Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Seperti karaku tadi, mereka menggemaskan. Well, beberapa kelompok vampir melawan dengan sekuat tenaga sampai titik darah penghabisan—sampai mereka semua dikalahkan—untuk melindungi anak-anak itu. Pembantaian itu tidak meluas seperti perang selatan di benua ini, tapi jumlah korbannya jauh lebih banyak. Kelompok-kelompok yang sudah lama terbentuk, tradisi lama, teman-teman,., banyak yang musnah. Akhirnya praktik itu benar-benar musnah hingga ke akar-akarnya. Anak-anak imortal tidak boleh lagi disebut-sebut, dan menjadi sesuatu yang tabu untuk dibicarakan.

“Waktu tinggal dengan keluarga Volturi, aku pernah bertemu dengan dua anak imortal, jadi aku melihat sendiri betapa menggemaskannya mereka, Aro mempelajari anakanak itu selama beberapa tahun setelah malapetaka yang diakibatkan mereka berakhir. Kau tahu sendiri watak Aro; dia berharap anak-anak itu bisa dijinakkan. Namun akhirnya keputusan bulat diambil: anak-anak imortal tidak diperbolehkan hidup.”

Aku sudah lupa pada ibu Denali bersaudara ketika cerita kembali padanya.

“Tidak jelas apa tepatnya yang terjadi pada ibu Tanya,” cerita Carlisle. “Tanya, Kate, dan Irina tidak tahu apa-apa sampai suatu hari keluarga Volturi datang menemui mereka, ibu mereka, bersama ciptaan ilegal si ibu yang sudah berada dalam tawanan mereka, Ketidaktahuanlah yang menyelamatkan hidup Tanya dan saudari-saudarinya. Aro menyentuh mereka dan melihat bahwa mereka benar-benar tidak tahu apa-apa, jadi mereka tidak dihukum bersama ibu mereka,

“Tak seorang pun di antara mereka pernah melihat bocah lelaki itu sebelumnya, atau pernah memimpikan keberadaannya, sampai hari itu, saat mereka melihatnya dibakar dalam pelukan ibu mereka. Aku hanya bisa menduga ibu mereka sengaja merahasiakannya untuk melindungi mereka dari kemungkinan ini. Tapi mengapa sang ibu harus menciptakan bocah itu? Siapakah bocah itu, dan apa arti si bocah bagi si ibu, sampai menyebabkan dia nekat melanggar batas yang paling tidak bisa dilanggar? Tanya dan yang lain-lain tak pernah mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi mereka tidak bisa meragukan kesalahan ibu mereka, dan kurasa mereka tak pernah benar-benar memaafkannya.

“Bahkan walaupun Aro sudah memastikan bahwa Tanya, Kate, dan Irina tidak bersalah, Caius tetap ingin mereka dibakar. Bersalah karena ada hubungan. Mereka beruntung Aro sedang ingin bermurah hati hari itu. Tanya dan adik-adiknya dimaafkan, tapi ditinggalkan dengan hati terluka dan sangat menghormati hukum…”

Aku tak tahu di mana persisnya ingatan itu berubah menjadi mimpi. Sesaat aku merasa seperti mendengarkan cerita Oirlisle dalam ingatanku, menatap wajahnya, dan sejurus kemudian aku sudah memandang ke padang tandus kelabu dengan bau dupa terbakar menyengat di udara. Aku tidak sendirian di sana.

Sosok-sosok tubuh yang berkerumun di tengah padang, semua mengenakan jubah kelabu, seharusnya membuatku ngeri—mereka tidak lain dan tidak bukan adalah keluarga Volturi, sementara aku, berlawanan dengan apa yang telah mereka perintahkan di pertemuan terakhir kami, masih rnanusia. Tapi aku tahu, seperti yang kadang-kadang kuketahui dalam mimpi, bahwa mereka tidak bisa melihatku.

Di sekelilingku tampak bertebaran gundukan yang mengepulkan asap. Aku mengenali bau wangi yang membubung di udara dan tidak memerhatikan gundukangundukan itu lebih dekat lagi. Aku tak ingin melihat wajah-wajah vampir yang mereka eksekusi, setengah takut bakal mengenali seseorang di antaranya.

