Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Jarum?” gumamku. “Apa gunanya jarum?”

“Semakin banyak yang kuketahui tentang janin itu, semakin aku bisa memperkirakan apa saja yang bisa dilakukan,janin itu. Ingin benar aku mendapatkan sedikit saja contoh air ketuban. Seandainya aku bisa mengetahui jumlah kromosomnya…”

“Kau membuatku bingung, Dok. Kau bisa menjelaskannya secara lebih sederhana?”

Carlisle terkekeh—walaupun tawanya terdengar letih. “Baiklah. Sudah sejauh mana pelajaran biologimu? Sudah sampai ke bagian pasangan kromosom?”

“Sepertinya sudah. Jumlah kromosom kita 23, bukan?”

“Manusia memang memiliki 23 kromosom.”

Aku mengerjapkan mata. “Kalau kalian berapa?”

“Dua puluh lima.”

Sesaat aku mengerutkan kening memandangi tinjuku. “Apa artinya itu?”

“Menurutku itu berarti spesies kami hampir bisa dikatakan sangat berbeda dari manusia. Kurang memiliki kesamaan dibandingkan singa dan kucing. Tapi kehidupan baru ini— well, ternyata kita lebih kompatibel secara genetis daripada yang kuduga sebelumnya.” Carlisle mengembuskan napas sedih. “Aku tidak tahu sehingga tidak memperingatkan mereka.”

Aku juga ikut-ikutan mengembuskan napas. Mudah saja membenci Edward untuk keteledorannya. Aku masih membenci dia gara-gara ini. Tapi sulit merasakan hal yang sama tentang Carlisle. Mungkin karena aku tidak cemburu padanya.

“Mungkin akan membantu bila kita tahu jumlah kromosomnya—apakah janin itu lebih mendekati kami atau Bella. Jadi kita tahu apa yang kita harapkan. Kurasa aku hanya berharap ada sesuatu yang bisa dipelajari, pokoknya melakukan apa saja.”

“Aku jadi penasaran bagaimana kromosomku,” cetusku. Lagi-lagi aku berpikir rentang tes steroid yang dijalani para atlet Olimpiade, Apakah mereka juga melakukan pemeriksaan DNA?

Carlisle terbatuk-batuk dengan sikap kikuk. “Jumlah kromosommu 24 pasang, Jacob.”

Pelan-pelan aku menoleh dan menatapnya, mengangkat alisku.

Carlisle tampak malu, “Waktu itu aku… ingin tahu. Jadi sekalian saja kuperiksa jumlah kromosommu waktu aku merawatmu bulan Juni lalu.”

Aku berpikir sebentar. “Mungkin seharusnya itu membuatku marah. Tapi aku benar-benar tidak peduli,”

“Maafkan aku. Seharusnya aku meminta izin lebih dulu.”

“Tidak apa-apa, Dok, Kau tidak bermaksud buruk.”

“Tidak, aku jamin aku tidak bermaksud buruk. Hanya saja… aku mendapati spesiesmu sangat menarik. Kurasa karena aku sudah sangat terbiasa dengan elemenelemen vampir setelah menjalaninya beberapa abad. Perbedaan keluargamu dengan manusia biasa jauh lebih menarik. Hampir-hampir ajaib.”

“Abrakadabra” gerutuku. Carlisle jadi mirip Bella dengan semua omong kosongnya tentang keajaiban.

Lagi-lagi Carlisle mengumandangkan tawa letih.

Lalu kami mendengar suara Edward di dalam rumah, dan sama-sama terdiam untuk mendengarkan,

“Sebentar lagi aku kembali, Bella. Aku ingin bicara sebentar dengan Cadisle. Rosalie, kau tidak keberatan kan ikut dengan ku?” Suara Edward terdengar berbeda. Ada secercah semangat dalam suaranya yang hampa. Percikan sesuatu. Bukan harapan tepatnya, tapi mungkin keinginan untuk berharap.

“Ada apa, Edward?” tanya Bella parau.

“Tak ada yang perlu kaukhawatirkan, Sayang. Sebentar saja. Please, Rose?”

“Esme?” panggil Rosalie. “Bisa tolong jaga Bella sebentar?”

Aku mendengar bisikan angin saat Esme meluncur menuruni tangga.

“Tentu saja,” jawabnya.

Carlisle mengubah posisi duduk, membalikkan badan dan melihat dengan sikap penuh harap ke pintu. Edward keluar lebih dulu, Rosalie tepat di belakangnya. Wajahnya, seperti juga suaranya, tak lagi tampak hampa. Ia kini tampak sangat fokus. Rosalie terlihat curiga.

Edward menutup pintu di belakangnya.

“Ada apa, Edward?”

