Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Kau salah satunya.”

“Itu menyebalkan, tahu.”

“Leah.” Bella mendesah. “Maaf”

“Tapi mengapa? Kau tidak menjawabnya tadi.”

Edward kembali memalingkan muka, seolah-olah memandang ke luar jendela. Wajah dalam bayangannya tampak kosong.

“Rasanya… lengkap kalau ada kau di sini, Jacob. Rasanya seluruh keluargaku lengkap. Maksudku, kira-kira seperti itulah—sebelumnya aku tidak pernah punya keluarga besar. Senang rasanya.” Bella tersenyum sekilas. “Tapi tetap tidak utuh rasanya kalau kau tidak ada,”

“Aku tidak akan pernah menjadi bagian dari keluargamu, Bella.”

Sebenarnya bisa saja. Aku pasti bisa melakukannya dengan baik. Tapi itu hanya angan-angan masa depan yang sudah keburu layu sebelum berkembang.

“Kau akan selalu menjadi bagian keluargaku,” sergah Bella tidak setuju.

Aku mengertakkan gigi gemas. “Itu jawaban omong kosong.”

“Jadi apa jawaban yang bagus?”

“Bagaimana kalau, ‘Jacob, aku puas kalau melihatmu menderita.'”

Kurasakan Bella tersentak.

“Kau lebih suka aku menjawabnya begitu?” bisik Bella.

“Itu lebih mudah, paling tidak. Aku bisa menerimanya. Aku bisa mengatasinya.”

Aku menunduk menatap wajah Bella saat itu, yang begitu dekat dengan wajahku. Matanya terpejam dan keningnya berkerut. “Kita melenceng keluar jalur, Jake. Kehilangan keseimbangan. Seharusnya kau menjadi bagian hidupku—aku bisa merasakannya, dan kau pun bisa.” Ia terdiam sejenak tanpa membuka mata—seperti menungguku menyangkalnya. Waktu aku diam saja, ia melanjutkan kata-katanya. “Tapi tidak seperti ini. Kita melakukan hal yang salah. Tidak, akulah yang salah. Aku melakukan kekeliruan, dan kita melenceng keluar jalur…”

Suaranya menghilang, dan kerutan di keningnya mengendur hingga tinggal kerutan kecil di sudut-sudut bibir. Aku menunggunya menuangkan perasan jeruk lagi ke luka-luka sayatanku, tapi kemudian suara dengkur lembut keluar dari tenggorokan Bella.

“Dia kecapekan,” gumam Edward. “Ini hati yang panjang baginya. Sangat melelahkan. Seharusnya dia tadi tidur lebih awal, tapi dia menunggumu datang,”

Aku tidak memandang Edward.

“Kata Seth, makhluk itu membuat tulang rusuknya patah lagi.”

“Ya. Membuatnya semakin sulit bernapas.”

“Hebat.”

“Beritahu aku kalau dia mulai kepanasan lagi.”

“Yeah.”

Bulu di lengan Bella yang tidak bersentuhan dengan lenganku masih meremang. Belum lagi aku sempat mengangkat kepala untuk mencari selimut, Edward sudah menyambar selimut yang tersampir di lengan sofa dan membentangkannya hingga menutupi tubuh Bella.

Ada kalanya, membaca pikiran bisa menghemat waktu. Sebagai contoh, mungkin sebenarnya aku tak perlu marah-marah dan mengamuk panjang-lebar berkaitan dengan masalah Charlie, Segala amarah itu. Edward sudah bisa mendengar betapa marahnya,..

“Ya,” ia sependapat. “Itu memang bukan ide bagus,”

“Kalau begitu mengapa-‘” Mengapa Bella memberitahu ayahnya bahwa dia sedang dalam tahap pemulihan bila itu hanya akan membuat ayahnya semakin merana?

“Dia tidak tahan menghadapi kegelisahan ayahnya,”

“Jadi lebih baik…”

“Tidak. Bukan lebih baik. Tapi aku tidak akan memaksanya melakukan apa-apa yang membuatnya tidak bahagia sekarang. Apa pun yang terjadi, ini membuatnya merasa lebih tenang. Hal lain biar aku yang mengurus.”

Kedengarannya itu tidak benar. Bella tidak mungkin sengaja membuat Charlie menderita pada akhirnya, lalu membiarkan orang lain membereskannya. Meskipun’ dia sedang sekarat. Bella tidak seperti itu. Kalau Edward benar-benar mengenal Bella, ia pasti punya rencana lain.

“Bella sangat yakin dia akan tetap hidup,” kata Edward.

“Tapi tidak .sebagai manusia.”

“Tidak, tidak sebagai manusia. Tapi dia berharap bisa bertemu lagi dengan Charlie.”

Oh, semakin lama semakin baik saja.

