Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Aku ingin berlari menjauh secepatnya, melompati sepuluh anak tangga sekaligus dan menghambur keluar pintu, tapi kakiku berat seperti digayuti besi dan tubuhku letih sekali, lebih daripada yang pernah kurasakan sebelumnya. Aku ter-saruk-saruk menuruni tangga seperti orang tua yang cacat.

Aku beristirahat di anak tangga paling bawah, mengumpulkan segenap kekuatan untuk berjalan keluar pintu.

Rosalie duduk di ujung sofa putih yang masih bersih, me-mitinggungiku, berbisik dan mengucapkan kata-kata bernada lembut pada makhluk berselubung selimut dalam pelukannya. Ia pasti mendengarku berhenti, tapi ia mengabaikanku, terhanyut dalam momen bahagia sebagai ibu yang dicurinya dari Bella. Mungkin sekarang ia akan bahagia. Rosalie telah mendapatkan apa yang ia inginkan, dan Bella takkan pernah datang untuk mengambil makhluk itu darinya. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah memang itu yang diharapkan si pirang beracun selama ini.

Rosalie memegang sesuatu berwarna gelap di tangannya, dan terdengar suara mengisap rakus dari pembunuh kecil yang digendongnya itu.

Bau darah di udara. Darah manusia, Rosalie meminumkan darah manusia ke bayi itu. Tentu saja ia ingin minum darah. Apa lagi yang akan kauberikan pada monster yang secara brutal memutilasi ibunya sendiri? Sama saja ia minum darah Bella. Mungkin itu memang darah Bella.

Kekuatanku pulih kembali saat mendengar suara pembunuh kecil itu makan.

Kekuatan, kebencian, dan perasaan panas—panas amarah membasuh kepalaku, membakar tapi tidak menghapus apa pun. Gambar-gambar di kepalaku ibarat bensin, semakin menggelorakan api tapi menolak dibakat habis. Aku merasakan getaran mengguncang tubuhku dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan aku tidak berusaha menghentikannya.

Perhatian Rosalie sepenuhnya tercurah pada makhluk itu, ia tak menggubrisku sama sekali. Ia tidak akan bisa meng-hentikanku pada saat yang tepat, karena perhatiannya hanya tertuju pada makhluk itu.

Sam benar. Makhluk itu adalah penyimpangan—keberadaannya menentang hukum alam. Iblis hitam tak berjiwa. Sesuatu yang tidak berhak ada.

Sesuatu yang harus dihancurkan.

Sepertinya tarikan tadi bukan mengarah ke pintu. Aku bisa merasakannya sekarang, membujukku, menarikku maju. Mendorongku menyelesaikannya, membersihkan dunia dari kekejian ini.

Rosalie pasti akan berusaha membunuhku kalau makhluk itu mati, dan aku akan melawannya. Entah apakah cukup waktu bagiku menghabisinya sebelum yang lain-lain datang membantu. Mungkin cukup, mungkin tidak. Aku tidak tedalu peduli.

Aku tak peduli bila para serigala, kelompok mana. pun, membalas dendam atas kematianku atau menuntut keadilan pada keluarga Cullen. Itu semua tak berarti. Yang penting bagiku adalah keadilanku sendiri. Balas dendamku. Makhluk yang membunuh Bella itu tak boleh hidup lebih lama lagi.

Seandainya Bella selamat, ia pasti membenciku karena apa yang kulakukan ini. Ia pasti akan membunuhku dengan tangannya sendiri.

Tapi aku tak peduli. Ia juga tidak peduli pada apa yang ia lakukan terhadapku— membiarkan dirinya dijagai seperti binatang. Mengapa sekarang aku harus memedulikan perasaannya?

Begitu juga Edward, Ia pasti terlalu sibuk sekarang—kelewat kalut dalam

penyangkalannya yang gila, berusaha menghidupkan mayat—sehingga tidak akan mendengar rencanaku.

Maka aku takkan mendapatkan kesempatan menepati janjiku padanya, kecuali— dan ini bukan sesuatu di mana aku bersedia mempertaruhkan uangku—aku berhasil memenangkan pertarungan melawan Rosalie, Jasper, dan Alice, tiga lawan satu. Tapi sekalipun aku menang, kurasa aku tetap tidak akan mau membunuh Edward.

