Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Bella mengembuskan napas lemah. “Kurasa itu bukan hal baru, ya?”

“Tidak, memang tidak.”

“Kau tidak perlu tetap di sini dan menyaksikan,” kata Bella, nyaris mengucapkan kata-kata itu tanpa suara.

Aku bisa saja pergi. Mungkin itu ide bagus. Tapi kalau aku pergi, menilik kondisi Bella sekarang, bisa jadi aku kehilangan lima belas menit terakhir hidupnya.

“Aku tidak perlu ke mana-mana kok,” kataku, berusaha tidak memperdengarkan emosi apa pun. “Aku sedang tidak begitu tertarik menjadi serigala sejak Leah bergabung,”

“Leah?” Bella tersentak,

“Kau tidak memberitahu dia?” tanyaku pada Edward. Edward hanya mengangkat bahu tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Bella. Bisa kulihat itu bukan kabar yang terlalu menggembirakan bagi Edward, sesuatu yang tak ada gunanya diceritakan mengingat banyaknya peristiwa lebih pen ting yang sedang terjadi.

Bella tidak menganggap sepele kabar itu. Kelihatannya itu seperti kabar buruk baginya.

“Mengapa?” desah Bella.

Aku tidak ingin bercerita terlalu detail. “Agar bisa mengawasi Seth.”

“Tapi Leah benci pada kami,” bisik Bella.

Kami. Bagus sekali. Tapi kentara sekali Bella takut.

“Leah tidak akan mengganggu siapa-siapa.” Kecuali aku. “Dia bergabung dalam kawananku”—aku meringis saat mengucapkannya—’jadi dia menuruti perintahku.” Ugh.

Bella kelihatannya tidak yakin.

“Kau takut pada Leah, tapi malah berteman baik dengan si psikopat pirang itu?”

Terdengar desisan rendah dari lantai dua. Keren, ternyata Rosalie bisa mendengarku.

Bella mengerutkan kening padaku. “Jangan. Rose… mengerti.”

“Yeah,” gerutuku. “Dia mengerti kau bakal mati tapi dia tidak peduli, selama bisa mendapatkan bocah mutan ini dari-mu.”

“Jangan jahat begitu, Jacob,” bisiknya.

Kondisi Bella yang lemah membuatku tidak tega marah padanya. Jadi kucoba untuk tersenyum. “Kayak itu mungkin saja.”

Bella berusaha untuk tidak membalas senyumku, tapi akhirnya ia tidak berhasil; sudut-sudut bibirnya yang pucat terangkat.

Kemudian Carlisle dan si psikopat datang. Carlisle memegang cangkir putih di tangannya—lengkap dengan tutup dan sedotan yang bisa ditekuk. Oh—jangan yang bening, sekarang aku mengerti. Edward tidak ingin Bella berpikir yang tidak-tidak. Jadi bukan cangkir bening yang dipakai, dengan begitu kau sama sekali tidak bisa melihat isi cangkir itu. Tapi aku bisa mencium baunya.

Carlisle ragu-ragu, tangan yang memegang cangkir itu separo terulur. Bella mengamati Carlisle, wajahnya kembali terlihat takut,

“Kita bisa mencoba metode lain,” kata Carlisle pelan,

“Tidak,” bisik Bella. “Tidak, aku akan mencobanya dulu. Kita tidak punya waktu lagi…”

Awalnya kusangka Bella akhirnya mengerti dan mengkhawatirkan dirinya sendiri, tapi kemudian tangannya bergelar lemah di atas perutnya.

Bella mengulurkan tangan dan menerima cangkir itu dari Carlisle. Tangannya sedikit gemetar, dan aku bisa mendengar kecipak cairan di dalamnya. Ia berusaha menyangga tubuhnya dengan satu siku, tapi nyaris tak mampu mengangkat kepalanya. Sekelebat perasaan panas menjalari tulang punggungku melihat betapa cepatnya ia melemah hanya dalam waktu kurang dari satu hari.

Rosalie melingkarkan lengannya di bawah bahu Bella, menyangga kepalanya juga, seperti menyangga kepala bayi yang baru lahir. Si Pirang ternyata sangat tergila-gila pada bayi.

“Trims,” bisik Bella. Matanya memandang berkeliling sekilas pada kami. Masih cukup awas untuk merasa canggung. Kalau kondisinya sedang tidak terkuras, aku berani bertaruh pipinya pasti sudah memerah.

