Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Bella mendesah.

“Sudah kubilang…” aku mulai berkata,

“Tahukah kau bahwa sudah kubilang itu memiliki saudara, Jacob?” sergah Bella, memotong perkataanku. “Namanya ‘Tutup mulutmu!”

“Bagus juga balasanmu.”

Bella nyengir. Kulitnya mengejang tegang di balik tulang-tulangnya. “Itu bukan karanganku—aku mendapatkannya dari tayangan ulang The Simpsons”

“Aku tidak nonton episode yang itu.”

“Episode yang itu lucu.”

Kami tidak berbicara lagi selama semenit. Kedua tangannya mulai hangat.

“Apakah Edward benar-benar memintamu bicara denganku?”

Aku mengangguk. “Supaya kau mau berpikir logis. Padahal bisa dibilang aku sudah kalah sebelum bertanding”

“Jadi, mengapa kau setuju?” Aku tidak menjawab. Aku tidak yakin aku tahu.

Ini yang kutahu—setiap detik yang kuhabiskan bersama Bella hanya akan memperparah luka hati yang bakal kudapat nanti. Seperti pecandu narkoba yang hanya memiliki si terbatas, tahu hari yang menentukan itu pasti akan datang. Semakin banyak narkoba yang kukonsumsi, semakin sulit keadaanku bila persediaanku habis nanti.

“Semua pasti akan berakhir dengan baik,” kata Bella setelah terdiam beberapa saat. “Aku yakin itu.”

Perkataannya membuat amarahku memuncak. “Jadi, pikun itu salah satu gejalanya, ya?” bentakku.

Bella tertawa, walaupun amarahku begitu nyata sampai sampai kedua tanganku yang menggenggam tangannya bei getar.

“Mungkin,” ujarnya. “Aku tidak mengatakan semua akan berakhir baik dengan mudah, Jake. Tapi bagaimana mungkin aku bisa hidup melewati semua yang pernah kualami dan tidak meyakini bahwa pada titik ini, keajaiban itu ada?”

“Keajaiban?”

“Terutama bagimu,” kata Bella. Ia tersenyum. Ditariknya sebelah tangannya dari genggamanku dan ditempelkannya kr pipiku. Lebih hangat daripada sebelumnya, tapi terasa dingin di kulitku, seperti sebagian besar benda-benda lain terasa di kulitku. “Lebih daripada orang lain, ada keajaiban menantimu untuk membuat keadaanmu lebih baik.”

“Kau omong apa sih?”

Masih tersenyum. “Dulu Edward pernah menceritakan padaku bagaimana rasanya —masalah imprint yang kalian alami. Katanya, itu seperti di A Midsummer Night’s Vreutn, seperti keajaiban. Kau akan menemukan seseorang yang benar-benar kaucari, Jacob, dan mungkin baru pada saat itu lah semua akan jadi masuk akal.”

Kalau saja Bella tidak terlihat begitu rapuh, aku pasti sudah berteriak,

Tapi aku memang menggeram padanya.

“Kalau kaupikir imprint bisa membuat semua kegilaan ini masuk akal…” Susah payah aku mencari kata-kata yang iipat. “Apakah kau benar-benar mengira hanya karena suatu liari nanti aku akan meng-imprint seseorang yang tidak kukenal maka semua ini boleh kaulakukan?” Dengan kasar ku-luding tubuh Bella yang membengkak. “Katakan padaku apa gunanya, Bella? Apa gunanya aku mencintaimu? Apa gunanya Aku mencintai dia? Kalau kau mati”—kata-kata itu keluar berupa geraman—”bagaimana mungkin itu bisa membuat kelilaan jadi lebih baik? Apa gunanya semua kepedihan ini? kepedihan yang aku, kau, dia rasakan! Kau juga akan melihatnya mati, walaupun aku tidak peduli tentang hal itu.”

Bella tersentak, tapi aku maju terus. “Jadi apa gunanya kisah i nitamu yang ganjil ini, pada akhirnya? Kalau ada sedikit saja alasan masuk akal dalam hal ini, kumohon, tunjukkan padaku, Bella, karena aku tidak melihatnya.”

Bella mendesah. ‘Aku belum tahu, Jake. Aku hanya… merasa… semua ini akan berakhir dengan baik, walaupun sulit melihat itu sekarang. Kurasa, itulah yang disebut iman”

“Kau akan mati sia-sia, Bella! Sia-sia!”

Ia menurunkan tangannya dari pipiku dan menaruhnya di perutnya yang membuncit, membelai-belainya. Tanpa harus mengatakan apa-apa, aku sudah tahu apa yang dipikirkan liclla. Ia rela mati demi makhluk itu.

