Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Itu benar. Perut Bella membuncit besar sekali.

“Satu hari lagi,” kata Bella, menepuk-nepuk perutnya.

Aku tak mampu menahan kepedihan yang tiba-tiba menohok hatiku, tapi aku berusaha menyembunyikannya dari wajahku. Aku pasti bisa menyembunyikannya untuk satu hari lagi, bukan?

“Baiklah, kalau begitu. Uuuups… oh, tidak!”

Cangkir yang diletakkan Bella di sofa terguling, dan darah merah tua tumpah membasahi kain yang pucat.

Otomatis, walaupun sudah ada tiga tangan yang lebih dulu terulur untuk meraih cangkir itu, Bella membungkuk, mengulurkan tangan.

Terdengar suara teredam yang sangat aneh, seperti sesuatu terkoyak dari bagian tengah tubuhnya.

“Oh!” Bella tersentak.

Kemudian tubuhnya seketika terkulai, merosot ke lantai. Detik itu juga Rosalie menangkapnya sehingga Bella tidak terjatuh ke lantai. Edward juga bergerak, kedua tangan terulur, melupakan kekacauan di sofa.

“Bella?” tanya Edward, kemudian matanya kehilangan fokus, dan kepanikan melanda sekujur tubuhnya.

Setengah detik kemudian Bella menjerit.

Dan itu bukan jeritan biasa, namun jerit kesakitan yang menegakkan bulu roma. Suara mengerikan itu terputus suara seperti orang tersedak cairan, dan mata Bella membeliak ke atas. Tubuhnya kejang-kejang, melengkung dalam pelukan Rosalie. Kemudian Bella muntah, menyemburkan darah dari mulutnya.

18. TAK ADA KATA YANG SANGGUP MELUKISKANNYA

TUBUH Bella, berlumuran darah, mulai kejang-kejang, kelojotan dalam pelukan Rose seperti orang kesetrum. Sementara itu wajahnya kosong—tak sadarkan diri. Gerakan liar dari bagian dalam tengah tubuhnyalah yang mengguncangkan Bella. Sementara ia kejang-kejang) suara retakan dan patahan terdengar seirama dengan tubuhnya yang terentak-entak.

Rosalie dan Edward membeku sejenak, kemudian langsung bereaksi. Rosalie menyambar tubuh Bella dan menggendongnya, lalu, sambil berteriak-teriak begitu cepat hingga sulit menangkap apa yang dikatakannya, ia dan Edward melesat menaiki tangga menuju lantai dua.

Aku berlari mengejar mereka.

“Morfin!” Edward berteriak kepada Rosalie.

“Alice—telepon Carlisle!” pekik Rosalie.

Ruangan yang kumasuki ditata sebegitu rupa hingga mirip ruang UGD yang dibuat di rengah perpustakaan, lampu-lampunya cemerlang dan putih. Bella dibaringkan di atas meja di bawah sorotan lampu, kulitnya putih pucat di bawah terangnya cahaya. Tubuhnya menggelepar-gelepar, seperti ikan di pasir. Rosalie menahan tubuh Bella, merenggut dan mengoyak bajunya, sementara Edward menancapkan jarum ke lengannya.

Berapa kali aku membayangkan Bella telanjang? Sekarang aku malah tidak tega melihatnya. Aku takut kenangan-kenangan ini akan bercokol dalam kepalaku.

“Apa yang terjadi, Edward?”

“Bayinya tercekik!”

“Plasentanya pasti lepas!”

Di tengah segala kegemparan ini, Bella siuman. Ia merespons seruan-seruan mereka dengan teriakan yang mencakar-cakar gendang telingaku.

“KELUARKAN dia!” jerit Bella. “Dia tidak bisa BERNAPAS! Lakukan SEKARANG!”

Aku melihat bercak-bercak merah bermunculan di mata Bella ketika jeritannya memecah pembuluh-pembuluh darah di matanya.

“Morfinnya…” geram Edward.

“TIDAK! SEKARANG…!” Darah yang kembali menyembur membuat Bella tersedak. Edward menegakkan kepala Bella, dengan panik berusaha membersihkan mulutnya agar ia bisa bernapas lagi.

Alice menghambur memasuki ruangan dan menjepitkan earpiece biru kecil di bawah rambut Rosalie, Lalu Alice menyingkir, mata emasnya membelalak dan berapi-api, sementara Rosalie mendesis panik ke dalam corong telepon.

Di bawah cahaya terang benderang, kulit Bella lebih terlihat ungu dan hitam, bukan putih. Warna merah tua merembes di bawah kulit, di atas perutnya yang membuncit dan bergetar. Tangan Rosalie menyambar skalpel.

“Tunggu morfinnya menyebar dulu!” teriak Edward.

“Tak ada waktu lagi,” desis Rosalie. “Bayinya sekarat!”

