Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Tidak ada lagi yang tersisa dariku,” jawabku, suaraku tercekat,

Edward mengangkat tangannya lagi, seperti hendak meletakkannya di bahuku, tapi kemudian membiarkannya jatuh seperti sebelumnya dan mengembuskan napas,

“Aku tahu sudah banyak sekali yang kauberikan,” ucapnya pelan. “Tapi ada sesuatu yang kaumihki, dan hanya kau yang memilikinya. Aku memintanya dari Alfa yang sejati, Jacob. Aku memintanya dari keturunan Efraim.”

Aku sudah tidak mampu merespons lagi

“Aku meminta izinmu untuk menyimpang dari apa yang kita sepakati bersama dalam kesepakatan kami dengan Efraim. Kuminta kau memberi kami pengecualian. Aku minta izin darimu untuk menyelamatkan nyawa Bella. Kau tahu aku tetap akan melakukannya, tapi aku tidak mau merusak kepercayaanmu terhadap kami kalau memang tak ada cara lain untuk menghindarinya. Kami tidak pernah berniat melanggar janji kami sendiri, dan tidak mudah bagi kami untuk melakukannya. Aku menginginkan pengertianmu, Jacob, karena kau tahu persis mengapa kami melakukan hal ini. Aku ingin persekutuan antara keluarga kita tetap berjalan setelah semua ini berakhir,”

Aku mencoba menelan ludah. Sam, pikirku. Kau harus memintanya dari Sam,

“Tidak. Otoritas Sam tidak datang dengan sendirinya. Itu milikmu. Kau memang tidak mau mengambilnya dari dia, tapi tidak ada yang berhak menyetujui apa yang kuminta ini kecuali kau”

Aku tidak berhak membuat keputusan ini.

“Kau berhak, Jacob, dan kau tahu itu. Satu kata darimu bisa menghukum atau mengampuni kami. Hanya kau yang bisa memberikannya padaku.”

Aku tidak bisa berpikir. Aku tidak tahu,

“Kita tidak punya banyak waktu.” Edward menoleh ke be lakang, ke arah rumah.

Tidak, tidak ada waktu lagi. Waktu beberapa hari yang kumiliki sekarang berubah menjadi beberapa jam.

Aku tidak tahu. Biarkan aku berpikir. Tolong beri aku waktu sedikit saja, oke?

“Baik.”

Aku mulai berjalan menuju rumah, dan ia mengikuti. Sinting benar betapa mudahnya aku berjalan melintasi kegelapan bersama vampir di sebelahku. Tidak ada rasa tidak aman, atau bahkan tidak nyaman, tidak sama sekali. Seperti berjalan bersama orang biasa saja. Well, orang biasa yang badannya sangat bau.

Semak-semak di pinggir halaman yang luas itu bergerak, dan sejurus kemudian terdengar suara mendengking pelan, Seth menerobos keluar dari tanaman pakis-pakisan dan berlari-lari menghampiri kami,

“Hei, Nak,” bisikku,

Seth menunduk, dan kutepuk-tepuk bahunya, “Semuanya baik-baik saja,” dustaku, “Akan kuceritakan semuanya padamu nanti. Maaf kalau aku pergi begitu saja tadi,”

Seth nyengir padaku.

“Hei, bilang pada kakakmu tidak usah marah-marah lagi, oke? Cukup”

Seth mengangguk satu kali.

Kali ini kudorong bahunya, “Kembali bekerja. Sebentar lagi aku akan menggantikanmu.”

Seth bersandar padaku, balas mendorongku, kemudian berlari memasuki hutan,

“Dia salah seorang yang memiliki pikiran paling murni, paling tulus, paling baik yang pernah kudengar,” kata Edward pelan setelah Seth lenyap dari pandangan, “Kau beruntung bisa berbagi pikiran dengannya,”

“Aku tahu itu,” geramku.

Kami mulai berjalan menuju rumah, dan sama-sama tersentak waktu mendengar suara seseorang minum dari sedotan, Edward langsung bergegas. Ia melesat menaiki tangga teras dan langsung lenyap,

“Bella, Sayang, kusangka kau masih tidur,” kudengar Edward berkata, “Maafkan aku, seharusnya aku tidak meninggalkanmu,”

“Jangan khawatir. Aku hanya sangat kehausan—itu yang membuatku terbangun. Untunglah Carlisle membawakan lagu Anak ini pasti akan sangat membutuhkannya kalau dia sudah dikeluarkan dari perutku.”

“Benar. Itu memang benar.”

