Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Aku belum siap bersikap logis. Tetap saja rasanya tolol. Mereka toh bisa memboyong sebagian besar peralatan itu bersama mereka, kan? Dan mencuri apa yang mereka butuhkan ke mana pun mereka pergi. Siapa yang peduli pada hal-hal legal kalau kau tidak bisa mati?

Edward tidak ingin mengambil risiko memindahkan Bella.

Bella sudah lebih baik.

Sangat, Seth sependapat. Dalam pikirannya, ia membandingkan ingatanku akan Bella yang tubuhnya digelantungi siang-siang infus dengan waktu ia terakhir melihat Bella saat meninggalkan rumah. Bella tersenyum padanya dan melambaikan tangan. Tapi ia tidak bisa banyak bergerak, kau tahu. Makhluk itu membuatnya babak helur.

Aku menelan kembali cairan asam yang sempat naik ke tenggorokanku. Yeah, aku tahu.

Rusuknya ada lagi yang patah, Seth memberitahu dengan muram.

Langkahku goyah, dan aku terhuyung-huyung selangkah sebelum lariku kembali berirama.

Carlisle membebatnya lagi. Hanya retak, begitu kata Carlisle.

Lalu Rosalie mengatakan sesuatu tentang bayi manusia normal yang diketahui pernah meretakkan tulang rusuk juga. Edward kelihatannya seperti mau mencabik-cabik kepala Rosalie sampai putus.

Sayang itu tidak dilakukannya.

Seth semakin bersemangat memberi laporan sekarang— tahu itu semua sangat menarik bagiku, walaupun aku tidak pernah meminta mendengarnya. Mari ini tadi demam Bella naik-turun. Tidak terlalu panas—hanya keringat kemudian kedinginan. Carlisle tidak begitu memahami sakitnya—mungkin ia memang sakit. Sistem kekebalan tubuhnya saat ini pasti sedang tidak bagus.

Yeah, aku yakin itu pasti hanya kebetulan.

Tapi suasana hatinya sedang baik. Ia mengobrol dengan Charlie, tertawa-tawa dan sebagainya…

Charlie! Apa?! Apa maksudmu, ia mengobrol dengan Charlie?!

Sekarang giliran Seth yang larinya tertatih; amarahku membuatnya kaget. Dugaanku Charlie menelepon Bella setiap hari untuk berbicara dengannya. Kadang-kadang ibunya juga menelepon. BeUa kedengarannya sudah jauh lebih sehat sekarang, jadi ia meyakinkan CharUe bahwa ia sedang dalam tahap pemulihan…

Berada dalam tahap pemulihan? Apa sih yang mereka pikirkan?! Memberi harapan muluk-muluk pada Charlie sehingga ia bisa hancur lebih parah lagi kalau BeUa meninggal nanti? Kusangka mereka mempersiapkan Charlie untuk menerima hal itu! Berusaha mempersiapkan dia! Mengapa Bella tega mempermainkan Charlie seperti ini?

Ia mungkin tidak akan meninggal, pikir Seth pelan.

Aku menghela napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Seth. Walaupun seandainya Bella berhasil melewati ini, ia tidak akan melakukannya sebagai manusia. Ia tahu itu, begitu juga mereka yang lain. Kalau tidak meninggal, ia harus bisa berakting meyakinkan sebagai mayat, Nak. Kalau bukan itu, berarti menghilang. Kusangka mereka ingin membuat situasi menjadi lebih mudah bagi Charlie. Mengapa…?

Kurasa itu ide Bella. Tidak ada yang mengatakan apa-apa, tapi wajah Edward hampir seperti yang kaupikirkan saat ini.

Lagi-lagi aku berada dalam frekuensi yang sama dengan si pengisap darah itu.

Beberapa menit kami berlari dalam kesunyian. Aku mulai menyusuri garis baru, mengarah ke selatan.

Jangan terlalu jauh.

Mengapa?

Bella memintaku menyuruhmu mampir. Gigiku mengatup rapat.

Alice juga ingin kau datang. Katanya ia sudah bosan nongkrong terus di loteng seperti kelelawar vampir di menara lonceng. Seth mendengus tertawa. Aku bergantian dengan Edward sebelumnya. Mencoba menjaga suhu tubuh Bella tetap stabil. Dingin ke panas, sesuai kebutuhan. Kurasa, kalau kau tidak mau melakukannya, aku bisa kembali*.

Tidak, aku yang akan melakukannya, bentakku.

Oke. Seth tidak berkomentar lagi. Ia berkonsentrasi sekuat tenaga ke hutan yang kosong.

Aku tetap bertahan pada rute selatanku, mencari-cari hal baru. Aku berbalik arah begitu mendekati tanda-tanda pertama permukiman. Memang belum mendekati kota. tapi aku tak ingin membuat kehebohan lagi dengan rumor-rumor tentang serigala. Selama ini kami bisa hidup tenang karena tidak terlihat siapa pun.