Tangan Rosalie turun mendekati perut Bella, dan cairan merah terang muncrat dari bagian kulit yang ditusuknya. Seperti ember yang dibalik, keran yang dibuka sampai penuh. Bella mengentak-entak, tapi tidak menjerit. Ia masih terus tersedak.

Kemudian Rosalie kehilangan fokus. Aku melihat ekspresinya berubah, melihat bibirnya tertarik ke belakang, menampakkan gigi-giginya, dan mata hitamnya berkilat-kilat kehausan.

“Tidak, Rose!” raung Edward, tapi kedua tangannya terperangkap, karena ia berusaha mendudukkan Bella agar bisa bernapas.

Aku melontarkan tubuhku ke arah Rosalie, melompati meja tanpa repot-repot berubah wujud. Saat aku menghantam tubuhnya yang sekeras batu, menjatuhkannya ke arah pintu, aku merasakan skalpel di tangannya menusuk lengan kiriku. Telapak tangan kananku menghantam wajahnya, mengunci rahangnya, dan menghalangi saluran napasnya.

Sambil mencengkeram wajah Rosalie, aku memilin tubuhnya sehingga bisa mendaratkan tendangan keras ke perutnya; rasanya seperti menendang beton. Ia terbang dan menghantam kusen pintu, membengkokkan salah satu sisinya. Speaker kecil di telinganya pecah berkeping-keping. Detik berikutnya Alice datang, merenggut leher Rosalie dan menyeretnya ke ruang depan.

Dan si Pirang patut diacungi jempol—sedikit pun ia tidak melawan. Ia ingin kami menang. Dibiarkannya saja aku menghajarnya begitu rupa, untuk menyelamatkan Bella. Well, sebenarnya untuk menyelamatkan makhluk itu.

Kucabut skalpel yang menancap di lenganku.

“Alice, bawa dia keluar dari sini!” teriak Edward. “Bawa dia ke Jasper dan kurung dia di sana! Jacob, aku butuh bantuanmu!”

Aku tidak melihat Alice melaksanakan perintah Edward. Secepat kilat aku menghambur menuju meja operasi. Wajah Bella sudah berubah biru, matanya membelalak lebar dan melotot.

“CPR?” geram Edward padaku, cepat dan menuntut. “Ya!”

Dengan cepat aku mengamati wajah Edward, mencari tanda-tanda ia akan bereaksi seperti Rosalie. Tidak ada-apa-apa kecuali keganasan yang gigih.

“Buat Bella bernapas! Aku harus mengeluarkan bayinya sebelum…”

Lagi-lagi terdengar suara berderak dari dalam tubuh Bella, sangat keras, begitu kerasnya hingga kami sama-sama membeku kaku, shock menunggu jerit kesakitan Bella. Tak ada suara apa-apa. Kedua kakinya, yang tadi menekuk kesakitan, kini terkulai lemas, tergeletak dalam posisi tidak wajar.

“Tulang punggungnya,” Edward tercekat ngeri,

“Cepat keluarkan bayi itu dari perutnya!” geramku, melambai-lambaikan skalpel itu padanya, “Dia tidak akan merasakan apa-apa sekarang!”

Kemudian aku membungkuk di atas kepala Bella. Mulutnya tampak bersih, maka aku menekankan mulutku ke sana dan mengembuskan udara separu-paru penuh ke dalamnya. Aku merasakan tubuhnya mengembang, berarti tidak ada yang menghalangi tenggorokannya.

Bibir Bella terasa seperti darah.

Aku bisa mendengar jantungnya, berdetak tak beraturan. Teruslah berdetak, pikirku panik padanya, mengembuskan udara lagi ke tubuhnya. Kau sudah berjanji. Usahakan jantungmu terus berdetak.

Aku mendengar suara lembut dan basah skalpel mengoyak perutnya. Lebih banyak darah menetes-netes ke lantai.

Suara berikutnya membuatku tersentak, sungguh tak terduga, mengerikan. Seperti suara logam dikoyakkan. Suara itu mengingatkanku kembali pada pertarungan di lapangan terbuka beberapa bulan lalu, suara para vampir baru dikoyakkan. Aku melirik dan melihat wajah Edward menempel di perut Bella yang membuncit. Gigi vampir—pasti mampu mengoyak kulit vampir.

Aku bergidik sambil mengembuskan udara lagi ke paru-paru Bella.

Bella terbatuk, matanya mengerjap-ngerjap, berputar-putar tanpa bisa melihat,

“Tetaplah bersamaku, Bella!” teriakku padanya. “Kaudengar aku? Kau tidak boleh meninggalkan aku. Jantungmu harus terus berdetak!”

Matanya berputar, mencariku, atau Edward, tapi tidak melihat apa-apa.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.