Karena aku tidak memiliki cukup belas kasihan untuk itu. Mengapa harus kubuat dia tidak merasakan akibat perbuatannya? Bukankah akan lebih adil—lebih memuaskan— membiarkannya hidup tanpa memiliki apa-apa sama sekali?

Pikiran itu nyaris membuatku tersenyum, hatiku begitu penuh kebencian ketika membayangkannya. Tidak ada Bella, Tidak ada monster pembunuh itu. Dan ia juga kehilangan anggota keluarganya sebanyak yang bisa kuhabisi. .Tentu saja mungkin ia bisa menyatukan mereka kembali, karena aku tak ada waktu untuk membakar bagian-bagian tubuh. Tidak seperti Bella, yang takkan pernah bisa disatukan lagi.

Dalam hati aku penasaran apakah makhluk itu bisa disatukan kembali. Aku meragukannya. Makhluk itu separo Bella juga—jadi ia pasti mewarisi kerapuhan Bella. Itu bisa kudengar dari detak jantungnya yang mungil.

Jantung makhluk itu berdetak. Jantung Bella tidak.

Hanya satu detik berlalu saat aku mengambil keputusan yang mudah ini.

Getaran itu semakin ketat dan cepat. Aku melengkungkan badan, bersiap menerkam vampir pirang itu dan merenggut makhluk pembunuh itu dari dekapannya dengan gigiku.

Rosalie berbicara lagi dengan nada lembut pada makhluk itu, meletakkan botol logam yang kosong di sampingnya dan mengangkat makhluk itu untuk menempelkan wajahnya ke pipi si bayi.

Sempurna. Posisi baru itu sempurna untuk seranganku. Aku mencondongkan tubuh ke depan dan merasakan panas mulai mengubahku sementara tarikan ke arah pembunuh itu semakin kuat—lebih kuat daripada yang kurasakan sebelumnya, begitu kuatnya hingga mengingatkanku pada perintah seorang Alfa, seolah-olah itu akan meremukkanku kalau aku tidak menurut.

Kali ini aku ingin menurut.

Pembunuh itu menatapku melewati bahu Rosalie, tatapan matanya lebih terfokus daripada bayi makhluk mana pun.

Mata cokelat hangat, warna cokelat susu—warna yang sama persis dengan mata Bella dulu.

Guncangan tubuhku mendadak berhenti; panas melanda seluruh tubuhku, lebih kuat dari sebelumnya, tapi ini panas yang baru—bukan panas yang membakar.

Tapi panas yang bersinar-sinar.

Segala sesuatu di dalam diriku seakan terlepas saat aku menatap wajah porselen mungil bayi setengah vampir setengah manusia itu. Semua ikatan yang mengikatku terputus oleh sayatan cepat, seperti menggunting tali segerumbul balon. Segala sesuatu yang membuatku menjadi diriku sekarang—cintaku pada gadis yang sudah mati di lantai atas itu, cintaku pada ayahku, loyalitasku pada kawanan baruku, cintaku pada saudarasaudaraku, kebencianku pada musuh-musuhku, rumahku, namaku, diriku.—detik itu juga terputus dariku—kres, kres, kres—dan melayang ke udara.

Tapi aku tidak dibiarkan melayang-layang tak tentu arah. Seutas tali baru menahanku di tempatku berdiri.

Bukan hanya satu tali, melainkan sejuta. Bukan tali, melainkan kabel baja. Sejuta kabel baja mengikatku pada satu hal—pada pusat jagat raya ini.

Aku bisa melihatnya sekarang—bagaimana jagat raya berputar mengelilingi satu titik ini. Tak pernah aku melihat kesimetrisan jagat raya sebelum ini, tapi sekarang semuanya jelas.

Gravitasi bumi tak lagi menahanku di tempatku berdiri.

Bayi perempuan dalam pelukan vampir pirang itulah yang menahanku di sini sekarang. Renesmee.

Dari lantai atas terdengar suara baru. Satu-satunya suara yang bisa menyentuhku dalam sedetik yang tidak ada akhirnya ini.

Degup cepat, detak memburu… Suara jantung yang berubah.

 

BUKU TIGA

BELLA

PENDAHULUAN

BARISAN hitam yang mendekati kami menembus kabut sedingin es yang terkuak oleh kaki mereka, bukan lagi sekadar mimpi buruk.

Kita akan mati, pikirku panik. Aku panik memikirkan hal berharga yang kujaga, tapi aku tak boleh bahkan memikirkannya, karena itu akan mengganggu konsentrasiku.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.