Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Kubiarkan pikiranku berkelana sejenak, berharap kantuk .ikan menguasaiku. Tapi, setelah beberapa menit, aku malah merasa semakin siaga, kegelisahan kembali merayapi perutku, memilinnya dalam berbagai posisi tidak enak. Kasur terasa terlalu lembek, terlalu hangat tanpa Edward di sampingku. Japer berada jauh sekali, dan perasaan damai serta rileks telah ikut lenyap bersamanya.

Besok akan jadi hari yang sangat melelahkan.

Aku menyadari sebagian besar ketakutanku tolol—aku hanya perlu menguasai diri. Perhatian adalah bagian yang tak lusa dihindari dalam hidup. Aku tidak selalu bisa melebur dengan sekelilingku. Bagaimanapun, aku memiliki beberapa kekhawatiran khusus yang sepenuhnya beralasan.

Pertama, soal ekor gaun pengantin. Alice jelas-jelas membiarkan selera seninya mengalahkan segi kepraktisan dalam hal itu. Rasanya mustahil bisa menuruni tangga rumah keluarga Cullen dengan sepatu hak tinggi dan gaun berekor panjang. Seharusnya aku berlatih dulu.

Kemudian, masalah daftar tamu.

Keluarga Tanya, klan Denali, akan datang beberapa saat sebelum upacara.

Bukan perkara mudah menyatukan keluarga Tanya dalam satu ruangan dengan tamu-tamu kami dari reservasi Quileute, ayah Jacob, dan keluarga Clearwater. Klan Denali tidak menyukai werewolf Bahkan, saudara Tanya, Irina, tidak bakal datang ke acara pernikahan. Ia masih menyimpan dendam terhadap werewolf karena membunuh temannya, Laurent (yang waktu itu berniat membunuhku). Gara-gara dendam itu pula, klan Denali lepas tangan dan tidak mau membantu keluarga Edward saat mereka sedang sangat membutuhkan bantuan. Namun sungguh tidak disangka-sangka, persekutuan para vampir dengan serigala Quileute justru berhasil menyelamatkan nyawa kami semua saat para vampir baru itu menyerang…

Edward berjanji padaku bahwa tidak berbahaya membiarkan klan Denali berdekatan dengan para tamu dari Quileute. Tanya dan seluruh anggota keluarganya— selain Irina—merasa sangat bersalah gara-gara persoalan waktu itu. Gencatan senjata dengan para werewolf hanyalah harga kecil yang harus mereka bayar atas pengkhianatan mereka waktu itu, dan mereka bersedia membayarnya.

Itu masalah besarnya, tapi ada juga masalah kecil: kepercayaan diriku yang rapuh.

Aku belum pernah bertemu Tanya sebelumnya, tapi aku yakin pertemuanku dengannya nanti tidak akan menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi egoku. Dulu sekali, mungkin sebelum aku lahir. Tanya pernah mencoba mendekati Edward—bukan berarti aku menyalahkan dia atau orang lain karena menginginkan Edward. Meski begitu, pilihannya adalah ia akan terlihat cantik, atau memesona. Walaupun Edward jelas-jelas— meski itu tidak bisa dimengerti—lebih memilih aku, tanpa bisa dicegah aku pasti akan membandingkan diriku dengannya.

Aku sempat menggerutu sedikit sampai akhirnya Edward, yang mengetahui kelemahanku, membuatku merasa bersalah,

“Hanya kita yang bisa mereka anggap sebagai keluarga, Bella,” Edward mengingatkanku. “Mereka masih merasa seperti yatim-piatu, kau tahu, walaupun sudah sekian lama.”

Maka aku pun setuju, menyembunyikan kegelisahanku.

Tanya sekarang memiliki keluarga besar, hampir sebesar keluarga Cullen. Mereka berlima; Tanya, Kate, dan Irina, ditambah Carmen dan Eleazar yang bergabung dengan mereka hampir seperti Alice dan Jasper bergabung dengan keluarga Cullen, dipersatukan oleh keinginan mereka untuk hidup secara lebih beradab dibandingkan dengan vampir lain pada umumnya.

Walaupun jumlah mereka banyak, di satu sisi Tanya dan adik-adiknya masih sendirian. Mereka masih berduka. Karena dulu sekali, mereka juga pernah punya ibu.

Aku bisa membayangkan lubang yang ditinggalkan oleh kehilangan sebesar itu, bahkan walaupun seribu tahun telah berlalu; aku berusaha membayangkan keluarga Cullen tanpa pencipta, inti, dan penuntun mereka—ayah mereka, Carlisle, Aku tidak bisa membayangkannya.

