Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Aku tetap menatapnya, tak mengalihkan pandanganku darinya.

Lalu tubuhnya mendadak diam di bawah tanganku, walaupun deru napasnya semakin cepat dan jantungnya terus berdetak. Sadarlah aku diam itu berarti semuanya telah berakhir. Entakan-entakan dari dalam tubuhnya sudah berhenti. Makhluk itu pasti sudah keluar dari tubuhnya.

Ternyata memang sudah.

Edward berbisik, “Reneesme,”

Kalau begitu perkiraan Bella salah. Ternyata bukan anak laki laki seperti yang ia bayangkan. Itu tidak mengherankan bagiku. Apa sih yang pernah Bella perkirakan dengan benar?

Aku tidak mengalihkan mataku dari matanya yang bebercak-bercak merah, tapi aku merasakan kedua tangannya terangkat lemah.

“Biarkan aku…,” bisik Bella parau. “Berikan dia padaku.”

Kurasa seharusnya aku tahu Edward akan menuruti semua yang diinginkan Bella, tak peduli betapapun tololnya permintaan itu. Tapi aku sama sekali tidak menyangka ia juga akan menuruti kemauan Bella sekarang. Jadi tidak terpikir olehku untuk menghentikan Edward.

Sesuatu yang hangat menyentuh lenganku. Itu saja seharusnya sudah menarik perhatianku. Tidak ada yang terasa hangat di kulitku.

Tapi aku tak sanggup mengalihkan pandanganku dari wajah Bella. Ia mengerjapkan mata dan memandang, akhirnya bisa melihat. Suara menenangkan yang aneh, lirih, dan mirip erangan terdengar dari bibirnya.

“Renes…mee. Cantik… sekali.”

Kemudian ia terkesiap—terkesiap kesakitan.

Waktu aku melihatnya, semua sudah terlambat. Edward telah merenggut makhluk hangat berlumuran darah itu dari lengan Bella yang terkulai lemas. Mataku melirik cepat ke kulit Bella. Kulitnya merah oleh darah—darah yang tadi mengalir dari mulutnya, darah yang melumuri tubuh makhluk itu, dan darah segar yang menggenang dari bekas gigitan kecil berbentuk bulan sabit ganda, persis di atas payudara kiri Bella.

“Jangan, Renesmee,” gumam Edward, seperti mengajarkan sopan santun pada monster itu.

Aku tidak melihat Edward ataupun makhluk itu. Aku hanya memandangi Bella saat matanya membeliak ke atas.

Dengan suara berdetak lemah terakhir, jantung Bella terputus-putus dan terdiam.

Setelah jantung Bella tak berdetak selama setengah detik, kedua tanganku langsung memegang dadanya, menekan-nekan-nya. Aku menghitung dalam hati, berusaha menjaga agar ritmenya tetap terjaga. Satu. Dua. Tiga. Empat.

Berhenti sebentar, aku mengembuskan udara lagi ke paru-parunya.

Aku tidak bisa melihat lagi. Mataku basah dan kabur. Tapi aku amat menyadari suara-suara di ruangan itu. Bunyi glug-glug jantung Bella yang tak mau bereaksi di bawah tekanan tanganku yang menuntut, bunyi detak jantungku sendiri, dan satu lagi—detak putus-putus lain yang terlalu cepat, terlalu ringan. Aku tidak tahu bunyi apa itu.

Kupaksa mengembuskan udara lagi ke tenggorokan Bella.

“Apa yang kautunggu?” aku tersedak dengan napas terengah-engah, memompa jantungnya lagi. Satu. Dua. Tiga. Empat.

“Pegang bayinya,” pinta Edward dengan nada mendesak, “Lempar saja keluar jendela.” Satu. Dua. Tiga. Empat. “Berikan bayinya padaku,” seru suara pelan dari ambang pintu.

Edward dan aku menggeram pada saat bersamaan. Satu. Dua. Tiga. Empat.

“Aku sudah bisa menguasai diri,” Rosalie berjanji. “Berikan bayinya, Edward. Aku akan menjaganya sampai Bella…”

Aku mengembuskan udara la’gi ke paru-paru Bella sementara pengalihan itu terjadi. Suara dug dug dug lemah jantung Bella menghilang perlahan-lahan.

“Singkirkan tanganmu, Jacob.”

Aku mendongak, mengalihkan pandangan dari mata Bella yang putih, masih terus memompa jantungnya-Edward memegang jarum suntik di tangannya—seluruhnya berwarna perak, seperti terbuat dari baja,

“Apa itu?”

Tangan Edward yang sekeras batu menepis tanganku agar minggir. Terdengar suara berderak pelan saat tepisannya itu mematahkan kelingkingku. Pada detik yang sama ia menancapkan jarum itu langsung ke jantung Bella.

