Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Bella tidak mendengarku datang. Ia baru mendongak waktu Edward mendongak, kemudian ia juga tersenyum. Dengan penuh energi, seluruh wajahnya berseri-seri. Aku tak ingat kapan terakhir kali ia tampak begitu senang melihatku.

Kenapa sih Bella? Ya ampun, ia kan sudah menikahi Pernikahannya bahagia pula —tidak diragukan lagi cintanya pada sang vampir telah melampaui batas-batas kewarasan. Apalagi sekarang ia sedang hamil besar.

Jadi mengapa ia harus segirang itu melihatku? Seakan-akan aku memberinya kebahagiaan besar hanya dengan berjalan memasuki pintu.

Kalau saja ia tidak peduli padaku… atau lebih daripada itu—benar-benar tidak menginginkan keberadaanku. Akan jauh lebih mudah bagiku menjauhi Bella.

Sepertinya Edward sependapat dengan jalan pikiranku— gila memang, tapi belakangan pikiran kami seolah-olah berada dalam frekuensi yang sama. Keningnya sekarang berkerut, membaca wajah Bella yang berseri-seri melihatku.

“Mereka hanya ingin bicara,” gumamku, suaraku lambat oleh perasaan letih. “Tak ada tanda-tanda penyerangan,”

“Ya,” jawab Edward, “Aku mendengar sebagian besar di antaranya.”

Itu membuatku sedikit tergugah. Padahal jarak di antara kami tadi hampir lima kilometer. “Bagaimana?”

“Aku mendengarmu lebih jelas—itu masalah familieritas dan konsentrasi. Juga, pikiran-pikiranmu sedikit lebih mudah didengar bila kau berwujud manusia. Jadi aku menangkap sebagian besar isi percakapan di luar sana tadi.”

“Oh.” Aku agak sebal mendengarnya, entah apa alasannya, tapi aku mengenyahkan perasaan itu. “Bagus. Aku tidak suka kalau harus mengulang-ulang cetita.”

“Sebenarnya aku ingin menyuruhmu tidur,” kata Bella, “tapi dugaanku, enam detik lagi kau toh akan ambruk juga ke lanrai, jadi percuma saja.”

Luar biasa betapa jauh lebih baiknya suara Bella sekarang, betapa lebih kuat ia kini. Aku mencium bau darah segar dan melihat cangkir di tangannya. Betapa banyak darah yang ia butuhkan untuk bertahan! Apakah pada saatnya nanti mereka terpaksa harus mulai merambah ke para tetangga?

Aku berjalan menuju pintu, menghitung detik demi detik untuk menanggapi perkataan Bella tadi sambil berjalan. “Satu Mississippi… dua Mississippi…”

“Di mana banjirnya, anjing?” gerutu Rosalie.

“Tahukah kau bagaimana menenggelamkan cewek berambut pirang, Rosalie?” tanyaku tanpa berhenti ataupun berpaling padanya. “Tempelkan saja cermin ke dasar kolam.”

Aku mendengar Edward terkekeh saat aku menutup pintu rapat-rapat. Suasana hatinya tampaknya berbanding lurus dengan kondisi kesehatan Bella.

“Aku sudah pernah dengar lelucon itu,” seru Rosalie.

Aku tersaruk-saruk menuruni tangga, tujuanku satu-satunya adalah menyeret tubuhku cukup jauh memasuki hutan tempat udara akan kembali murni. Aku berniat melepas pakaian ini kalau sudah cukup jauh dari rumah untuk kupakai lagi nanti, tidak mengikatkannya ke kakiku, supaya aku tidak berbau seperti mereka juga. Sementara tanganku berkutat membuka kancing-kancing kemeja baruku, pikiran ngawur muncul dalam otakku, tentang bagaimana baju berkancing bukan model yang cocok untuk dipakai werewolf.

Aku mendengar suara-suara saat menyeret kakiku melintasi halaman,

“Mau ke mana kau?” tanya Bella.

“Aku lupa menyampaikan sesuatu padanya.”

“Biarkan Jacob tidur—itu kan bisa ditunda.”

Benar, please, biarkan Jacob tidur.

“Sebentar saja kok.”

Pelan-pelan aku berbalik. Edward sudah di luar pintu. Ekspresinya menyiratkan permintaan maaf ketika ia mendekatiku.

“Ya ampun, ada apa lagi sekarang?”

“Maaf” ujar Edward, kemudian ia ragu-ragu, seperti tak tahu bagaimana menyuarakan pikirannya.

Apa yang ada dalam pikiranmu, pembaca pikiran?

