Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Bagaimana caranya kalian bisa menemukan…?”

“Ada wanita yang kami temui di Amerika Selatan. Dia dibesarkan dalam tradisi masyarakatnya. Dia pernah mendengar peringatan tentang makhluk seperti ini, cerita-cerita kuno yang turun-temurun.”

“Apa saja peringatannya-?” bisikku,

“Bahwa makhluk itu harus langsung dibunuh. Sebelum kekuatannya jadi terlalu besar”

Persis seperti yang dipikirkan Sam. Apakah ia benar?

“Tentu saja, legenda mereka mengatakan hal yang sama tentang kami. Bahwa kami harus dimusnahkan. Bahwa kami pembunuh tak berjiwa.”

Kedudukan seri kalau begitu,

Edward tertawa keras,

“Apakah di sana juga diceritakan tentang nasib… para ibunya?”

Kepedihan menyayat wajah Edward, dan, saat aku tersentak melihat ekspresi sedih itu, aku tahu ia tidak akan menjawab pertanyaanku. Aku bahkan ragu ia masih bisa berbicara.

Rosalie-lah—yang sejak tadi berdiam diri tanpa suara sejak Bella tertidur, sampaisampai aku nyaris lupa padanya—yang menjawab.

Ia memperdengarkan suara bernada menghina. “Tentu saja tidak ada yang selamat,” tukasnya. Tidak ada yang selamat, tanpa tedeng aling-aling, tidak peduli. “Melahirkan di tengah rawa yang menjadi sarang berbagai kuman penyakit, didampingi dukun yang mengusapkan ludah ke sekujur wajah unruk mengusir roh-roh jahat jelas bukan metode paling aman. Bahkan separo kelahiran normal saja berakhir dengan kematian. Tak seorang pun di antara mereka memiliki apa yang dimiliki bayi ini—orang-orang yang berusaha memahami kebutuhan si bayi, yang berusaha memenuhi kebutuhan itu. Dokter dengan pengetahuan sangat unik rentang sifat alami vampir. Rencana untuk melahirkan si bayi dengan cara seaman mungkin. Racun yang bisa mengoreksi apa pun yang tidak berjalan semestinya. Bayi itu akan baik-baik saja. Dan para ibu yang lain itu mungkin sebenarnya

bisa selamat seandainya mereka memiliki semua itu—seandainya mereka benar-benar ada.

Sesuatu yang aku tidak yakin.” Rosalie mendengus dengan nada menghina.

Si bayi, si bayi. Seolah-olah hanya itu yang penting. Nyawa Bella tidak berarti apaapa bagi Rosalie—mudah ditepiskan.

Wajah Edward berubah seputih salju. Kedua tangannya melengkung seperti cakar. Benar-benar egois dan tak peduli, Rosalie memutar tubuhnya hingga punggungnya kini menghadap ke arah Edward. Edward mencondongkan tubuh, membungkuk siap menerjang.

Biar aku saja, usulku.

Edward terdiam sebentar, mengangkat sebelah alis.

Tanpa suara kuangkat mangkuk anjingku dari lantai. Kemudian dengan gerakan tangan yang kuat dan cepat, kulempar mangkuk itu ke bagian belakang kepala si Pirang, begitu kerasnya hingga—dengan suara kelontang yang memekakkan telinga—mangkuk itu langsung gepeng dan terpental ke seberang ruangan, menghantam bagian atas tiang yang ber-bentuk bulat di bagian kaki tangga.

Bella bergerak, tapi tidak terbangun.

“Dasar pirang tolol,” gerutuku.

Rosalie memutar kepalanya perlahan-lahan, dan matanya berapi-api.

“Kau. Menumpahkan. Makanan. Ke. Kepalaku.” Aku tak tahan lagi.

Tawaku meledak. Kutarik tubuhku menjauhi Bella agar tidak membuat tubuhnya terguncang, dan tertawa ketas sekali sampai-sampai air mata mengalir menuruni wajahku. Dari balik sofa kudengar suara tawa Alice yang bergemerincing.

Heran juga aku mengapa Rosalie tidak menerjang. Padahal aku agak-agak mengharapkannya. Tapi kemudian aku sadar suara tawaku membangunkan Bella, walaupun ia tadi tetap lelap saat suara berdentang keras terdengar.

“Apanya yang lucu?” gumam Bella,

Ku menumpahkan makanan ke rambutnya,” aku memberi-tahu Bella, kembali terkekeh,

“Aku tidak akan melupakan hal ini, anjing,” desis Rosalie,

“Tidak sulit menghapus ingatan cewek pirang,” balasku, “Tinggal tiup saja telinganya.”

“Cari lelucon baru sana!” bentaknya.

