Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Dia datang mencarimu,” kata Edward waktu aku berdiri. “Dan Esme berhasil memaksanya tinggal untuk menikmati sarapan.”

Seth melihat ekspresiku dan buru-buru menjelaskan. “Yeah, Jake—aku hanya mengecek untuk melihat apakah kau baik-baik saja, karena kau tidak kunjung berubah wujud. Leah sampai khawatir. Aku sudah bilang padanya kau mungkin ketiduran sebagai manusia, tapi kau tahu sendirilah bagaimana dia. Lalu mereka menyuguhkan semua makanan ini dan, ya ampun,”—ia berpaling pada Edward—”man, kau benar-benar pintar masak”

“Terima kasih,” gumam Edward.

Aku menarik napas pelan-pelan, berusaha membuka rahangku yang rerkatup keras. Aku tak mampu mengalihkan pandangan dari lengan Seth.

“Bella kedinginan,” Edward cepat-cepat menerangkan.

Benar. Itu toh bukan urusanku. Bella bukan milikku.

Seth mendengar komentar Edward, melihat wajahku, dan tiba-tiba ia membutuhkan kedua tangan untuk makan. Ia melepaskan lengannya dari Bella dan langsung menyendok makanan. Aku berjalan dan berdiri beberapa meter dari sofa, masih berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan sekelilingku.

“Leah berpatroli?” tanyaku pada Seth. Suaraku masih parau sehabis tidur.

“Yeah,” jawabnya sambil terus mengunyah. Seth juga mengenakan baju baru. Bajunya lebih pas daripada aku. “Dia sedang patroli. Jangan khawatir. Dia akan melolong kalau ada apa-apa. Kami tadi berganti giliran sekitar tengah malam. Aku berlari selama dua belas jam,” Ia bangga, dan itu kentara sekali dalam suaranya.

“Tengah malam? Tunggu sebentar—memangnya sekarang jam berapa?”

“Sekitar fajar.” Ia melirik jendela, mengecek.

Well, brengsek. Ternyata aku tidur sepanjang hari dan sepanjang malam— meringkuk seperti bola. “Sial, Maaf soal itu, Seth. Sungguh. Seharusnya kautendang saja aku sampai terbangun.”

“Tidak, man, kau benar-benar butuh tidur. Kau kan belum istirahat sejak kapan? Malam sebelum patroli terakhirmu untuk Sam? Kira-kira empat puluh jam? Lima puluh? Kau bukan mesin, Jake. Lagi pula, kau tidak ketinggalan apa-apa kok.”

Tidak ketinggalan apa-apa? Dengan cepat kulirik Bella. Rona wajahnya sudah kembali seperti yang kuingat dulu. Pucat, tapi dengan semburat merah muda di baliknya. Bibirnya kembali pink. Bahkan rambutnya terlihat lebih sehat—lebih mengilat. Ia melihatku menilainya dan menyeringai.

“Bagaimana rusukmu?” tanyaku.

“Sudah dibebat dengan kuat. Aku bahkan tidak merasakannya.”

Aku memutar bola mataku. Kudengar Edward mengertak-kan giginya, dan aku merasa sikap Bella yang sok menganggap sepele kesulitan yang dialaminya mengganggu Edward juga.

“Sarapannya apa?” tanyaku, sedikit sarkastis. “O negatif atau AB positif?”

Bella menjulurkan lidahnya. Benar-benar sudah jadi dirinya lagi sekarang. “Omelet” tukasnya, tapi matanya melirik sekilas ke bawah, dan aku melihat cangkir darahnya dijepitkan di antara kakinya dan kaki Edward.

“Cepatlah sarapan, Jake,” kata Seth. “Ada banyak di dapur. Perutmu pasti keroncongan.”

Kuamati makanan di pangkuan Seth. Kelihatannya seperti setengah porsi omelet keju dan seperempat potong cinnamon roli seukuran piringan Frisbee. Perutku keroncongan, tapi aku mengabaikannya.

“Leah sarapan apa?” tanyaku pada Seth dengan nada mengkritik.

“Hei, aku mengantarkan makanan untuknya sebelum aku makan sesuatu’,’ ia membela diri. “Kata Leah, dia lebih suka makan bangkai binatang yang mati terlindas mobil, tapi taruhan, dia pasti akhirnya menyerah juga. Cinnamon roli ini benar-benar…” Seth sampai tak bisa menggambarkannya.

‘Aku akan pergi berburu saja dengannya kalau begitu.”

Seth mendesah sementara aku berbalik untuk pergi.

“Tunggu sebentar, Jacob?”