Carlisle pernah menceritakan tentang riwayat hidup Tanya dulu, saat aku bermalam di rumah keluarga Cullen, belajar sebanyak mungkin, mempersiapkan diri sebisa mungkin untuk masa depan yang telah kupilih. Kisah ibu Tanya hanyalah satu dari sekian banyak kisah serupa, kisah yang menggambarkan satu dari sekian banyak aturan yang harus kuwaspadai kalau nanti sudah bergabung dengan dunia imortal ini. Hanya satu aturan sebenarnya—satu aturan yang dipecah menjadi ribuan segi yang berbeda: Menjaga rahasia ini.

Menjaga rahasia berarti banyak hal—hidup tanpa menimbulkan kecurigaan seperti keluarga Cullen, berpindah-pindah sebelum manusia di sekitar mereka curiga mengapa mereka tak pernah menua. Atau sekalian saja hidup menjauh dari manusia—kecuali saat tiba waktu makan—seperti yang dilakukan vampir nomaden seperti James dan Victoria; seperti teman-teman Jasper, Peter dan Charlotte, yang sampai sekarang masih hidup. Menjaga rahasia berarti mengendalikan vampir-vampir baru yang kauciptakan, seperti yang pernah dilakukan Jasper saat ia masih tinggal bersama Maria. Sesuatu yang gagal dilakukan Victoria terhadap vampir-vampir baru cipta airnya.

Dan itu juga berarti tidak menciptakan vampir baru sama sekali, karena sebagian vampir baru tidak bisa dikendalikan.

“Aku tidak tahu siapa nama ibu Tanya,” Carlisle mengakui waktu itu, matanya yang keemasan, yang warnanya nyaris sama dengan warna rambutnya yang terang, terlihat sedih mengingat kepedihan hati Tanya. “Kalau bisa, sebisa mungkin mereka menghindari berbicara tentang ibu mereka, tidak pernah secara sengaja memikirkannya.”

“Wanita yang menciptakan Tanya, Kate, dan Irina—yang mencintai mereka, aku yakin—hidup bertahun-tahun sebelum aku lahir, pada masa terjadinya wabah di dunia kita, wabah munculnya anak-anak imortal.”

“Apa yang dipikirkan vampir-vampir kuno itu dulu, aku sama sekali tidak mengerti. Mereka menciptakan vampir dari manusia yang bahkan masih bayi.” Aku sampai harus menelan kembali cairan lambungku yang naik ke tenggorokan saat membayangkan cerita Carlisle.

“Mereka sangat menggemaskan” Carlisle buru-buru menjelaskan, melihat reaksiku. “Begitu memikat, begitu memesona, pokoknya tak terbayangkan. Kau takkan tahan untuk tidak mendekati dan menyayangi mereka; itu terjadi secara alamiah.

“Namun mereka tidak bisa dididik. Mereka membeku di tahap perkembangan yang mereka capai sebelum digigit. Bocah-bocah dua tahun menggemaskan dengan lesung pipi dan ocehan cadel yang sanggup menghancurkan setengah isi desa ketika mereka mengamuk. Kalau lapar mereka makan, dan tak satu pun kata peringatan mampu menghalangi mereka. Manusia melihat mereka, kabar beredar, ketakutan menyebar seperti api menjilati semak kering…

“Nah, ibu Tanya menciptakan satu anak seperti itu. Sama seperti vampir-vampir kuno lainnya, aku sama sekali tidak mengerti alasannya.” Carlisle menarik napas dalamdalam untuk menenangkan diri. “Keluarga Volturi akhirnya rurun tangan, tentu saja.”

Seperti biasa aku bergidik mendengar nama itu, tapi tentu saja satu legiun vampir Italia—bangsawan menurut anggapan mereka sendiri—adalah inti kisah ini. Percuma saja ada hukum kalau tidak ada hukuman; dan tidak mungkin ada hukuman kalau tidak ada pihak yang menjatuhkannya. Tiga vampir tua, Aro, Caius, dan Marcus adalah pemimpin pasukan Volturi; aku pernah bertemu mereka, tapi dalam pertemuan singkat itu, aku mendapat kesan bahwa Aro, dengan bakat luar biasanya membaca pikiran—sekali menyentuh saja, ia akan langsung tahu setiap pikiran yang pernah timbul dalam benak seseorang—adalah pemimpin utamanya.

“Keluarga Volturi mempelajari anak-anak imortal itu, baik di kampung halaman mereka di Volterra maupun di seluruh penjuru dunia. Caius memutuskan anak-anak itu tidak akan bisa menjaga rahasia kita. Oleh karena itu, mereka harus dimusnahkan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.