Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Tidak ada siapa-siapa di luar sini, Seth melaporkan. Suasana tenang di kawasan sebelah barat.

Mungkin mereka berkeliling.

Aku akan berkeliling.

“Catlisle dan Esme dalam perjalanan ke sini,” kata Emme “Dua puluh menit, paling lama.”

“Sebaiknya kita mengambil posisi bertahan” kata Jaspcr.

Edward mengangguk. “Mari kira masuk,”

Aku akan berpatroli dengan Seth. Kalau aku berada jauh darimu sehingga kau tidak bisa mendengar pikiranku, dengarkan saja lolonganku.

“Baiklah,”

Mereka mundur untuk masuk ke rumah. Sebelum mereka masuk ke rumah, aku sudah berbalik dan berlari ke barat.

Aku masih tidak menemukan apa-apa, kata Seth padaku.

Aku akan berpatroli dari arah sebaliknya. Bergeraklah yai cepat—jangan sampai mereka menyusup melewati kita.

Seth melesat maju, sekonyong-konyong mempercepat larinya.

Kami berlari dalam diam, dan menit demi menit beriak Aku mendengarkan suarastiara di sekeliling Seth, mengecek ulang penilaiannya.

Hei—sesuatu berlari cepat sekali! Seth memperingatkan sete lah lima belas menit berdiam diri.

Aku akan segera ke sana!

Tetaplah dalam posisimu—kurasa itu bukan kawanan, dengarannya lain. Seth…

Tapi ia menangkap baunya lewat angin yang berembus, aku membacanya dalam pikirannya.

Vampir. Pasti itu Carlisle.

Seth, mundur. Bisa jadi ku orang lain.

Tidak, itu mereka. Aku mengenali baunya. Tunggu, aku mengubah wujud agar bisa menjelaskan kepada mereka.

Shit menurutku tidak… Seth sudah lenyap, cemas aku berlari sepanjang perbatasan sebelah barat. Konyol sekali kan, kalau aku tidak bisa menjaga Seth untuk satu malam saja? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya saat ia dalam pengawasanku? Leah pasti akan mencincangku hingga tak bersisa.

Untunglah Seth hanya sebentar. Tidak sampai dua menit kemudian aku sudah bisa merasakannya dalam pikiranku lagi.

Yep. memang Carlisle dan Esme. Ya ampun, mereka kaget sekali melihatku! Mungkin sekarang mereka sudah berada di dalam rumah. Carlisle mengucapkan terima kasih.

Ia baik sekati.

Yeah, itu juga salah satu alasan mengapa kita benar dalam hal ini

Semoga saja begitu.

Mengapa kau begitu pesimis, Jake? Aku berani bertaruh, Sam tidak tikan memerintahkan kawanan untuk menyerang malam ini. Tidak mungkin ia mau melakukan misi bunuh diri.

Aku mendesah. Tidak berarti apa-apa, apa pun yang akan dilakukannya.

Oh. Jadi masalahnya bukan Sam, ya?

Aku berbelok di bagian ujung patroliku. Aku mencium bau Seth di tempat ia terakhir kali berbelok. Tak satu celah pun lupui dari pengawasan kami.

Kau berpikir bahwa bagaimanapun juga, Bella akan tewas, Seth berbisik,

Ya, memang benar.

Kasihan Edward. Ia pasti jadi gila.

Bisa dibilang begitu.

Nama Edward memunculkan kembali kenangan lain yang menggelegak di permukaan. Seth membacanya dengan terperangah.

Kemudian ia melolong. Oh, astaga! Tidak bisa! Kau tidak boleh berbuat begitu! Itu benar-benar ngawur, Jacob! Kau juga tahu itu! Aku tidak percaya kauhilang akan membunuhnya. Apa-apaan itu? Kau harus menolak permintaannya.

Diam, diam, tolol! Nanti mereka mengira kawanan datang menyerang!

Uuups! Seth menghentikan lolongannya.

Aku berbalik dan mulai berlari-lari menuju ke rumah. Ja ngan ikut campur dalam hal ini, Seth. Sekarang berkelilinglab satu lingkaran penuh.

Seth marah sekali, tapi aku tidak menggubrisnya.

Bukan apa-apa, bukan apa-apa, aku berpikir sambil berlari mendekat. Maaf. Seth masih muda. Masih sering lupa. Tidak ada yang menyerang. Bukan apa-apa.

Ketika aku sampai di padang rumput, kulihat Edwatd berdiri di depan jendela yang gelap, memandang ke luar. Aku berlari mendekat, ingin memastikan ia menangkap pesanku tadi.

Edward mengangguk satu kali.

