Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Geraman nyaring menyeruak dari sela-sela gigiku.

“Karena, kalau situasinya dibalik, aku pasti ingin Bella melakukan yang sama terhadapku. Begitu juga Rosalie. Kami berdua akan melakukannya seperti yang dilakukan Bella. ”

“Ugh! Kau sama parahnya dengan mereka! ”

“Di situlah anehnya kalau kau tahu kau tak bisa memiliki sesuatu. Membuatmu jadi putus asa. ”

“Dan… cukup sudah. Aku tak sanggup lagi. Pembicaraan berakhir di sini. ”

“Baiklah. ”

Kesepakatan Leah untuk menyudahinya belum cukup bagiku. Aku membutuhkan kepastian yang lebih kuat daripada itu.

Aku berada kira-kira 800 meter dari tempatku meninggalkan pakaianku tadi, maka aku pun berubah wujud menjadi manusia dan berjalan kaki. Aku tidak memikirkan percakapan kami tadi. Bukan karena tak ada yang dipikirkan, tapi karena aku tak sanggup lagi. Aku tidak ingin melihatnya dari sudut pandang itu—tapi karena Leah telah memasukkan pikiran-pikiran dan pcrasaan-perasaannya ke dalam pikiranku, lebih sulit bagiku mengabaikannya.

Yeah, aku takkan lari dengan Leah kalau semua ini berakhir. Masa bodoh kalau ia merana di La Push. Satu petintah terakhir dari Alfa sebelum aku pergi untuk selamalamanya takkan merugikan siapa pun.

Hari masih sangat pagi waktu aku sampai di rumah. Bella mungkin masih tidur. Kupikir aku akan mampir sebentar, mengecek keadaan, memberi mereka lampu hijau untuk pergi berburu, kemudian menemukan sepetak rumput hijau lembut untuk alas tidur sebagai manusia. Aku tidak mau berubah wujud sampai Leah tidur.

Tapi kemudian terdengar gumaman pelan di rumah, jadi Bella mungkin tidak tidur. Kemudian aku mendengar suara mesin dari lantai atas—suara mesin rontgen? Hebat. Kelihatannya perhitungan mundur ke hari keempat sudah dimulai dengan heboh.

Alice sudah membukakan pintu untukku sebelum aku sempat melangkah masuk.

Ia menggodaku. “Hei, serigala.”

“Hei, pendek. Ada apa di atas?” Ruangan besar itu kosong— suara gumamangumaman tadi berasal dari lantai dua.

Alice mengangkat bahu mungilnya. “Mungkin ada tulang yang patah lagi.” Ia berusaha mengucapkan kata-kata itu dengan nada sambil lalu, tapi bisa kulihat kecemasan membayang di matanya. Edward dan aku bukan satu-satunya yang mencemaskan keadaan ini. Alice juga menyayangi Bella.

“Rusuk lagi?” tanyaku parau.

“Bukan. Kali ini tulang pinggul.”

Lucu juga bagaimana setiap informasi selalu menghantamku begitu rupa, seolaholah setiap hal baru merupakan kejutan. Setiap musibah baru tampak jelas kalau dilihat lagi ke belakang.

Alice memandangi kedua tanganku, melihatnya gemetar. Kemudian kami mendengar suara Rosalie di lantai atas. “Tuh kan, sudah kuhilang aku tadi tidak mendengar suara berderak. Pendengaranmu yang harus diperiksa, Edward” Tak ada sahutan.

Alice mengernyitkan muka. “Kalau begini, lama-lama Edward bakal mencabikcabik habis Rose. Heran juga aku dia tidak menyadari hal itu. Atau mungkin dia mengira Emmett pasti bisa menghentikan Edward.”

“Biar aku yang menghadapi Emmett,” aku menawarkan diri. “Kau bisa membantu Edward mencabik-cabik dia.”

Alice tersenyum kecil.

Saat itulah mereka menuruni tangga—kali ini Edward yang memapah Bella. Bella memegang cangkir berisi darah dengan dua tangan, wajahnya pasi. Kentara sekali bahwa, walaupun Edward sedapat mungkin berusaha menyangganya, namun setiap langkah, walau sekecil apa pun, membuat Bella kesakitan.

“Jake,” bisik Bella, tersenyum di sela-sela sakitnya.

Kupandangi dia, tidak mengatakan apa-apa.