“Jangan pedulikan mereka,” gumam Rosalie,

Itu membuatku merasa kikuk. Seharusnya aku pergi tadi waktu disuruh Bella, Tempatku bukan di sini, menjadi bagian dari ini. Sempat terpikir olehku untuk kabur, tapi kemudian sadar itu hanya akan membuat keadaan lebih buruk bagi Bella—membuatnya semakin sulit untuk dituntaskan. Ia akan mengira aku terlalu jijik untuk tetap berada di sini. Walaupun itu nyaris benar.

Tetap saja. Meski aku tidak bakal mau dimintai pertanggungjawaban atas ide ini, aku juga tidak mau menggagalkannya.

Bella mengangkat cangkir ke wajahnya dan mengendus ujung sedotan. Ia tersentak, kemudian mengernyit,

“Bella, Sayang, kita bisa cari jalan lain yang lebih mudah,” kata Edward, mengulurkan tangan hendak meraih cangkir itu.

“Tutup hidung saja,” Rosalie mengusulkan. Ia menatap garang tangan Edward, seperti hendak menggigitnya. Aku berharap ia melakukannya. Taruhan, Edward tak mungkin diam saja diperlakukan seperti itu, dan aku pasti senang melihat si Pirang kehilangan sebelah tangannya.

“Tidak, bukan itu. Tapi.,,” Bella menarik napas dalam-dalam. “Baunya enak,” ia mengakui dengan suara kecil.

Susah payah aku menelan ludah, berjuang keras mengenyahkan ekspresi jijik dari wajahku,

“Baguslah kalau begitu,” kata Rosalie dengan nada menyemangati. “Itu berarti kita berada di jalur yang tepat. Cobalah.” Melihat ekspresi si Pirang, heran juga aku ia tidak lantas menari-nari kegirangan.

Bella menyurukkan sedotan ke sela-sela bibirnya, memejamkan mata rapat-rapat, dan mengernyitkan hidung. Aku bisa mendengar darah berkecipak lagi di dalam cangkir ketika tangannya gemetar. Ia menyesapnya sebentar, kemudian mengerang pelan dengan mata terpejam.

Edward dan aku melangkah maju bersamaan. Edward menyentuh wajah Bella. Aku mengepalkan kedua tanganku di belakang punggung.

“Bella, Sayang…”

“Aku baik-baik saja,” bisik Bella. Ia membuka mata dan mendongak menatap Edward. Ekspresinya… meminta maaf. Memohon. Takut. “Rasanya juga enak.”

Asam lambungku bergolak, terancam naik ke tenggorokan. Aku mengertakkan gigi.

“Baguslah kalau begitu,” ulang si Pirang, masih terpesona. “Pertanda bagus.”

Edward hanya menempelkan tangannya ke pipi Bella, melengkungkan jari-jarinya mengikuti bentuk tulang pipi Bella yang rapuh.

Bella mendesah dan menempelkan bibirnya lagi ke sedotan. Kali ini ia menyedot sepenuh hati. Tindakan itu sama sekali tidak menunjukkan kondisinya yang lemah. Seolaholah tindakannya diambil alih oleh insting.

“Bagaimana perutmu? Kau merasa mual?” tanya Carlisle.

Bella menggeleng, “Tidak, aku tidak merasa mual” bisiknya. “Itu yang pertama, ya?”

Rosalie berseri-seri, “Bagus sekali.”

“Kurasa sekarang masih terlalu dini untuk itu, Rose,” gumam Carlisle.

Bella menelan lagi seteguk darah. Kemudian ia melayangkan pandangan pada Edward. “Apakah ini mengacaukan jumlah totalku?” bisiknya. “Atau hitungan baru dimulai setelah aku jadi vampir?”

“Tidak ada yang menghitung, Bella. Soalnya tidak ada yang tewas dalam hal ini.” Edward menyunggingkan senyum datar. “Rekormu masih bersih.”

Aku sama sekali tak mengerti.

“Akan kujelaskan nanti,” kata Edward, sangat pelan hingg.i hanya menyerupai bisikan. “Apa?” bisik Bella.

“Hanya bicara pada diri sendiri,” dusta Edward luwes.

Kalau ia berhasil dengan idenya ini, kalau Bella hidup, Edward takkan bisa banyak berkutik bila indra Bella setajam indranya. Ia harus berusaha keras untuk selalu bersikap jujur.

Bibir Edward berkedut-kedut, menahan tawa» Bella mereguk lagi, memandang melewati kami ke jendela. Mungkin berpura-pura kami tak ada di sini. Atau mungkin hanya aku. Tak ada orang lain selain aku di sini yang merasa jijik pada apa yang ia lakukan. Justru sebaliknya—mereki mungkin sedang berusaha menahan diri sekuat tenaga untuk tidak merebut cangkir itu dari Bella. Edward memutar bola matanya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.