Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Seth berlari menyusuri jalan setapak baru yang terbentuk di tanah yang Iembap, Leah menatap kepergiannya dengan sikap berpikir.

Mungkin berkeWng satu-dua kali sebelum tidur… Hei. Seth, mau lihat berapa kali aku bisa menyusulmu? TIDAK!

Sambil menggonggongkan tawa rendah, Leah menerjang ke hutan, mengejar Seth,

Aku menggeram sia-sia. Hilang sudah peluangku mendapatkan kedamaian dan ketenangan.

Leah sudah berusaha—untuk ukuran Leah. Ia berpikir sesedikit mungkin saat berlari mengitari perbatasan, tapi mustahil mengabaikan suasana hatinya yang senang karena merasa menang. Terpikir olehku istilah “pikiran dua orang bisa menemanimu”. Itu tidak berlaku bagiku, karena satu saja menurutku sudah terlalu banyak. Tapi kalau memang kami harus bertiga, rasanya aku rela menukar Leah dengan siapa pun.

Paul? Leah menyarankan. Mungkin, balasku.

Leah tertawa sendiri, terlalu girang dan senang untuk merasa tersinggung. Dalam hati aku bertanya-tanya sampai kapan kegembiraannya karena berbasil melepaskan diri dari pc rasaan kasihan Sam ini akan bertahan.

Itu akan menjadi cita-citaku, kalau begitu—tidak lebih men jengkelkan daripada Paul.

Yeah, usahakan supaya bisa begitu.

Aku berubah wujud beberapa meter dari halaman. Sebenarnya aku tidak berniat menjadi manusia terlalu lama di sini. Tapi aku juga tak ingin Leah terus berada dalam pikiranku. Kukenakan celana pendekku yang compang-camping dan mulai berjalan melintasi halaman.

Pintu terbuka sebelum aku sampai di tangga, dan aku tet-kejut melihat Carlisle, bukan Edward, melangkah keluar menyambut kedatanganku—wajahnya tampak letih dan kalah. Sesaat jantungku membeku. Aku tergagap dan berhenti, tak mampu bicara.

“Kau baik-baik saja, Jacob?” ranya Carlisle.

“Apakah Bella baik-baik saja?” aku balas bertanya, suaraku tercekik.

“Dia… lebih-kurang sama seperti semalam. Aku mengaget-kanmu, ya? Maaf. Kata Edward kau datang dalam wujud manusia, jadi aku keluar untuk menyambutmu, karena Edward tidak ingin meninggalkan Bella. Dia sedang terjaga.”

Dan Edward tidak ingin membuang-buang waktunya bersama Bella, karena tidak banyak lagi waktu yang ia miliki. Carlisle tidak mengatakannya, tapi aku mengerti.

Sudah lama sekali aku tidak tidur—sejak sebelum aku melakukan patroli terakhir. Aku benar-benar mengantuk sekarang. Aku maju selangkah, duduk di tangga teras sambil bersandar pada birai tangga.

Bergerak nyaris tanpa suara seperti yang hanya bisa dilakukan vampir, Carlisle ikut duduk di tangga yang sama, bersandar pada birai yang lain.

“Aku belum sempat berterima kasih padamu semalam, Jacob. Kau tak tahu betapa aku sangat menghargai… belas kasihanmu. Aku tahu rujuanmu adalah untuk melindungi Bella, tapi aku berutang budi padamu untuk keselamatan seluruh keluargaku. Edward menceritakan padaku apa yang terpaksa kaulakukan…”

“Itu tidak perlu diungkit lagi,” gumamku.

“Kalau kau lebih suka begitu.”

Kami duduk berdiam diri. Aku bisa mendengar suara anggota keluarga yang lain di dalam rumah. Emmett, Alice, dan Jasper berbicara dengan suara pelan dan serius di lantai atas, Esmc berdendang tanpa nada di ruangan lain, Rosalic dan Edward bernapas di dekat situ—aku tidak bisa membedakannya, rapi aku bisa mendengar perbedaan dalam desah napas Bella yang kepayahan. Aku bisa mendengar detak jantungnya juga. Kedengarannya… tidak teratur.

Seolah-olah takdir membuatku melakukan semua yang pernah kukatakan takkan kulakukan hanya dalam 24 jam. Di sinilah aku sekarang, duduk berpangku tangan, menunggu Bella meninggal.

Aku tidak mau mendengarkan lagi. Lebih baik bicara daripada mendengarkan.

“Dia sudah kauanggap keluargamu?” tanyaku pada Carlisle. Perkataannya tadi menarik perhatianku, waktu ia mengatakan aku sudah membantu seluruh keluarganya juga.

