Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Mereka melayang semakin dekat, jubah gelap mereka berkibar-kibar pelan dengan setiap gerakan. Aku melihat tangan mereka melengkung membentuk cakar sewarna tulang. Mereka berpencar, mendatangi kami dari segala sisi. Jumlah kami kalah banyak. Semua sudah berakhir.

Kemudian, bagai diterangi sorot lampu kilat, pemandangan itu jadi berbeda. Namun tak ada yang berubah—keluarga Volturi masih bergerak menghampiri kami, bersiap membunuh. Yang benar-benar berubah hanya bagaimana gambaran itu terlihat olehku. Tiba-tiba hasratku membuncah. Aku ingin mereka menyerang. Kepanikan berubah menjadi haus darah saat aku membungkuk, siap menerjang maju, senyum tersungging di wajahku, dan geraman menyeruak dari sela gigiku yang menyeringai.

19. PANAS MEMBAKAR

Sakitnya membingungkan.

Tepat seperti itulah—aku kebingungan. Aku tidak bisa mengerti, tidak bisa mencerna apa yang sedang terjadi.

Tubuhku berusaha menolak rasa sakit itu, dan aku tersedot lagi dan lagi ke kegelapan yang memotong detik-detik atau bahkan mungkin menit-menit penuh kesakitan, membuatku semakin sulit memahami kenyataan.

Aku berusaha memisahkannya.

Ketidaknyataan berwarna hitam, dan rasanya tidak terlalu menyakitkan.

Kenyataan berwarna merah, dan aku merasa seperti digergaji menjadi dua, dilindas bus, ditinju petinju profesional, diinjak-injak segerombolan banteng, dan tenggelam dalam cairan asam, semuanya pada saat bersamaan.

Kenyataan adalah merasakan tubuhku terpilin dan terentak di saat aku tak mungkin bisa bergerak karena sakit.

Kenyataan adalah mengetahui ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada semua siksaan ini, tapi tak bisa ingat apa itu.

Kenyataan datang begitu cepat.

Satu saat segala sesuatu berjalan sebagaimana seharusnya. Dikelilingi orang-orang yang kucintai. Senyum di mana-mana. Entah bagaimana, meski kemungkinannya kecil, sepertinya aku akan mendapat semua yang selama ini kuperjuangkan.

Kemudian satu kecerobohan sepele terjadi dan mengubah semuanya.

Aku melihat cangkirku terguling, darah merah tumpah dan menodai kain putih bersih itu, dan refleks aku meraihnya. Aku juga melihat tangan-tangan lain yang lebih cepat, tapi tubuhku tetap bergerak maju, terulur…

Di dalam tubuhku, sesuatu terenggut ke arah sebaliknya.

Terkoyak. Patah. Sakitnya luar biasa.

Kegelapan itu mengambil alih, kemudian berubah menjadi gelombang siksaan. Aku tak bisa bernapas—dulu aku pernah tenggelam, tapi yang ini berbeda; rasanya kerongkonganku panas sekali.

Bagian-bagian tubuhku remuk, patah, teriris…

Lagi-lagi kegelapan menyelimutiku.

Suara-suara, kali ini berteriak-teriak, saat kesakitan itu kembali.

“Plasentanya pasti lepas!”

Sesuatu yang lebih tajam dari pisau mengoyakku—kata-kata itu, masuk akal di tengah siksaan-siksaan lain. Plasenta yang terlepas—aku tahu apa artinya itu. Itu berarti bayiku sekarat di dalam rahimku.

“Keluarkan dia!” jeritku pada Edward. Mengapa Edward belum juga melakukannya? “Dia tidak bisa bernapas! Lakukan sekarang!”

“Morfinnya..”

Ia ingin menunggu, memberiku obat penghilang sakit, padahal bayi kami sekarat?!

“Tidak! Sekarang…!” aku tersedak, tak mampu menyelesaikan kata-kataku.

Bercak-bercak hitam menutupi lampu di ruangan itu saat rasa sakit baru menghunjam dingin ke perutku. Rasanya keliru—otomatis aku berusaha keras melindungi rahimku, bayiku, Edward Jacob kecilku, tapi aku lemah. Paru-paruku sakit, oksigen terbakar habis.

Rasa sakit itu kembali memudar, walaupun aku mencengkeramnya kuat-kuat sekarang. Bayiku, bayiku, sekarat…

Berapa lama waktu telah berlalu? Detik acau menit? Rasa sakit itu hilang. Kebas. Aku tidak bisa merasa. Aku juga masih tidak bisa melihat, tapi aku bisa mendengar. Ada udara di paru-paruku lagi, menggesek dalam bentuk gelembung-gelembung kasar yang melewati tenggorokanku.

