Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Aku yakin itu”—terengah-engah—”tulang tusuk. Aduh. Ya. Di sini.” Ia menuding bagian kiri tubuhnya. ber,hati-hati untuk tidak menyentuhnya.

Makhluk itu sekarang mematahkan tulang-tulang Bella.

“Aku perlu melakukan rontgen. Siapa tahu ada serpihan-ser-pihan. Jangan sampai serpihan itu melukai organ tubuhmu.”

Bella menarik napas dalam-dalam. “Oke,”

Rosalie membantu Bella berdiri dengan hati-hati. Edward sepertinya ingin membantah, tapi Rosalie menyeringai memamerkan gigi-giginya pada Edward dan menggeram, “Aku sudah memegangi Bella.”

Jadi Bella sekarang sudah lebih kuat, tapi makhluk itu ternyata juga semakin kuat. Kalau yang satu kelaparan, yang lain juga kelaparan, begitu juga kalau yang satu mengalami kesembuhan. Tidak mungkin bisa menang kalau begini.

Si Pirang memapah Bella dengan cekatan menaiki tangga besar, diikuti Carlisle dan Edward di belakang, tak seorang pun peduli padaku yang berdiri terperangah di ambang pintu.

Jadi mereka punya bank darah dan peralatan rontgen di sini? Kurasa si dokter menggotong semua peralatan kedokterannya ke rumah.

Aku terlalu capek untuk mengikuti mereka, terlalu letih untuk bergerak. Aku menyandarkan diri ke dinding kemudian merosot ke lantai. Pintu masih terbuka, dan aku mengarahkan hidungku ke sana, bersyukur ada angin segar berembus masuk. Aku menyandarkan kepala ke ambang pintu dan mendengarkan.

Aku bisa mendengar suara mesin rontgen di lantai atas. Atau mungkin aku hanya berasumsi itu mesin rontgen. Kemudian suara langkah-langkah ringan menuruni tangga. Aku tidak mendongak untuk melihat vampir mana yang turun.

“Kau mau bantal?” tanya Alice padaku.

“Tidak,” gumamku. Kenapa sih mereka sok melayaniku seperti itu? Bikin merinding saja.

“Kelihatannya posisimu tidak nyaman,” ia mengamati.

“Memang tidak.”

“Mengapa tidak pindah saja kalau begitu?”

“Capek. Mengapa kau tidak berada di atas bersama yang lain?” bentakku.

“Pusing,” jawab Alice.

Aku berpaling untuk mengamatinya.

Alice kecil mungil. Kira-kira hanya setinggi lenganku. Ia bahkan terlihat lebih mungil lagi sekarang, duduk membungkuk seperti itu. Wajahnya yang mungil berkerut.

“Memangnya vampir bisa sakit kepala?”

“Vampir normal tidak.”

Aku mendengus. Mana ada vampir normal.

“Bagaimana ceritanya kau sekarang tidak pernah bersama Bella lagi?” tanyaku, membuat pertanyaan itu menjadi tuduhan. Itu tak terpikirkan olehku sebelumnya, karena kepalaku disibukkan hal-hal lain, tapi aneh melihat Alice tak pernah berada di dekat Bella lagi, tidak sejak aku datang ke sini. Mungkin kalau ada Alice di sisi Bella, Rosalie takkan mendampinginya. “Padahal kukira kalian berdua seperti ini.” Aku mengaitkan dua jari menjadi satu.

“Seperti kataku tadi”—Alice meringkuk di lantai beberapa meter dariku, melingkarkan kedua lengannya yang kurus di lututnya yang kurus—”pusing.”

“Jadi gara-gara Bella, kau pusing?”

“Ya.”

Keningku berkerut. Pasti aku terlalu lelah untuk berteka-teki. Kubiarkan kepalaku berpaling lagi ke arah udara segar dan memejamkan mata.

“Bukan Bella, sebenarnya” koreksi Alice. “Tapi… janinnya.”

Ah, ternyata ada juga yang merasa seperti aku. Mudah saja mengenalinya. Alice mengucapkan kata itu dengan ragu, seperti Edward.

“Aku tidak bisa melihatnya,” kata Alice, sekaligus menujukan perkataan itu pada dirinya sendiri. Sepertinya ia menganggapku sudah tidak ada. “Aku tidak bisa melihat apaapa mengenainya. Sama seperti kau.”

Aku tersentak, kemudian kukatupkan rahangku kuat-kuat. Aku tak suka dibandingbandingkan dengan makhluk itu.

