Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Tunggu,” cegahku, mencengkeram pundaknya dan merapatkan tubuhku. “Dengan berlatih, semua akan sempurna,”

Edward terkekeh. “Well, seharusnya sekarang kita sudah sempurna, bukan? Apa kau pernah tidur selama bulan lalu?”

“Tapi ini latihan terakhir,” aku mengingatkan dia, “padahal kita baru melatih beberapa adegan. Sekarang bukan saatnya untuk ‘bermain aman.”

Kusangka Edward bakal tertawa, tapi ia tidak menyahut, tubuhnya bergeming oleh perasaan tertekan yang tiba-tiba menyergap. Warna emas di matanya seolah mengeras, dari cair menjadi padat.

Aku memikirkan kata-kataku, menyadari apa yang mungkin ia dengar di dalamnya.

“Bella…,” bisiknya,

“Jangan mulai lagi,” tukasku. “Kesepakatan adalah kesepakatan.”

“Entahlah. Terlalu sulit berkonsentrasi bila kau bersamaku seperti ini. Aku—aku tidak bisa berpikir jernih. Aku takkan bisa menguasai diri. Kau bisa terluka.”

“Aku akan baik-baik saja,”

“Bella…”

“Ssstt!” Aku menempelkan bibirku ke bibirnya untuk menghentikan serangan paniknya. Aku sudah pernah mendengar ini sebelumnya. Ia tidak boleh berkelit dari kesepakatan kami. Tidak setelah ia bersikeras agar aku menikah dulu dengannya,

Edward menciumku sejenak, tapi aku tahu pikirannya tak sepenuhnya tertuju ke sana lagi. Khawatir, selalu khawatir. Betapa akan sangat berbeda bila ia tidak perlu mengkhawatir-kanku lagi. Apa yang akan dilakukan Edward di waktu senggangnya? Ia harus mencari hobi baru.

“Bagaimana kakimu?” tanyanya.

Tahu yang ia maksud sebenarnya adalah perasaanku, aku menjawab, “Panas membara.”

“Sungguh? Tak ada keraguan? Sekarang belum terlambat untuk berubah pikiran.”

“Kau berusaha mencampakkanku, ya?”

Edward terkekeh. “Hanya memastikan. Aku tidak mau kau melakukan hal-hal yang tidak kauyakini.”

“Aku yakin tentang kau. Yang lain-lain bisa kulalui.”

Edward ragu-ragu, dan aku bertanya-tanya dalam hati apakah aku salah omong lagi.

“Apakah kau bisa?” tanyanya pelan. “Maksudku bukan pernikahannya—itu sih aku yakin pasti bisa kaulalui dengan baik walaupun kau gelisah memikirkannya—tapi sesudahnya… bagaimana dengan Renée, bagaimana dengan Charlie?”

Aku menghela napas. “Aku akan merindukan mereka.” Lebih parahnya lagi, mereka pasti akan rindu padaku, tapi aku tak ingin semakin menyulut kekhawatiran Edward.

“Angela, Ben, Jessica, dan Mike juga.”

“Aku juga akan merindukan teman-temanku.” Aku tersenyum dalam gelap. “Terutama Mike. Oh, Mike! Bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku?”

Edward menggeram.

Aku tertawa tapi kemudian berubah serius. “Edward, kita sudah berkali-kali membicarakan ini. Aku tahu pasti sulit, tapi inilah yang kuinginkan. Aku menginginkanmu, dan aku menginginkanmu selamanya. Seumur hidup saja tidak cukup bagiku.”

“Membeku selamanya di usia delapan belas,” bisik Edward.

“Itu impian setiap wanita,” godaku.

“Tidak pernah berubah… tidak pernah bergerak maju.”

“Apa artinya itu?”

Edward menjawab lambat-lambat. “Ingatkah kau waktu kita memberitahu Charlie bahwa kita akan menikah? Dan dia mengira kau… hamil?”

“Dan dia sempat berniat menembakmu,” tebakku sambil tertawa, “Akuilah— walaupun hanya sedetik, dia pasti sempat mempertimbangkannya.”

Edward tidak menyahut.

“Apa, Edward?”

“Aku hanya berharap… well, aku berharap kalau saja dia benar.”

“Hah?” aku terkesiap,

“Bukan sekadar kalau saja, malah. Tapi bahwa kita bisa memiliki keturunan. Aku tak suka merampas kemungkinan itu darimu.”

Aku terdiam beberapa saat. “Aku tahu apa yang kulakukan.”

“Bagaimana kau bisa mengetahuinya, Bella? Lihat ibuku, lihat adik-adik perempuanku. Pengorbanan itu tak semudah yang kaubayangkan.”

“Esme dan Rosalie toh baik-baik saja. Kalaupun kelak itu jadi masalah, kita bisa melakukan seperti yang dilakukan Esme—mengadopsi.”

