Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Sudahlah, Alice. Aku kelihatan seperti idiot.”

“Tidak ada orang yang kudandani pernah kelihatan seperti idiot.”

“Dia benar, Dad. Dad tampan sekali! Ada acara apa?”

Alice memutar bola mata. “Ini pengepasan terakhir. Untuk kalian berdua.”

Untuk pertama kali aku mengalihkan pandanganku dari Charlie yang elegan ke kantong gaun putih mengerikan yang diletakkan dengan hati-hati di sofa.

“Aaaah.”

“Pergilah ke tempat bahagiamu, Bella. Tidak butuh waktu lama kok.”

Aku menghirup napas dalam-dalam dan memejamkan mata. Dengan mata terpejam aku rersaruk-saruk menaiki tangga menuju kamarku. Aku menanggalkan pakaianku hingga tinggal pakaian dalam saja dan mengulurkan lenganku lurus-lurus ke depan.

“Kau bersikap seolah-olah aku hendak menyisipkan serpihan bambu ke bawah kukumu!” gerutu Alice sambil mengikutiku masuk kamar.

Aku mengabaikannya. Aku sedang berada di tempat bahagiaku.

Di tempat bahagiaku, seluruh kerepotan mengurusi pernikahan sudah beres dan berakhir. Sudah lewat. Sudah selesai dan dilupakan.

Kami sendirian, hanya Edward dan aku. Setting-nya kabur dan terus berubah-ubah —mulai dari hutan berkabut ke kota yang dinaungi awan hingga malam di antartika— karena Edward merahasiakan lokasi bulan madu kami untuk memberiku kejutan. Tapi aku tidak begitu pusing memikirkan di mana kami akan berbulan madu.

Edward dan aku akan bersama-sama, dan aku telah memenuhi kompromiku secara sempurna. Aku menikah dengannya. Itu yang paling penting. Tapi aku juga sudah menerima semua hadiahnya yang berlebihan dan telah terdaftar, meski percuma, di Dartmouth College untuk musim gugur nanti. Sekarang giliran Edward.

Sebelum ia mengubahku menjadi vampir—kompromi besarnya—ia punya satu syarat lagi yang harus dipenuhi.

Edward memendam semacam kepedulian obsesif tentang pengalaman-pengalaman manusia yang akan kukorbankan, pengalaman-pengalaman yang ia tidak ingin kulewatkan. Sebagian besar di antaranya—seperti prom, misalnya—terasa konyol bagiku. Hanya ada satu pengalaman manusia yang aku khawatir tak bisa kurasakan. Tenru saja itu justru satusatunya hal yang Edward harap akan kulupakan sepenuhnya.

Masalahnya begini. Aku tahu sedikit tentang bagaimana jadinya aku nanti kalau sudah bukan manusia lagi. Aku sudah pernah melihat sendiri vampir-vampir yang baru lahir, dan aku sudah mendengar cerita renrang hari-hari pertama yang liar itu dari calon keluargaku. Selama beberapa tahun, ciri kepribadian terbesarku adalah dahaga. Dibutuhkan waktu cukup lama sebelum aku bisa menjadi diriku lagi Dan bahkan saat sudah bisa mengendalikan diri, aku tidak akan pernah bisa secara persis merasakan apa yang kurasakan sekarang.

Manusia… dan mencintai dengan penuh gairah.

Aku menginginkan pengalaman yang utuh sebelum menukar tubuhku yang hangat, rapuh, dan dipenuhi feromon ini dengan sesuatu yang indah, kuat… dan tak dikenal. Aku menginginkan bulan madu yang sesungguhnya bersama Edward. Dan, meski takut akan membahayakan diriku, ia setuju untuk mencoba.

Aku hanya samar-samar menyadari kehadiran Alice dan belaian bahan satin di kulitku. Saat ini aku tak peduli kalaupun seantero kota membicarakanku. Aku tidak ambil pusing memikirkan kehebohan yang bakal kutimbulkan sebentar lagi. Aku tidak khawatir bakal tersandung cadarku yang panjang atau tertawa mengikik pada momen yang salah atau menikah terlalu muda atau menjadi tontonan para tamu atau bahkan mengkhawatirkan kursi kosong yang seharusnya diduduki sahabatku.

Aku berada bersama Edward di tempat bahagiaku.

2. MALAM PANJANG

“BELUM-BELUM aku sudah rindu padamu.”

“Aku tidak perlu pergi. Aku bisa tetap di sini…”

“Mmm.”

Hening yang cukup panjang, hanya detak jantungku bertalu-talu, desah napas kami yang tersengal, dan bisikan bibir kami yang bergerak dengan sinkron.