“Sudahlah, Jake. Jangan ganggu Rose la.„” Bella menghentikan kata-katanya dan napasnya tersentak tajam. Detik itu juga Edward mencondongkan tubuh di atasku, menyentakkan selimut yang menutupi tubuh Bella. Bella sepertinya kejang-kejang, punggungnya melengkung di atas sofa,

“Dia hanya,” kata Bella terengah-engah, “menggeliat,”

Bibir Bella putih, dan ia mengatupkan giginya kuat-kuat seperti berusaha menahan diri untuk tidak menjerit,

Edward merengkuh wajah Bella dengan kedua tangannya.

“Carlisle?” panggil Edward, suaranya rendah dan tegang,

“Di sini,” jawab Carlisle, Aku tidak mendengarnya datang.

“Oke,” ujar Bella, napasnya masih terengah dan pendek-pendek. “Rasanya sudah selesai. Bocah malang, rupanya dia kesempitan, itu saja. Soalnya sekarang dia sudah besar sekali.”

Sulit sekali diterima, nada memuja yang Bella gunakan untuk menggambarkan makhluk yang membuat tubuhnya babak belur. Apalagi setelah mendengar perkataan Rosalie yang blak-blakan tadi. Membuatku kepingin melemparkan sesuatu ke kepala Bella juga.

Tapi Bella tidak menyadari suasana hatiku yang jelek. “Kau tahu, dia mengingatkanku padamu, Jake,” katanya—masih dengan nada sayang—masih tersengalsengal,

“Jangan bandingkan aku dengan makhluk itu,” semburku dari sela-sela gigi yang terkatup rapat.

“Yang kumaksud adalah pertumbuhanmu yang sangat cepat,” jelas Bella, kelihatannya seolah-olah aku menyakiti perasaannya. Bagus. “Pertumbuhanmu juga sangat cepat. Kau seperti tumbuh makin tinggi tepat di depan mataku. Dia juga seperti itu. Pertumbuhannya sangat cepat.”

Kugigit lidahku agar tidak mengatakan hal-hal yang ingin kukatakan—saking kerasnya sampai-sampai aku bisa merasakan darah dalam mulutku. Tentu saja, luka itu sudah sembuh sebelum aku sempat menelan ludah. Itulah yang dibutuhkan Bella. Menjadi kuat seperti aku, memiliki kemampuan untuk pulih…

Napas Bella sekarang lebih tenang. Kemudian ia bersandar rileks ke sofa, tubuhnya melemas.

“Hmmm,” gumam Carlisle. Aku mendongak, dan kulihat ia memandangiku.

“Apa?” tuntutku.

Edward menelengkan kepala ke satu sisi sementara ia mempertimbangkan entah pikiran apa yang ada dalam benak Carlisle.

“Kau tahu aku penasaran tentang susunan genetika janin ini, Jacob. Tentang kromosomnya.”

“Memangnya kenapa?”

“Well, dengan mempertimbangkan kemiripan-kemiripan kalian…”

“Kemiripan-kemiripan?” aku menggeram, tidak suka karena kemiripan itu disebutkan dalam bentuk jamak.

“Pertumbuhan yang sangat cepat, dan fakta bahwa Alice tidak bisa melihat kalian berdua.”

Aku merasa wajahku langsung kosong. Aku sudah lupa pada kemiripan yang lain itu.

“Well, aku jadi penasaran apakah itu berarti kita menemukan jawabannya. Apakah kesamaan-kesamaan itu bersifat genetik,”

“Dua puluh empat pasang,” gumam Edward pelan. “Kau tidak tahu ini,”

“Memang tidak. Tapi menarik untuk berspekulasi” kata Carlisle dengan nada menenangkan. “Yeah. Sangat menyenangkan?

Dengkur halus Bella kembali terdengar, dengan manis memberi penekanan pada sikap sarkastisku.

Mereka langsung sibuk berdiskusi, dengan cepat membicarakan masalah genetik ini sedemikian rupa sampai-sampai satu-satunya kata yang bisa kupahami dari pembicaraan mereka hanya itu dan dan. Dan namaku sendiri, tentu saja. Alice ikut bergabung, sesekali memberi komentar dengan suaranya yang seperti burung berkicau.

Walaupun mereka membicarakan aku, aku tak berusaha mencari tahu kesimpulan yang mereka tarik. Masih banyak hal lain dalam pikiranku, fakta-fakta baru yang kucoba pahami.

Fakta pertama, perkataan Bella bahwa makhluk itu terlindung sesuatu yang sekeias kulit vampir, sesuatu yang tidak bisa ditembus ultrasound, juga tidak bisa ditembus jarum. Fakta kedua, perkataan Rosalie bahwa mereka berencana melahirkan makhluk itu dengan selamat. Fakta ketiga, perkataan Edward bahwa—dalam beberapa mitos—monstermonster seperti ini akan menggunakan giginya untuk mengoyak perut sang ibu dan keluar dari sana. Aku bergidik.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.