Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Aku tidak tahu apakah dia laki-laki” Bella mengakui, sedikit malu-malu. “Alat USG tidak bisa bekerja. Membran yang melingkupi bayi ini terlalu keras—seperti kulit mereka. Jadi dia sedikit misterius. Tapi aku selalu membayangkan bo cah laki-laki.”

“Bukan bayi lucu dan menggemaskan yang ada di dalam sana, Bella.”

“Kita lihat saja nanti,” tukas Bella. Hampir seperti puas dengan dirinya sendiri.

“Kau takkan bisa melihatnya” geramku.

“Kau pesimis sekali, Jacob. Jelas aku punya peluang untuk melewati ini dengan selamat.”

Aku tak mampu menjawab. Aku menunduk dan menghela napas dalam-dalam dan lambat-lambat, berusaha mengendalikan amarahku.

“Jake,” ujar Bella, Ia menepuk-nepuk rambutku, membelai pipiku. “Semua pasti akan berakhir dengan baik. Ssshhh, Semua pasti akan beres.”

Aku tidak mendongak. “Tidak. Tidak mungkin ini berakhir dengan baik.”

Bella menyeka sesuatu yang basah dari pipiku. “Ssshhh.”

“Bagaimana kesepakatannya, Bella?” Aku memandangi kar pet yang pucat. Kakiku yang telanjang kotor, meninggalkan jejak-jejak kotor. Bagus. “Kusangka intinya adalah bahwa kau menginginkan vampirmu lebih daripada segalanya. Tapi sekarang kau malah menyia-nyiakan dia? Itu tidak masuk akal. Sejak kapan kau begitu ingin menjadi ibu? Kalau memang sangat kauinginkan, lantas mengapa kau menikah dengan Vampir?”

Berbahaya, aku sudah nyaris menyinggung tawaran yang l;dward ingin agar kuajukan. Bisa kulihat kata-kataku mengarah ke sana, tapi aku tak mampu mengubah arah.

Bella mendesah. “Bukan begitu. Aku tidak benar-benar peduli soal punya anak. Aku bahkan tidak memikirkannya. Ini bukan sekadar masalah punya bayi. Tapi… well… bayi ini”

“Bayi ini pembunuh, Bella. Lihat saja keadaanmu sekarang.”

“Dia bukan pembunuh. Penyebabnya aku sendiri. Hanya karena aku lemah dan manusia, “lapi aku bisa menguatkan diri dan bertahan menghadapi ini, Jake. Aku bisa…”

“Ah, yang benar saja! Tutup mulut, Bella. Kau bisa saja menjejalkan omong kosong ini ke si pengisap itu, tapi kau tidak hisa membodohi aku. Kau tahu kau tidak bakal selamat melewati ini.”

Bella menatapku garang. “Aku tidak tahu itu. Aku memang mengkhawatirkannya, tentu saja.”

“Mengkhawatirkannya,” ulangku dari sela-sela gigi yang terkatup rapat.

Bella terkesiap, lalu mencengkeram perutnya. Amarahku langsung lenyap seperti lampu yang tiba-tiba dimatikan.

“Aku baik-baik saja” Bella megap-megap. “Tidak apa-apa,”

Tapi aku tidak mendengar kata-katanya; kedua tangan Bella menyingkapkan sweternya ke satu sisi, dan aku melotot, ngeri, melihat kulit yang terpampang di baliknya. Perut Bella terlihat seperti dihiasi bercak-bercak besar tinta ungu-hitam.

Bella menyadari tatapanku, dan menyentakkan bajunya kembali menutupi perut.

“Dia kuat, itu saja,” sergah Bella dengan nada membela.

Bercak tinta itu adalah memar*

Aku nyaris muntah, dan aku mengerti apa yang dimaksud Edward, tentang melihat mahkluk itu menyakiti Bella.” Mendadak, aku sendiri merasa sedikit sinting.

“Bella,” kataku.

Bella mendengar perubahan suaraku. Ia mendongak, napasnya masih berat, matanya bingung. “Bella, jangan lakukan ini.”

“Jake.”

“Dengar aku. Jangan menyela dulu. Oke? Dengarkan dulu. Bagaimana kalau?”

“Bagaimana kalau apa?”

“Bagaimana kalau ini bukan seperti yang kaukira? Bagaimana kalau ternyata pilihannya bukan semua atau tidak sama sekali? Bagaimana kalau kau bersikap baik dengan menurun nasihat Carlisle dan tetap bertahan hidup?”

“Aku tidak akan…”

“Aku belum selesai. Jadi kau tetap bertahan hidup. Kemn dian kau bisa memulai semua dari awal lagi. Tidak apa-apa kalau yang ini tidak berhasil. Kau bisa mencoba lagi.”