Terkadang sangat mudah melupakan kenyataan aku sedang berciuman dengan vampir. Bukan karena ia terkesan biasa-biasa saja atau mirip manusia—sedetik pun aku takkan pernah melupakan bahwa aku mendekap seseorang yang lebih menyerupai malaikat daripada manusia—tapi karena ia memberi kesan seakan-akan bukan masalah menempelkan bibirnya di bibirku, wajahku, leherku. Ia mengaku sudah lama mampu mengatasi godaan yang dulu pernah ditimbulkan darahku terhadap dirinya, bahwa bayangan akan kehilangan diriku telah membuat gairahnya untuk mengisap darahku lenyap sama sekali. Tapi aku tahu bau darahku masih membuatnya nyeri—masih membakar kerongkongannya seakan-akan ia menghirup api.

Aku membuka maca dan melihat matanya juga terbuka, menatap wajahku. Rasanya tidak masuk akal setiap kali ia memandangiku seperti itu. Seolah-olah aku ini hadiah, bukan pemenang yang justru sangat beruntung.

Sesaat tatapan kami bertemu; matanya yang keemasan begitu dalam hingga aku membayangkan bisa memandang jauh hingga ke dalam jiwanya. Konyol rasanya bahwa kenyataan itu—eksistensi jiwanya—pernah dipertanyakan, walaupun ia vampir. Ia memiliki jiwa yang paling indah, lebih indah daripada pikirannya yang brilian atau wajahnya yang rupawan atau tubuhnya yang indah.

Ia membalas tatapanku seolah-olah ia bisa melihat jiwaku juga, dan seolah-olah ia menyukai apa yang dilihatnya.

Tapi ia tidak bisa melihat ke dalam pikiranku, seperti ia bisa melihat pikiran orang lain. Entah mengapa bisa begitu, tak ada yang tahu—mungkin ada yang aneh dengan otakku yang membuatnya kebal terhadap hal-hal luar biasa dan menakutkan yang bisa dilakukan sebagian makhluk imortal. (Hanya pikiranku yang kebal; tubuhku masih bisa dipengaruhi para vampir dengan kemampuan yang berbeda dengan Edward.) Tapi aku benar-benar bersyukur pada entah kelainan apa yang membuat pikiranku tetap misterius.

Memalukan sekali kalau yang terjadi justru sebaliknya.

Kutarik lagi wajah Edward ke wajahku.

“Kalau begitu, jelas aku akan tetap di sini,” gumam Edward sejurus kemudian.

“Tidak, tidak. Ini kan pesta bujanganmu. Kau harus pergi.”

Meski mulutku berkata begitu, jari-jari tangan kananku tetap meremas rambutnya, dan tangan kiriku merengkuh punggungnya. Kedua tangannya yang dingin membelai wajahku.

“Pesta bujangan dirancang untuk orang-orang yang sedih karena akan meninggalkan masa lajangnya. Sedang aku justru bersemangat melepasnya. Jadi sebenarnya tak ada gunanya,”

“Benar.” Aku mengembuskan napas di kulit lehernya yang dingin membeku.

Ini nyaris mirip dengan tempat bahagiaku. Charlie tidur nyenyak di kamarnya, jadi praktis kami hanya berduaan saja. Kami bergelung di tempat tidurku yang kecil, sebisa mungkin berpelukan erat, walaupun terhalang selimut afgban tebal yang kulilitkan di tubuhku bagai kepompong. Sebenarnya aku tidak suka memakai selimut, tapi bagaimana bisa bermesraan kalau gigi-gigiku bergemeletukan. Charlie bakal curiga kalau aku menyalakan pemanas di bulan Agustus…

Setidaknya, walaupun titik terbungkus rapat oleh selimut, kemeja Edward tergeletak di lantai. Sampai sekarang aku masih saja takjub melihat betapa sempurnanya tubuh Edward— putih, dingin, dan mulus seperti marmer. Kini tanganku membelai dadanya yang sekeras batu, mengelus permukaan perutnya yang datar, hanya mengagumi. Edward bergidik nyaris tak kentara, lalu kembali melumat bibirku. Edward mendesah. Napasnya yang wangi membelai wajahku.

Edward bergerak hendak menarik diri—itu respons otomatisnya setiap kali ia menganggap kami kelewat batas, reaksi refleksnya setiap kali ia sebenarnya ingin melanjutkan. 1 lampir sepanjang hidupnya, Edward menolak setiap jenis kenikmatan fisik. Aku tahu mengerikan baginya mencoba mengubah kebiasaan itu sekarang.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.