Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Mungkin aku hanya tak mampu menolak mendapatkan lagi asupan “obat”-ku yang semaian berkurang.

Bella berbaring telentang di ranjang rumah sakit, perutnya membuncit di balik selimut. Ia seperti lilin—pucat dan agak transparan. Orang yang melihatnya akan mengira ia sudah mati, seandainya dadanya tidak bergerak karena napasnya yang pendek-pendek. Juga matanya, yang mengikuti kami dengan sikap curiga dan letih.

Yang lain sudah berdiri di sampingnya, melesat melintasi ruangan dengan gerakan cepat dan tiba-tiba. Ngeri melihatnya. Aku melangkah lambat-lambat.

“Ada apa?” tuntut Bella, bisikannya parau. Tangannya yang seputih lilin bergerak —seolah-olah ia berusaha melindungi perutnya yang membuncit,

“Jacob mendapat ide yang mungkin bisa membantumu,” kata Carlisle, Dalam hati sebenarnya aku tak ingin Carlisle membawa-bawa namaku. Aku kan tidak mengusulkan apa-apa. Serahkan saja pujian itu pada suaminya yang pengisap darah itu. “Memang bukan sesuatu yang… menyenangkan, tapi…”

“Tapi itu akan membantu bayimu,” sela Rosalie penuh semangat. “Ada cara yang lebih baik untuk memberinya makan. Mungkin.”

Kelopak mata Bella menggeletar. Lalu ia membacukkan tawa lemah. “Tidak menyenangkan?” bisiknya. “Wah, perubahan besar kalau begitu.” Matanya mengawasi slang di lengannya dan terbatuk lagi.

Si Pirang ikut tertawa bersamanya*

Bella terlihat sangat kepayahan, seolah-olah ia hanya punya waktu beberapa jam lagi untuk hidup, dan bahwa ia pasti sangat menderita, tapi masih sempat-sempatnya ia bercanda. Sungguh klias Bella. Berusaha meredakan ketegangan, menenangkan hati semua orang.

Edward melangkah di samping Rosalie, wajahnya yang tegang tak menyiratkan canda sedikit pun. Aku senang melihatnya* Itu sedikit membantu perasaanku, bahwa ia lebih menderita daripada aku. Edward meraih tangan Bella, bukan tangan yang masih melindungi perutnya yang membuncit.

“Bella, Sayang, kami akan memintamu melakukan sesuatu yang mengerikan,” kata Edward, menggunakan istilah yang sama seperti yang ia ucapkan padaku tadi. “Menjijikkan.”

Well, paling tidak Edward mengatakannya apa adanya.

Bella menarik napas pendek dan bergetar. “Seberapa parah?”

Carlisle yang menjawab. “Kami pikir janin itu memiliki selera yang lebih mendekati kami daripada kau. Dugaan kami, dia haus.”

Bella mengerjap. “Oh. Oh”

“Kondisimu—kondisi kalian berdua—semakin memburuk dengan cepat. Kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu, mencari cara lain yang lebih beradab untuk melakukannya. Cara tercepat untuk mengetes teori itu…”

“Aku harus meminumnya” bisik Bella, Ia mengangguk sedikit—nyaris tak ada lagi tenaga tersisa untuk sekadar menganggukkan kepala. “Aku bisa melakukannya. Hitunghitung latihan untuk masa depan, bukan?” Bibirnya yang pucat tak berwarna mengembang membentuk senyum lemah saat ia memandang Edward. Edward tidak membalas senyumnya.

Rosalie mengetuk-ngetukkan jempol kakinya dengan sikap tak sabar. Suaranya sungguh menjengkelkan. Dalam hati aku bertanya-tanya apa yang akan ia lakukan seandainya aku melemparnya ke dinding sekarang juga.

“Jadi, siapa yang akan menangkapkan beruang grizzly untukku?” bisik Bella.

Carlisle dan Edward saling melirik cepat. Rosalie berhenti mengetuk-ngetukkan jari kakinya.

“Apa?” tanya Bella.

“Tesnya akan lebih efektif bila kita tidak mencoba-coba, Bella,” Carlisle menjelaskan.

“Kalau benar janin itu menginginkan darah,” Edward menjelaskan, “berarti bukan darah binatang yang dia inginkan.”

“Tak akan ada bedanya bagimu, Bella. Tidak usah dipikirkan,” Rosalie menguatkan.

Mata Bella membelalak. “Siapa?” desahnya, tatapannya tertuju padaku.