“Mungkin selama ini kita salah menanganinya. Aku mendengarkan percakapanmu dengan Jacob barusan, dan waktu kalian membicarakan.,, keinginan janin itu, Jacob memikirkan sesuatu yang menarik,”

Aku? Memangnya apa yang kupikirkan? Selain kebencianku pada makhluk itu? Setidaknya bukan hanya aku yang membencinya. Kentara sekali tidak mudah bagi Edward menggunakan istilah janin untuk makhluk itu,

“Kita belum pernah melakukan pendekatan dari sudut itu” lanjut Edward. “Selama ini kita berusaha memenuhi kebutuhan Bella. Dan tubuhnya tidak bisa menerima dengan baik. Mungkin seharusnya kita memerhatikan kebutuhan… janin itu lebih dulu. Mungkin kalau kita bisa memuaskannya, kita akan bisa membantu Bella dengan lebih efektif»’

“Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Edward” kata Carlisle.

“Pikirkan, Carlisle. Kalau makhluk itu lebih menyerupai vampir daripada manusia,

tak bisakah kau menebak apa yang dia inginkan—dan apa yang tidak dia dapatkan? Jacob langsung bisa mengetahuinya.”

Hah, aku? Kuputar kembali ingatanku tentang percakapan kami tadi, berusaha mengingat hal-hal yang tadi kupikirkan. Aku teringat nyaris bersamaan dengan Carlisle.

“Oh ” ucap Carlisle terkejut. “Menurutmu janin ini… haus?”

Rosalie mendesis pelan. Ia tidak curiga lagi. Wajah rupawannya yang memuakkan kontan berseri-seri, matanya membelalak penuh semangat, “Tentu saja,” gumamnya. “Carlisle, kita kan punya persediaan darah O negatif untuk Bella. Itu ide bagus,” imbuhnya, tanpa memandangku.

“Hrnm.” Carlisle memegang dagunya, hanyut dalam pikirannya sendiri. “Aku jadi penasaran… Kemudian, bagaimana cara terbaik untuk memberikannya,,.”

Rosalie menggeleng. “Kita tidak punya waktu untuk mencoba-coba. Saranku, kita langsung mulai saja dengan cara tradisional.”

“Tunggu sebentar.” bisikku. “Tunggu dulu sebentar. Maksudmu—menyuruh Bella minum darah?”

“Itu kan idemu, anjing,” sergah Rosalie, cemberut tanpa benar-benar memandangku.

Kuabaikan dia dan kutatap Carlisle. Bayangan harapan yang tadi kulihat di wajah Edward kini membayangi mata Carlisle. Ia mengerucutkan bibir, berspekulasi.

“Itu, kan…” aku tak mampu menemukan kata yang tepat.

“Mengerikan!” tanya Edward. “Menjijikkan?”

“Begitulah.”

“Tapi bagaimana kalau itu bisa menolongnya?” bisik Edward.

Aku menggeleng marah, “Apa yang akan kaulakukan, menyurukkan slang ke kerongkongannya?”

“Aku akan menanyakan pendapat Bella. Aku hanya ingin menyampaikannya dulu pada Carlisle.”

Rosalie mengangguk. “Kalau kaukatakan itu akan membantu bayinya, Bella pasti mau melakukan apa saja. Walaupun kita terpaksa memasukkannya melalui slang.”

Saat itulah aku sadar—waktu aku mendengar bagaimana suara Rosalie berubah jadi begitu lembut saat menyebut kata bayi—bahwa si Pirang itu akan mendukung tindakan apa saja yang membantu menyelamatkan si monster pengisap nyawa itu. Itukah yang sebenarnya sedang terjadi, faktor misteri yang menyatukan mereka? Rosalie mengincar bocah itu?

Dari sudut mata kulihat Edward mengangguk satu kali, secara sambil lalu, tanpa melihat ke arahku. Tapi aku tahu ia menjawab pertanyaanku.

Hah-Tak kukira sama sekali si Pirang yang sedingin es itu ternyata memiliki sisi keibuan juga. Ternyata ia bukan melindungi Bella—Rosalie mungkin akan dengan senang hati menyurukkan sendiri slang ke kerongkongan Bella.

Bibir Edward terkatup membentuk garis keras, dan aku tahu pikiranku ini benar.

“Well, kita tak punya waktu untuk duduk-duduk mendiskusikan hal ini,” sergah Rosalie tak sabar. “Apa pendapatmu, Carlisle? Bisakah kita mencobanya?”

Carlisle menarik napas dalam-dalam, kemudian berdiri. “Kita akan menanyakannya pada Bella.”

Si Pirang tersenyum menang—yakin bahwa, kalau pilihan diserahkan kepada Bella, ia pasti akan mendapatkan apa yang ia inginkan.

Kuseret kakiku dari tangga dan kuikuti mereka masuk ke rumah. Entah mengapa aku ikut. Mungkin karena ingin tahu. Rasanya seperti menonton film horor. Monster dan darah di mana-mana.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.