Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Aku mengembuskan napas.

“Kau yakin tentang hal ini?” desak Charlie, memandangku garang.

“Aku seratus persen yakin tentang Edward,” aku menjawab pertanyaan ayahku dengan mantap,

“Tapi menikah? Mengapa harus terburu-buru?” Sekali lagi ia mengamatiku dengan curiga.

Terburu-buru karena semakin hari aku semakin mendekati sembilan belas tahun, sementara Edward tetap dalam kesempurnaan usia tujuh belasnya, seperti yang terjadi selama sembilan puluh tahun ini. Dalam pandanganku, kenyataan ini memang tidak mengharuskan pernikahan, tapi itu harus dilakukan sebagai akibat dari kompromi rumit dan berbelit yang dibuat Edward dan aku hingga akhirnya sampai ke titik ini, menjelang transformasiku dari fana ke abadi.

Hal-hal ini tidak bisa kujelaskan kepada Charlie,

“Kami akan kuliah ke Dartmouth bersama musim gugur nanti, Charlie,” Edward mengingatkan. “Aku ingin melakukannya, well, secara benar. Begitulah caraku dibesarkan.” Edward mengangkat bahu.

Ia tidak melebih-lebihkan; masyarakat pada masa Perang Dunia I kan terbilang kuno dalam hal moral.

Mulut Charlie mengerucut miring. Mencari sesuatu yang bisa didebat, Tapi apa lagi yang bisa ia katakan? Aku lebih suka kau hidup bergelimang dosa saja? Ia kan seorang ayah; ia tidak punya pilihan lain.

“Sudah kuduga ini bakal terjadi,” gerutunya pada diri sendiri, keningnya berkerut. Kemudian, sekonyong-konyong, wajahnya mulus dan ekspresinya tak terbaca,

“Dad?” tanyaku waswas. Kulirik Edward, tapi aku juga tidak bisa membaca wajahnya, sementara ia mengawasi Charlie.

“Ha!” Charlie meledak. Aku terlonjak di kursiku. “Ha, ha, ha!”

Kupandangi Charlie dengan sikap tak percaya waktu ia tertawa sampai terbungkukbungkuk; sekujur tubuhnya berguncang hebat.

Kupandangi Edward, meminta, penjelasan, tapi bibir Edward terkatup rapat, seolah-olah ia sendiri juga menahan tawa.

“Oke, baiklah,” sergah Charlie, suaranya tercekik. “Menikahlah.” Lagi-lagi tawanya meledak, mengguncangnya. “Tapi…”

“Tapi apa?” tuntutku.

“Tapi kau sendiri yang harus memberitahu ibumu! Aku tidak mau mengucapkan satu patah kata pun kepada Renée! Itu tanggung jawabmu!” Ia tertawa terbahak-bahak.

Aku berhenti dengan tangan memegang gagang pintu, tersenyum. Tentu, waktu itu kata-kata Charlie membuatku ngeri. Memberitahu Renée sama saja artinya dengan kiamat. Pernikahan dini menduduki urutan lebih tinggi dalam daftar hitamnya dibandingkan merebus anak anjing hidup-hidup.

Siapa yang bisa meramalkan reaksinya? Aku sih tidak. Jelas bukan Charlie. Mungkin Alice, tapi ketika itu tak terpikir olehku untuk bertanya padanya.

“Well, Bella,” kata Renée setelah dengan tersendat dan terbata-bata aku mengucapkan kata-kata mustahil itu: Mom, aku akan menikah dengan Edward! “Aku sedikit kesal karena baru sekarang kau mengatakannya padaku. Padahal tiket pesawat yang dibeli mendadak itu kan mahal sekali. Oooh,” omelnya. “Menurutmu gips Phil sudah dibuka belum ya, saat itu? Bisa jelek foto-fotonya nanti kalau dia tidak pakai tukse…”

“Tunggu sebentar, Mom.” Aku menahan napas. “Apa maksud Mom, baru sekarang mengatakannya? Aku kan baru ber… ber~.”—aku tak sanggup memaksa diriku mengucapkan kata bertunangan—”semuanya memang baru diputuskan hari ini.”

“Hari ini? Benarkah? Itu baru mengejutkan. Asumsiku…”

“Mom berasumsi apa? Kapan Mom berasumsi?”

“Well, waktu kau datang mengunjungiku bulan April lalu, kelihatannya hubungan kalian sudah sangat serius, kalau kau mengerti maksudku. Kau tidak sulit dibaca, Sayang. Tapi aku tidak mengatakan apa-apa karena tahu itu tak ada gunanya. Kau mirip sekali dengan Charlie.” Renée mendesah, pasrah. “Begitu sudah memutuskan sesuatu, tak ada gunanya lagi mencoba membujukmu. Tentu saja, persis seperti Charlie, kau juga akan memegang teguh keputusanmu.”

