Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Astaga, mana mungkin ada orang yang tahan hidup ber sama Edward? Sayang sekali ia tidak bisa mendengar pikirmi Bella. Dengan begitu ia kan bisa membuat Bella jengkel setengah mati, dan akhirnya Bella akan muak padanya.

Edward terkekeh. Mata Bella langsung tertuju padanya, d.tn ia separo tersenyum melihat ekspresi geli di wajah Edward. Dugaanku, itu pasti karena ia sudah lama tidak melih.u Edward tertawa.

“Ada yang lucu?” desah Bella.

“Jacob,” jawab Edward.

Bella memandangku dengan senyum letih tersungging di wajahnya. “Jake memang lucu,” ia sependapat.

Hebat, sekarang aku yang jadi badut. “Bada bing” gumam ku dengan ekspresi mabuk.

Ia tersenyum, kemudian minum lagi dari cangkir. Aku tersentak waktu mendengar sedotan mengisap udara kosong, menimbulkan suara terisap yang nyaring.

“Berhasil,” seru Bella, terdengar gembira. Suaranya lebih jernih—parau, tapi bukan bisikan seperti tadi. “Kalau aku tidak memuntahkannya lagi, Carlisle, apakah kau akan mencabut siang-siang ini dari tubuhku?”

“Sesegera mungkin,” Carlisle berjanji. “Jujur saja, siang-siang itu memang tak banyak pengaruhnya ke tubuhmu sekarang.”

Dan semua bisa melihatnya—secangkir penuh darah manusia tadi membuat perbedaan yang benar-benar nyata. Wajah Bella kembali berseri—ada semburat warna pink di pipinya yang pucat. Malah sekarang sepertinya ia tak perlu lagi dipegangi Rosalie. Tarikan napasnya lebih mudah, dan berani sumpah, menurutku detak jantungnya lebih kuat, lebih teratur.

Segala sesuatu berubah sangar cepat.

Bayangan harapan di mata Edward berubah menjadi nyata.

“Kau mau lagi?” desak Rosalie. Bahu Bella terkulai,

Edward melayangkan pandangan menegur ke arah Rosalie sebelum ia berbicara kepada Bella, “Kau tidak perlu langsung minum lagi.”

“Yeah, aku tahu. Tapi… aku memang ingin” Bella mengakui dengan muram.

Rosalie membelai rambur Bella yang lepek dengan jari-jarinya yang kurus dan tajam. “Kau tidak perlu malu tentang hal itu, Bella. Kau ngidam. Kami semua mengerti.” Nadanya menenangkan pada awalnya, tapi kemudian ia menambahkan dengan kasar, “Siapa pun yang tidak mengerti, tidak seharusnya berada di sini,”

Itu berarti aku, jelas, tapi aku takkan membiarkan diriku Terpancing si Pirang. Aku senang Bella merasa lebih sehat. Memangnya kenapa kalau itu membuatku jijik? Aku roh tidak berkomentar apa-apa.

Carlisle mengambil cangkir itu dari tangan Bella. “Tunggu sebentar.”

Bella memandangiku sementara Carlisle pergi.

“Jake, kau kelihatan berantakan,” kata Bella parau.’,

“Kau tidak lebih baik.”

“Serius—kapan rerakhir kali kau tidur?”

Aku memikirkan pertanyaan itu sebentar. “Hah. Kayaknya aku tidak ingat,”

“Aduh, Jake. Sekarang aku mengacaukan kesehatanmu. Jangan toloL”

Aku menggertakkan gigiku. Bella boleh bunuh diri demi monster, tapi aku tidak boleh melewatkan tidur beberapa malam saja untuk melihatnya melakukannya?

“Istirahatlah, -please? sambung Bella, “Di atas ada beberapa tempat tidur—kau boleh memakai yang mana saja,”

Ekspresi Rosalie mengindikasikan aku tidak diharapkan menggunakan ranjang tertentu. Membuatku heran, untuk apa si Putri yang Tidak Pernah Tidur itu membutuhkan tempat tidur? Seposesif itukah dia terhadap barang-barang miliknya?

“Trims, Bells, tapi aku lebih suka tidur di tanah. Jauh dari bau, kau tahu sendirilah.”

Bella meringis. “Baiklah.”

Carlisle kembali, dan Bella mengulurkan tangan, menerima cangkir berisi darah secara sambil lalu, seperti sedang memikirkan hal lain. Dengan ekspresi tak acuh yang sama, ia mulai menyedot isinya.