Akan jauh lebih mudah seandainya komunikasinya tidak satu arah. lapi kalau dipikir-pikir lagi, aku agak lega karena tidak mengetahui isi kepalanya.

Edward menoleh ke belakang, ke bagian dalam rumah, dan kulihat tubuhnya bergetar. Ia melambai tanpa memandangku dan beranjak pergi, lenyap dari pandanganku.

Apa yang terjadi?

Seolah-olah aku akan mendapat jawabannya saja.

Aku duduk tak bergerak di padang rumput dan mendengarkan. Dengan telinga ini aku nyaris bisa mendengar langkah-langkah pelan Seth, berkilo-kilometer jauhnya di dalam hutan. Mudah saja mendengar setiap suara di dalam rumah yang gelap itu.

“Ternyata bukan apa-apa,” Edward menjelaskan dengan nada hampa, hanya mengulangi apa yang kukatakan padanya tadi. “Seth marah tentang sesuatu yang lain, dan dia lupa kita sedang mendengarkan untuk mendapat sinyal dari mereka. Dia masih sangat muda.”

“Pintar sekali, menugaskan balita untuk menjaga benteng,” gerutu suara yang lebih berat. Emmett, pikirku.

“Mereka menolong kita secara luar biasa malam ini, Emmett,” kata Carlisle. “Pengorbanan pribadi yang sangat besar.”

“Yeah, aku tahu. Aku hanya iri. Kalau saja aku bisa berada di luar sana.”

“Seth berpendapat Sam tidak akan menyerang sekarang,” kata Edward, suaranya seperti robot. “Tidak, karena kita sudah mendapat peringatan dini, dan dia kehilangan dua anggota kawanan.”

“Menurut Jacob bagaimana?” tanya Carlisle.

“Dia tidak seoptimis itu”

Tidak ada yang berbicara. Ada suara menetes-neres pelan yang tidak bisa kuterka apa. Aku mendengar embusan napas mereka yang pelan—dan aku bisa membedakan suara napas Bella dari yang lain. Embusan napasnya lebih berat, lebih sulit. Suaranya tersedak dan terpecah dalam ritme yang aneh. Aku bisa mendengar detak jantungnya. Kedengarannya… terlalu cepat. Aku membandingkannya dengan detak jantungku sendiri, tapi aku tak yakin apakah detak jantung kami bisa dibandingkan. Aku sendiri juga tidak normal.

“Jangan sentuh dia! Nanti dia terbangun” bisik Rosalie. Seseorang mendesah. “Rosalie,” gumam Carlisle.

“Jangan macam-macam denganku, Carlisle. Kami sulit menuruti kemauanmu tadi, tapi hanya sampai sebatas itu yang kami izinkan.”

Sepertinya Rosalie dan Bella sekarang mulai membahasakan diri dalam kata ganti jamak. Seolah-olah mereka membentuk kawanan sendiri.

Aku mondar-mandir tanpa suara di depan rumah. Setup pembicaraan membawaku semakin dekat. Jendela-jendela yang gelap bagaikan pesawat televisi yang menyala di ruang tunggu yang muram—mustahil mengalihkan pandangan terlalu lama dari sana.

Beberapa menit berlalu, beberapa percakapan terjadi, dan buluku sekarang sudah menyapu pinggiran teras sementara aku berjalan mondar-mandir.

Aku bisa melihat melalui jendela-jendela itu—-melihat ba gian atas dinding dan langit-langit, juga lampu kristal yang tidak dinyalakan yang tergantung di sana. Tubuhku cukup tinggi sehingga kalau aku menjulurkan leherku sedikit saja… dan mungkin sambil menumpangkan kaki depanku di pinggii teras…

Aku mengintip ke dalam ruang depan yang besar dan terbuka, berharap akan melihat sesuatu yang sangat mirip dengan pemandangan siang tadi. Tapi keadaan di dalam sana sudah sangat berubah sehingga awalnya aku merasa bingung. Aku sempat mengira telah mengintip ruangan yang salah.

Dinding kaca sudah lenyap—kelihatannya sekarang diganti dengan dinding logam. Semua perabot sudah disingkirkan, Bella meringkuk canggung di ranjang sempit di tengahtengah ruangan yang terbuka itu. Bukan ranjang normal biasa—melainkan yang memiliki pagar seperti ranjang rumah sakit. Juga seperti di rumah sakit, di sana ada monitor-monitor yang dihubungkan ke tubuhnya, serta tube-tube ditusukkan kc kulitnya. Lampu-lampu di monitor berkedip-kedip, tapi tidak ada suara. Suara menetes-netes itu ternyata infus yang terpasang di lengannya—cairan di dalamnya kental dan putih, tidak jernih.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.