Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Trims, Jake” ujar Bella, dan aku merasakan tubuhnya bergetar.

“Yeah,” sahutku.

Edward duduk di lengan sofa, dekat kaki Bella, matanya tak pernah lepas dari wajah Bella.

Mustahil mengharapkan, di ruangan yang dipenuhi orang-orang berpendengaran super, tidak akan ada yang mendengar perutku yang keroncongan.

“Rosalie, bagaimana kalau kauambilkan makanan untuk Jacob dari dapur?” pinta Alice. Ia kini tidak kelihatan, duduk diam-diam di balik punggung sofa.

Rosalie memandang tak percaya ke tempat suara Alice tadi berasal.

“Tidak usah, terima kasih, Alice, tapi sepertinya aku tidak mau makan makanan yang sudah diludahi si Pirang. Taruhan, pencernaanku pasti tidak begitu bisa menerima racun.”

“Rosalie takkan pernah mempermalukan Esme dengan melakukan hal yang sangat tidak sopan seperti itu.”

“Tentu saja tidak,” sergah Rosalie dengan suara semanis madu yang langsung tidak kupercaya. Ia bangkit dan melesat keluar ruangan,

Edward mendesah,

“Kau pasti akan memberitahuku kalau dia meracuninya, kan?” tanyaku,

“Ya,” janji Edward,

Dan entah mengapa, aku percaya padanya.

Terdengar suara berdentang-dentang di dapur, dan—anehnya—suara logam berderit-derit, seperti protes karena disiksa. Lagi-lagi Edward mendesah, tapi tersenyum kecil. Sejurus kemudian Rosalie sudah kembali sebelum aku sempat memikirkannya lebih jauh lagi. Dengan senyum puas ia meletakkan mangkuk perak di lantai di dekatku,

“Selamat menikmati, doggy”

Mungkin mangkuk itu dulunya mangkuk pencampur berukuran besar, tapi Rosalie menekuk sisi-sisinya hingga kini bentuknya mirip wadah makanan anjing. Mau tak mau, aku terkesan juga pada keterampilan tangannya. Juga perhatiannya terhadap hal-hal detail. Ia menggoreskan nama Fido di bagian samping. Tulisan tangannya juga bagus sekali.

Karena makanannya terlihat sangat lezat—steik, tidak kurang, dan sebutir besar kentang panggang lengkap dengan segala pernak-perniknya—kukatakan padanya, “Trims, Pirang.”

Rosalie mendengus,

“Hei, kau tahu nggak apa sebutan untuk si pirang yang pandai?” tanyaku, kemudian melanjutkan dalam satu tarikan napas, “golden retriever”

“Aku juga sudah pernah dengar yang itu,” sergah Rosalie, Lak lagi tersenyum.

“Aku akan terus berusaha,” janjiku, kemudian mulai menyikat makananku.

Rosalie mengernyit jijik dan memutar bola matanya. Lalu ia duduk di salah satu kursi berlengan dan mulai memindah-mindah saluran TV, cepat sekali hingga tak mungkin ia benar-benar mencari sesuatu untuk ditonton.

Makanannya enak, walaupun bau vampir memenuhi udara. Aku benar-benar mulai terbiasa dengan itu. Hah. Bukan sesuatu yang ingin kulakukan, sebenarnya…

Selesai makan-—walaupun aku sempat mempertimbangkan untuk menjilat mangkuknya, hanya untuk membuat Rosalie kesal—aku merasakan jari-jari Bella yang dingin membelai rambutku. Lalu ia menepuk-nepuk tengkukku,

“Saatnya potong rambut, ya?”

“Rambutmu mulai sedikit gondrong,” kata Bella. “Mungkin…”

“Biar kutebak, ada seseorang di sini yang dulu pernah memotong rambut di salon di Paris?” Bella terkekeh. “Mungkin.”

“Tidak, terima kasih,” tolakku sebelum Bella benar-benar menawarkan. “Aku masih bisa tahan sampai beberapa minggu lagi.”

Dan itu membuatku bertanya-tanya sampai kapan Bella bisa bertahan. Aku memikirkan cara yang sopan untuk bertanya.

“Jadi… eh… apa, eh, kapan? Kau tahu, kapan monster kedi itu diperkirakan akan lahir.”

Bella memukul bagian belakang kepalaku pelan tapi tidak menjawab.

“Aku serius,” sergahku. “Aku ingin tahu berapa lama aku hatus berada di sini.” Berapa lama kau akan berada di sini, aku menambahkan dalam hati. Aku berpaling untuk menatapnya. Matanya tampak seperti berpikir; kerutan stres muncul lagi di antara kedua alisnya.

