Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Kalau aku melakukan hal yang mudah sekarang, membiarkan kegelapan menghapusku, berarti aku menyakiti hati mereka.

Edward. Edward, Hidupku dan hidupnya terjalin menjadi satu. Potong satu, berarti kau memotong keduanya. Seandainya dia pergi, aku takkan sanggup hidup tanpa dia. Seandainya aku pergi, dia juga takkan sanggup hidup tanpa aku. Dan dunia tanpa Edward akan terasa tiada artinya. Edward harus ada,

Jacob—yang sudah berulang kali mengucapkan selamat berpisah padaku tapi selalu kembali setiap kali aku membutuhkannya. Jacob yang entah sudah berapa kali kusakiti hatinya. Akankah aku menyakiti hatinya lagi, yang terparah kali ini? Selama ini Jacob selalu bersamaku, walau bagaimanapun juga. Sekarang yang ia minta dariku hanyalah agar aku tetap bersamanya.

Tapi di sini sangat gelap, aku tak bisa melihat wajah siapa pun. Semua terasa tidak nyata. Membuat sulit bagiku untuk tidak menyerah.

Walaupun begitu aku terus berusaha mendorong kegelapan itu, nyaris seperti refleks. Aku tidak berusaha mengangkatnya. Aku hanya menolaknya. Tidak membiarkannya menindihku sepenuhnya. Aku bukan Atlas, dan kegelapan itu sama beratnya dengan planet; aku tak sanggup memikulnya. Yang bisa kulakukan hanyalah agar tidak sepenuhnya terhapuskan.

Itu menjadi semacam pola dalam hidupku—aku tidak pernah merasa cukup kuat menghadapi hal-hal di luar kendaliku, menyerang musuh atau lari mendahului mereka. Menghindari kesakitan. Sebagai manusia lemah, satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanya bertahan. Menahannya- Tetap selamat.

Sejauh ini, itu semua cukup. Jadi itu pun harus cukup hari ini. Aku harus bisa menahannya sampai pertolongan datang.

Aku tahu Edward akan melakukan segalanya yang bisa ia lakukan. Ia t«dak akan menyerah. Begitu pula aku.

Kutahan kegelapan agar tidak mendekat.

Tapi tekad saja tidak cukup. Sekian lama waktu berlalu dan kegelapan semakin mengimpitku, aku membutuhkan sesuatu yang lebih untuk memberiku kekuatan.

Aku bahkan tak bisa menarik wajah Edward ke dalam penglihatanku. Tidak juga wajah Jacob, atau Alice, Rosalie, Charlie, Renée, Carlisle ataupun Esme… Tidak ada apaapa. Itu membuatku ketakutan, dan aku bertanya-tanya dalam hati apakah semuanya sudah terlambat.

Aku merasakan diriku terpeleset—tak ada yang bisa kujadikan pegangan.

Tidak’. Aku harus selamat melewati ini. Edward bergantung padaku. Jacob. Charlie Alice Rosalie Carlisle Renée Esme…

Renesmee.

Kemudian, walaupun aku masih belum bisa melihat apa-apa, mendadak aku bisa merasakan sesuatu. Seperti tangan-tangan hantu, aku membayangkan diriku bisa merasakan tanganku lagi. Dan dalam dekapan tanganku, ada sesuatu yang kecil, keras, dan amat sangat hangat.

Bayiku. Bocah kecil yang menendang-nendang perutku.

Aku berhasil. Melewati segala rintangan, ternyata aku cukup kuat untuk melahirkan Renesmee dengan selamat, mengandungnya sampai ia cukup kuat untuk hidup tanpaku.

Titik panas di lengan hantuku terasa begitu nyata. Aku mendekapnya semakin erat. Tepat di sanalah jantungku seharusnya berada. Dengan mendekap erat kenangan hangat tentang putriku, aku tahu aku akan bisa berjuang melawan kegelapan sampai selama yang dibutuhkan.

Kehangatan di samping jantungku semakin menjadi-jadi dan semakin nyata, semakin lama semakin hangat. Semakin panas. Panasnya begitu nyata hingga sulit rasanya menyakini bahwa aku hanya membayangkannya.

Semakin panas.

Tidak nyaman sekarang. Terlalu panas. Sangat, sangat terlalu panas.

Rasanya seperti memegang ujung yang salah dari alat pengeriting rambut—respons otomatisku adalah menjatuhkan benda panas membara dalam dekapanku. Tapi tidak ada apa-apa di sana. Lenganku tidak terlipat ke dada. Lenganku terkulai begitu saja di sisi tubuhku. Panas itu berada di dalam tubuhku.

