Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Hei, kau baik-baik saja? Halo? Hei kau, yang membawa mobil curian.”

Butuh sedetik bagiku untuk menyadari suara itu berbicara padaku, dan butuh sedetik lagi untuk memutuskan mengangkat kepalaku

Seorang cewek yang kelihatannya familier memandangiku, ekspresinya agak cemas. Aku tahu mengapa aku mengenali wajahnya—tadi aku sudah sempat melirik cewek yang satu ini. Rambut merah terang keemasan, kulit putih, bercak-bercak emas bertebaran di pipi dan hidungnya, serta mata yang sewarna kayu manis.

“Kalau kau menyesal setelah merampok mobil itu,” tukas si cewek, memamerkan lesung pipinya yang muncul seiring senyumnya, “kau bisa kok menyerahkan diri.”

“Ini mobil pinjaman, bukan curian,” bentakku. Suaraku terdengar kacau—seperti habis menangis atau sebangsanya. Memalukan.

“Tentu, itu alasan yang cukup kuat untuk diajukan di persidangan.”

Aku melotot. “Kau perlu sesuatu?”

“Tidak juga. Aku cuma bercanda soal mobil itu, tahu. Hanya saja… kelihatannya kau sangat kalut. Oh, hei, namaku Lizzie.” Ia mengulurkan tangan.

Aku hanya memandangi tangan itu sampai ia menariknya kembali.

“Omong-omong…,” ujarnya canggung. “Aku hanya penasaran, siapa tahu aku bisa membantu. Kelihatannya kau tadi mencari seseorang.” Ia melambaikan tangan ke arah taman dan mengangkat bahu.

“Yeah.”

Ia menunggu.

Aku mendesah. ‘Aku tidak butuh bantuan. Dia tidak ada di sini.”

“Oh. Aku prihatin.”

“Aku juga,” gumamku.

Kupandangi lagi dia. Lizzie, Cantik. Cukup baik hingga mau berusaha membantu orang asing pemarah yang pastilah terkesan sinting. Mengapa ia bukan dia yang kucari? Mengapa segala sesuatu harus jadi begitu rumit? Cewek yang baik, cantik, dan lumayan lucu. Mengapa tidak?

“Ini mobil yang bagus sekali,” kata Lizzie, “Sayang sekali sekarang sudah tidak diproduksi lagi. Maksudku, model bodi Vantage memang keren, tapi rasanya ada yang lain dengan Vanquish…”

Cewek baik yang mengerti mobil. Wow. Aku menatapnya takjub, berharap tahu bagaimana membuat diriku tertarik padanya. Ayolah, Jake—imprint saja.

“Bagaimana rasanya mengendarai mobil ini?” tanya Lizzie.

“Kau tidak bakal percaya,” jawabku.

Lizzie menyunggingkan senyumnya yang berlesung pipi, kentara sekali senang bisa memaksaku memberi respons yang lumayan beradab, dan dengan enggan aku balas tersenyum.

Tapi senyumnya tak mampu menghilangkan perasaan pedih dan tersayat-sayat yang melanda sekujur tubuhku. Tak peduli betapa pun aku sangat menginginkannya, hidupku tidak akan membaik semudah itu.

Aku belum mampu pulih sebagaimana yang dilakukan

Leah. Aku tidak akan bisa jatuh cinta seperti orang normal. Tidak bila aku hatiku berdarah-darah memikirkan orang lain. Mungkin—sepuluh tahun lagi, lama setelah jantung Bella berhenti berdetak dan aku sudah berhasil keluar dari puing-puing kehancuran dalam keadaan utuh—mungkin saat itulah aku bisa menawari Lizzie naik mobil mewah dan berbicara tentang merek dan model mobil, mengenalnya, dan melihat apakah aku menyukainya sebagai manusia. Tapi itu takkan terjadi sekarang.

Keajaiban takkan menyelamatkanku. Aku harus menerima siksaan ini dengan jantan. Menelannya bulat-bulat,

Lizzie menunggu, mungkin berharap aku menawarinya naik mobil. Atau mungkin juga tidak,

“Sebaiknya kukembalikan mobil ini kepada orang yang meminjamkannya,” gumamku.

Lizzie tetsenyum lagi. “Senang mendengarmu mau bertobat.”

“Yeah, kau berhasil meyakinkanku.”

Lizzie memerhatikan aku masuk ke dalam mobil, ekspresinya masih agak khawatir. Mungkin aku terlihat seperti orang yang hendak menerjunkan mobilku dari tebing tinggi. Sesuatu yang mungkin saja akan kulakukan, seandainya itu bisa mematikan werewolf. Ia melambai satu kali, matanya mengikuti mobil.

