Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Jadi wajar saja kalau aku kebingungan waktu menekan kuat-kuat tombol keyless REMOTE, dan ternyata bukan mobil Volvo-nya yang berbunyi “bip” dan lampu-lampunya menyala berkedip-kedip. Melainkan mobil lain—mobil paling” mencolok di antara deretan panjang kendaraan yang sebagian besar mampu menerbitkan air liur siapa saja yang melihatnya.

Apakah Edward benar-benar bermaksud memberikan kunci Aston Martin Vanquish, atau itu hanya ketidaksengajaani

Aku tidak berhenti untuk memikirkannya, atau itu akan mengubah bagian kedua rencanaku. Langsung saja aku menghambur memasuki mobil itu dan mengenyakkan bokongku ke jok kulit sehalus sutra, meraungkan mesinnya sementara kedua lututku masih tertekuk di bawah kemudi. Dalam kesempatan lain mungkin derum suata mesinnya yang halus akan membuatku mengerang kegirangan, tapi sekarang ini aku hanya bisa berkonsentrasi untuk menjalankannya.

Aku menemukan tuas untuk memundurkan jok dan memundurkan tubuhku sejauh mungkin ke belakang sementara kakiku menginjak pedal gas. Mobil nyaris terasa seperti terbang saat menerjang maju.

Hanya butuh beberapa detik untuk memacu mobil ini melintasi jalan masuk yang sempit dan berkelok-kelok. Mobil ini meresponsku seolah-olah pikiran-pikirankulah yang mengendalikan kemudi, bukan tanganku. Begitu mobil melesat keluar dari tetowongan hijau dan memasuki jalan raya, aku sempat melihat sekilas wajah abu-abu Leah mengintip cemas dari balik pakis-pakisan.

Selama setengah detik aku bertanya-tanya dalam hati apa yang ia pikirkan, kemudian sadarlah aku bahwa aku tidak peduli.

Aku berbelok ke selatan, karena hari ini aku tidak memiliki kesabaran untuk berurusan dengan feri atau kepadatan lalu lintas atau hal-hal lain yang membuatku harus mengangkat kaki dari pedal.

Dengan cara mengenaskan, hari ini adalah hari keberuntunganku. Kalau keberuntungan berarti berpacu di jalan tol yang lumayan ramai dalam kecepatan 320 kilometer per jam tanpa sekali pun bertemu polisi, bahkan di kota-kota yang memiliki batas kecepatan hanya 48 kilometer per jam. Benar-benar mengecewakan. Padahal kan asyik kalau ada sedikit aksi kejar-kejaran, belum lagi kalau keterangan yang bakal didapat dari nomor polisi mobil ini membuat si lintah terkena getahnya. Memang, ia bisa saja menyogok untuk bebas dari hukuman, tapi paling tidak itu akan membuatnya sedikit kerepotan.

Satu-satunya pertanda ada yang mengawasiku adalah se-kelebat bulu cokelat tua yang melesat menembus hutan, berlari paralel denganku selama beberapa kilometer di sisi selatan Forks. Quil, kelihatannya. Ia pasti melihatku juga, karena sejurus kemudian ia menghilang tanpa ribut-ribut. Lagi-lagi, nyaris aku penasaran bagaimana cerita Quil nantinya sebelum aku teringat bahwa aku tidak peduli.

Aku ngebut mengitari jalan tol berbentuk huruf U itu, menuju kota terbesar yang bisa kutemui. Itu bagian pertama rencanaku.

Perjalanan terasa lama sekali, mungkin karena aku masih merasa seperti diseretseret di atas hamparan silet, padahal sebenarnya tak lebih dari dua jam kemudian aku sudah melaju ke arah utara, memasuki kawasan yang tidak jelas batas wilayahnya, mana yang masuk kawasan Tacoma dan mana Seattle. Aku memperlambat laju mobilku, karena aku benar-benar tidak ingin membunuh orang-orang tidak bersalah.

Ini rencana tolol. Takkan berhasil. Tapi waktu aku mencari-cari dalam pikiranku bagaimana caranya bisa melarikan diri dari kepedihan hatiku ini, apa yang dikatakan Leah muncul dalam benakku.

Perasaan itu akan hilang, tahu, kalau kau terkena imprint. Kau tidak perlu lagi sakit hati karena Bella.

Tampaknya mungkin tidak mempunyai pilihan bukanlah hal terburuk di dunia. Mungkin merasa seperti ini adalah hal yang terburuk di dunia.