“Waktu kau bicara dengan delegasi Sam tadi,” kata Edward pelan, “aku mengulanginya kara demi kata untuk Carlisle, Esme, dan yang lain-lain. Mereka prihatin…”

“Dengar, kami takkan mengendurkan pengawasan. Kau ti-dak harus memercayai Sam seperti kami. Bagaimanapun kami tetap membuka mata lebar-lebar.”

“Tidak, tidak, Jacob. Bukan tentang itu. Kami percaya pada penilaianmu. Namun Esme merasa terganggu karena kesulitan yang dialami kawananmu. Dia memintaku bicara denganmu secara pribadi mengenainya.”

Perkataan Edward sungguh di luar dugaan. “Kesulitan?”

“Masalah gelandangan itu, terutama. Dia sangat kalut mengetahui kalian semua sangat… kekurangan”

Aku mendengus. Induk ayam vampir—aneh sekali. “Kami tegar kok. Katakan padanya agar tidak usah khawatir.”

“Dia tetap ingin melakukan apa yang bisa dia lakukan. Aku mendapat kesan Leah lebih suka tidak makan dalam wujud serigala?”

“Dan?” desakku.

“Well, kami kan punya makanan manusia di sini, Jacob. Sebagai kedok, dan, tentu saja, untuk kepentingan Bella juga. Jadi I^eah dipersilakan mengambil makanan apa saja yang dia suka di sini. Kalian semua juga.”

‘Akan kusampaikan padanya.”

“Leah benci pada kami.”

“Lantas?”

“Jadi tolong sampaikan padanya sedemikian rupa hingga dia mau mempertimbangkan tawaran ini, kalau kau tidak keberatan.”

“Aku akan berusaha semampuku.”

“Lalu masalah pakaian”

Aku menunduk, memandangi pakaian yang kukenakan. “Oh ya. Trims.” Mungkin tidak sopan kalau aku menyinggung tentang bau baju-baju yang sangat menyengat ini,

Edward tersenyum sedikit. “Well, kami juga bisa dengan mudah membantu menyediakan kebutuhan itu. Alice jarang membiarkan kami memakai baju yang sama dua kali. Jadi kami punya tumpukan pakaian baru yang memang akan disumbangkan, dan kurasa ukuran tubuh Leah hampir sama dengan Esme…”

“Aku tak tahu apa dia mau mengenakan pakaian bekas pengisap darah. Dia tidak sepraktis aku.”

“Aku yakin kau pasti bisa menawarkan bal itu padanya dengan cara paling baik. Begitu juga tawaran lain yang berkaitan dengan barang-barang lain yang mungkin akan kalian butuhkan, atau transportasi, atau hal-hal lain. Juga mandi, karena kalian lebih suka tidur di luar. Please… jangan menganggap kalian tidak punya rumah.”

Edward mengucapkan kalimat terakhir dengan lembut—tidak berusaha tenang kali ini, tapi dengan sedikit emosi nyata.

Aku menatapnya sebentar, mengerjap-ngerjapkan mata mengantuk. “Itu, eh, kalian baik sekali. Sampaikan pada Esme kami menghargai, eh, perhatian Esme itu. Tapi perbatasan bersinggungan dengan sungai di beberapa tempat, jadi kami masih bisa mandi kok, trims.”

“Tapi tolong tetap sampaikan tawaran itu.”

“Tentu, tentu.”

“Terima kasih.”

Aku berbalik memunggunginya, tapi langkahku langsung terhenti begitu mendengar jerit kesakitan lemah dari dalam rumah. Waktu aku menoleh, Edward sudah lenyap.

Ada apa lagi sekarang?

Aku mengikuti Edward, tersaruk-saruk seperti zombi. Sel-sel otakku juga tak sepenuhnya bekerja. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Ada yang tidak beres. Aku akan melihat apa itu. Tapi pasti aku takkan bisa melakukan apa-apa. Dan aku akan merasa semakin tidak enak.

Rasanya itu tidak bisa dihindari.

Aku masuk lagi ke rumah. Bella terengah-engah, meringkuk memegangi perutnya yang membuncit. Rosalie memeganginya sementara Edward, Carlisle, dan Esme berdiri mendampingi. Aku menangkap sekelebat bayangan di sudut mara; Alice berdiri di puncak tangga, menunduk memandangi ruangan dengan kedua tangan menempel di pelipis. Aneh —seolah-olah ia dilarang masuk ke ruangan itu.

“Tunggu sebentar, Carlisle,” erang Bella terengah-engah,

“Bella,” sergah dokter itu cemas, “aku mendengar suara berderak. Aku harus memeriksanya.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.