Mulanya aku mengendarai mobilku secara lebih waras dalam perjalanan pulang. Aku tidak terburu-buru. Aku tidak ingin pergi ke sana. Kembali ke rumah itu, ke hutan itu. Kembali merasakan kepedihan hati yang berusaha kutinggalkan. Kembali untuk benarbenar sendirian bersama kepedihanku.

Oke, itu sih melodramatis. Aku toh tidak sepenuhnya sendirian, walaupun itu justru tidak menyenangkan. Leah dan

Seth harus ikut menderita bersamaku. Untunglah Seth tak perlu lama menderita. Tidak sepantasnya ketenangan pikiran anak itu dirusak. Leah juga tidak, tapi setidaknya itu sesuatu yang ia mengerti. Kepedihan hati bukan hal yang asing lagi bagi Leah.

Aku mengembuskan napas keras-keras waktu memikirkan apa yang diinginkan Leah dari ku, karena sekarang aku tahu ia akan mendapatkannya. Aku masih marah padanya, tapi aku tidak bisa mengabaikan fakta bahwa aku bisa membuat hidupnya lebih mudah. Dan—sekarang setelah aku mengenalnya lebih baik—menurutku ia pasti rela melakukan hal yang sama untukku, seandainya posisi kami ditukar.

Menarik, paling tidak, juga aneh, memiliki Leah sebagai teman—sebagai sahabat. Kami akan sering berselisih paham, itu sudah pasti. Ia tidak akan membiarkan aku berkubang dalami kesedihan, tapi menututku itu bagus. Mungkin aku membutuhkan orang yang bisa menegur dan memarahiku sesekali. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, sesungguhnya Leah satu-satunya teman yang dapat memahami apa yang sedang kualami sekarang.

Ingatanku melayang ke perburuan kami tadi pagi, dan betapa dekatnya pikiran kami pada satu momen itu. Bukan hal buruk. Berbeda, Agak menakutkan, sedikit canggung. Tapi anehnya, cukup menyenangkan.

Aku sama sekali tidak perlu sendirian.

Dan aku tahu Leah cukup kuat menghadapi bulan-bulan mendatang bersamaku. Bulan-bulan dan tahun-tahun. Memikirkannya saja sudah membuatku lelah. Aku merasa seperti memandang ke seberang samudera yang harus kurenangi bolak-balik sebelum bisa beristirahat lagi.

Begitu banyak waktu yang akan datang, tapi begitu sedikit waktu tersisa sebelum memulainya. Tiga setengah hari lagi, tapi aku malah berada di sini, membuang-buang sedikit waktu yang tersisa.

Aku mulai memacu mobilku lagi.

Kulihat Sam dan Jared, masing-masing berdiri di pinggir jalan yang berbeda seperti penjaga, sementara aku melesat melintasi jalan menuju Forks. Mereka tersembunyi rapat di balik ranting-ranting lebat, tapi karena aku tahu mereka pasti ada di sana, aku tahu ke mana harus mencari. Aku mengangguk waktu melesat melewati mereka, tak sempat lagi memikirkan apa yang mereka bayangkan dari kepergianku seharian ini.

Aku juga mengangguk kepada Leah dan Seth, saat meluncur melintasi jalan masuk menuju rumah keluarga Cullen. Hari mulai gelap, awan-awan tebal menggayuti kawasan ini, tapi aku melihat mata mereka berkilauan diterpa cahaya lampu mobil. Nanti saja akan kujelaskan kepada mereka. Masih banyak waktu untuk itu.

Kaget benar aku mendapati Edward menunggu di garasi. Sudah berhari-hari aku tidak pernah melihatnya meninggalkan Bella. Kentara sekali dari wajahnya bahwa Bella baik-baik saja. Malah wajahnya terlihat lebih damai daripada sebelumnya. Perurku mengejang waktu teringat dari mana datangnya kedamaian itu.

Sungguh sayang bahwa—saking sibuknya aku merenung— aku jadi lupa menghancurkan mobil Edward. Oh sudahlah. Mungkin sebenarnya aku juga tidak tega merusak mobil ini. Mungkin Edward juga sudah bisa menduganya, dan karena itulah ia berani meminjamkannya padaku.

“Aku mau bicara sebentar denganmu, Jacob,” seru Edward begitu aku mematikan mesin.

Aku menghela napas dalam-dalam dan menahannya sebentar. Kemudian, pelanpelan, aku turun dari mobil dan melemparkan kunci-kunci itu padanya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.