“Aku tidak datang ke sini untuk jadi donor, Bells,” gerutuku. “Lagi pula, kalau dia menginginkan darah manusia, kurasa darahku tidak seperti…”

“Kami punya persediaan darah,” Rosalie memberitahu Bella, menginterupsi sebelum aku selesai bicara, seakan-akan aku tak ada di sana, “Untukmu—untuk jaga-jaga. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Semua beres. Aku optimis, Bell j. Menurutku kondisi bayimu akan membaik.” Tangan Bella membelai perutnya.

“Well,” desahnya parau, nyaris tak terdengar. “Aku kelaparan, jadi aku yakin dia pasti juga kelaparan.” Lagi-lagi mencoba bercanda. “Ayo kita lakukan. Tindakan vampir pertamaku.”

13. UNTUNG AKU TIDAK MUDAH JIJIK

CARLISLE dan Rosalie langsung bergegas pergi, melesat ke lantai atas. Bisa kudengar mereka berdebat apakah perlu menghangatkan darah itu untuk Bella, Ugh. Aku jadi kepingin tahu, benda-benda horor apa lagi yang mereka simpan di sekitar sini. Kulkas penuh darah, ya. Apa lagi? Kamar penyiksaan? Ruang peti mati?

Edward tetap berdiri di tempatnya, menggenggam tangan Bella. Wajahnya kembali hampa. Sepertinya ia bahkan tidak punya tenaga untuk mempertahankan secercah harapan yang sempat muncul tadi. Mereka saling menatap, tapi bukan dengan tatapan mesra berlumur cinta. Seakan-akan mereka sedang berbicara. Agak mengingatkanku pada Sam dan Ernily.

Tidak, bukan mesra berlumur cinta, rapi itu malah membuatku semakin tak tahan melihatnya.

Aku jadi mengerti bagaimana perasaan Leah, harus menyaksikan hal itu setiap saat. Harus mendengarnya di kepala Sam. Tentu saja kami kasihan pada Leah, kami kan bukan monster—setidaknya dalam hal itu. Tapi kurasa kami menyalahkan caranya menangani hal itu. Menyemprot semua orang, berusaha membuat kami merana seperti dirinya.

Aku takkan pernah menyalahkan Leah lagi. Bagaimana orang bisa membantu menyebarkan kepedihan seperti ini? Bagaimana orang bisa tidak berusaha meringankan sebagian beban dengan menjejalkan sedikit kepedihan ini pada orang lain?

Dan kalau itu berarti aku harus punya kawanan, bagaimana aku bisa menyalahkan Leah karena merenggut kemerdekaanku? Aku juga akan melakukan hal yang sama. Seandainya ada jalan untuk melepaskan diri dari kepedihan ini, aku akan mengambilnya.

Sejurus kemudian Rosalie sudah kembali, melesat m| masuki ruangan seperti angin ribut, menyeruakkan bau tajam menusuk. Ia berhenti di dapur, dan aku mendengar derit pintu rak dibuka.

“Jangan yang bening, Rosalie,” gumam Edward. Ia memut.u bola matanya.

Bella tampak ingin tahu, tapi Edward hanya menggeleng padanya.

Rosalie melesat melintasi ruangan dan menghilang lagi,

“Jadi ini idemu?” Bella berbisik, suaranya parau saat ber usaha keras membuatnya terdengar cukup keras untuk biai kudengar. Lupa kalau aku bisa mendengar suaranya dengan baik. Sering kali aku senang Bella sepertinya lupa aku bukan sepenuhnya manusia. Aku beringsut mendekat, agar ia tidak perlu berusaha terlalu keras.

“Jangan salahkan aku. Vampirmu yang lancang mencuri dengar komentarkomentar sinis dari kepalaku.”

Bella tersenyum sedikit, “Aku tidak mengira akan melihatmu lagi.”

“Yeah, aku juga,” kataku.

Aneh rasanya hanya berdiri di sini, tapi vampir-vampir itu lelah menyingkirkan semua perabot untuk memberi tempat pada peralatan-peralatan medis. Aku membayangkan itu bukan masalah bagi mereka—tak ada bedanya kau duduk atau berdiri kalau kau batu. Sebenarnya itu juga bukan masalah bagiku, hanya saja saat ini aku benar-benar kelelahan.

“Edward menceritakan padaku apa yang terpaksa kaulakukan. Aku ikut prihatin.”

“Tidak apa-apa. Mungkin memang sudah waktunya aku memberontak, tidak mau melakukan apa yang diperintahkan Sam,” dustaku.

“Dan Seth” bisik Bella.

“Sebenarnya dia malah senang bisa membantu.”

“Aku tidak senang membuatmu terkena masalah” Aku tertawa—lebih menyerupai gonggongan daripada tawa.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.