“Aku penasaran apakah nanti dia akan menginginkan hal lain,” renung Bella,

“Kurasa nanti kita akan tahu.” Aku berjalan melewati pintu,

Alice berseru, “Akhirnya,” dan mata Bella berkelebat ke arahku. Senyumnya yang manis dan memikat tersungging di wajahnya. Tapi kemudian senyum itu goyah, dan wajahnya berubah. Bibirnya berkerut-kerut, seolah berusaha tidak menangis.

Ingin benar rasanya kutinju mulut tolol Leah sekarang juga.

“Hei, Bells,” aku buru-buru berkata. “Bagaimana keadaanmu?”

“Aku baik-baik saja,” jawabnya,

“Hari yang penting sekali hari ini, ya? Banyak terjadi hal baru.”

“Kau tidak perlu bersikap begitu, Jacob.”

“Aku tidak mengerti apa yang kaumaksud,” sergahku, berjalan menghampirinya dan duduk di lengan sofa, dekat kepalanya. Edward sendiri sudah duduk di lantai.

Bella melayangkan pandangan menegur ke arahku. “Aku benar-benar minta ma…” ia mulai berkata,

Kucubit bibirnya hingga menutup dengan ibu jari dan telunjukku,

“Jake,” gumam Bella, berusaha menarik tanganku. Gerakan nya sangat lemah hingga sulit dipercaya ia benar-benar berusaha.

Aku menggeleng. “Kau baru boleh bicara kalau tidak mengatakan hal-hal konyol.”

“Baiklah, aku tidak akan mengatakannya.” Kedengarannya ia seperti bergumam.

Kutarik tanganku.

“Maaf!” Bella cepat-cepat menyudahi kalimatnya, lalu nyengir.

Kuputar bola mataku kemudian balas tersenyum. Ketika aku menatap matanya, aku melihat semua yang kucari di taman tadi.

Esok, Bella akan menjadi orang lain. Tapi mudah-mudahan masih hidup, dan

memang itu yang penting, bukan? Ia akan memandangku dengan mata yang sama, bisa dibilang begitu. Tersenyum dengan bibir yang sama, nyaris. Ia tetap akan mengenalku lebih baik daripada siapa pun yang tidak memiliki akses penuh ke dalam pikiranku.

Leah mungkin teman yang menarik, bahkan mungkin ia teman sejati—seseorang yang tidak segan-segan membelaku. Tapi ia bukan sahabatku seperti halnya Bella. Di luar cinta mati yang kurasakan terhadap Bella, ada juga semacam ikatan, dan ikatan itu sudah mendarah daging dalam jiwaku.

Esok, Bella akan menjadi musuhku. Atau ia akan menjadi sekutuku. Dan rupanya, akan menjadi apa ia, sepenuhnya bergantung padaku.

Aku mendesah.

Baiklah! pikirku, memberikan hal terakhir yang bisa kuberikan. Membuatku merasa hampa. Silakan, Selamatkan dia. Sebagai keturunan Ejraim, kau memperoleh izinku, janjiku, bahwa ini tidak akan dianggap melanggar kesepakatan. Terserah kalau mereka mau menyalahkan aku. Kau benar—mereka tak bisa menyangkal bahwa aku berhak menyetujui hal ini.

“Terima kasih.” Edward berbisik sangat pelan hingga Bella tidak mendengarnya. Tapi ia mengucapkannya dengan nada terharu sehingga, dari sudut mata, kulihat para vampir lain menoleh dan memerhatikan,

“Jadi,” ujar Bella, berusaha bersikap biasa-biasa saja, “Bagaimana harimu?”

“Hebat. Tadi aku jalan-jalan naik mobil. Keluyuran di taman.”

“Kedengarannya asyik.”

“Tentu, tentu.”

Tiba-tiba Bella mengernyitkan muka. “Rose?” tanyanya. Kudengar si Pirang terkekeh. “Lagi?”

“Seperanya aku sudah menghabiskan dua galon dalam satu jam terakhir saja/’ Bella menjelaskan.

Edward dan aku menyingkir sementara Rosalie datang untuk membantu Bella berdiri dari sofa dan membawanya ke kamar mandi,

“Boleh aku jalan sendiri?” tanya Bella. “Kakiku kaku sekali.”

“Kau yakin?” tanya Edward.

“Rose akan menangkapku kalau aku tersandung. Itu mudah saja terjadi, karena aku tidak bisa melihat kakiku.”

Hati-hati Rosalie membantu Bella berdiri, kedua tangannya memegangi bahu Bella. Bella mengulurkan kedua lengannya ke depan, meringis sedikit.

“Rasanya enak” desah Bella. “Ugh, gendut sekali aku.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.