“Entahlah,” gumamnya. “Tidak pasti. Jelas, umur kehamilanku pasti bukan sembilan bulan, tapi karena kita tidak bisa mendapatkan gambar USG, Carlisle terpaksa membuat perkiraan dari ukuran perutku. Orang normal biasanya empat puluh sentimeter di sini”-—Bella melarikan ujung jarinya persis di bagian tengah perutnya yang membuncit —”kalau bayinya sudah mencapai pertumbuhan maksimal. Satu sentimeter setiap minggu. Tadi pagi panjang perutku sudah tiga puluh sentimeter, dan sehari tumbuh dua sentimeter, kadang-kadang lebih…”

Hari ini sudah dua minggu, hari-hari berlalu bagaikan terbang. Hidup Bella berlalu bagai dipercepat. Berapa hari lagi kalau begitu, kalau ia menunggu sampai besar perutnya empat puluh sentimeter? Empat hari? Butuh waktu beberapa saat baru aku bisa menelan

ludah.

“Kau baik-baik saja?” tanya Bella.

Aku mengangguk, tak yakin bagaimana kedengarannya suaraku bila keluar.

Edward memalingkan wajah waktu mendengarkan pikiran-pikiranku, tapi aku bisa melihat bayangannya di dinding kaca. Lagi-lagi ia terlihat seperti pria yang dibakar hiduphidup.

Lucu juga dengan adanya tenggat waktu, lebih sulit bagiku untuk berpikir tentang pergi, atau menerima kenyataan bahwa Bella harus pergi. Untung Seth menyinggungnya tadi, sehingga aku tahu mereka akan tetap berada di sini. Itu pasti takkan bisa ditolerir, bertanya-tanya setiap liari kapan mereka akan pergi, mengambil satu, dua, tiga, atau empat hari yang tersisa. Empat hariku.

Juga lucu bagaimana, bahkan walaupun tahu ini hampir berakhir, ikatan yang dimiliki Bella terhadapku justru semakin sulit diputuskan. Hampir seolah-olah berbanding lurus dengan semakin membesarnya perut Bella—seolah dengan semakin membesar perutnya, kekuatan gravitasi antara kami juga semakin kuat.

Sesaat aku berusaha memandangnya secara terpisah, memisahkan diriku dari tarikan itu. Aku tahu bukan imajinasiku yang mengatakan kebutuhanku untuk berdekatan dengan Bella justru lebih kuat daripada biasanya. Mengapa begitu? Karena ia sedang sekarat? Atau karena aku tahu bahwa walaupun ia tidak sekarat, namun tetap saja— skenario terbaik—ia akan berubah menjadi sosok lain yang tidak kukenal atau kumengerti?

Bella melarikan jarinya ke tulang pipiku, dan kulitku panas di tempat ia menyentuhnya.

“Semua pasti beres,” kata Bella dengan sikap sedikit menenangkan. Bukan masalah bila kata-kata itu tidak berarti apa-apa. Ia mengatakannya seperti orang-orang mendendangkan lagu ninabobo kepada anak-anak kecil.

“Benar,” gerutuku.

Bella bergelung di lenganku, membaringkan kepalanya di bahuku. “Aku tak menyangka kau mau datang. Kata Seth kau pasti datang, begitu juga Edward, tapi aku tidak percaya pada mereka.”

“Mengapa tidak?” tanyaku parau.

“Kau tidak bahagia di sini. Tapi kau tetap datang,”

“Bukankah kau ingin aku datang?”

“Memang. Tapi kau tidak harus datang, karena tidak adil bagiku menginginkanmu ke sini. Aku pasti bisa mengerti.”

Sesaat suasana sunyi. Edward sudah memalingkan wajahnya kembali. Ta memandangi layar TV sementara Rosalie terus memindah-mindah saluran. Sekarang ia sudah sampai ke saluran enam ratusan. Penasaran juga aku berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke awal lagi.

“Terima kasih kau sudah mau datang,” bisik Bella,

“Boleh aku tanya sesuatu?” tanyaku,

“Tentu saja.”

Edward kelihatannya tidak memerhatikan kami sama sekali, tapi ia tahu apa yang akan kutanyakan, jadi aku tidak tertipu oleh sikap tak acuhnya.

“Mengapa kau ingin aku datang ke sini? Seth kan bisa menghangatkanmu, dan dia mungkin lebih enak diajak ngobrol, si bocah ceria itu. Tapi begitu aku berjalan memasuki pintu, kau tersenyum seolah-olah aku ini orang yang paling kausukai di dunia.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.