“Racunku,” jawab Edward sambil menekan pompa suntik.

Kudengar sentakan di jantung Bella, seolah-olah Edward menggugahnya dengan pukulan.

“Gerakkan terus,” perintah Edward. Suaranya sedingin es, mati. Keras dan tanpa berpikir. Seolah-olah ia mesin.

Kuabaikan rasa sakit saat tulang kelingkingku mulai pulih. Aku mulai memompa jantung Bella lagi. Lebih sulit sekarang, seakan-akan darahnya mengental di sana— semakin kental dan lambat. Sementara mendorong darah yang sekarang kental itu ke pembuluh darahnya, aku memerhatikan apa yang dilakukan Edward;

Ia seperti mencium Bella, menyapukan bibirnya ke leher, pergelangan tangan, dan lipatan di bagian dalam lengan Bella. Tapi aku bisa mendengar bunyi kulit Bella robek saat Edward menggigitnya, berkali-kali, memaksakan racunnya masuk ke dalam peredaran darah Bella di sebanyak mungkin tempat. Kulihat lidah Edward yang pucat menjilati luka yang berdarah itu, tapi sebelum itu bisa membuatku mual atau marah, aku menyadari apa yang ia lakukan. Saat lidah Edward menyapu racun iru di atas kulitnya, lukanya langsung menutup. Menahan racun dan darah itu di dalam tubuhnya.

Aku mengembuskan udara lagi ke mulut Bella, tapi tak ada reaksi apa-apa. Hanya dadanya yang terangkat naik tak bernyawa. Aku terus memompa jantungnya, menghitung, sementara Edward mengerahkan segenap upaya untuk membangunkan Bella lagi. Semua sudah dikerahkan…

Tapi tidak ada apa-apa di sana, hanya aku, hanya Edward.

Berusaha membangunkan mayat.

Karena hanya itulah yang tertinggal dari gadis yang sama-sama kami cintai. Mayat yang rusak, babak belur, dan berlumuran darah. Kami tidak bisa membangunkan Bella lagi.

Aku tahu semua sudah terlambat. Aku tahu ia sudah mati. Aku tahu pasti karena tarikan itu sudah tidak ada. Aku tidak merasa ada alasan lagi untuk berada di sampingnya. Ia sudah tidak ada di sini. Jadi tubuh ini tidak lagi memiliki daya tarik bagiku. Kebutuhan tak masuk akal untuk berada di dekatnya lenyap sudah.

Atau mungkin berpindah adalah istilah yang lebih tepat. Sepertinya aku merasakan tarikan dari arah yang berbeda sekarang. Dari lantai bawah, di luar pintu. Kerinduan untuk menjauh dari sini dan tidak pernah, tidak akan pernah kembali.

“Pergilah, kalau begitu,” bentak Edward, dan ia memukul tanganku lagi, mengambil tempatku kali ini. Tiga jari patah, rasanya.

Dengan kelu kuluruskan jari-jariku, tak memedulikan sakit yang berdenyut-denyut.

Edward memompa jantung Bella yang sudah mati itu lebih cepat daripada yang tadi kulakukan.

“Dia belum mati,” geram Edward. “Dia akan baik-baik saja.”

Aku tidak tahu lagi apakah ia berbicara padaku.

Membalikkan badan, meninggalkan Edward dengan mayatnya, aku berjalan lambat-lambat ke pintu. Aku rak sanggup menggerakkan kakiku lebih cepat.

Inilah dia kalau begitu. Samudera kepedihan. Pantai begitu jauh di seberang air yang mendidih. Aku tak bisa membayangkan, apalagi melihatnya.

Lagi-lagi aku merasa hampa, karena sekarang aku telah kehilangan tujuanku. Menyelamatkan Bella adalah sesuatu yang telah kuperjuangkan sekian lama. Tapi ia tidak mau diselamatkan. Ia malah rela mengorbankan dirinya dan dikoyak-koyak keturunan monster itu, jadi perjuanganku sia-sia. Semua su-dah berakhir.

Aku bergidik mendengar suara di belakangku saat terhuyung-huyung menuruni tangga—suara jantung mati dipaksa berdetak.

Entah bagaimana caranya, ingin benar rasanya aku menuangkan cairan pemutih ke kepalaku dan membiarkannya menggosongkan otakku. Membakar habis semua kenangan akan saat-saat terakhir Bella. Aku lebih suka otakku rusak agar bisa menyingkirkan semua kenangan itu—jeritannya, suara berderak dan’ terkoyak saat monster yang baru lahir itu mengoyak perutnya dari dalam…

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.