Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Baiklah kalau begitu,” sahutku. “Jadi sudah beres. Aku berangkat sekarang. Seth, kuharap kau berjaga lagi senja nanti, jadi carilah tempat untuk tidur sekarang, bisa?”

“Tentu, Jake. Aku akan berubah wujud segera setelah selesai makan. Kecuali…” ia ragu-ragu, menatap Bella. “Apa kau membutuhkan akui1”

“Dia kan sudah punya selimut,” bentakku.

“Aku baik-baik saja, Seth, trims,” kata Bella cepat-cepat.

Kemudian Esme muncul lagi, menenteng wadah besar bertutup. Ia berhenti ragu di belakang siku Carlisle, mata kuning gelapnya yang lebar menatap wajahku. Ia mengulurkan wadah itu padaku dan maju selangkah dengan sikap malu-malu,

“Jacob,” ujarnya pelan. Suaranya tidak setajam yang lain-lain. “Aku tahu… kau tidak berselera makan di sini, karena baunya yang sangat tidak menyenangkan. Tapi aku akan senang sekali kalau kau mau membawa sedikit makanan saat kau pergi. Aku tahu kau tidak bisa pulang ke rumah, dan itu karena kami. Kumohon—hilangkan sedikit perasaan bersalahku. Bawalah makanan ini.” Esme menyodorkan makanan itu, wajahnya lembut dan memohon. Aku tak tahu bagaimana ia melakukannya, karena penampilannya tidak lebih tua dari pertengahan dua puluh, dan kulitnya juga putih pucat, tapi ada sesuatu dalam ekspresinya yang mendadak mengingatkanku pada ibuku.

Astaga.

“Eh, tentu, tentu,” gumamku. “Baiklah. Mungkin Leah masih lapar atau apa.”

Aku mengulurkan tangan dan menerima makanan itu dengan satu tangan, memegangnya jauh-jauh, sepanjang lengan. Aku akan membuangnya di bawah pohon atau di tempat lain. Aku rak ingin ia merasa bersalah.

Lalu aku teringat pada Edward,

Awas, jangan bilang apa-apa padanya! Biarkan ia mengira aku memakan semuanya.

Aku tidak memandang kepada Edward untuk melihat apakah ia setuju. Pokoknya ia harus setuju. Si pengisap darah itu berutang budi padaku.

“Terima kasih, Jacob” kara Esme, tersenyum. Bagaimana mungkin batu bisa punya lesung pipi, demi Tuhan?

“Eh, terima kasih,” ujarku. Wajahku panas—lebih panas daripada biasa.

Inilah masalahnya bergaul dengan vampir—kau jadi terbiasa dengan mereka. Mereka mulai mengacaukan caramu memandang dunia. Kau mulai menganggap mereka teman.

“Kau akan kembali lagi nanti, Jake?” tanya Bella waktu aku bersiap-siap kabur.

“Eh, entahlah.”

Bella mengatupkan bibir rapat-rapat, seperti berusaha tidak tersenyum. “Please? Siapa tahu aku kedinginan.”

Aku menarik napas dalam-dalam melalui hidung, kemudian menyadari, meski terlambat, bahwa itu bukan ide yang baik. Aku meringis. “Mungkin,”

“Jacob?” panggil Esme. Aku berjalan mundur ke pintu sementara Esme melanjurkan kata-katanya. “Aku meninggalkan sekeranjang pakaian di teras. Untuk Leah. Sudah dicuci bersih—aku berusaha sesedikit mungkin menyentuhnya.” Keningnya berkerut. “Kau tidak keberatan membawakannya untuk dia?”

“Siap,” gumamku, kemudian merunduk keluar dari pintu sebelum ada lagi yang bisa membuatku merasa bersalah dan melakukan hal-hal lain.

15. TIK TOK TIK TOK TIK TOK

Hei, Jake, kusangka kau menyuruhku berjaga lagi waktu senja.

Jadi mengapa kau tidak menyuruh Leah membangunkanku sebelum ia tertidur?

Karena aku tidak membutuhkanmu. Aku masih kuat Seth sudah berlari setengah lingkaran di sebelah utara. Ada sesuatu?

Tidak. Tidak ada apa-apa sama sekali. Kau sudah sempat melakukan penyisiran? Seth melihat bekas-bekas jejak kakiku. Ia mengarah ke rute baru.

Yeah—aku menyisir ke beberapa arah. Kau tahu, hanya mengecek. Kalau keluarga Cullen akan pergi berburu…

Tindakan yang tepat

Seth berlari lagi ke perimeter utama.

