Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Terima kasih pinjamannya” ujarku masam. Rupanya pinjaman itu ada bayarannya. “Apa yang kauinginkan sekarang?”

“Pertama-tama… aku tahu kau sangat menentang menggunakan otoritasmu terhadap kawananmu, tapi…”

Aku mengerjap, terperangah karena Edward menyinggung hal itu. “Apa?”

“Kalau kau tidak bisa atau tidak mau mengontrol Leah, maka aku…”

“Leah?” selaku, berbicara dari sela-sela gigiku, “Apa yang terjadi?”

Wajah Edward mengeras. “Dia datang untuk mencari tahu mengapa kau tiba-tiba pergi begitu saja. Aku berusaha menjelaskan. Kurasa mungkin penjelasanku tidak bisa dia terima.”

“Apa yang dia lakukan?”

“Dia berubah wujud menjadi manusia dan…”

“Sungguh?” selaku lagi, kali ini shock. Aku tidak sanggup mencernanya. Leah membiarkan dirinya tanpa pertahanan saat berada di sarang lawan?

“Dia ingin… bicara dengan Bella.”

“Dengan Bella?”

Edward langsung berubah garang. “Aku takkan membiarkan Bella kalut seperti itu lagi. Aku tak peduli sekalipun Leah merasa tindakannya bisa dibenarkan! Aku tidak melukainya— tentu saja itu tidak mungkin kulakukan—tapi aku tidak segan-segan melemparnya keluar rumah kalau itu terjadi lagi. Akan kulontarkan dia ke seberang sungai»”

“Tunggu dulu. Apa yang dia katakan?” Semua ini tak masuk akal bagiku.

Edward menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri. “Sikap Leah sangat kasar, padahal itu tidak perlu. Aku tidak .ikan berpura-pura mengerti mengapa Bella tidak sanggup melepaskanmu, tapi aku tahu dia tidak bersikap seperti ini untuk menyakiti hatimu. Dia sudah cukup menderita memikirkan kepedihan hati yang dia timbulkan padamu, dan padaku, dengan memintamu tetap di sini. Apa yang dikatakan Leah sangat tidak bisa dibenarkan. Dari tadi Bella menangis…”

“Tunggu… Leah memarahi Bella karena aku?”

Edward mengangguk kaku. “Dia membelamu habis-habisan.”

Waduh. “Aku tidak memintanya berbuat begitu.”

“Aku tahu.”

Aku memutar bola mataku. Tentu saja Edwatd tahu. Ia tahu semuanya.

Tapi luar biasa juga yang dilakukan Leah. Siapa yang menyangka? Leah berjalan memasuki sarang para pengisap darah dalam wujud manusia untuk memprotes perlakuan yang aku terima?

“Aku tidak berjanji bisa mengontrol Leah,” kacaku, “Aku tidak akan berbuat begitu. Tapi aku akan bicara dengannya, oke? Dan kurasa ini takkan terjadi lagi. Leah bukan tipe yang suka menahan-nahan perasaan, jadi dia mungkin sudah mengumbar semua

kemarahannya tadi.”

“Menurutku juga begitu.”

“Omong-omong, aku akan bicara dengan Bella mengenainya juga. Dia tidak perlu merasa tidak enak. Ini masalahku sendiri.”

“Aku juga sudah berkata begitu padanya,”

“Tentu saja kau sudah mengarakannya. Dia baik-baik saja?”

“Dia tidur sekarang. Ditemani Rose.”

Jadi si psikopat itu sudah menjadi “Rose” sekarang. Edward benar-benar sudah menyeberang ke sisi gelap.

Edward tak menggubris pikiran itu, melanjutkan dengan jawaban yang lebih lengkap untuk menjawab pertanyaanku. “Dia… lebih baik dalam beberapa hal. Kecuali merasa bersalah karena dimarahi Leah tadi.”

Lebih baik. Karena Edward bisa mendengar si monster dan segalanya kini manis, penuh cinta. Fantastis.

“Sedikit lebih daripada itu” gumam Edward. “Sekarang setelah aku bisa membaca pikiran anak itu, ternyata dia memiliki kemampuan mental yang luar biasa berkembang. Dia bisa memahami kami, hingga ke tahap tertentu.”

Mulutku ternganga. “Kau serius?”

“Ya. Sepertinya samar-samar dia tahu apa yang membuat Bella kesakitan. Dia berusaha menghindarinya, sebisa mungkin. Dia… mencintai Bella. Dia sudah bisa mencintai Bella.”