Panas membakar itu semakin menjadi-jadi—meningkat, memuncak, lalu meningkat lagi hingga melampaui apa pun yang pernah kurasakan.

Sekarang di balik api yang berkobar itu aku merasakan denyut di dadaku dan sadar aku telah menemukan jantungku lagi, tepat ketika aku berharap takkan menemukannya. Berharap bahwa aku telah merengkuh kegelapan itu selagi memiliki kesempatan. Aku ingin mengangkat kedua lenganku dan mengoyak dadaku dan merenggut jantungku sendiri —melakukan apa saja untuk menghentikan siksaan ini. Tapi aku tak bisa merasakan lenganku, tak bisa menggerakkan bahkan satu jari saja.

James mematahkan kakiku dengan menginjaknya. Itu tidak ada apa-apanya dibandingkan sekarang. Itu ibarat tempat empuk untuk beristirahat di atas kasur bulu. Kalau disuruh, aku lebih suka memilih yang itu, seratus kali juga boleh. Seratus kali kakiku dipatahkan. Aku akan menerimanya dan bersyukur.

Bayi itu menendang tulang-tulang rusukku, mematahkannya sedikit demi sedikit untuk mencari jalan keluar. Itu tak ada apa-apanya. Itu ibarat mengambang di kolam berair sejuk. Aku bersedia disuruh merasakannya seribu kali lagi. Akan kuterima dengan penuh rasa syukur.

Api ini berkobar semakin panas dan aku ingin menjerit. Memohon agar ada yang membunuhku sekarang, sebelum aku hidup satu detik lagi dalam kesakitan ini. Tapi aku tak sanggup menggerakkan bibirku. Beban itu masih di sana, menekanku.

Sadarlah aku bukan kegelapan yang menahanku; melainkan tubuhku. Begitu berat. Menguburku dalam kobaran api yang menjilat-jilat mencari jalan keluar dari jantungku sekarang, menyebar dengan kesakitan yang luar biasa ke bahu dan perutku, membakar tenggorokanku, menjilati wajahku.

Mengapa aku tidak bisa bergerak? Mengapa aku tidak bisa menjerit? Ini bukan bagian dari cerita-cerita mereka.

Pikiranku sangat jernih—dipertajam kesakitan yang luar biasa—dan aku melihat jawabannya seketika itu juga, nyaris bersamaan dengan terlontarnya pertanyaan itu.

Morfin.

Rasanya sudah berabad-abad yang lalu kami membicarakan hal ini—Edward, Carlisle, dan aku. Edward dan Carlisle berharap obat penghilang sakit dalam dosis cukup dapat membantu mengatasi sakit yang kualami akibat racun vampir itu. Carlisle sudah pernah mencobanya dengan Emmett, tapi racun vampir itu lebih dulu membakar daripada obatnya, mengunci pembuluh-pembuluh darah Emmet, Obatnya tidak sempat lagi menyebar.

Aku membiarkan wajahku tetap tenang dan mengangguk, mensyukuri keberuntunganku bahwa Edward tidak bisa membaca pikiranku.

Karena aku sudah pernah merasakan morfin dan racun vampir sekaligus dalam pembuluh darahku sebelumnya, maka aku tahu hal sebenarnya. Aku tahu perasaan kebas yang dihasilkan morfin sangatlah tidak relevan saat racun itu membakar pembuluhpembuluh darahku. Tapi jangan harap .aku akan mengungkit hal itu. Aku tidak mau mengatakan apa pun yang akan membuat Edward urung mengubahku.

Aku sama sekali tidak menduga morfin akan menghasilkan efek seperti ini— menindih dan membungkam mulutku. Membuatku lumpuh sementara racun itu membakar tubuhku.

Aku tahu semua ceritanya. Aku tahu Carlisle berdiam diri agar tidak ketahuan sementara tubuhnya terbakar. Aku tahu bahwa, menurut cerita Rosalie, tak ada gunanya menjerit. Dan sebelumnya aku berharap mungkin aku bisa menjadi seperti Carlisle, Bahwa aku akan memercayai kata-kata Rosalie dan tetap diam. Karena aku tahu setiap jeritan yang keluar dari mulutku akan membuat Edward tersiksa.

Kini rasanya seperti lelucon yang tidak lucu karena harapanku terkabul.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.