“Bella juga menghalangi. Dia begitu melindungi janin itu, jadi dia juga… kabur. Seperti siaran televisi yang kabur dan tak bisa ditangkap—seperti berusaha memfokuskan matamu pada gambar kabur orang-orang yang bergerak-gerak di layar. Kepalaku pusing melihatnya. Dan aku memang tidak bisa melihat lebih daripada beberapa menit saja. Janin itu… menjadi bagian yang terlalu banyak dari masa depan Bella. Begitu Bella pertama kali memutuskan… begitu ia tahu ia menginginkannya, ia langsung terlihat kabur dalam pandanganku. Membuatku ketakutan setengah mati.”

Alice terdiam sebentar, kemudian menambahkan, “Harus kuakui, lega rasanya ada kau di dekatku—walaupun baumu seperti anjing basah. Semuanya lenyap. Seperti memejamkan mata. Sakit kepalaku juga berkurang.”

“Senang bisa membantu, Ma’am,” gumamku.

“Aku jadi penasaran, apa persamaan makhluk itu denganmu… mengapa kalian sama dalam hal itu.”

Rasa panas mendadak muncul di pusat tulang-tulangku. Aku mengepalkan tangan kuat-kuat untuk menahan getaran.

“Aku tidak punya persamaan apa-apa dengan bangsat pengisap darah itu,” sergahku dengan gigi terkatup rapat. “Well, pasti ada sesuatu yang sama”

Aku tidak menanggapi. Rasa panas itu sudah lenyap. Aku terlalu kelelahan untuk berlama-lama marah.

“Kau tidak keberatan aku duduk di sini di dekatmu, kan?” tanya Alice.

“Kurasa tidak. Memang di sini bau sih.”

“Trims,” sahut Alice, “Ini yang terbaik, kurasa, karena aku kan tidak bisa minum obat sakit kepala.”

“Bisa tolong diam? Aku sedang mencoba tidur nih.”

Alice tidak menyahut, seketika itu juga langsung terdiam. Dalam beberapa detik aku sudah terlelap.

Aku bermimpi sangat kehausan. Dan di hadapanku ada segelas besar air—air yang dingin sekali, kelihatan dari kondensasi di permukaan gelas. Kusambar gelas itu dan kutenggak isinya banyak-banyak, tapi dengan segera aku tahu ternyata isinya bukan air— melainkan cairan pemurih. Aku tersedak dan menyemburkannya kembali, memuncratkannya ke mana-mana, bahkan ada yang muncrat dari hidungku. Rasanya panas membakar. Hidungku terbakar…

Rasa sakit di hidungku membangunkanku dan membuatku langsung ingat di mana aku tertidur tadi. Baunya sangat menyengat, padahal hidungku saat itu tidak berada di dalam rumah. Ugh. Dan berisik sekali. Ada yang re r rawa terlalu keras. Tawa yang familier, tapi tidak cocok dengan bau menyengat itu. Tidak pada tempatnya.

Aku mengerang dan membuka mata. Langit abu-abu muram—hari masih terang, tapi aku tidak tahu jam berapa. Mungkin mendekati waktu matahari terbenam—situasinya sangat gelap.

“Untunglah,” gumam si Pirang, tak jauh dari situ; “Bosan juga terus-terusan mendengar tiruan suara gergaji listrik.”

Aku berguling dan mengangkat tubuhku dalam posisi duduk, menyadari dari mana bau itu berasal. Ada yang menyurukkan bantal bulu besar di bawah wajahku. Mungkin maksudnya baik, kurasa. Kecuali kalau yang melakukannya Rosalie.

Begitu kepalaku terangkat dari bulu-bulu bau itu, aku menangkap bau-bau lain. Seperti hacon dan kayu manis, bercampur bau vampir.

Aku mengerjapkan mata, melayangkannya ke seantero ruangan.

Keadaan tak banyak berubah, kecuali sekarang Bella duduk di tengah-tengah sofa, infusnya sudah dilepas» Si Pirang duduk di dekat kakinya, kepalanya bersandar ke lutut Bella. Sampai sekarang aku masih merinding melihar betapa kasual-nya mereka saling bersentuhan, walaupun kurasa itu pasti tanpa pikiran apa-apa, kalau mengingat kondisinya. Edward duduk di samping Bella, memegang tangannya. Alice juga duduk di lantai, seperti Rosalie. Wajahnya tidak berkerut lagi sekarang. Dan mudah saja melihat sebabnya—ia sudah mendapatkan obat penawar sakit yang lain,

“Hei, Jake sudah bangun!” seru Seth.

Seth juga duduk di samping Bella, di sisi lain, lengannya disampirkan santai di bahu Bella, dengan piring penuh makanan di pangkuan, Apa-apaan ini?

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.