Edward mendudukkan Bella hati-hati di sofa, lalu ia sendiri duduk di lantai, dekat kepalanya. Sekilas aku sempat heran mengapa mereka tidak meninggalkan Bella di lantai atas, tapi kemudian menyimpulkan ini pasti keinginan Bella sendiri. Ia ingin bersikap seolah-olah keadaannya normal-normal saja, dengan menjauhi suasana rumah sakit. Dan Edward menuruti apa saja kemauan Bella. Seperti biasa.

Carlisle yang terakhir turun, pelan-pelan menuruni tangga, wajahnya berkerut-kerut waswas. Sekali ini wajahnya jadi terlihat cukup tua untuk menjadi dokter.

“Carlisle,” seruku. “Kami berpatroli sampai setengah jalan menuju Seatde. Tak ada tanda-tanda kehadiran para kawanan. Kalian aman untuk pergi.”

“Terima kasih, Jacob. Waktunya tepat sekali. Banyak sekali yang kami butuhkan,” Mata hitamnya berkelebat ke cangkir yang dipegang Bella erat-erat.

“Jujur saja, menurutku cukup aman bila kau membawa lebih dari tiga orang. Aku sangat yakin Sam sekarang sedang berkonsentrasi mengawasi La Push.”

Carlisle mengangguk setuju. Kaget juga melihatnya langsung menerima saranku. “Kalau menurutmu begitu. Alice, Esme, Jasper, dan aku akan pergi. Kemudian Alice bisa mengajak Emmett dan Rosa…”

“Tidak perlu,” desis Rosalie. “Emmett bisa pergi bersamamu sekarang.”

“Kau harus berburu” kata Cariisle lembut.

Nada Carlisle tak sanggup melunakkan hati Rosalie. “Aku baru akan berburu kalau dia juga berburu,” geram Rosalie, menyentakkan kepala ke arah Edward, kemudian mengibaskan rambur.

Carlisle mendesah.

Jasper dan Emmett serta-merta menghambur menuruni tangga, dan Alice langsung bergabung bersama mereka di dekat pintu kaca belakang. Detik itu juga Esme tiba ke sisi Alice.

Carlisle meletakkan tangannya di lenganku. Walaupun sentuhannya yang dingin terasa tidak menyenangkan, tapi aku tidak menyentakkannya. Aku diam saja, separo terkejut dan separo lagi karena aku tak ingin melukai perasaannya.

“Terima kasih,” kata Carlisle lagi, kemudian ia melesat keluar pintu bersama keempat vampir yang lain. Mataku mengikuti saat mereka terbang melintasi halaman dan sudah lenyap sebelum aku sempat menarik napas. Kebutuhan mereka ternyata lebih mendesak daripada yang kukira.

Sesaat tak terdengar suara apa-apa. Aku bisa merasakan seseorang memandangiku dengan garang, dan aku tahu siapa dia. Sebenarnya aku berniat cabut dan tidur sebentar, tapi sayang rasanya melewatkan kesempatan mengacaukan pagi Rosalie.

Maka aku pun melenggang menuju sofa berlengan persis di sebelah sofa yang diduduki Rosalie dan duduk di sana, menjulurkan kedua kaki sehingga kepalaku terkulai ke arah Bella dan kaki kiriku berada dekat dengan wajah Rosalie.

“Hueek. Tolong keluarkan si anjing dari rumah,” gumam Rosalie, mengernyitkan hidung.

“Sudah dengar yang ini belum, Psikopat? Bagaimana caranya sel-sel otak cewek pirang mati?”

Ia tidak mengatakan apa-apa.

“Well” tanyaku, “Kau tahu jawabannya atau tidak?”

Rosalie terang-terangan memandangi pesawat TV dan mengabaikan aku.

“Dia sudah mendengarnya belum?” tanyaku pada Edward.

Tak ada ekspresi geli sama sekali di wajah Edward yang tegang—ia tak mengalihkan matanya sedikit pun dari Bella. Tapi ia menjawab, “Belum.”

“Asyik. Kau bakal suka mendengar yang satu ini, pengisap darah—sel-sel otak cewek pirang mati sendirian”

Rosalie tetap tidak melihat ke arahku. “Aku sudah membunuh seratus kali lebih banyak daripada kau, binatang menjijikkan. Jangan lupa itu.”

“Suatu hari nanti, Ratu Kecantikan, kau akan bosan jika hanya mengancamku. Aku tak sabar lagi menunggu saat itu.”

“Cukup, Jacob,” sergah Bella.

Aku menunduk, dan Bella merengut menatapku. Kelihatannya suasana hatinya yang baik kemarin sudah lama lenyap.

Well, aku tidak mau mengganggu Bella. “Kau ingin aku pergi saja?” aku menawarkan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.