Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Belum lagi aku sempat berharap—atau sempat merasa takut—bahwa Bella pada akhirnya muak juga padaku, Bella mengerjapkan mata, dan cemberutnya kontan lenyap. Tampaknya ia benar-benar shcck aku bisa mengambil kesimpulan seperti itu. “Tidak! Tentu saja tidak.”

Aku mengembuskan napas, dan kudengar Edward juga mengembuskan napas pelan. Aku tahu ia juga berharap Bella bosan padaku. Sayang ia tak pernah meminta Bellamelakukan apa pun yang bakal membuatnya merasa tidak bahagia.

“Kau kelihatan capek,” komentar Bella.

“Capek setengah mati,” aku mengakui.

“Aku kepingin sekali membuatmu mati sungguhan,” gumam Rosalie, suaranya sangat pelan hingga Bella tak bisa mendengar.

Aku terenyak semakin dalam di kursi, merasa nyaman. Kakiku yang telanjang berayun-ayun semakin dekat dengan Rosalie, dan ia mengejang. Beberapa menit kemudian Bella meminta Rosalie mengisi ulang cangkirnya. Aku merasakan embusan angin saat Rosalie melesat ke lantai atas untuk mengambil darah lagi. Suasana sangat sunyi. Lebih baik aku tidur sebentar, pikirku.

Kemudian Edward bertanya, “Kau mengatakan sesuatu, ya?” dengan nada bingung. Aneh. Karena tidak seorang pun berbicara, dan karena pendengaran Edward sama tajamnya dengan pendengaranku, ia seharusnya tahu tidak ada yang berbicara.

Edward memandangi Bella, dan Bella membalas pandangannya. Mereka berdua sama-sama bingung.

“Aku?” tanya Bella sedetik kemudian. “Aku tidak mengatakan apa-apa.”

Edward mengubah posisinya menjadi berlutut, mencondongkan tubuh ke arah Bella, ekspresinya berubah sama sekali, mendadak terlihat intens. Mata hitamnya terfokus pada wajah Bella.

“Apa yang sedang kaupikirkan sekarang ini?” Bella menatapnya hampa. “Tidak ada. Memangnya ada apa?”

“Apa yang kaupikirkan satu menit yang lalu?” tanya Edward.

“Hanya… Pulau Esme. Dan bulu-bulu.”

Kedengarannya Bella asal menjawab saja, tapi kemudian pipinya memerah, dan aku merasa itu pasti sesuatu yang lebih baik tidak usah kuketahui.

“Katakan sesuatu yang lain,” bisik Edward.

“Apa misalnya? Edward, ada apa sebenarnya?”

Wajah Edward berubah lagi, dan ia melakukan sesuatu yang membuat mulutku ternganga dengan suara terkesiap. Aku mendengar suara seseorang tersentak di belakangku, dan aku tahu Rosalie sudah kembali, sama tercengangnya denganku.

Edward, dengan sangat ringan, meletakkan kedua tangannya di perut Bella yang besar dan bundar.

“Si ja…” Edward menelan ludah. “Dia-, si bayi suka mendengar suaramu,”

Sesaat suasana sunyi senyap. Aku tak mampu menggerakkan satu otot pun, bahkan berkedip pun tidak bisa. Kemudian…

“Astaga, kau bisa mendengarnya1” teriak Bella. Detik berikutnya, ia meringis.

Tangan Edward bergerak ke puncak perut Bella dan dengan lembut mengusap-usap tempat bayi tadi menendang perutnya.

“Ssst,” bisik Edward. “Kau membuatnya kaget…”

Mata Bella membelalak dan terlihat takjub. Ia menepuk-nepuk bagian samping perutnya. “Maaf, baby.”

Edward mendengarkan dengan saksama, kepalanya ditelengkan ke arah perut yang membuncit.

“Apa yang dia pikirkan sekarang?” tuntut Bella penuh semangat.

“Dia… dia…” Edward terdiam dan mendongak menatap mata Bella. Matanya dipenuhi kctakjuban yang sama—hanya saja ketakjuban Edward lebih hati-hati dan ragu. “Dia bahagia” kata Edward takjub.

Napas Bella tetsentak, dan mustahil tidak melihat kilau fanatik di matanya. Penuh cinta dan pemujaan. Butir-butir besar air mata menggenangi pelupuk matanya dan menetes tanpa suara menuruni wajah dan membasahi bibirnya yang tersenyum.

Saat Edward menatap Bella, wajahnya tidak dipenuhi takut atau marah atau tersiksa atau ekspresi lain yang membayanginya sejak mereka kembali. Ia ikut kagum bersama Bella.

“Tentu saja kau bahagia, bayi manis, tentu saja kau bahagia,” ucap Bella dengan nada merdu penuh sayang, mengusap-usap perutnya sementara air mata membanjiri wajahnya. “Bagaimana mungkin kau tidak bahagia, aman, hangat, dan dicintai? Aku sayang sekali padamu, EJ kecil, tentu saja kau bahagia.”