Edward menghela napas, kemudian suaranya berapi-api. “Itu tidak benar! Aku tak mau kau berkorban untukku. Aku ingin memberimu banyak hal, bukan malah mengambilnya darimu. Aku tidak mau mencuri masa depanmu. Seandainya aku manusia…”

Kubekap bibirnya dengan tanganku. “Kaulah masa depanku. Sekarang hentikan. Jangan muram lagi, atau kupanggil saudara-saudaramu untuk datang dan menjemputmu. Mungkin kau memang membutuhkan pesta bujangan.”

“Maafkan aku. Aku memang bermuram durja, ya? Pasti karena gugup,”

“Kau gugup karena akan menikah?”

“Bukan gugup seperti itu. Aku sudah menunggu selama seabad untuk menikahimu, Miss Swan. Aku sudah tak sabar lagi menunggu upacara pernikahan—” Edward mendadak menghentikan kata-katanya. “Oh, demi semua yang kudus!”

“Ada apa?”

Edward mengertakkan giginya. “Kau tidak perlu memanggil saudara-saudaraku. Rupanya Emmett dan Jasper takkan membiarkanku mangkir malam ini.”

Kupeluk tubuhnya lebih erat lagi selama satu detik, kemudian kulepaskan. Aku tidak bakal bisa melawan keinginan Emmett. “Selamat bersenang-senang.”

Terdengar deritan di jendela—ada orang yang sengaja menggoreskan kuku mereka yang sekeras baja di kaca agar timbul suara berderit yang menegakkan bulu kuduk. Aku bergidik.

“Kalau kau tidak juga menyuruh Edward keluar,” Emmett— masih tidak terlihat dalam gelap—mendesis dengan nada mengancam, “kami akan masuk dan menjemputnya!”

“Pergilah,” aku tertawa. “Sebelum mereka menghancurkan rumahku.”

Edward memutar bola matanya, tapi bangkit berdiri dalam satu gerakan luwes, dan dengan cekatan mengenakan kembali kemejanya. Ia membungkuk dan mengecup keningku.

“Tidurlah. Besok hari besar.”

“Trims! Kata-katamu jelas membuat perasaanku semakin tenang,”

“Sampai ketemu di depan altar.”

“Aku akan mengenakan gaun putih” Aku tersenyum karena kata-kataku terdengar sangat klise.

Edward terkekeh, menimpali, “Sangat meyakinkan’* Kemudian ia merunduk siap melompat, otot-ototnya meregang seperti per. Ia lenyap—melompat keluar dari jendelaku dengan gerakan sangat cepat hingga mataku tak sanggup mengikuti.

Di luar terdengar suara berdebum pelan, dan aku mendengar Emmett memaki.

“Awas, jangan membuatnya terlambat,” bisikku, tahu mereka bisa mendengar.

Kemudian wajah Jasper mengintip di jendelaku, rambutnya yang berwarna madu tampak keperakan tertimpa cahaya lemah bulan yang terhalang awan.

“Jangan khawatir, Bella. Kami akan membawa Edward pulang jauh sebelum waktunya.”

Tiba-tiba saja aku merasa tenang, dan semua kegelisahanku terasa tidak penting. Jasper, dengan caranya sendiri, sama ber-bakatnya dengan Alice dengan prediksiprediksinya yang sangat akurat. Medium Jasper adalah suasana hati, bukan masa depan, dan mustahil bisa menolak merasakan apa yang ia ingin agar kaurasakan.

Aku duduk dengan canggung, masih terbelit selimutku. “Jasper? Apa yang dilakukan vampir dalam pesta bujangan? Kau kan tidak membawanya ke kelab tari telanjang, kan?”

“Jangan beritahu dia!” geram Emmett dari bawah. Terdengar suara berdebam lagi, dan Edward tertawa pelan.

“Tenanglah,” kata Jasper—dan aku langsung merasa tenang, “Kami keluarga Cullen memiliki versi sendiri. Paling-paling hanya beberapa singa gunung, atau satu-dua ekor beruang grizzly. Hampir seperti malam-malam biasanya.”

Aku penasaran apakah aku akan bisa bersikap begitu sombong tentang diet vampir “vegetarian” seperti itu. “Trims, Jasper.”

Jasper mengedipkan mata dan lenyap dari pandangan. Sunyi senyap di luar. Dengkur teredam Charlie menembus hnding.

Aku berbaring di bantal, sekarang mengantuk. Dari balik kelopak mataku yang berat, kupandangi dinding-dinding kamarku yang kecil, putih pucat dalam cahaya bulan.

Malam terakhirku di kamarku. Malam terakhirku sebagai Isabella Swan. Besok malam, aku akan menjadi Bella Cullen. Walaupun pernikahan ini bagaikan duri dalam daging, namun harus kuakui aku senang mendengarnya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.