“Tetaplah bersamaku sekarang, Bella! Kaudengar aku? Kau tidak boleh meninggalkan aku. Jantungmu harus terus berdetak!”

Jacob? Jacob masih di sini, masih berusaha menyelama kanku.

Tentu saja, aku ingin berkata padanya. Tentu saja aku akan berusaha membuat jantungku tetap berdetak. Bukankah aku sudah berjanji pada mereka berdua?

Aku berusaha merasakan jantungku, menemukannya, tapi aku begitu tersesat di dalam tubuhku sendiri. Aku tidak bisa merasakan hal-hal yang seharusnya kurasakan, dan semua rasanya berada di tempat yang tidak seharusnya. Aku mengerjap dan menemukan mataku. Aku bisa melihat cahaya.

Bukan sesuatu yang kucari, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.

Sementara mataku susah payah berusaha menyesuaikan diri, Edward berbisik, “Renesmee.” Renesmee?

Bukan anak lelaki sempurna berkulit pucat seperti yang kubayangkan? Sesaat aku sbock. Lalu perasaan hangat melandaku.

Renesmee.

Aku berusaha menggerakkan bibir, berusaha mengubah gelembung-gelembung udara menjadi bisikan di lidahku. Aku memaksa mengulurkan kedua tanganku yang kebas.

“Biarkan aku… Berikan dia padaku.”

Cahaya itu menari-nari, pecah berderai dari kulit tangan Edward yang laksana kristal. Kilauannya bersemu merah oleh darah yang melumuri tangannya. Dan banyak lagi warna merah di tangannya. Sesuatu yang kecil dan menggeliat-geliat, darah menetes-netes. Ia menempelkan tubuh hangat itu ke lenganku yang lemah, hampir seperti aku menggendongnya. Kulitnya yang basah terasa panas—tapi tidak sepanas kulit Jacob.

Mataku terfokus; tiba-tiba semua tampak sangat jelas.

Renesmee tidak menangis, tapi napasnya tersengal-sengal cepat, terkejut. Matanya terbuka, ekspresinya begitu sbock hingga nyaris lucu. Kepalanya yang kecil dan bundar sempurna tertutup rambut ikal lengket berdarah. Iris matanya berwarna cokelat yang— meski familier—namun menakjubkan. Di balik darah yang melumuri tubuhnya, kulitnya berwarna gading pucat. Semuanya begitu kecuali pipinya yang bersemu merah.

Wajah mungilnya begitu sempurna sampai-sampai membuatku terperangah. Ia bahkan lebih rupawan daripada ayah’ nya. Tak bisa dipercaya. Mustahil. “Renesmee,” bisikku. “Cantik… sekali.”

Wajah rupawan itu tiba-tiba tersenyum—senyum lebar dan sengaja. Di balik bibir pinknya yang berbentuk kerang, tampak sederet gigi susu seputih salju yang sudah lengkap.

Ia menundukkan kepala ke depan, ke dadaku, menguburkannya ke kehangatan. Kulitnya hangat dan sehalus sutra, tapi tidak lembut seperti kulitku.

Kemudian terasa lagi rasa sakit—rasa sakit sekilas yang hangat. Aku terkesiap.

Dan Renesmee pun hilang. Bayiku yang berwajah malaikat itu lenyap entah ke mana. Aku tak bisa melihat ataupun merasakannya.

Tidak! ingin benar aku berteriak. Kembalikan dia padaku!

Tapi kelemahan itu terlalu kuat melandaku. Kedua lenganku sesaat terasa seperti slang karet yang kosong, kemudian tidak terasa apa-apa sama sekali. Aku tak bisa merasakannya. Aku tak bisa merasakan diriku.

Kegelapan itu dengan cepat menutupi mataku, lebih gelap daripada sebelumnya. Seperti penutup mata yang tebal, kuat, dan cepat. Menutup bukan hanya mataku, melainkan juga diriku dengan beban yang menekan. Melelahkan sekali mendorong melawannya. Aku tahu akan jauh lebih mudah untuk menyerah saja. Membiarkan kegelapan itu menenggelamkanku ke bawah, ke bawah, ke tempat tidak ada kesakitan, tidak ada kelelahan, tidak ada kekhawatiran, dan tidak ada ketakutan.

Seandainya aku hanya memikirkan diriku sendiri, aku pasti takkan sanggup berjuang terlalu lama. Aku hanya manusia biasa, dengan kekuatan tak lebih dari kekuatan manusia. Aku sudah terlalu lama berusaha mengimbangi kekuatan supranatural, seperti yang pernah dikatakan Jacob padaku.

Tapi aku tidak hanya memikirkan diriku sendiri.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.