalu embusan napas di kulitku yang membara.

“Tidak ada bau morfin lagi tersisa.”

“Aku tahu.”

“Bella? Kau bisa mendengarku?”

Aku tahu, tanpa keraguan sedikit pun, bahwa kalau aku membuka mulur, pertahanan diriku akan jebol—aku pasti akan menjerit, berteriak, menggeliat-geliat, menendang-nendang tidak keruan. Kalau aku membuka mata, kalau aku menggerakkan satu jari saja—perubahan apa pun juga pasti akan membuatku kehilangan kendali,

‘Bella? Bella, Sayang? Bisakah kau membuka mata? Bisakah kau meremas tanganku?”

Jari-jariku ditekan. Lebih sulit tidak menjawab suara ini, tapi aku terap lumpuh. Aku tahu kesedihan dalam suaranya sekarang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesedihan yang bisa terjadi. Sekarang ini, ia hanya takut aku menderita.

Mungkin… Carlisle, mungkin aku terlambat,” Suara Edward teredam; pecah saat mengucapkan kata terlambat. Tekadku sempat goyah sejenak,

“Dengarkan jantungnya, Edward. Lebih kuat daripada jantung Emmett dulu. Belum pernah aku mendengar detak se-vital itu. Dia akan pulih secara sempurna,”

Ya, aku benar tetap berdiam diri. Carlisle bisa meyakinkan Edward, Ia tidak perlu menderita bersamaku,

‘Dan—dan tulang belakangnya?”

Cedera yang dialaminya tidak lebih parah daripada cedera Esme dulu. Racun itu akan memulihkannya sebagaimana racun itu dulu memulihkan Esme.”

“Tapi dia tenang sekali. Aku pasti melakukan kesalahan.”

“Atau melakukan hal yang tepat, Edward. Nak, kau sudah melakukan segala yang bisa kaulakukan, bahkan lebih. Aku sendiri tak yakin apakah aku bisa memiliki tekad dan kegigihan sekuat yang kaumiliki untuk menyelamatkannya. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Bella pasti akan selamat,”

Bisikan tercekat. “Dia pasti sangat kesakitan.”

“Kita tidak tahu itu. Dia sudah diberi morfin dalam jumlah sangat banyak. Kita tidak tahu efek yang dialaminya”

Tekanan pelan di bagian dalam lipatan sikuku. Lagi-lagi terdengar suara bisikan. “Bella, aku cinta padamu. Bella, maafkan aku,”

Aku ingin sekali menjawabnya, tapi tak ingin membuat kesedihannya bertambah. Tidak selagi aku masih memiliki kekuatan untuk berdiam diri.

Selama itu jilatan api yang membakar tubuhku terus berkobar. Tapi ada sedikit ruang kosong di kepalaku. Ruang untuk memikirkan kembali percakapan mereka, ruang untuk mengingat apa yang terjadi, ruang untuk melihat ke depan, dengan ruang lain yang tak berujung untuk tersiksa di dalamnya.

Juga ruang untuk khawatir.

Di mana bayiku? Mengapa dia tidak ada di sini? Mengapa mereka tidak membicarakan dia?

“Tidak, aku di sini saja,” bisik Edward, menjawab pikiran yang tidak terucapkan. “Mereka pasti bisa membereskannya sendiri,”

“Situasi yang menarik,” Carlisle menimpali. “Padahal kusangka aku sudah melihat semuanya.”

“Aku akan membereskannya nanti. Kita akan membereskannya nanti.” Sesuatu menekan lembut telapak tanganku yang melepuh.

“Aku yakin di antara kami berlima, kami bisa menjaganya agar tidak berubah menjadi pertumpahan darah.”

Edward mendesah. “Aku tidak tahu akan memihak siapa. Aku ingin sekali menghajar dua-duanya. Well, nanti.”

“Aku jadi penasaran bagaimana pendapat Bella—pihak mana yang akan dibelanya,” renung Carlisle,

Terdengar suara terkekeh pelan. “Aku yakin dia akan membuatku terkejut. Dia kan selalu begitu.”

Langkah-langkah Carlisle kembali menjauh, dan aku frustrasi karena tidak ada penjelasan lebih lanjut. Apakah mereka sengaja berbicara semisterius itu hanya untuk membuatku jengkel?

Aku kembali menghitung tarikan napas Edward untuk menandai waktu.

Sepuluh ribu, sembilan ratus empat puluh tiga tarikan napas berikutnya, terdengar

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.