Kupandangi Edward, merasa seakan-akan mataku akan melompat keluar dari rongganya. Di balik ketidakpercayaan itu, aku langsung melihat inilah faktor penentu itu. Inilah yang mengubah sikap Edward—bahwa monster itu telah membuatnya yakin akan cinta ini. Edward tak mungkin membenci apa yang mencintai Bella. Mungkin itu juga mengapa ia tidak bisa membenciku. Tapi ada perbedaan besar di antara kami. Aku tidak membunuh Bella perlahan-lahan.

Edward melanjutkan kata-katanya, seolah tidak mendengar pikiranku sama sekali, “Kemajuan ini, aku yakin, lebih daripada yang kita perkirakan. Kalau Carlisle kembali nanti…”

“Jadi mereka belum kembali?” potongku tajam. Ingatanku melayang pada Sam dan Jared, yang mengawasi jalanan tadi.

Apakah mereka penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi?

“Alice dan Jasper sudah. Carlisie mengirimkan semua darah yang bisa dia dapatkan, tapi jumlahnya masih belum sebanyak yang ia harapkan—persediaan ini pasti sudah akan habis lusa, kalau melihat selera Bella yang semakin meningkat. Carlisie masih berada di sana untuk mencoba mencari ke sumber lain. Menuturku sekarang itu belum perlu, tapi Carlisie ingin bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.”

“Mengapa belum perlu? Bagaimana kalau dia membutuhkan lebih banyak lagi?”

Aku tahu Edward memerhatikan dan mendengarkan reaksiku dengan hati-hati sementara menjelaskan. “Aku berusaha membujuk Carlisie untuk mengeluarkan bayi itu secepatnya setelah dia pulang nanti.”

“Apa?”

“Anak itu sepertinya berusaha untuk tidak terlalu banyak bergerak, tapi sulit. Tubuhnya sudah terlalu besar. Gila jika kita harus menunggu, padahal dia jelas sudah berkembang jauh di luar perkiraan Carlisie. Bella terlalu rapuh untuk menunggu terlalu lama.”

Aku selalu saja dikagetkan dengan kejutan-kejutan yang tidak enak. Pertama, saat terlalu mengandalkan kebencian Edward pada makhluk itu. Sekarang, sadarlah aku selama ini aku menganggap tenggat waktu empat hari itu sudah pasti. Aku kelewat mengandalkannya.

Samudera kepedihan tak berujung yang menungguku kini terbentang luas di hadapanku.

Aku berusaha menenangkan napas.

Edward menunggu. Kupandangi wajahnya sementara aku pulih dari kekagetan, mengenali perubahan lain di sana.

“Menurutmu, Bella akan bisa melahirkan dengan selamat?” bisikku,

“Ya. Itu hal lain yang ingin kubicarakan denganmu,”

Aku tak sanggup berkata-kata. Sejurus kemudian Edward meneruskan katakatanya,

“Ya” ujarnya lagi. “Menunggu anak itu siap, seperti yang selama ini kita lakukan, ternyata justru sangat berbahaya. Sewaktu-waktu kita bisa terlambat mengatasinya. Tapi bila kita proaktif, bila kita bertindak cepat, aku tidak melihat alasan mengapa ini tak bisa dilakukan dengan baik. Mengetahui pikiran anak itu sungguh sangat membantu. Syukurlah, Bella dan Rose sependapat denganku. Sekarang setelah aku berhasil meyakinkan mereka bahwa aman bagi anak itu untuk dilahirkan, tidak ada alasan mengapa

ini tidak akan berhasil,”

“Kapan Carlisle pulang?” tanyaku, masih berbisik. Napasku belum kembali normal,

“Tengah hari besok.”

Lututku lemas. Tanganku menyambar bodi mobil untuk berpegangan. Edward mengulurkan tangan, seperti hendak memegangiku, tapi kemudian ia mengurungkan niatnya dan menjatuhkan kedua tangannya.

“Maafkan aku” bisiknya. “Aku benar-benar menyesal karena harus menyakiti hatimu, Jacob. Walaupun kau benci padaku, harus kuakui aku tidak merasakan hal yang sama terhadapmu. Aku menganggapmu sebagai,,, sebagai saudara dalam banyak hal. Teman seperjuangan, setidaknya. Aku menyesali penderitaanmu lebih daripada yang kausadari. Tapi Bella akan selamat” ketika ia mengucapkannya, suaranya garang, bahkan kasar—”dan aku tahu itulah yang paling penting bagimu.”

Mungkin Edward benar. Sulit memastikannya. Kepalaku berputar.

“Sebenarnya aku tidak suka melakukan hal ini, di saat kau harus menghadapi begitu banyak hal, tapi jelas, tidak banyak waktu lagi tersisa. Aku harus meminta sesuatu darimu —memohon, kalau perlu”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.