Prajurit-prajurit Volturi berdiri membentuk lingkaran mengitari sesuatu atau seseorang, dan aku mendengar suara-suara bisikan mereka meninggi oleh kegelisahan. Aku beringsut mendekati jubah-jubah itu, terdorong oleh mimpi untuk melihat benda atau orang yang sedang mereka perhatikan dengan begitu cermat. Menyusup hati-hati di antara dua sosok jangkung berjubah yang mendesis, akhirnya aku berhasil melihat objek yang sedang mereka perdebatkan, duduk di puncak bukit kecil di atas mereka.

Bocah lelaki itu tampan, menggemaskan, persis seperti yang digambarkan Carlisle. Ia masih batita, mungkin baru dua tahun. Rambut ikalnya yang cokelat muda membingkai wajahnya yang mirip kerubim, dengan pipi bundar dan bibir penuh. Dan tubuhnya gemetar, matanya terpejam seolah-olah ia terlalu takut melihat kematian yang setiap detik semakin dekat

Aku dilanda keinginan sangat kuat untuk menyelamatkan bocah tampan yang ketakutan itu sampai-sampai keluarga Volturi, dengan kekuasaannya yang sanggup menghancurkan, tak lagi berarti apa-apa bagiku. Aku menerobos kerumunan, tak peduli kalaupun mereka menyadari kehadiranku. Begitu lepas dari kerumunan, aku berlari sekencang-kencangnya menghampiri bocah lelaki itu.

Namun aku terhuyung-huyung dan berhenti berlari begitu bisa melihat dengan jelas bukit tempat bocah lelaki itu duduk. Ternyata bukit itu tidak terdiri atas tanah dan bebatuan, melainkan tumpukan mayat manusia, kering dan tak bernyawa. Terlambat untuk tidak melihat wajah-wajah mereka. Aku kenal mereka semua—Angela, Ben, Jessica, Mike,.. Dan persis di bawah bocah menggemaskan itu tergeletak mayat ayah dan ibuku.

Bocah itu membuka matanya yang cemerlang dan semerah darah.

3. HARI H

MATAKU mendadak terbuka.

Selama beberapa menit aku berbaring dengan sekujur tubuh gemetar dan terengahengah di tempat tidurku yang hangat, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman mimpi-Langit di luar jendelaku berubah kelabu, kemudian merah muda pucat sementara aku menunggu detak jantungku melambat.

Setelah sepenuhnya kembali ke dunia nyata di kamarku yang berantakan dan familier, aku sedikit kesal pada diriku sendiri. Bisa-bisanya aku bermimpi seperti itu di malam menjelang pernikahan! Itulah akibatnya kalau terobsesi pada cerita-cerita seram di tengah malam.

Ingin mengenyahkan mimpi buruk itu jauh-jauh, aku bangkit dan berpakaian, turun ke dapur padahal hari masih sangat pagi. Pertama-tama aku membersihkan ruanganruangan yang sudah rapi, kemudian setelah Charlie bangun, membuatkannya panekuk. Aku terlalu tegang sehingga tidak bernafsu sarapan—aku hanya duduk sambil bergerakgerak gelisah di kursiku sementara Charlie makan.

“Dad harus menjemput Mr. Weber jam tiga nanti!” aku mengingatkan ayahku.

“Aku tak punya kegiatan lain hari ini selain menjemput pendeta, Bells. Jadi tidak mungkin aku melupakan satu-satunya tugasku.” Charlie cuti satu hari khusus untuk pernikahanku, dan ia gelisah seperti cacing kepanasan. Sesekali matanya diam-diam melirik lemari di bawah tangga, tempat ia menyimpan peralatan memancingnya,

“Itu bukan satu-satunya tugas Dad. Dad juga harus berpakaian rapi dan tampil tampan,”

Charlie mencemberuti mangkuk serealnya dan menggerutu, mengucapkan kata-kata “baju monyet” dengan suara pelan.

Terdengar ketukan cepat di pintu depan,

“Baru begitu saja sudah Dad anggap berat,” kataku, meringis sambil bangkit berdiri. “Sementara aku akan digarap Alice seharian.”

Charlie mengangguk dengan sikap serius, menyimpulkan bahwa “penderitaannya” lebih ringan daripada aku. Aku membungkuk untuk mengecup puncak kepalanya sambil berjalan lewat—wajah Charlie memerah dan ia menggeram—untuk membukakan pintu bagi sahabat sekaligus calon adik iparku.

Rambut hitam pendek Alice tidak jabrik seperti biasa— rambutnya disisir mengikal di sekeliling wajah mungilnya, tampak kontras dengan ekspresinya yang resmi. Ia menyeretku keluar rumah dan hanya sempat menyapa Charlie sekilas dari balik bahunya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.