Carlisle-iah yang berbicara, jadi waktu aku berbalik lagi, wajahku mungkin tidak sekurang ajar kalau yang memanggilku orang lain,

“Yeah?”

Carlisle mendekatiku sementara Esme menghilang ke ruangan lain. Ia berhenti beberapa meter dariku, hanya sedikit lebih jauh daripada jarak normal antara dua manusia yang sedang mengobrol. Aku menghargai upayanya memberiku ruang gerak.

“Omong-omong soal berburu,” Carlisle memulai dengan nada muram. “Itu akan menjadi masalah bagi keluargaku. Aku mengerti gencatan senjata kita yang lalu tidak bedaku saat ini, jadi aku membutuhkan saranmu. Apakah Sam akan memburu kami di luar garis batas yang kalian ciptakan? Kami tidak ingin mengambil risiko mencelakakan salah satu anggota keluargamu—atau kehilangan salah satu anggota keluarga kami. Seandainya kau berada dalam posisi kami, apa yang akan kaulakukan ?”

Aku berjengit, agak kaget, ketika Carlisle melontarkannya padaku seperti itu. Tahu apa aku soal menjadi vampir kaya? Tapi, memang benar, aku tahu bagaimana Sam.

“Memang berisiko,* jawabku, berusaha mengabaikan tatapan pihak-pihak lain yang menatapku dan hanya bicara dengan Carlisle. “Sam memang sudah lebih tenang, tapi aku sangat yakin bahwa menurut pendapatnya, kesepakatan itu masih berlaku. Bila dia menganggap suku, atau seseorang, berada dalam bahaya, dia tidak akan bertanya lebih dulu, kalau kau mengerti maksudku. Tapi dengan semua itu, prioritas utamanya tetap La Push. Jumlah mereka tidak cukup banyak untuk melindungi semua orang sekaligus mengirim tim pemburu yang cukup besar untuk dapat menghancurkan musuh. Jadi aku berani bertaruh, dia pasti lebih suka berada tak jauh dari rumah.”

Carlisle mengangguk khidmat.

“Jadi kurasa ada baiknya bila kalian pergi sekaligus, untuk berjaga-jaga. Dan mungkin sebaiknya kalian pergi pada siang hari, karena kami pasti mengira kalian pergi pada malam hari. Kebiasaan vampir. Kalian kan bisa bergerak cepat—jadi pergilah ke pegunungan dan berburu di tempat yang cukup jauh sehingga tak ada peluang bagi Sam untuk mengirim anak buahnya ke tempat yang terlalu jauh dari rumah.”

“Dan meninggalkan Bella sendirian, tanpa penjagaan?”

Aku mendengus. “Memangnya kami apa?”

Carlisle tertawa, namun sejurus kemudian wajahnya kembali serius. “Jacob, kau tak mungkin bertempur melawan saudara-saudaramu.”

Mataku mengejang. “Aku tidak mengatakan itu tidak akan sulit, tapi kalau mereka benar-benar datang untuk membunuh Bella—aku pasti bisa menghentikan mereka.”

Carlisle menggeleng cemas. “Tidak, maksudku bukan berarti kau… tidak mampu. Tapi itu bukan hal yang benar» Nuraniku tidak mengizinkannya.”

“Bukan nuranimu, Dok. Tapi nuraniku. Dan aku mampu menanggungnya.”

“Tidak, Jacob. Kami akan memastikan tindakan kami tidak membuatmu harus menanggung hal itu.” Ia mengerutkan kening dengan sikap berpikir-pikir. “Kami akan pergi tiga-tiga,” ia memutuskan. “Mungkin itu hal terbaik yang bisa kami lakukan.”

“Entahlah, Dok. Membagi kelompok menjadi dua bukanlah strategi terbaik.”

“Kami memiliki kemampuan ekstra yang akan membuat keadaan jadi berimbang. Kalau ada Edward dalam kelompok itu, dia akan bisa memberi kami beberapa kilometer radius yang aman.”

Kami sama-sama melirik Edward. Ekspresinya membuat Carlisle cepat-cepat mengoreksi perkataannya.

“Aku yakin ada beberapa jalan lain juga,” kata Carlisle. Jelas tak ada kebutuhan fisik yang cukup kuat untuk membuat Edward mau berada jauh-jauh dari Bella. “Alice, menurutku kau pasti bisa melihat rute-rute mana yang berbahaya?”

“Rute-rute yang tidak kelihatan dalam pikiranku” jawab Alice, menganggukangguk. “Gampang.”

Edward, yang tegang mendengar rencana pertama Carlisle tadi, mengendur*. Bella menatap Alice dengan sikap tidak senang, kerutan di antara matanya muncul bila ia merasa tertekan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.