Ia benar-benar tampak lebih sehat. Ia menarik tubuhnya ke depan, berhati-hati untuk tidak membuat siang-siang terbelit, dan bangkit untuk duduk, Rosalie berdiri terus di dekatnya, kedua tangan siap menangkap Bella kalau ia terkulai, ‘lapi Bella tidak membutuhkannya-Sambil menarik napas dalam-dalam di antara menelan, Bella dengan cepat menghabiskan isi cangkir kedua,

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Carlisle.

“Tidak mual. Agak lapar,,, hanya saja aku tak yakin apakah aku lapar atau haus, kau mengerti, kan?”

“Carlisle, lihat saja Bella,” gumam Rosalie, terlihat puas seperti kucing yang berhasil menerkam burung. “Jelas inilah yang diinginkan tubuhnya. Sebaiknya dia minum lagi,”

“Dia masih manusia, Rosalie. Dia juga membutuhkan makanan. Kita tunggu dulu sebentar untuk melihat pengaruhnya pada tubuhnya, kemudian mungkin kita bisa mencoba sedikit makanan lagi. Ada makanan tertentu yang ingin kaumakan, Bella?”

“Telur,” jawab Bella langsung, kemudian ia bertukar pandang dengan Edward dan tersenyum padanya. Senyum Edward rapuh, tapi ada sedikit sinar di wajahnya sekarang.

Aku mengerjap, dan nyaris lupa membuka mataku lagi.

“Jacob,” gumam Edward, “Kau benar-benar harus tidur. Seperti kata Bella tadi, kau dipersilakan memanfaatkan akomodasi yang ada di sini, walaupun mungkin kau lebih nyaman tidut di luar. Jangan khawatir mengenai apa pun—aku berjanji akan mencarimu kalau diperlukan.”

“Tentu, tentu,” gumamku. Sekarang setelah Bella kelihatannya mulai bisa bertahan setidaknya hingga beberapa jam lagi, aku bisa pergi dari sini. Pergi dan tidur melingkar di bawah pohon di suatu tempat… Cukup jauh sehingga bau itu tidak mengusikku lagi. Si pengisap darah akan membangunkanku kalau ada yang tidak beres. Setidaknya ia berutang itu padaku.

“Benar” Edward sependapat.

Aku mengangguk dan meletakkan tanganku di atas tangan Bella, Tangannya sedingin es. “Cepat sehat, ya,” pesanku,

“Trims, Jacob,” Bella membalikkan tangannya dan meremas tanganku. Aku merasakan cincin kawinnya yang tipis terpasang longgar di jarinya yang kurus.

“Ambilkan selimut untuknya atau apa,” gumamku sambil berbalik menuju pintu.

Belum lagi aku mencapai pintu keluar, dua lolongan mengoyak keheningan udara pagi. Tak salah lagi, ada nada mendesak dalam lolongan itu. Kali ini tidak mungkin keliru.

“Brengsek,” geramku, langsung menghambur keluar pintu. Aku melempar tubuhku dari teras, membiarkan panas mengoyak tubuhku yang sedang melompat tinggi di udara. Terdengar suara robekan nyaring saat celana pendekku terkoyak-koyak. Sial. Itu satusatunya bajuku yang masih tersisa. Sudahlah, tidak apa-apa. Aku mendarat mulus dan langsung berpacu ke barat.

Ada apa? teriakku dalam hati.

Ada yang datang, Seth menjawab. Setidaknya jumlahnya tiga.

Apakah mereka berpencar?

Aku akan kembali ke Seth dalam kecepatan cahaya, janji Leah. Aku bisa merasakan udara terpompa keluar-masuk paru-parunya saat ia memaksa dirinya berlari dalam kecepatan luar biasa. Hutan berkelebat di sekelilingnya. Sejauh ini tidak ada titik serangan lain.

Seth, jangan tantang mereka. Tunggu aku.

Mereka memperlambat lari Ugh—sangat tidak enak tidak bisa mendengar mereka. Kurasa… Apa?

Kurasa mereka berhenti. Menunggu anggota kawanan lain? Ssst, Kaurasakan itu?

Aku menyerap kesan-kesan yang diperoleh Seth, Pendar-pendar samar tanpa suara di udara. Ada yang berubah wujud? Rasanya begitu, Seth sependapat.

Leah melayang memasuki lapangan terbuka kecil tempat Seth menunggu. Ia mencengkeramkan kuku-kukunya ke tanah, berputar seperti mobil balap.

Aku sudah sampai, bro.

Mereka datang, kata Seth gugup. Pelan. Berjalan kaki.

Aku sudah hampir sampai, kataku pada mereka. Aku berusaha melayang seperti Leah, Sangat tidak enak terpisah dari Seth dan Leah jika bahaya lebih dekat ke mereka dibandingkan aku. Ini salah. Seharusnya aku bersama mereka, berdiri di antara mereka dan entah apa pun itu yang datang menghampiri.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.