“Ya. Bella sudah kuanggap anak perempuanku sendiri. Anak perempuan yang sangat kucintai.”

“Tapi kau membiarkannya mati.”

Carlisle terdiam lama sekali hingga aku merasa perlu mendongak. Wajahnya terlihat amat sangat letih. Aku tahu bagai mana perasaannya.

“Aku bisa membayangkan bagaimana penilaianmu terhadap ku dalam hal itu,” kata Carlisle akhirnya, “lapi aku tak bisa mengabaikan kehendak Bella. Tidak benar bila aku yang mc mutuskan itu baginya, memaksanya.”

Aku ingin marah padanya, tapi sulit sekali marah pada Carlisle. Rasanya dia melemparkan kembali kata-kataku kepadaku, hanya saja urutannya kacau. Perkataan itu kedengaran nya tepat sebelum ini, tapi sekarang tidak, Tidak dengan Bella dalam kondisi sekarat sekarang ini. Meski begitu… aku ingat rasanya terpuruk di tanah di bawah Sam— tidak memiliki pilihan selain terlibat dalam pembunuhan seseorang yang kucintai. Situasinya tidak sama, tapi Sam salah. Dan Bella mencintai hal-hal yang tidak seharusnya ia cintai.

“Apakah menurutmu ada peluang Bella bisa selamat? Maksudku, sebagai vampir dan sebagainya. Dia menceritakan padaku tentang… Esme.”

“Menurutku, sampai saat ini peluangnya masih sama besar,” jawab Carlisle tenang. “Aku pernah melihat sendiri mukjizat yang dihasilkan racun vampir, rapi ada beberapa kondisi di mana bahkan racun vampir pun tak bisa mengatasi. Jantung Bella bekerja terlalu keras sekarang, dan bila jantungnya berhenti berfungsi… tak ada lagi yang bisa kulakukan.”

Detak jantung Bella berdegup tertatih-tatih, seolah hendak membenarkan penjelasan Carlisle barusan.

Mungkin bumi mulai berputar ke arah berlawanan. Mungkin hal itu bisa menjelaskan mengapa segala sesuatu menjadi berlawanan daripada yang terjadi kemarin— mengapa aku sekarang malah mengharapkan sesuatu yang dulu kuanggap paling buruk di dunia.

“Apa yang dilakukan makhluk itu padanya?” bisikku. “Kondisi Bella jauh lebih buruk semalam. Aku melihat… slangslang dan lain sebagainya. Dari jendela.”

“Janin itu tidak kompatibel dengan tubuhnya. Pertama terlalu kuat, rapi mungkin untuk sementara itu masih bisa ditanggung Bella, Masalah yang lebih besar adalah makhluk itu menghalangi Bella mendapatkan nutrisi yang dia butuhkan. Tubuhnya menolak nutrisi dalam bentuk apa pun. Aku berusaha memberinya makan lewat infus, tapi tubuhnya tak bisa menyerap. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kondisinya berubah sangat cepat. Aku melihatnya—dan bukan hanya dia, melainkan juga janinnya—pelanpelan mati kelaparan. Aku tidak bisa menghentikan semua itu dan tidak bisa memperlambat lajunya. Aku tidak mengerti apa yang diinginkan makhluk itu.” Suara Carlisle yang letih pecah di akhir kalimat.

Aku merasakan hal yang sama kemarin, waktu melihat bercak-bercak hitam di perut Bella—marah, dan agak sinting.

Aku mengepalkan kedua tinjuku untuk mengendalikan tubuhku yang bergetar. Aku benci sekali pada makhluk yang menyakiti Bella itu. Ternyata makhluk itu tidak hanya membuatnya babak belur dari dalam. Tidak, makhluk itu juga membuatnya kelaparan. Mungkin mencari sesuatu yang bisa ia gigit—leher untuk diisap darahnya sampai habis. Karena sekarang makhluk itu belum cukup besar untuk membunuh orang lain, ia cukup puas dengan hanya mengisap habis nyawa Bella.

Kentara sekali itulah yang diinginkan makhluk itu: ke-matian dan darah, darah dan kematian.

Sekujur kulitku panas dan gatal. Aku menarik napas dan mengembuskannya pelanpelan, berkonsentrasi untuk menenangkan diri.

“Kalau saja aku tahu lebih banyak, makhluk apa tepatnya itu,” gumam Carlisle. “Janin itu terlindungi dengan baik. Aku belum berhasil mendapatkan gambaran melalui USG. Aku ragu jarum sanggup menembus kantong ketuban, tapi Rosalie menolak membiarkanku mencoba apa pun.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.