Tapi aku sudah melihat semua cewek yang ada di La Push, juga di reservasi Makah dan di Forks. Aku perlu memperluas wilayah perburuanku.

Jadi, bagaimana caranya menemukan jodohmu di tengah keramaian? Well, pertama, aku harus mencari keramaian. Maka aku pun berputar-putar, mencari tempat yang paling mungkin. Aku melewati beberapa mal, yang sebenarnya mungkin merupakan tempat yang sangat tepat untuk mencari cewek-cewek yang sebaya denganku, tapi aku tak bisa menghentikan laju mobilku. Memangnya aku ingin tet-imprint dengan cewek yang nongkrong seharian di mal?

Aku terus melaju ke utara, dan keadaan semakin lama semakin ramai. Akhirnya aku menemukan taman besar penuh anak-anak, keluarga, pemain skateboard, sepeda, layang-layang, orang-orang yang berpiknik, pokoknya komplet. Aku baru menyadarinya sekarang—hari ini ternyata cerah. Matahari bersinar dan lain sebagainya. Orang-orang keluar rumah untuk merayakan birunya langit.

Aku parkir melintang di atas dua lahan parkir khusus untuk orang cacat—benarbenar minta ditilang—lalu melebur ke dalam keramaian.

Aku berjalan berputar-putar untuk waktu yang rasanya berjam-jam. Cukup lama karena matahari berpindah tempat di langit. Kupandangi wajah setiap cewek yang lewat di dekatku, kupaksa diriku benar-benar melihat, memerhatikan siapa yang cantik, siapa yang memiliki mata biru, siapa yang memakai kawat gigi, dan siapa yang riasannya terlalu tebal. Aku berusaha menemukan sesuatu yang menarik dari masing-masing wajah, supaya aku tahu aku benar-benar berusaha. Hal-hal seperti; Cewek ini hidungnya mancung sekali; yang itu seharusnya menyibakkan rambutnya yang menjuntai menutupi mata; cewek itu sebenarnya bisa jadi model iklan lipstik seandainya wajahnya sama sempurnanya dengan bibirnya…

Kadang-kadang mereka balas memandangku. Terkadang ada juga yang tampak ketakutan—seolah-olah mereka berpikir, Siapa cowok besar aneh yang memelototiku itu? Ada kalanya kupikir mereka tampak tertarik, tapi mungkin itu hanya ego liarku.

Pokoknya, tidak ada perasaan apa-apa. Bahkan ketika mataku tertumbuk pada seorang cewek yang—tanpa saingan—merupakan cewek paling keren di taman dan mungkin, di kota itu, dan cewek itu membalas tatapanku dengan tatapan yang kelihatannya seperti tertarik, aku tetap tidak merasakan apa-apa. Hanya dorongan putus asa untuk lari dari kepedihan hatiku.

Waktu terus berjalan, dan aku mulai melihat hal-hal yang salah. Hal-hal yang ada kaitannya dengan Bella, Rambut cewek itu warnanya sama dengan rambut Bella. Mata cewek ini bentuknya agak mirip. Tulang pipi cewek di sana itu membentuk wajahnya persis seperti Bella. Yang satu ini memiliki kerutan kecil di antara matanya—membuatku penasaran apa yang sedang ia khawatirkan…

Saat itulah aku menyerah. Karena sungguh tolol mengira telah memilih tempat dan waktu yang tepat, dan bahwa aku akan begitu mudahnya bertemu jodohku, hanya karena aku sudah begitu putus asa ingin segera menemukannya.

Lagi pula. tidak masuk akal rasanya bisa menemukan jodohku di sini. Kalau Sam benar, tempat terbaik aku bisa menemukan padanan genetikku adalah di La Push. Dan jelas di sana tidak ada siapa-siapa yang tepat dengan kriteriaku. Kalau Billy benar, maka siapa tahu? Apa yang bisa menghasilkan keturunan serigala yang lebih kuat?

Aku berjalan kembali ke mobil, lalu bersandar lemas ke kap mesin sementara tanganku memainkan kunci-kuncinya.

Mungkin juga aku sama seperti anggapan Leah tentang dirinya sendiri. Kelainan genetik. Semacam kelainan yang tak seharusnya diturunkan ke generasi lain. Atau mungkin hidupku hanyalah lelucon besar yang kejam, dan bahwa aku tak bisa lari dari keharusan menjadi bulan-bulanan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.