Lebih mudah berlari bersama Seth daripada Leah. Walaupun Leah berusaha— berusaha keras—selalu ada hal-hal yang meresahkan pikirannya. Ia tidak ingin berada di sini. Ia tidak ingin merasakan sikap lunak terhadap vampir yang ada dalam pikiranku. Ia tidak ingin menerima keakraban Setb dengan mereka, persahabatan yang semakin lama justru semakin erat.

Lucu tapi, karena kukira masalah terbesar Leah adalah aku. Waktu masih bergabung dalam kelompok Sam, kami selalu saling membuat jengkel. Tapi tidak ada lagi perasaan antagonis terhadapku sekarang, hanya terhadap keluarga Cullen dan Bella. Entah mengapa. Mungkin tidak lebih dari rasa terima kasih Leah karena aku tidak memaksanya pergi. Mungkin itu karena sekarang aku bisa lebih memahami kemarahan terpendamnya. Bagaimanapun, berlari bersama Leah ternyata tak seburuk yang kukira.

Tentu saja, ia belum terlalu rileks. Makanan dan pakaian yang dibawakan Esme untuknya sekarang sedang dihanyutkan arus sungai ke hilir. Bahkan setelah aku memakan bagianku—bukan karena aromanya begitu menggoda selera setelah jauh dari bau vampir yang menyengat hidung, tapi sebagai contoh bertoleransi yang baik untuk Leah—ia tetap menolak. Rusa kecil yang dimangsanya sekitar tengah hari tidak sepenuhnya membuat Leah puas. Sebaliknya malah merusak selera makannya, Leah benci makanan mentah.

Mungkin sebaiknya kita menyisir ke arah timur? Seth menyarankan. Masuk jauh ke dalam hutan, untuk mengecek apakah mereka menunggu di sana.

Itu juga terpikir olehku, aku sependapat. Tapi kita akan melakukannya kalau sudah benar-benar segar bugar. Aku tak ingin kewaspadaan kita hilang. Tapi kita harus melakukannya sebelum keluarga Cullen mencoba jalur itu. Tak lama lagi.

Baiklah.

Itu membuatku berpikir.

Kalau keluarga Cullen bisa keluar dari wilayah ini dengan aman, mereka benarbenar tak boleh kembali. Mungkin seharusnya mereka langsung pergi begitu kami datang memperingatkan mereka. Mereka pasti mampu memulai kehidupan di daerah lain. Dan mereka punya teman-teman di utara, bukan? Bawa Bella dan pergi dari sini. Sepertinya itu jawaban yang jelas bagi permasalahan mereka.

Mungkin seharusnya aku menyarankan itu, tapi aku takut mereka akan menuruti saranku. Padahal aku tak ingin kehilangan Bella—tidak pernah tahu apakah ia bisa melalui ini dengan selamat atau tidak.

Tidak, itu tolol. Akan kusuruh mereka pergi. Tak masuk akal bila mereka tetap di sini, dan akan lebih baik—walaupun lebih menyakitkan, tapi lebih sehat—bila Bella pergi saja.

Mudah mengatakannya sekarang, kalau Bella tidak ada di sana, terlihat gembira melihatku dan pada saat bersamaan sekarat…

Oh, aku sudah menanyakan hal itu pada Edward, pikir Seth, Apa?

Kutanya padanya mengapa mereka belum pergi juga. Pergi ke tempat Tanya atau apa. Ke tempat lain hingga Sam tidak bisa memburu mereka.

Aku harus mengingatkan diriku sendiri bahwa aku baru saja memutuskan akan memberi saran serupa pada keluarga Cullen. Bahwa itu yang terbaik. Jadi seharusnya aku tidak perlu marah kepada Seth karena mengambil tugas itu dariku. Tidak marah sama sekali.

Lantas, bagaimana tanggapannya? Apakah mereka menunggu kesempatan?

Bukan. Mereka tidak akan pergi.

Seharusnya itu tidak kuanggap sebagai kabar baik.

Mengapa tidak? Itu kan tolol.

Tidak juga, sergah Seth, nadanya defensif sekarang. Butuh waktu cukup panjang untuk membangun akses medis seperti yang dimiliki Carlisle di sini Semua yang ia butuhkan untuk merawat Bella tersedia di sini, juga fasilitas bila membutuhkan lebih. Itu salah satu alasan mereka ingin pergi berburu. Menurut Carlisle, sebentar lagi mereka kehabisan darah untuk Bella. Ia sudah menghabiskan semua persediaan darah O negatif yang mereka simpan untuknya. Ia tidak mau kehabisan. Ia akan membeli lagi persediaan darah baru. Tahukah kau ternyata kau bisa membeli darah? Bisa kalau kau dokter.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.