Aku lewat tepat di garis perbatasan dalam perjalanan pulang, menuju rumah keluarga Cullen. Walaupun aku tahu itu perbuatan tolol, aku tetap saja tidak bisa menghentikan diriku sendiri. Aku pastilah seorang masokis.

Tidak ada yang tidak beres denganmu, Jahe. Situasinya memang tidak normal.

Kumohon, tutup mulutmu, Seth.

Ya deh

Kali ini aku tidak ragu-ragu lagi di depan pintu, aku langsung saja masuk seolaholah rumah ini milikku. Kupikir dengan begitu aku akan membuat Rosalie kesal, tapi ternyata tindakanku sia-sia belaka. Baik Rosalie maupun Bella tidak tampak di sana. Dengan panik aku memandang berkeliling, berharap aku terlewat melihat mereka di suatu tempat. Jantungku mendesak rusuk dan membuat dadaku sakit.

“Dia baik-baik saja,” bisik Edward. “Atau, kondisinya sama saja, kalau boleh kukatakan.”

Edward duduk di sofa sambil menutup wajah dengan kedua tangan; ia tidak mengangkat wajah untuk berbicara. Esme duduk di sebelahnya, lengannya merangkul bahu Edward erat-erat,

“Halo, Jacob,” sapa Esme. “Aku senang kau kembali.”

“Aku juga,” seru Alice sambil menghela napas dalam-dalam. Ia menandak-nandak menuruni tangga, mengernyitkan wajah. Seolah-olah aku terlambat datang.

“Eh, hai,” sapaku. Aneh rasanya bersikap sopan.

“Mana Bella?”

“Di kamar mandi,” Alice menjawab pertanyaanku. “Kau tahu sendirilah, sebagian besar dietnya kan berupa cairan. Ditambah lagi orang hamil konon sering bolak-balik ke kamar mandi.”

“Ah.”

Aku berdiri canggung, bergerak-gerak ke depan dan ke belakang dengan bertumpu pada tumit.

“Oh, hebat,” gerutu Rosalie. Dengan cepat aku berpaling dan melihatnya datang dari ruang depan yang separo tersembunyi di balik tangga. Ia merangkul lembut bahu Bella, ekspresi galak terpancar di wajahnya untukku. “Ternyata memang benar aku tadi mencium bau tidak enak.”

Dan, sama seperti sebelumnya, wajah Bella langsung berseri-seri seperti wajah bocah yang kegirangan melihat tumpukan hadiah di pagi Hari Natal. Seolah-olah aku membawakannya hadiah paling indah.

Sangat tidak adil.

“Jacob” desah Bella. “Kau datang.”

“Hai, Bells.”

Esme dan Edward sama-sama berdiri. Aku melihat Rosalie dengan hati-hati mendudukkan Bella di sofa. Aku melihat bagaimana, walaupun sudah melakukannya dengan begitu hati-hati, wajah Bella berubah putih dan ia menahan napas— seolah bertekad tidak akan mengeluarkan suara, tak peduli bagaimanapun sakitnya.

Edward menyapukan tangannya di kening Bella, kemudian lehernya. Ia berusaha membuatnya terlihat seperti hanya menyibakkan rambut Bella, padahal terlihat seperti pemeriksaan dokter di mataku.

“Kau kedinginan?” gumam Edward.

“Aku baik-baik saja.”

“Bella, kau kan tahu apa yang dikatakan Carlisle padamu,” sergah Rosalie. “Jangan mengecilkan apa pun. Itu tidak akan membantu kami mengurus kebutuhan kalian”

“Oke. Aku memang agak kedinginan. Edward, bisa tolong ambilkan selimut itu untukku?”

Aku memutat bola mataku. “Bukankah itu salah satu tujuanku berada di sini?”

“Kau kan baru datang,” kata Bella. “Taruhan, pasti setelah berlari seharian. Istirahatlah dulu sebentar. Paling-paling tak lama lagi tubuhku menghangat lagi.”

Aku tidak menggubris kata-katanya, kakiku sudah bergerak untuk duduk di lantai di sebelah sofa sementara ia masih terus berbicara. Namun saat itu, entah bagaimana… Bella terlibat sangat rapuh, dan aku takut memindahkannya, bahkan melingkarkan lenganku ke bahunya pun aku tidak berani. Maka aku hanya bersandar sedikit di sampingnya, membiarkan lenganku menempel sepanjang lengannya, dan menggenggam tangannya. Lalu aku meletakkan tanganku yang lain ke wajahnya. Sulit memastikan apakah ia merasa lebih kedinginan daripada biasanya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.