Kemudian ia mengatakan hal terakhir yang tak pernah kusangka akan keluar dari mulut ibuku,

“Kau tidak melakukan kesalahan seperti aku, Bella. Kedengarannya kau sangat ketakutan, dan dugaanku, itu pasti karena kau takut padaku.” Renée terkikik. “Takut pada apa yang akan kupikirkan. Dan aku tahu aku memang banyak bicara tentang pernikahan dan ketololan—dan aku tidak akan menarik kata-kataku —tapi kau perlu menyadari, halhal itu secara khusus berlaku untukku. Kau sangat berbeda dariku. Kau membuat kesalahanmu sendiri, dan aku yakin kau juga akan menyesali beberapa hal dalam hidupmu. Tapi kau tak pernah punya masalah dengan komitmen, Sayang. Peluangmu memiliki pernikahan yang langgeng lebih besar daripada kebanyakan orang berusia empat puluh tahun yang kukenal.” Lagi-lagi Renée tertawa. “Anak remajaku yang separo baya. Untunglah, kau sepertinya menemukan pasangan yang berjiwa sama tuanya denganmu.”

“Jadi Mom… tidak marah? Menurut Mom, aku tidak membuat kesalahan besar?”

“Well, tentu, aku berharap kau mau menunggu beberapa tahun lagi. Maksudku, memangnya aku sudah kelihatan cukup tua untuk jadi ibu mertua? Jangan dijawab. Tapi ini bukan tentang aku. Ini tentang kau. Apakah kau bahagia?”

“Entahlah. Aku seperti melayang keluar dari tubuhku sekarang ini.”

Renée terkekeh. “Dia membuatmu bahagia, Bella?”

“Ya, tapi…”

“Apakah kau akan menginginkan orang lain?”

“Tidak, tapi…”

“Tapi apa?”

“Tapi apakah Mom tidak akan mengatakan omonganku ini seperti remaja lain yang mabuk kepayang sejak zaman kuno dulu?”

“Kau tidak pernah jadi remaja, Sayang. Kau tahu apa yang terbaik untukmu.”

Selama beberapa minggu terakhir, tak disangka-sangka Renée tenggelam sepenuhnya pada urusan persiapan pernikahan. Berjam-jam ia habiskan untuk berteleponteleponan dengan ibu Edward, Esme—tak perlu ada kekhawatiran para besan takkan bisa berhubungan baik. Renée memuja Esme, tapi memang, aku ragu ada yang bakal tidak memuja wanita baik hati calon ibu mertuaku itu.

Itu membuatku terbebas dari segala kerepotan mengurusi tetek-bengek pernikahan. Keluarga Edward dan keluargaku mengurus segalanya tanpa aku harus ikut campur atau terlalu repot memikirkannya.

Charlie marah sekali, tentu saja, tapi yang asyik, ia bukannya marah padaku. Renée-lah yang jadi pengkhianat. Padahal ia berharap Renée bakal menolak rencanaku mentah-mentah. Apa yang bisa ia lakukan sekarang, bila ancaman utamanya— memberitahu Mom—ternyata hanya ancaman kosong? Ia tidak memiliki apa-apa, dan ia tahu itu. Akibatnya, kerjanya sekarang hanya bermuram durja sepanjang hari, menggerutu bahwa ia tidak bisa memercayai siapa pun di dunia ini…

“Dad?” panggilku sambil mendorong pintu depan. “Aku sudah pulang.”

“Tunggu, Bells, tetaplah di sana.”

“Hah?” tanyaku, otomatis menghentikan langkah.

“Tunggu sebentar. Aduh, mati aku, Alice,”

Alice?

“Maaf, Charlie,” sahut Alice,’suaranya melengking, “Bagaimana kalau begini?”

“Gawat.”

“Kau baik-baik saja. Tidak gawat kok—percayalah pada-ku.”

“Apa yang terjadi?” tuntutku, ragu-ragu di ambang pintu. “Tiga puluh detik, please, Bella,” pinta Alice. “Kesabaranmu akan mendapat imbalan setimpal.”

“Hahhh,” sungut Charlie.

Aku mengetuk-ngetukkan kaki, menghitung setiap ketukan. Belum sampai hitungan tiga puluh, Alice sudah berseru, “Oke, Bella, masuklah!”

Bergerak dengan hati-hati, aku memasuki ruang duduk.

“Oh,” aku terperangah. “Aw. Dad. Dad kelihatan…”

“Tolol?” sela Charlie.

“Menurutku lebih tepat dibilang gagah”

Charlie merah padam. Alice meraih sikunya dan memutar tubuh Charlie pelanpelan untuk memamerkan tuksedo abu-abu muda itu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.