“Itu omong kosong, Bella. Sudah terlalu lama kau berusaha mengimbangi hal-hal supranatural. Tak ada orang normal yang mampu melakukan ini. Kau tidak cukup kuat.” Kureng-kuh wajahnya. Aku tidak perlu mengingatkan diriku untuk bersikap lembut. Segala sesuatu dalam diri Bella seolah menc riakkan kata rapuh.

“Aku bisa melakukannya. Aku bisa melakukannya,” gumam Bella, sangat mirip cerita anak-anak tentang Thomas si loko motif kecil yang bisa melakukan apa saja.

“Kelihatannya tidak begitu menurutku. Jadi, apa rencana mu? Kuharap kau punya rencana,”

Bella mengangguk, tidak membalas tatapanku, “Tahukah kau dulu Esme terjun dari tebing? Waktu dia masih manusia, maksudku,”

“Memangnya kenapa?”

“Esme sudah benar-benar hampir mati sehingga mereka bahkan tidak merasa perlu membawanya ke UGD—mereka langsung membawanya ke kamar mayat. Tapi jantung Esme masih berdetak waktu Carlisle menemukannya,,,”

Itulah yang Bella maksudkan sebelumnya, tentang memper tahankan jantungnya tetap berdetak,

“Kau memang tidak berencana selamat melewati ini dan tetap menjadi manusia,” ujarku, nadaku muram.

“Tidak. Aku tidak setolol itu.” Ia membalas tatapanku, “Tapi kurasa kau mungkin memiliki opini sendiri dalam hal itu.”

“Vampirisasi darurat,” gumamku.

“Itu bisa berhasil pada Esme. Juga Emmett, dan Rosalic, bahkan Edward. Tak seorang pun di antara mereka berada dalam kondisi sehat. Carlisle mengubah mereka karena hanya itu pilihannya atau mati. Carlisle tidak mengakhiri hidup, tapi menyelamatkannya.”

Aku mendadak merasakan secercah perasaan bersalah ter hadap dokter vampir baik hati itu, seperti sebelumnya. Ku enyahkan pikiran itu jauh-jauh dan mulai memohonmohon.

“Dengarkan aku, Bells, Jangan lakukan ini dengan cara seperti itu.” Seperti sebelumnya, ketika telepon dari Charlie datang, bisa kulihat betapa besar perbedaan semua ini bagiku. Aku sadar aku membutuhkan Bella tetap hidup, dalam wujud irrtentu. Dalam wujud apa pun. Aku menghela napas dalam-dalam. “Jangan runggu sampai terlambat, Bella. Jangan seperti itu. Pokoknya kau harus hidup. Oke? Hidup, itu saja. Jangan l.ikukan ini padaku. Jangan lakukan ini pada Edward.” Suaraku semakin keras, semakin nyaring. “Kau tahu apa yang akan dia lakukan kalau kau mati. Kau pernah melihatnya sebelum ini, Kau ingin dia kembali ke pembunuh-pembunuh Italia itu. Bella mengkeret semakin dalam ke sofa.

Tidak kukatakan bahwa kali ini Edward tidak pedu ke Italia.

Berusaha sekuat tenaga membuat suaraku terdengar lebih lembut, aku bertanya, “Ingat waktu aku babak belur gara-gara para vampir baru itu? Apa yang kaukatakan padaku?”

Aku menunggu, tapi ia tidak mau menjawab. Ia mengatup-kan bibirnya rapat-rapat.

“Kau menyuruhku bersikap baik dan mendengarkan Carlisle,” aku mengingatkan Bella. “Dan apa yang kulakukan? Aku menuruti si vampir. Demi kau.”

“Kau menurut karena itu memang hal yang tepat untuk dilakukan”

“Oke—kau boleh pilih salah satunya”

Bella menarik napas dalam-dalam. “Itu bukan hal yang tepat untuk dilakukan sekarang.” Tatapannya menyentuh perutnya yang bulat besar dan ia berbisik pelan, “Aku tidak akan membunuh putraku.”

Kedua tanganku kembali bergetar. “Oh, aku belum mendengar kabar baik itu. Jadi bayimu laki-laki, heh? Seharusnya tadi aku membawa balon biru.”

Wajah Bella berubah jadi pink. Warnanya sangat indah — membuat perutku terpilin perih seperti ditusuk pisau. Pisau bergerigi kasar, karatan.

Aku bakal kalah. Lagi.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.