Bella mengerutkan kening. Ia mengangkat satu tangan dan menyentuh tempat alisku saling bertaut. Jari-jarinya meng haluskan keningku sesaat sementara ia berusaha memahami perkataanku.

“Aku tidak mengerti.., apa maksudmu, mencoba lagi? Kau tidak menganggap Edward akan membiarkanku,,,? Dan apa bedanya? Aku yakin bayi mana pun…”

“Memang,” bentakku. “Bayi mana pun yang dia benihkan pasti akan sama.”

Wajah Bella yang letih tampak semakin bingung. “Apa?”

Tapi aku tak sanggup mengatakan apa-apa lagi. Tak ada gunanya. Aku takkan pernah bisa menyelamatkan Bella dari dirinya sendiri. Sejak dulu pun aku tak pernah bisa melakukannya.

Kemudian Bella mengerjapkan mata, dan kulihat bahwa ia mengerti.

“Oh. Ugh. Please, Jacob. Kaupikir sebaiknya aku membunuh bayiku dan menggantinya dengan pengganti generiki1 Inseminasi buatan.'” Ia marah sekarang. “Masa aku mau mengandung bayi orang asing? Maksudmu itu tidak ada bedanya? Bayi mana saja bisa?”

“Bukan begitu maksudku,” gerutuku. “Bukan bayi orang .ising.”

Bella mencondongkan tubuh ke depan. “Kalau begitu, apa maksudmu?”

“Tidak ada. Tidak ada maksud apa-apa. Sama seperti biasa.”

“Dari mana datangnya ide itu?”

“Lupakan saja. Bella.”

Ia mengerutkan kening, curiga. “Apakah Edward menyuruhmu mengatakan itu?”

Aku ragu, terkejut karena Bella bisa begitu cepat menyimpulkan. “Tidak.”

“Itu ide Edward, kan?”

“Bukan, sungguh. Dia tidak mengatakan apa-apa tentang apa pun yang sifatnya dangkal.”

Wajah Bella melembut, dan ia membenamkan tubuhnya kembali ke tumpukan bantal, terlihat lelah. Matanya menerawang ke satu sisi waktu ia berbicara, tidak menujukan perkataannya padaku. “Kdward rela melakukan apa saja untukku. Dan aku membuatnya sangat menderita… Tapi apa sih yang ada dalam pikirannya? Apa dikiranya aku rela menukar ini’—tangan Bella menelusuri perutnya—”dengan bayi orang asing..” Ia menggumamkan bagian terakhir itu, kemudian suaranya menghilang. Matanya basah.

“Kau tidak perlu membuatnya menderita,” bisikku. Mulutku seperti terbakar racun karena harus memohon-mohon demi Edward, tapi aku tahu pendekatan ini mungkin yang terbaik yang bisa membuat Bella bertahan hidup. Walaupun peluang nya masih sangat kecil. “Kau bisa membuatnya bahagia lagi, Bella. Dan aku benar-benar yakin dia sudah kehilangan akal. Jujur saja, menurutku begitu.”

Sepertinya Bella tidak mendengarkan; tangannya bergerak membuat lingkaranlingkaran kecil di perutnya yang beran-takan sambil menggigit bibir. Lama sekali tidak terdengar suara apa-apa. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah ke luarga Cullen telab menyingkir jauh-jauh. Apa mereka mendengar usahaku yang menyedihkan untuk membujuk Bella?

“Bukan orang asing?” gumam Bella pada diri sendiri. Aku meringis. “Apa tepatnya yang dikatakan Edward padamu?” tanyanya pelan.

“Tidak ada. Dia hanya merasa kau mungkin mau mendengar nasihatku.”

“Bukan itu. Tentang mencoba lagi”

Matanya terpaku ke mataku, dan aku tahu sudah terlalu banyak yang kuungkap. “Tidak ada,”

Mulut Bella ternganga sedikit, “Wow.” Beberapa saat tidak terdengar suara apaapa. Aku menunduk memandang kakiku lagi, tak mampu membalas tatapannya.

“Dia benar-benar rela melakukan apa saja, ya?” bisik Bella.

“Sudah kuhilang, dia sudah kehilangan akal Secara harfiah, Bell*

“Heran juga aku, kau ridak langsung mengatakan itu padanya. Menghajarnya sampai babak belur.”

Waktu aku mendongak, kulihat Bella nyengir.

“Sebenarnya itu terpikirkan olehku.” Aku berusaha membalas cengirannya, tapi bisa kurasakan senyumku kali ini jelek sekali.

Bella tahu apa yang kutawarkan, tapi ia bahkan ridak mau mempertimbangkannya. Aku sudah tahu akan seperti itu. Tapi tetap saja aku merasa sedikit tersinggung.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.