“Kau memanggilnya apa tadi?” tanya Edward dongan sikap ingin tahu.

Wajah Bella lagi-lagi memerah. “Sebenarnya aku sudah memberinya nama. Kupikir kau pasti tidak ingin… well, kau tahu sendirilah.”

“Nama ayahmu kan Edward juga.”

“Ya, memang. Apa..,?” Edward terdiam sejenak kemudian berkata, “Hmm.”

“Apa?”

“Dia juga menyukai suaraku.”

“Tentu saja dia suka.” Suara Bella nyaris seperti sesumbar sekarang. “Suaramu kan yang paling indah di seluruh jagai raya ini. Siapa yang tidak suka mendengarnya?”

“Apa kau punya rencana cadangan?” tanya Rosalie kemudian, mencondongkan tubuh dari balik punggung sofa dengan ekspresi takjub dan bangga di wajahnya, seperti yang tampak pada wajah Bella. “Bagaimana kalau dia perempuan?”

Bella mengusap bagian bawah matanya yang basah. “Aku sudah mereka-reka. Menggabungkan Renée dan Esme. Mungkin namanya… Re-nez-mey.”

“Renezmey?”

“R-e-n-e-s-m-e-e, Aneh sekali, ya?”

“Tidak, aku suka kok,” Rosalie meyakinkan Bella. Kepala mereka berdekatan, emas dan mahoni. “Nama yang cantik. Dan lain daripada yang lain, jadi itu pas,”

“Aku masih merasa dia Edward.”

Mata Edward menerawang, wajahnya kosong sementara ia mendengarkan.

“Apa?” tanya Bella, berseri-seri, “Apa yang dipikirkannya sekarang?”

Awalnya Edward tidak menjawab, tapi kemudian—mengagetkan kami semua lagi, masing-masing tersentak dan terkesiap kaget—ia menempelkan telinganya dengan hatihati ke perut Bella.

“Dia sayang padamu,” bisik Edward, nadanya kagum, “Dia benat-benar memujamu!’

Saat itulah, aku tahu aku sendirian. Benar-benar sendirian.

Rasanya aku ingin sekali menendang diriku sendiri keras-keras waktu sadar betapa aku mengandalkan vampir yang menjijikkan itu. Sungguh tolol—kayak kau bisa memercayai lintah saja! Tentu saja akhirnya ia akan mengkhianatimu.

Padahal aku mengira Edward berada di pihakku. Kukira ia akan lebih menderita daripada aku. Dan, yang paling penting, aku mengandalkannya untuk membenci makhluk memualkan yang membunuh Bella pelan-pelan, lebih daripada aku membenci dirinya sendiri.

Selama ini aku percaya pada Edward.

Tapi sekarang mereka bersama, mereka berdua membungkuk di atas monster yang tidak terlihat dan menghebohkan itu, mata mereka bercahaya seperti keluarga bahagia.

Dan aku sendirian dengan kebencian dan kepedihan hatiku, begitu parahnya hingga membuatku merasa bagai disiksa. Seperti diseret pelan-pelan di atas hamparan silet. Sakitnya luar biasa hingga kau lebih memilih mati daripada tersiksa.

Panas itu membuka kunci otot-ototku yang membeku, dan aku serta-merta berdiri.

Kepala mereka bertiga sama-sama tetangkat, dan kulihat kepedihan melintas di wajah Edward saat ia menerobos masuk lagi ke pikiranku.

“Ahh,” Edward tercekat.

Entah apa yang kulakukan; aku berdiri di sana, tubuhku gemetar, siap meloncat meloloskan diri lewat jalan pertama yang terpikirkan olehku.

Bergerak secepat kilat sepetti ular, Edward melesat menghampiri meja dan merenggut sesuatu dari dalam laci di sana. Ia melemparkan benda itu padaku dan refleks aku menangkapnya.

“Pergilah, Jacob. Pergi dari sini.” hidward tidak mengatakannya dengan nada kasar —ia mengucapkan kata-kata itu seolah-olah perkataannya adalah pelampung penyelamat. Ia membantuku menemukan jalan keluar yang sangat kubutuhkan.

Benda di tanganku itu kunci mobil.

17. MEMANGNYA KELIHATANNYA AKU INI SIAPA? PENYIHIR OZ? KAU BUTUH OTAK? KAU BUTUH HATI? SILAKAN SAJA. AMBIL HATIKU. AMBIL SEGALANYA YANG KU PUNYA.

SEBUAH rencana berkecamuk di otakku waktu aku berlari menuju garasi rumah keluarga Cullen, Bagian kedua rencana itu adalah menghancurleburkan mobil si bangsat pengisap darah itu dalam perjalanan pulang nanti.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.