“Bertemu. Charlie.” Akhirnya aku memandang Edward juga, mataku melotot. “Sesudahnya. Bertemu Charlie dalam keadaan tubuhnya putih bersinar dan matanya merah cerah. Aku bukan pengisap darah, jadi mungkin ada yang tidak kumengerti di sini, tapi Charlie sepertinya pilihan yang aneh untuk menjadi santapan pertama Bella.”

Edward mendesah. “Bella tahu dia tidak akan bisa berdekatan dengan Charlie selama setidaknya satu tahun. Menurutnya, dia mungkin bisa menunda pertemuan mereka. Mengatakan pada Charlie dia harus pergi ke rumah sakit khusus di belahan dunia lain. Tetap berhubungan dengannya melalui telepon…”

“Itu kan sinting.”

“Memang.”

“Charlie bukan orang tolol. Seandainya pun Bella tidak membunuhnya, dia tetap akan menyadari adanya perubahan.”

“Bella justru mengharapkan hal itu.”

Aku terus memandanginya, menunggu Edward menjelaskan maksudnya.

“Bella tidak akan menua, tentu saja, jadi itu berarti ada batasan waktu, walaupun seandainya Charlie menerima alasan apa pun yang bisa Bella ajukan untuk menjelaskan perubahan-perubahan itu.” Edward tersenyum samar. “Ingatkah kau waktu kau berusaha memberitahu Bella tentang transformasimu? Bagaimana kau membuatnya menebak?”

Tanganku yang bebas mengepal. “Dia menceritakannya padamu?”

“Ya. Dia menjelaskan… idenya. Begini, dia tidak diperbolehkan memberitahukan hal yang sebenarnya pada Charlie—itu akan sangat berbahaya bagi Charlie. Tapi Charlie cerdas dan praktis. Menurut Bella, dia nanti pasti punya penjelasan sendiri. Asumsi Bella, dugaan Charlie itu pasti salah.” Edward mendengus. “Bagaimanapun, kami tidak terlalu mengikuti gaya hidup vampir. Paling-paling Charlie akan membuat asumsi yang salah tentang kami, seperti yang dilakukan Bella pada awalnya, dan kami akan menerimanya saja. Menurut Bella, dia pasti bisa menemui Charlie… dari waktu ke waktu.”

“Sinting,” ulangku.

“Memang,” lagi-lagi Edward sependapat.

Sungguh lemah Edward membiarkan Bella berbuat sesukanya seperti ini, hanya untuk membuatnya bahagia sekarang ini. Pasti hasilnya nanti tidak baik.

Itu membuatku berpikir, jangan-jangan Edward tidak berharap Bella tetap hidup untuk mencoba melaksanakan rencana gilanya. Edward ingin menenteramkan hatinya, sehingga Bella bisa merasa bahagia beberapa saat lagi.

Misalnya saja, sampai empat hari lagi.

“Aku akan menghadapi apa pun yang terjadi,” bisik Edward, dan ia memalingkan wajah, menunduk, supaya aku bahkan tidak bisa melihat bayangannya. “Aku tidak mau membuatnya sedih sekarang.”

“Empat hari?” tanyaku.

Edward tidak mendongak. “Kira-kira.”

“Setelah itu apa?”

“Apa maksudmu, tepatnya?”

Aku memikirkan perkataan Bella. Makhluk itu terbungkus nyaman dan rapat dalam sesuatu yang keras, sesuatu yang menyetupai kulit vampir. Jadi, bagaimana caranya? Bagaimana makhluk itu akan keluat?

Dari riset kecil-kecilan yang bisa kami lakukan, kelihatannya makhluk itu menggunakan giginya sendiri untuk keluar dari rahim,” bisik Edward.

Aku terpaksa berhenti sejenak untuk menelan caitan lambung yang naik ke tenggorokan.

“Riset?” tanyaku lemah.

“Itulah sebabnya kau tidak melihat Jasper dan Emmett di sini. Itulah yang dilakukan Carlisle sekarang. Berusaha mengartikan cerita-cerita dan mitos-mitos kuno, sebanyak yang kami bisa dengan apa yang kami miliki di sini, mencari apa saja yang bisa membantu kami memprediksikan perilaku makhluk itu.”

Cerita-cerita? Kalau ada mitos-mitos, berarti…

“Berarti, makhluk ini bukan yang pertama dari jenisnya?” tanya Edward, mengantisipasi pertanyaanku. “Mungkin. Semuanya masih sangat kabur. Mitos-mitos itu bisa saja produk ketakutan dan imajinasi. Walaupun…”—Edward ragu-ragu— “mitosmitos kalian tetnyata benar, bukan begitu? Jadi mungkin saja mitos-mitos kami ini juga benar. Sepertinya semua terlokalisasi, saling berhubungan..,’

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.